FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 143 "Rencana Gus Fakhar"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Dia menggeleng. "Lebih baik aku di sini. Aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi. Toh, mereka sudah menganggapku mati, kan, Zah? Biarlah tetap begitu sampai nanti."


Tapi, bagaimana jika suatu saat Ratna dipinang? Posisi Ratna juga sepertiku. Aku yakin kelak akan ada yang meminang Ratna.


"Na, gimana kalau nanti ada yang melamarmu?"


"Melamarku, Zah?"


"Iya. Kita nikah butuh wali."


"Aku nggak ngerti maksudmu, Zah. Akhir-akhir ini aku sering memimpikan Yazeed. Entah napa."


"Kamu rindu orang tuamu, kan?"


"Aku nggak yakin."


"Menurutku begitu. Karena yang sangat peduli padamu sekarang hanyalah Yazeed. Yazeed baik kepada semua orang, Ratna."


"Kurasa juga nggak begitu. Ada perasaan lain, Zah."


Aku tersenyum. "Kamu hanya merindukan seseorang yang dulu pernah menyayangimu. Hatimu mengatakan itu, tapi kamu nggak sadar itu. Wajar kok. Tapi, kamu harus kuat, ya. Kita kuat sama-sama."


***


Jika kuingat sekali lagi tawaran yang pernah kuberikan pada Yazeed, dia sudah sepakat siap menungguku. Dia ingin membantuku menemukan siapa orang tuaku. Aku berencana ingin memberitahunya karena setelah persetujuan itu dia memang berhak tahu. Dia harus tahu. Tapi, aku mempertimbangkannya lagi. Sebaiknya aku menceritakannya setelah hasil tes DNA keluar. Aku juga tidak ingin membuat Yazeed berpikir terlalu keras. Dia harus sembuh terlebih dahulu.


Aku pamitan pada Ratna.


Selanjutnya ke konveksian Gus Fakhar.


Awalnya mereka mengira aku adalah calon istri Gus Fakhar. Tapi, salah satu dari mereka ada yang sudah kenal persis siapa Ning Ulya. Lantas Gus Fakhar mengatakan dengan jujur aku adalah abdi ndalem. Lagipula tak mungkin juga Gus Fakhar keluar berdua dengan Ning Ulya tanpa Kang Bimo. Lebih wajar jika Gus Fakhar keluar dengan abdi ndalem.


Syukurlah para karyawan tampak biasa saja saat kami berbincang-bincang ringan. Bertanya-tanya selayaknya orang yang baru kenal. Salah satu dari mereka malah ada yang curhat soal anak perempuannya yang masih sekolah dasar. Ingin mondok di pondok kitab, tapi juga ingin menghafalkan Alquran. Mana yang harus didahulukan? Ini menurut pribadiku. Sebetulnya tidak ada keharusan. Hanya tinggal disesuaikan minat saja. Kalaupun memang keduanya bisa berjalan beriringan pun tidak masalah. Tapi, melihat minat anak itu jauh lebih penting karena minatlah yang akan mendorong proses belajar anak tersebut.


Hanya saja ada pertimbangan lain yang bisa dilihat dari dua sisi. Faktor eksternal: hafal mufradat dan mengetahui ilmu nahwu memang akan lebih mendukung proses menghafal itu sendiri. Sementara, faktor internal dari segi kualitas dan kuantitas belajar: ingatan yang bagus dan keistikamahan dalam membaca Alquran juga memudahkan siapa pun untuk menghafalkan Alquran. Karena khatam menghafal tidak pasti dipengaruhi oleh kecerdasan seseorang meskipun itu bisa menjadi tumpuan utamanya. Banyak dari mereka yang memiliki kemampuan biasa saja, tapi mereka dapat merampungkannya. Aku menjelaskan itu dengan bahasa informal. Karyawan perempuan yang masih muda itu menyimakku dengan saksama sampai harus menghentikan pekerjaannya.


Selang beberapa menit kemudian, Ning Ala dan Gus Rayyan datang. Aku menyapa Ning Ala yang tersenyum lebih dulu begitu masuk pintu. Ternyata dia sedang hamil besar.


"Karyawan baru, ya?" tanyanya padaku.


"Bukan, Ning."

__ADS_1


Dia mengamati styleku yang bersarung. "Oh, Mbak ndalem pasti? Iya, kan?"


Aku mengangguk.


"Calon istri Gus Fakhar tidak diajak, Mbak?"


Aku menggeleng ragu. Ning Ala mengerutkan alisnya. Seperti merasa janggal.


"Ke sini hanya berdua?" Pertanyaannya yang itu seolah-olah sedang memastikan dugaannya yang lain.


"Iya, Ning."


Aku diajak masuk ke ruang pertemuan Gus Fakhar. Tapi, aku menolak. Karena aku juga merasa tidak berkepentingan di sini. Aku lebih nyaman bercengkrama dengan karyawan-karyawan.


"Mbak, ngomong-ngomong kamu dengan Gusnya kok lumayan mirip, sih," ucap karyawan berjilbab hitam.


Yang lain serempak memperhatikan wajahku. Aku canggung seketika. Ada yang membenarkan, tapi ada yang mencebik tak membetulkan itu.


Matahari merangkak naik. Perutku keroncongan. Kutahan dengan kedua tanganku. Malu kalau sampai didengar. Tadi aku menolak saat ditawari makan di Darul Amin dan di konveksian. Gus Fakhar yang sedang fokus menyetir hanya manggut-manggut mendengar musik pop barat berjudul will always love you. Perutku makin terasa seperti diremas-remas. Tak sadar aku merintih lirih.


"Kenapa, Iz?" Gus Fakhar menoleh.


Aku menatapnya. "Tidak apa-apa, Gus."


"Nyeri menstruasi? Bilang aja kalau iya. Kubelikan obat di apotek."


"Bukan, Gus."


"Lha terus? Kamu mules pengen buang hajat?"


Aku menggeleng.


"Terus?"


Terdengarlah suara yang membuat sudut bibirnya langsung melebar.


"Bilang aja kalau lapar. Tadi nggak ditawari makan?"


"Ditawari, Gus. Tapi, saya tolak."


Setelah sarapan kami langsung pulang. Hasil tes DNA akan diambil sore nanti. Gus Fakhar baru mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit.


"Semoga dugaan Ummik selama ini benar."

__ADS_1


"Gus, saya punya permintaan."


"Apa?"


"Apa tidak lebih baik njenengan ceritakan semuanya ke Ning Ulya? Sepertinya dia mengira aku dan njenengan ada apa-apa."


"Ya nanti dia juga akan tahu."


"Gus, njenengan benar akan menikahinya, kan, kalau hasil tes DNA keluar?"


"Sampai Tsaniya benar-benar hadir di antara kami. Aku yakin Tsaniya itu kamu, Iz. Aku nggak sabar. Aku akan jadi orang pertama yang akan mengabarkan semuanya pada santri. Aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."


Aku tersenyum tipis. Tak ada yang bisa kuberikan selain itu.


"Nanti kita kuliah sama-sama, ya."


"Njenengan punya rencana ke mana, Gus?"


"Katamu ke Belanda."


"Itu hanya mimpi saya, Gus. Lagipula hafalan masih belepotan. Hafalan sambil kuliah juga bisa. Kalau aku mendampingi kamu, bereslah. Aku simak setiap hari."


"Siapa yang menghandle kegiatan pondok, Gus."


"Ulya." Dia tertawa.


"Loh, masak kegiatan putra dipegang Ning Ulya, Gus?"


"Santri senior banyak yang pinter. Atau, kamu nikah aja sekalian bareng sama aku, Iz?" Dia tersenyum.


"Katanya meraih mimpi dulu?"


"Iya iya. Bercanda aja. Dasar!" Dia menertawakanku.


"Atau, kita kuliah barengnya pas kamu sudah nikah aja. Hafalanmu pasti udah rampung. Yang pegang pondok suamimu dan Ala."


Aku melebur dalam percakapan tanpa sadar. Kubayangkan momentum itu akan terasa sangat menyenangkan. Melihat Belanda secara langsung. Tapi, sebetulnya aku tidak punya wacana persis apa yang akan kucari di sana. Yang jelas, dulu aku tiba-tiba ingin menempuh pendidikan di sana.


"Iz, semoga malaikat dengar percakapan kita saat ini."


Aku memberinya senyum, tapi batinku turut mengaminkan. Senyumku terasa tak habis-habis. Belanda tergambar jelas di benakku. Pemandangan luar terasa seperti sedang bersalju. Persawahan berubah menjadi ladang bunga tulip dan lavender. Tower tersulap menjadi menara kincir angin. Padahal, Belanda sangatlah jauh. Tapi, mimpiku bisa terbang hingga ke sana. Entah Tuhan akan merestuinya atau tidak. Rasa laparku seketika hilang.


Selamat membaca. 😁😁✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2