FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 208 "Rahasia Tuhan"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Juli.


Hari ini usiaku genap delapan belas tahun. Melihat orang-orang begitu bahagia merayakan pesta ulang tahun bersama dengan seluruh santri ini, kenapa aku merasa orang-orang menyimpan maksud yang dengan sengaja mereka sembunyikan. Untuk perayaan milad, sebetulnya aku tak mengharapkan dirayakan semeriah dan sesakral ini. Pondok putri dan pondok putri simak Alquran sejak ba'da subuh tadi. Dan, itu sengaja dirahasiakan dariku. Kak Ulya memberitahuku, kalau acara ini dikhususkan untukku. Tapi, hatiku malah menjadi masygul. Sungkan bercampur senang. Kak Ulya juga berkata, kalau sejujurnya ummik dan Mas Nizam mempunyai maksud tertentu selain merayakan ulang tahunku. Tapi, Kak Ulya enggan menjelaskan. Mungkinkah mereka mendoakanku agar aku dan Mas Nizam lekas diberikan keturunan?


Lima bulan sudah kami mengarungi bahtera rumah tangga tanpa tangis seorang putra yang manis. Selama lima bulan itulah aku sendiri terus menunggu setiap minggu kedua. Aku membeli banyak test-pack tanpa sepengetahuan orang-orang, termasuk Mas Nizam. Hingga saat ini, dia mungkin hanya tahu bahwa aku tetap bersikukuh pada keinginanku untuk tidak ingin mempunyai momongan terlebih dahulu. Tapi, ketahuilah hatiku tak sekeras itu, Mas. Melihatmu selalu memintaku untuk bersiap dengan wangi parfum yang kamu suka, memakai piyama bagus, dan dengan ikal rambut yang rapi di malam-malam minggu kedua, hatiku semakin terbuka untuk ikut berdoa kepada Allah, Mas. Tapi, bagaimana lagi kalau kehendak-Nya di luar keinginan kita berdua.


Kemarin malam aku baru mengecek ulang, tapi hasilnya kembali nihil. Kupikir hari ini datang bulanku akan datang, tapi ternyata siklus menstruasiku mundur lagi. Aku tak fokus mendengarkan ummik mengaji di mikrofon, ayalku melayang ke sembarang arah. Halaman Alquran yang seharusnya aku balik, kubiarkan tetap seperti semula. Kutoleh Kak Ulya yang fokus menyimak bacaan ummik. Kuperhatikan perutnya yang kian membuncit. Apakah aku sehat? Gusar.


Sekitar pukul empat sore, ba'da salat jamaah, puncak ulang tahunku dirayakan di ndalem. Santri-santri hanya digelarkan terpal di depan ndalem sembari menyanyikan lagu.


Mabruk alfa mabruk, 'alaika mabruk


Mabruk alfa mabruk, 'alaika mabruk


Yaumiladik mabruk


Mulai dari kue dan tumpeng, semuanya harus kupotong segera. Aku membagikannya kepada mereka orang-orang yang menyayangiku. Aku juga sempat menyuapi Mas Nizam di depan kamera yang sudah siap mengambil gambar.


Dia berbisik, "Makasih, Sayang. Terima kasih, Istriku."


Aku memberinya senyum. "Iya, Mas Nizam...ku."


Dia pun tersenyum lebar. Menampilkan sederet giginya.


"Ning, aku mau ngasih kabar ke kamu," bisik Mbak Ufi saat aku memberikan kue padanya.


"Apa?"


"Nanti aku ceritakan."


Aku mengajak Mbak Ufi ke kamar setelah dia ikut membersihkan dapur dan ruang tamu. Mas Nizam masih di luar berbincang-bincang dengan Yazeed.


"Gimana?"


Aku menyuruhnya duduk di ranjangku.


"Seperti yang sampeyan harapkan di hari pernikahanku waktu itu, Ning. Ingat kan?"


"Apa kamu sudah hamil?"


Dia mengangguk. Matanya berkaca-kaca. "Aku tahunya hari ini. Sebelum berangkat aku cek. Alhamdulillah. Sampeyan orang pertama yang aku beritahu."

__ADS_1


"Selamat, ya. Semoga sehat selalu bayi dan ibunya."


Inilah yang aku harapkan. Yang aku tunggu-tunggu setelah pernikahan Yazeed. Tapi, kenapa hatiku justru terasa ngilu. Bagaimana denganku? Tak seharusnya aku merasa begini. Aku mencoba mengabaikannya kesedihanku.


"Matur suwun, ya, Ning. Ini juga berkat doane sampeyan."


"Aku boleh minta pendapatmu?"


"Yaaa. Pasti boleh. Apa, Ning?"


"Apa menurutmu aku harus cek kesehatan?"


"Ada yang bermasalahkah?"


"Aku khawatir tidak sehat."


Ekspresinya mencemaskanku.


"Apa ada gejala apa gitu?"


"Enggak ada apa-apa. Rasanya kaya orang sehat aja. Tapi, apa aku perlu cek?"


"Sebentar...ini maksudnya cek kesehatan apa? Semuanya atau...? Atau, kesehatan rahim?"


Aku malu menjawabnya. Tapi, kuharap dia mengerti.


"Tapi, Mas Nizam suka sama kecambah kok."


"Ya gimana, ya, Ning. Kita kan hanya orang awam. Mendingan langsung dikonsulkan ke dokter spesial kandungan. Tapi...tapi aku yakin kok ini bukan karena kalian ndak sehat. Yo cuman itu jadi ujiannya orang hebat. Pasangan yang hangat dan serasi. Banyak pasangan yang langsung punya anak, akhirnya ndak punya banyak kesempatan pacaran."


Aku setuju dengan semua perkataannya. Tapi, rasanya aku canggung memulai perkacapan tema ini dengan Mas Nizam. Dia saja tak pernah membukanya lebih dulu. Padahal, aku juga tahu dia juga cukup sering ditanya apakah aku sudah hamil atau belum.


Tiba esok hari. Aku meminta Kang Bimo mengantarkanku ke rumah sakit.


"Dok, apa ada masalah serius?"


"Kalau dilihat dari histereskopi barusan, Mbak Niya subur kok. Tadi kan katanya siklus haid normal, keputihan normal, tidak nyeri berlebihan saat haid, haid tidak berflek. Itu semua bagian dari tanda rahim dalam keadaan sehat. Kalau hasil HSGnya, tidak ada penyumbatan apa-apa pada tuba falopinya. Ukuran rahim pun normal."


Aku memilih dokter spesialis kandungan yang paling menjadi andalan di rumah sakit ini. Aku sengaja memintanya memeriksa dengan alat apa pun asalkan hasilnya akurat. Aku akan benar-benar puas.


"Kenapa suaminya tidak diajak sekalian, Mbak?"


"Oh, itu suami saya masih ada di kampus."

__ADS_1


"Kadangkala kendala bisa ada di suami lo, Mbak. Sebaiknya kalau periksa, suaminya diajak sekalian. Jadi, nanti langsung bisa disimpulkan masalahnya ada pada siapa. Tapi, tenang aja. Hasil pemeriksaan hari ini, menunjukkan hasil yang bagus. Normal. Yang sabar, Mbak. Tidak lekas dikasih momongan, bukan berarti karena tidak sehat. Belum waktunya saja. Yang penting dijaga kesehatan dan terus berusaha. Seandainya ada masalah, nanti bisa konsultasi promil. Bisa langsung ke saya atau ke dokter lainnya yang lebih profesional."


"Terima kasih semua sarannya, Dok."


Kang Bimo bertanya sembari membukakan pintu mobil, "Langsung ke kampus atau pulang, Ning?"


"Langsungan, Kang. Aku ada jadwal jam sepuluh dua puluh."


Mobil melaju pelan.


"Kang, bisa tolong nyalakan musik."


"Al-hub fi shumti?"


"Yang zaujati aja, Kang."


Benar katanya dulu. Lagu yang disukai Mas Nizam, sekarang aku pun juga menyukainya.


"Ngapunten, Ning..."


"Kenapa, Kang?"


"Njenengan tidak pengen pijet?"


"Pijat apa?"


"Terapi, Ning, maksud saya."


"Nanti aku bicarakan dengan Mas Nizam. Suwun, Kang, sarannya."


"Nggeh. Ngapunten, Ning."


Denting jam dinding di kamar berbunyi. Berdetak berkolaborasi dengan nyanyian sunyi. Mas Nizam sibuk di depan layar laptopnya. Aku selesai murajaah dan menambah hafalan. Aku bangkit setelah meletakkan Alquranku di bantal. Aku mendekatinya.


"Mas, aku ganggu mboten (tidak)?"


"Hemmm?"


"Aku ganggu?"


Dia mendiamkanku. Jarinya terus mengetik dengan cepat. Matanya tak berkedip.


"Ya sudah nanti saja, Mas."

__ADS_1


"Sebentar, ya. Ini lagi penting banget. Sory, Tuan Putri." Dia menatapku hanya saat memanggilku tuan putri.


Selamat malam semuanya. Selamat membaca. Maaf kalau update Fizah tersendat. Lagi persiapan novel yang selanjutnya. Nyari buku bacaannya maksudnya. šŸ˜ŠšŸ™


__ADS_2