FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 172 "Investigasi"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Kubaca pesan yang disampaikan Fizah melalui Kang Bimo. Aku membacanya di kamar.


Aku tak minta mahar apa pun. Tapi, aku berharap Pak Nizam bisa menerima masa laluku, baik yang sudah Pak Nizam tahu ataupun belum. Jika Pak Nizam tidak sanggup menghadapi sesuatu yang mungkin lebih buruk, Pak Nizam bisa memikirkannya lagi. Pak Nizam pasti tahu aku masih menyimpan rahasia-rahasia lain. Dan, Pak Nizam belum tahu itu.


Kubaca berulang kali pesan itu. Perempuan dengan tulisan tangan yang tidak cukup bagus. Tapi, juga tidak buruk. Kalau pun aku ingin mengetahui semua masa lalunya, harusnya semua kuselesaikan sebelum pernikahan. Hanya Ratnalah satu-satunya kunci. Begitu pula Fizah yang bungkam, Ratna merasa tak berhak untuk menceritakan semuanya. Sepertinya sulit untuk mengorek, kecuali jika aku sudah menikah dengannya. Tapi, dengan adanya pesan itu, Fizah telah memberikan ultimatumnya. Pesan tersiratnya ialah aku tidak perlu tahu keburukan yang dia tutup-tutupi selama ini. Cukup aku menerimanya. Aku pun sebenarnya juga tahu jika seandainya aku mengorek aib seorang istri, itu pun tak dibenarkan. Barangkali dosa di masa lalu itu telah ditutupi dan diampuni oleh Allah dan pelakunya tak dibenarkan untuk memberitahukan aibnya sendiri. Aku hampir melupakan hukum ini.


Entah dia mau pergi ke mana. Dari awal dia keluar dari pintu utama ndalem, aroma kecemasan di wajahnya menguar begitu jelas. Dia memakai pakaian jubah hitam dan masker. Lantas dia seperti berjalan mengendap-ngendap ke kamar Kang Bimo yang paling ujung, berseberangan dengan ndalem agak ke kanan. Seperti biasa aku nongkrong di saung setelah ngaos kitab dengan arek putra. Kuperhatikan gerak-gerik mencurigakannya. Setelah dia berbicara dengan Kang Bimo, dia memperhatikan sekitarnya. Dia menyedekapkan tangan dengan pandangan menunduk. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah. Kang Bimo mengajaknya berjalan. Tapi, dia memilih berjalan di belakang Kang Bimo. Ketika berpapasan mata denganku pun, dia seketika membuang wajahnya. Ya itu jelas dia sedang ketakutan. Mau ke mana dia?


Kutanggalkan buku bacaan format pdf di gawaiku. Tapi, seharusnya Kang Bimo mengantarkan abah sebentar lagi. Abah ada jadwal undangan ceramah di Kediri ba'da zuhur nanti. Tadi malam aku dititipi pesan agar aku menjaga amanah ngramut santri selama abah di luar pesantren. Karena Gus Fakhar sampai sekarang juga belum pulang bulan madu di Bali. Aku berjingkat-jingkat membuntutinya.


Aku memesan ojek online. Tak mungkin aku memakai mobil. Kuatur jarak supaya dia tidak menyadari bahwa sedang dibuntuti. Setelah mereka masuk mobil, untungnya ojek online yang kupesan pun segera datang.


Kutepuk pundaknya. Aku naik di jok belakang sembari berkata, "Bang, ikuti mobil itu. Tapi, jangan dekat-dekat."


Kupegang terus kedua pundak bang ojek. Suasananya agak tegang. Di tengah perjalanan aku mulai curiga dia akan bertemu dengan Sumarjo. Kupukul pundak bang ojek. Kuminta mengendarai lebih cepat. Jaraknya terlalu jauh. Pandanganku terhalang truk bermuatan kayu glondongan. Aku menyuruhnya menyalip. Bang ojek menolak. Di depan ada mobil dan pengendara motor dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan rata-rata. Di menit selanjutnya, bang ojek mengambil kecepatan lebih tinggi. Menyalip dua mobil dan truk tadi saat kendaraan dari arah berlawanan terpantau agak lengang. Tapi, begitu sampai pada barisan depan, jarak dengan Fizah sudah terlalu jauh. Setidaknya aku sudah hafal dengan plat mobilnya. Kusuruh ngebut sekali lagi. Sebentar lagi sampai di perempatan lampu merah. Aku khawatir lampunya hijau, sedangkan aku masih cukup jauh untuk mengejar menit jalan lampu itu.

__ADS_1


Saat kami melewati terminal Plaosan kanan jalan, jarak kami sudah sangat dekat. Keramaian jalan terpantau lengang. Motor melaju lebih pelan. Saat tikungan belok ke kanan, motor hampir saja hilang kendali karena ada orang dari arah kiri menyalip dan hampir menyenggol. Kudengar kata kasar keluar dari mulut bang ojek. Kutepuk pundaknya agar lebih santai. Lima ratus meter setelahnya, muncul truk dari arah kiri menuju arah yang sama dengan kami. Dia menutupi laju mobil yang menjadi lebih cepat. Kupaksa bang ojek agar menyalip lagi.


Menit terus berjalan. Kuperhatikan jam tanganku. Mobil berderet-deret menyembul dari arah berlawanan. Juga bus yang mengangkut para wisatawan pulang. Sampai di tikungan tajam S, aku semakin yakin dia akan menemui seseorang di Telaga Sarangan. Jika dia memilih tempat yang ramai, maka tidak mungkin jika dia akan menemui Sumarjo. Berarti dengan orang lain. Tapi, dengan siapa?


Tibalah di gerbang pembelian tiket masuk Telaga Sarangan. Aku tidak tahu dia akan bertemu dengan siapa. Sebegitu penting dan rahasiakah sampai dia pergi sendirian dengan mengendap-endap. Aku masih tetap nangkring di jok. Dia menoleh ke sekitar setelah turun sebelum membayar tiket. Seharusnya dia masuk jika memang ingin ke telaga. Jarak dari gerbang ke parkiran cukup jauh. Aku semakin penasaran. Sayang aku tak bisa menangkap ekspresi wajahnya. Aku mengambil jarak tak begitu dekat. Dan, anehnya dia menyuruh Kang Bimo kembali. Tak lama kemudian, hapeku berdering. Kurogoh saku kiriku.


📞"Ya halo."


📞"Assalamu'alaikum?"


📞"Aku khawatir dengan Ning Niya. Sekarang aku di Telaga. Tolong ke sini njeh, Mas. Tak minta tolong awasi dia. Aku ndak bisa e. Ini mau mengantarkan Abah tindak (pergi). Aku buru-buru ini, Mas. Bisa yo? Harus bisa. Calon istrinya sampeyan lo ini."


📞"Iya. Aku sudah di sini."


📞"Loh, di sini di mana?"


📞"Iya di sini. Pulang saja. Biar aku yang urus." Aku fokus mengamati gerak-gerik Fizah.

__ADS_1


Kepala Kang Bimo melongok dari luar kaca mobil. Aku melambaikan tangan. Barulah dia mengerti. Lalu, menutup teleponnya setelah mengucap salam dan terima kasih.


Kuminta bang ojek meninggalkan lokasi. Aku sudah membayarnya melalui aplikasi. Kang Bimo menghentikan mobilnya. Membuka kaca mobilnya lebih lebar. Dia mengajakku berbicara.


"Ning Niya kelihatannya mau masuk ke sana. Tapi, dia masih nunggu orang."


"Tolong, ya, ini biar aku yang handle. Ndak usah cerita ke Abah dan Ummik. Pulangnya biar dia aku pesankan ojek saja."


"Beh, saestu (beneran) ngapurane tidak bisa tanggung jawab sampai akhir."


"Iya. Kamu sudah ditunggu Abah."


"Nggeh, Mas. Suwun sanget."


Datanglah motor yang langsung memepet Fizaj. Aku sempat terkejut karena kejadian kemarin. Fizah menjauh. Tapi, dia segera mengambil sikap. Di tempat terbuka seperti ini, dia pasti tidak mungkin berteriak-teriak. Atau, bersikap yang sekiranya akan menyita perhatian orang. Aku masih mengamati dari jauh. Pengendara itu menepikan motornya. Turun dan membuka helm. Kukira pria itu akan membahayakannya. Tapi, dia terlihat hendak mengajak Fizah bicara, tapi Fizah justru sebaliknya, enggan.


Fizah masih berdiri di tempat. Pria itu tampak sedang mengoceh sendiri, lalu Fizah hanya bergeming dan menyimak.

__ADS_1


__ADS_2