FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 142 "Ada yang Lain"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Sudah lama aku tidak bertemu dengan Ratna. Kangen. Seperti ada keadaannya? Aku berharap dia sudah benar-benar sehat. Tapi, kapan aku bisa bertemu dengannya?


"Ngapain bengong di situ?"


Santri putra berhamburan dari kamarnya. Gus Fakhar kulihat membawa kitab kuning di tangannya, sama seperti yang dibawa para santri. Ketika abah sudah sayah (capek) sering ceramah di luar, siapa lagi badalnya kalau bukan Gus Fakhar.


"Gus, saya ingin ketemu Ratna. Apa bisa?"


"Nanti habis ngaji aku antarkan. Aku juga mau ke konveksian ngecek pesanan. Sekalian ikut aja, ya. Aku mau ketemuan juga dengan Mbak Ala dan Mas Rayyan."


Aku mengangguk. Lalu, aku menepi. Berjalan menyisiri halaman. Santri putra masih berjingkat-jingkat menuju musala. Mereka sesekali melirikku. Aku tak segan melempar pandangan. Tapi, bukan untuk membalas tatapan itu. Aku hanya membayangkan hidup di pesantren ini. Tinggal dengan status yang bukan santri lagi. Aku akan diperlakukan seperti apa?


Santri yang belakangan masih sibuk menguap. Membenarkan sarung yang hampir mlorot. Dia kelihatannya tak begitu bersemangat. Lalu, menata sandal kawan-kawannya. Duduk sebentar seperti memikirkan sesuatu. Dia kira-kira usianya masih dua belas tahun. Tampak masih anak-anak. Tak lama kemudian dia bangkit seraya menguap sekali lagi. Pakaian putihnya lusuh tak pernah disetrika. Sarungnya bagian belakang sudah ngepir.


Pucuk merah di depan ndalem sudah agak rimbun daripada ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini. Aku dan Mbak Ufi telaten menyiramnya setiap pagi dan sore. Juga tanaman-tanaman lainnya. Meski beberapa bulan terakhir orang-orang sangat menggemari tanaman, di depan ndalem ini sudah penuh dengan tanaman sejak dulu. Keluarga ndalem menyukai bukan karena ikut trend. Aku leyeh-leyeh di depan ndalem setelah ikut kegiatan murajaah dua juzan bersama-sama. Aku siap berangkat. Tapi, kegiatan santri putra belum rampung.


"Iza?"


Aku menoleh. "Nggeh, Bu Nyai?"


"Ojo lali. Mengko hasil tes DNA metu. Tapi, bene Fakhar sing mundhut."


Terjemah: (Jangan lupa. Nanti hasil tes DNA keluar. Tapi, biar Fakhar yang mengambil)


"Nggeh. Bu Nyai, ngapunten saya izin keluar menemui Ratna di Darul Amin."


"Ngopo, Nduk?"


"Kangen, Bu Nyai."


"Woalah. Nggeh ndak opo-opo. Nyuwun tulung Kang Bimo kenek, Nduk."


Terjemah: (Woalah. Iya tidak apa-apa. Minta tolong Kang Bimo bisa, Nduk)


"Tadi Gus Fakhar menawari ingin mengantarkan saya, Bu Nyai."


Sebetulnya pada posisi seperti ini aku tidak akan kesulitan jika ingin pergi ke mana saja. Bu Nyai Ridhaa tentu sudah tidak mempermasalahkan lagi kedekatanku dan Gus Fakhar. Aku ingat sesuatu. Tapi, harusnya Ning Ulya juga tahu soal ini karena hari pernikahannya semakin dekat meskipun persiapannya belum kudengar.


"Nduk, Ummik nyuwun dongane mugo-mugo riyadohane Mbak Ulya lancar, Nduk."


Terjemah: (Nduk, Ummik minta doanya semoga tirakatannya Mbak Ulya lancar, Nduk)


"Alhamdulillah. Insyaaallah saya doakan. Sudah khatam, Bu Nyai?"


"Wis ket seminggu wingi."

__ADS_1


Terjemah: (Sudah dari seminggu lalu)


Riyadahan yang dimaksud adalah tirakatan selama empat puluh hari puasa senin kamis rutin kecuali ketika berhalangan syar'i. Juga selama itu santri harus mengkhatamkan tiga puluh juz bil-ghaib setiap hari. Santri yang berhasil lolos riyadahan memang sudah dijamin santri yang hafalannya sudah mutqin. Jika belum, tentu tidak akan mampu murajaah sehari khatam tiga puluh juz. Tidak semua santri yang khatam langsung sanggup melakukannya. Kebanyakan mereka tidak percaya diri. Ada yang awalnya sanggup, tapi putus di tengah jalan. Vakum kemudian. Ada juga yang di tengah-tengah itu diserang penyakit sampai masuk rumah sakit akhirnya dibawa pulang sekalian, diboyongkan.


"Insyaaallah, Nduk, lek tirakatane wis rampung, ijab qobule digelar."


Terjemah: (Insyaallah, Nduk, kalau tirakatannya sudah samlung, ijab kabulnya digelar)


Itu tandanya Bu Nyai Ridhaa dan Kiai Bahar sudah yakin dengan hasil tes DNA yang akan keluar nanti. Aku hanya bisa pasrah.


Di Darul Amin.


Karena Gus Fakhar dan aku yang datang, penjaga di depan tidak banyak bertanya, mereka langsung membukakan gerbang. Tapi, tak menutupnya lagi. Aktifitas di Darul Amin lengang seperti biasa. Mereka bekerja sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada masing-masing. Tugas para pria merawat sapi dan mengurusi ternak ayam di belakang. Para perempuannya di dapur.


"Gus, saya ke kamar Ratna dulu."


Baru maju selangkah, kulihat Ratna membawa sesuatu di tangannya. Dia belum menyadari kedatanganku.


"Ratna?" Aku berteriak.


Ratna spontan berlari. Tak menyadari dia sedang hamil besar.


"Makin gendut, ya, sekarang?"


Dia mengangguk-angguk. Dari ekspresi yang kulihat sekarang, sepertinya dia sudah lebih baik. Dia gembira. Mungkin tidak apa-apa kalau nanti aku menceritakan keadaan Yazeed sekarang.


"Kamu mau makan apa itu?"


"Roti," jawabnya seperti anak kecil.


"Coba aku pengen sentuh perut kamu."


Dia meringis lucu. Mempersilakanku memegangnya.


"Berat nggak, sih, kalau hamil besar begini?"


Kontan dia tertawa.


"Beratlah. Makanya sekarang aku jadi gendut."


"Tandanya makin rajin minum susu, kan?"


"He.em. Yazeed, kan, perhatian banget sama aku, Zah. Serius. Dia itu baik banget. Sama baiknya dengan Dokter Maher."


"Dokter yang sering ngobrol sama kamu?"


"Iya. Yazeed hampir tiap malam nemuin aku, nanyain gimana keadaanku. Tapi, sayangnya sudah dua hari ini dia nggak kelihatan. Kamu ke sini mau nemuin dia juga, kan?"

__ADS_1


Aku tersenyum. "Iya. Dia emang pria yang baik kok, Ratna."


"Yuk, kita duduk di batu-batu itu," kataku.


Ratna membulatkan tatapannya. Aku bahagia melihatnya sudah tenteram seperti sekarang. Yazeed begitu amanah. Dia sangat berjasa atas kesehatan Ratna sampai sejauh ini.


"Kamu tahu Yazeed di mana?"


"Tahu."


"Di mana?"


"Tapi, janji kamu nggak boleh nangis, ya."


"Kok nangis, Zah? Kenapa memangnya?"


"Sekarang dia di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" Nadanya mulai khawatir.


"Yazeed."


"Haaaah? Dia sakit apa? Kok nggak ada yang ngasih tahu kami?"


"Sebentar lagi sembuh kok."


"Aku mau jenguk dia, Zah." Dia bangkit. Mimiknya berubah seratus delapan puluh derajat.


Aku jadi merasa sudah salah bicara. Kupikir tidak akan kenapa-kenapa kalau aku menceritakannya. Dia jadi merengek seperti anak kecil.


Kupegang kedua tangannya. "Dia nggak apa-apa. Sebentar lagi sembuh. Cuman kena luka kecil."


"Kamu serius? Kamu nggak sedang ngelarang Ku buat ketemu dia, kan?"


"Aku kemarin sudah ketemu. Jadi aku tahu kondisinya. Dia baik-baik aja. Lusa mungkin...ya...juga sudah pulang."


"Beneran?"


"Iya bener." Meskipun, sebetulnya aku tidak tahu pasti.


Saking berjasanya Yazeed bagi Ratna, Ratna sampai sebegitunya. Apa itu juga sebagai bukti bahwa sebenarnya Ratna sangat merindukan kasih sayang orang-orang yang dulu sangat menyayanginya?


"Ratna, aku mau tanya sesuatu. Duduk dulu, ya!"


Kami duduk lagi.


"Apa, Zah?"

__ADS_1


"Ingatanmu sudah kembali belum?"


__ADS_2