FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 116 "Pukul Dua Malam"


__ADS_3

POV orang ketiga.


Malam itu tangis langit berderai-derai mengguyur bumi yang lama kering. Hampir semalam suntuk langit menjadi gulita. Rembulan tidak berani menampakkan dirinya. Entah hilang ke mana. Mungkin mencari peraduan yang lebih hangat. Dan, malam pun tak hidup. Dingin dan mencekam. Daun-daun di atas dahan pohon yang tumbuh lebat di depan rumah, seolah-olah ingin ikut berlari dan menepi dari guyuran yang semakin deras. Angin berembus kencang. Bertengkar dengan hujan. Daun-daun pintu ditutup beserta jendela rumah.


Tak lama kemudian lampu pun padam. Bumi mengaswad. Bu Mini dan Pak Bi berjaga di ruang tamu sembari memeluk dinginnya malam, berjaga-jaga bila ada apa-apa. Segelas minuman secang panas cepat berubah dingin.


"Dibuat lagi, Pak?"


"Alah ndak usah." Pak Bi berganti mengisap rokok lintingan sendiri.


"Syukur ada hujan turun. Tapi, sekali turun kok yo langsung dueres begini to, Pak."


"Yo bene." (Ya biarkan)


"Semoga besok ada rejeki datang ke rumah kita yo, Pak."


Pak Bu bergeming. Nyatanya mengisap rokok selalu menjadi ritual menyendiri yang lebih asik. Hanya malam ini saja Pak Bi meminta dibuatkan secang dan bukan kopi, sahabat terbaik rokok, kata Pak Bi.


Hanya tersisa gemuruh hujan memukul-mukul seng penadah air hujan yang sudah berkarat. Gerojok air berseluncur menuruni talang di samping rumah. Sebagian lagi mengenai genteng. Suara ketiganya bersahut-sahutan. Menghasilkan ritme yang teratur.


Bu Mini menguap. Kantuk mendekap kelopak matanya. Berulang kali kepalanya menunduk tak sengaja. Ketika semilir angit berembus lebih kuat, matanya kembali terjaga. Sampai keesokan harinya dia dan Pak Bi meringkuk di kursi ruang tamu. Terbangun tiba-tiba saat hujan telah reda. Ternyata masih jam dua malam.


Bu Mini bangkit memastikan suasana setelah hujan deras beberapa jam. Pintu yang menimbulkan bunyi khas sudah renta dibuka perlahan-lahan. Tidak ada gerimis. Air dari pelataran yang lebih tinggi menggenang di beberapa sisi.


Lalu, Bu Mini memasang telinganya sesegera mungkin. Seperti ada suara tangis bayi. Tapi, mana mungkin malam-malam ada bayi sedang menangis mengingat tidak ada tetangga yang baru melahirkan. Sejurus bulu kuduk itu berdiri. Angin menyergap dari arah kanan kiri. Bu Mini memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Maksud hati ingin mengabaikan, tapi suara tangis itu kian memanggil-manggil. Memantik rasa penasarannya untuk mencari sumber suara itu. Dia melangkah pelan-pelan. Pandangannya menyibak suasana sekitar yang masih gelap. Siluet orang berdiri di bawah lampu mengangetkannya. Tak lama kemudian siluet itu bergerak perlahan, menjauh dari terang cahaya lampu jalan.


Bu Mini mencoba mengabaikan. Dia menyibak tanaman sereh yang tumbuh lebat di depan rumahnya. Alangkah berjingkatnya dia mendapati bayi mungil di ada di sana. Antara kegirangan dan kebingungan. Diambillah bayi itu. Lantas mendekapnya segera agar bayi itu lekas mendapatkan kehangatan.


"Kok bisa ada bayi di sini. Ini bayi siapa to alah Gusti?" Bu Mini tolah-toleh (menoleh ke kanan kiri).


Tidak ada siapa pun. Bu Mini mengira mungkin ada orang yang sengaja meninggalkan bayi itu di sana.


"Malang nasibmu, Nak, sampeyan ditinggal." Bu Mini mencium pipi kanan kiri bayi itu.


Dia membawanya ke dalam rumah. Diliriknya bayi itu tersenyum. Debar kebahagian seketika menyala dalam dadanya. Bahwa itu bukan hanya rejeki. Tapi, kenikmatan yang luar biasa. Baru tadi malam dia menyemogakan rejeki datang di esok hari. Ternyata Allah mempertemukannya dengan bayi berparas cantik, bibir merah, wajah bulat, hidung mbangir, dagu nyanun, dan kulit berseri-seri seperti cahaya purnama. Bening mata itu membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali.


Di tengah kehidupan perekonomian yang buruk dan serba kurang, merantau ke luar pulau pun urung menghasilkan cuan, ada rejeki yang datang tidak terduga. Hujan pembawa berkah. Bayi itu dititipkan padanya saat bumi kuyup pertama kali di pertengahan bulan September 2004.


"Pak, Bapak, ini lo sampeyan lihat!" teriakan Bu Mini menggedor-gedor telinga Pak Bi yang masih sunyi.


"Ada apa? Mbokyo kalem. Opo?"


Bu Mini menunjukkan lengkung senyumannya. Memperlihatkan siapa yang sedang didekapnya. Sejurus Pak Bi melebarkan pandangannya.


"Anak siapa, Buk?" Dengan nada kaget. Berdiri. Wajah yang masih pertama kali disapanya itu langsung menebarkan pesona. Bibirnya tersenyum indah.


"Sumeh (suka senyum), Pak."


Bu Mini duduk menimang-nimang. Menyanyikan tembang.

__ADS_1


"Anak siapa?"


"Tidak tahu, Pak. Ibuk nemu di depan."


"Bayi kok nemu. Koyo (kaya) barang."


"Bapak harusnya seneng saat kita susah asa rejeki. Ini amanah, Pak."


"Sek (sebentar). Ini anak orang. Ibuk ndak bisa menyimpulkan bayi ini diamanahkan kepada kita."


"Ndak mungkin jam dua begini ada orang yang meninggalkan bayinya jika bukan karena sengaja ditinggalkan."


"Kita hidup ini sudah susah. Kapan-kapan kita nyuruh orang pasang iklan."


"Pak, jangan. Ibuk demen sama bayi ini. Mulai sekarang Ibuk anggep ini anaknya Ibuk. Perasaan Ibuk mengatakan bayi ini harus kita rawat, Pak. Bapak kudu setuju."


"Buk, itu anak orang. Orang tuanya pasti mencari."


Perdebatan tidak bisa dielakkan lagi. Keduanya punya cara pandang masing-masing. Bu Mini mengandalkan perasaannya, sedang Pak Bi terus membujuk dan mengajak Bu Mini berpikir rasional. Walaupun mereka masih punya tanggungan satu bayi, anak pertama mereka yang kerap dipanggil Sulung, tapi Bu Mini sama sekali tidak keberatan. Ada bisikan-bisikan memenuhi rongga telinganya supaya menjaga anak itu. Pak Bi tak mau berdebat.


Seminggu setelah bayi itu ditemukan, Pak Bi mengajak Bu Mini pulang kampung. Kata Pak Bi, lebih baik pulang karena setahun setengah merantau ke Madura hanya cukup untuk membayar semua hutang-hutang. Syukurlah ketika mereka pamit pulang kepada pemilik ladang, keduanya mendapatkan pesangon yang cukup banyak. Mungkin juga karena iba melihat keduanya pulang membawa bayi yang masih kecil.


Setibanya di kampung halaman, Tulungagung, sanak saudara menanyakan itu bayi siapa. Dengan penuh percaya diri Bu Mini menjawab bayi itu anak yang baru dilahirkannya sebulan lalu. Jawaban itu cukup logis mengingat tidak ada saudara yang tahu bagaimana keadaannya selama merantau setahun setengah. Jika tiba-tiba dia pulang membawa bayi mungil, orang-orang tidak banyak yang menganggap itu kejanggalan. Hanya saja beberapa di antara mereka menggunjing, kenapa di tengah perekomian yang sulit Bu Mini malah melahirkan anak lagi. Ngramut (membesarkan) dua anak yang masih kecil tentu bagi sebagian pandangan orang itu justru mempersulit diri sendiri.


Hari berganti hari mereka lalui dengan merawat dua anak perempuan. Mereka berusaha mengabaikan apa yang orang bicarakan. Toh Pak Bi pada akhirnya juga menyukai bayi yang diberikan nama Ranaa Hafizah itu. Bahkan, Pak Bi rela mendatangi seorang ustaz demi mendapatkan nama yang cocok. Bu Mini yang membujuk Pak Bi supaya pergi sowan, sebab bayi secantik Ranaa sepertinya kurang elok jika pemberi namanya tidak pandai dalam hal agama. Bayi itu lantas dikenal dengan panggilan Fizah. Harapannya supaya di kemudian hari dia bisa tumbuh menjadi panghafal Alquran. Cita-cita yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya saat mereka hendak memberi nama putri pertama mereka.

__ADS_1


Sampai bertahun-tahun kemudian, tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Ranaa bukanlah putri biologis Pak Bi dan Bu Mini. Mereka berdua sangat menyayangi anak temon itu sampai tidak tega bila harus mengabarkan pada dunia maya supaya orang tua kandung Ranaa menjemput. Saat ada keinginan untuk mencoba mencari orang tua kandung Ranaa, Bu Mini tetap merasa bahwa Ranaa memang sengaja dibuang. Apabila orang tuanya tidak menginginkan anak itu ada, lalu kenapa dia harus repot-repot mencari? Maka, sampai sekarang rahasia itu tetap dipegang kuat-kuat sampai entah kapan. Bu Mini selalu menyayangkan jika harus berpisah dengan Ranaa suatu saat nanti. Dia takut dilupakan karena saking besarnya kasih sayang yang terpupuk belasan tahun. Bahkan kadang dia merasa jauh lebih menyayangi Ranaa daripada sulung dan bungsu. Seakan-akan Ranaa adalah anak pembawa berkah yang sengaja Gusti Allah titipkan di tengah-tengah keluarga mereka yang sederhana dan dengan dua anak yang masih sulit berbakti pada orang tua.


Insyaallah besok up lagi. Hari ini cuman sejarah penemuannya Ranaa, nggeh. Dan, saya lihat semua komentar panjenengan2 kemarin pada intinya sama. Punya harapan yang senada semoga Bu Mini nantinya bisa menjadi penguat keraguan Fizah atas penawaran tes DNA itu. Bisa kompak gitu, ya? šŸ˜‚ Plus panjenengan nebak Gus Yazeed tidak jadi lamaran dengan Fizah. Pengen senyum-senyum sendiri saya. šŸ™ˆšŸ™ˆšŸ™ˆšŸ¤­šŸ˜. Selamat membaca. šŸ’‹ Nantikan eps selanjutnya. Semoga selalu dalam rida Tuhan Semesta Alam.


__ADS_2