FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 191 "Penggalih Ummik"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Aku hampir melupakan sesuatu. Rumah pohon yang dibuatkan bapak khusus untukku. Itu karena aku sering diramahi oleh mbak saat kami bersama. Mungkin bapak welas hingga akhirnya membangunkanku tempat khusus di belakang rumah. Sudah jarang kutempati. Terakhir dua tahun lalu karena kayunya sudah lapuk. Tapi, saat aku pulang, aku pergi ke belakang, rumah pohon itu ternyata sudah diperbaiki. Kayunya masih baru.


Tangga dan dinding-dindingnya terbuat dari pohon bambu hitam, lantainya dari kayu jati, lalu atapnya hanya dari tumpukan jerami. Ketika hujan, tak sampai membasahi. Tapi, suhunya terasa sangat dingin. Selain karena dindingnya berongga, belakang rumah ini memang penuh dengan pepohonan. Bila musim hujan tiba, aku takut ke belakang sendirian. Pepohonan itu kadang seperti mengamuk. Bertengkar dalam derasnya hujan.


Sudah jam berapa? Kutengok masih separuh hari. Tapi, siang bagai dirundung kesedihan. Langit baru saja menangis. Marah. Mengusir semua burung-bueung yang hendak bertelur dan mengerami anakannya di sarang. Tupai di pohon kelapa hampir kehilangan kendali, terjatuh hingga ke tanah, lalu kembali melompat ke sana ke mari. Hujan tak terlalu menguyupkan. Kutadahkan tanganku. Kubiarkan air dari ujung jerami menetes perlahan-lahan. Begitu juga kakiku yang tengah menggantung, terkena sebagian hujan yang turun menuju genangan.


Kubiarkan gawaiku mati.


Dalam suatu ketika aku bertanya, "Tuhan, betapa luas pengampunan-Mu. Betapa murahnya kasih sayang-Mu. Betapa agungnya kebesaran-Mu. Betapa banyak kenikmatan yang Engkau berikan pada setiap manusia tanpa Engkau bedakan siapa mereka. Bahkan, mereka yang tidak beriman pun Engkau berikan kenikmatan. Betapa tidak pantasnya aku melarikan diri di atas musibah sekecil ini. Betapa tingginya egoku. Aku hanya ingin tenang, damai dengan semua kenikmatan-kenikmatan itu. Jika syukur adalah bagian dari nikmat itu sendiri, lalu bagaimana caranya aku bersyukur atas izin-Mu aku bisa bersyukur.


"Maafkan aku, Ummik, Abah. Aku telah membuat kalian malu. Mungkin aku harus pergi dari pesantren untuk sementara waktu agar kalian pun tak memikirkanku. Untuk itulah kalian juga memilih pergi. Mungkin karena kenyataan ini terlalu jijik untuk didengar. Aku saja tak mampu, apalagi kalian. Aku tahu tak ada kekecewaan di wajah kalian. Diamnya kalian hanya bisa kusimpulkan menjadi satu hal, kalian pun membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya. Sama. Tapi, aku sudah melepaskan satu beban yang memberatkan pundakku berbulan-bulan lalu.


Setelah subuh tadi ummik dan abah berangkat ziarah wali jatim hanya bertiga dengan Kang Bimo, aku memutuskan ke Tulungagung berangkat sendirian. Juga tanpa pamitan pada siapa pun. Hanya ada beberapa santri yang tahu aku keluar dari pesantren membawa satu tas berukuran sedang, santri yang berada di barisan belakang sambil terkantuk-kantuk mendengarkan abang membacakan maknan kitab. Kubawa smart phone yang pernah abang belikan untuk memesan taxi online. Barangkali ada yang sudah mangkal. Dan, mungkin memang rejekiku. Kuhilangkan ketakutanku agar segera sampai di rumah bertemu dengan ibuk.


Smart phone kunyalakan. Setelah pesan-pesan abang dan beberapa panggilan darinya masuk, data kumatikan kembali. Beberapa menit kemudian kunyalakan, ada satu nomor tidak dikenal mengirim pesan. Yazeed menuliskan beberapa chat yang membuatku pilu.


"Niya, ini aku Yaz. Kamu di mana? Aku khawatir."


Kubaca notifikasi pop-up saat layar smart phoneku mati. Lama kupandang beberapa menit. Termangu tak jelas. Mungkin aku sendiri juga belum sepenuhnya bisa melupakan perasaanku padanya. Nyatanya, kekhawatiran itu begitu nyata dan terasa. Ya meskipun sudah tidak sebesar dulu. Begitu cepat Tuhan membolak-balikkan hati manusia.


Kini tersimpan dua nama di dalamnya. Tapi, perasaan itu masih sering terombang-ambing. Suatu ketika ia memilih mengalah dan menerima Pak Nizam sebagai takdirnya, tapi di suatu saat yang lain Yazeed masih sering hadir membayang-bayangi.


Satu jam kemudian.


Aku merebah di kamar setelah menambah hafalan setengah kaca. Kubiarkan Alquran tetap dalam dekapan. Kuambil smart phone dengan tangan kiriku. Data kuaktifkan. Notif satu panggilan tidak terjawab dari Yazeed.


Dia pun berkirim pesan.


"Aku akan mencarimu sampai dapat."


Aku tidak berharap siapa pun datang ke sini untuk membujukku pulang. Aku tahu sebentar lagi aku akan menikah. Dan, aku pasti akan kembali pada takdirku. Tapi, mungkin barang dua hari aku ingin tetap di sini. Lagipula mbak dan adikku sudah tak sekasar dulu. Sikapnya berubah drastis. Aku menemukan suasana baru seperti mampu mengepakkan sayap, lalu terbang di atas awan. Ya, itu karena aku dan semua kenangan ada di rumah ini. Menyatu dengan dinding-dindingnya. Bukankah itu wajar jika aku memilih pulang ke tempat di mana aku dibesarkan?


Ibuk mengetuk pintu. Meminta izin masuk.


"Ibuk, kenapa harus bawa makanannya ke sini?"

__ADS_1


Ibuk hanya tersenyum. Kini sikap ibuk seperti seorang pembantu yang melayaniku. Jujur aku tak suka melihatnya begitu. Cukup ibuk memandangku sebagai Fizah, bukan Niya putri seorang kiai. Kalaupun ibuk meniatkan itu karena mencari keberkahan, aku tak punya selain hanya kenistaan.


"Nduk, sudahlah. Mbokyo yang semringah. Ayune luntur lo."


Aku terkekeh dan ibuk melebarkan senyumannya.


"Bu Nyai dan Kiai ndak mungkin pergi karena kecewa padamu atau malah meragukan kejujuran anaknya sendiri. Sampeyan ngerti?"


"Ngerti, Buk."


"Seandainya pun mereka meragukanmu, wajar. Coba to sampeyan ada di posisine mereka berdua. Belasan tahun tidak ketemu, ujug-ujug (tiba-tiba) ada kabar berita sebesar ini."


Sebagian cerita sudah kusampaikan pada ibuk.


"Bu Nyai bertanya bukan karena meragukan, tapi hanya khawatir bila itu sampai bener-bener terjadi, Nak. Ibuk pun mesti khawatir."


"Aku khawatir mereka justru terlalu sedih setelah mendengar ceritaku. Apalagi sekarang Abah dan Ummik ziarah pribadi wali lima, Buk."


"Mugo-mugo itu menjadi cara mereka untuk mendoakan keselamatanmu. Opo, Nak, istilahe?"


"Ya itu. Ada lagi yang satunya."


"Tabarukan?"


"Yo kui (ya itu)."


Hampir pukul sepuluh malam. Suara katak meningkahi, suara jangkrik yang cukup nyaring.


Beberapa kali ada panggilan masuk. Masih kubaikan. Pesan-pesan dadi abang tak kuingin kubuka. Untuk itulah abang sampai mengancam akan memarahiku jika aku tak segera membalasnya. Panggilan selanjutnya dari Yazeed.


Tak lama usai itu, mobil dengan bising mesin yang cukup nyaring berhenti tepat di depan rumah. Tapi, aku sudah menduga itu mobil abang. Kuintip mereka dari gorden jendela ruang tamu. Benar. Tapi, menyusul mobil di belakangnya, yang turut berhenti di halaman. Aku terkejut abah dan ummik turut menyusulku. Bagaimana bisa mereka tahu aku ada di sini, padahal ibuk sudah mengatakan pada Yazeed kalau aku tidak di Tulungagung.


"Sopo, Nak?" tanya ibuk sembari menguap.


"Abang, Abah dan Ummik."


"Biyuuuh." Kontan ibuk tergagap geraknya. Ibuk mengikat rambutnya cepat-cepat. Menyuruhku segera membuka pintu, lalu ibuk melenggang ke dapur.

__ADS_1


Abang mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam."


Kubuka dua pintu itu. Kupersikakan mereka masuk. Kucium tangan abah dan ummik. Mereka semua duduk, kecuali ummik.


"Nduk, sampeyan kenopo kok ndadak muleh rene ndak omong-omong Abangmu?"


Terjemah: (Nduk, kamu kenapa kok pulang ke sini tidak bilang-bilang Abangmu?)


Aku menggeleng. Aku ingin mendengarkan kepastian langsung bahwa ummik tidak marah atau pun kecewa padaku. Aku menunggu.


"Wangsul yo, Nduk?" (Pulang, ya, Nduk?)


"Pasti pulang, Mik, tapi Niya ingin di sini dulu."


"Ummik, duduk dulu, Mik," pinta abang.


Dalam posisi duduk berhadap-hadapan seperti ini, kebetulan sekali Yazeed ada tepat di depanku. Aku tak berani banyak menatapnya. Aku fokus mendengarkan ummik merayuku agar mau pulang bersamanya malam ini. Masih banyak yang ingin kuceritakan pada ibuk.


"Maaf jika saya menyela, tapi saya cuman ingin menyampaikan beberapa hal. Niya sekuat tenaga mempertahankan semuanya. Niya berusaha menjaga imannya. Berkat kaburnya Niya dari sana, tempat itu tidak lama kemudian dibubarkan paksa oleh aparat keamanan," kata Yazeed.


Aku tercengang dengan pandangan ke bawah. Yazeed tahu bahwa kepulanganku karena aku sudah mengatakan semuanya pada keluargaku. Justru abang yang masih mengeja suasananya. Raut wajahnya setengah mengerti. Mengeja apa yang kuekspresikan. Kutatap satu per satu wajah orang-orang.


"Niya minta maaf." Keluarlah tiga kata itu.


"Ummik ndak nesu, Nduk. Tapi, Ummik ngroso ndak berguna dadi seorang Ibuk. Ummik isin karo Gusti Allah, Nduk, Nduk."


Terjemah: (Ummik tidak marah, Nduk. Tapi, Ummik merasa tidak berguna menjadi seorang Ibuk. Ummik malu sama Allah, Nduk, Nduk)


"Mboten (tidak, , Mik, mboten, Ya Allaaaaah." Kupeluk ummik.


Kuelus-elus punggung ummik yang terguncang. Aku tidak menyangka justru itu yang ummik pikirkan. Pikiran seorang ibuk yang tidak dapat dijangkau oleh anaknya. Ummik sama sekali tak bersalah dalam masalah ini, tapi begitulah sikapnya. Terlalu indah disebut sebagai malaikat berselendang bianglala.


PENGGALIH \= HATI


Alhamdulillah. Selamat malam semuanya.. Jadi begitulah alasan kenapa abah dan ummik pergi ziaroh. Terima kasih untuk doa terbaiknya. 😁 Besok insyaallah ada part malam henna. šŸ˜‹šŸ˜‡šŸ˜‡šŸ˜…šŸ™ Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2