FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 54 "Utara Desa"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Seluruh perempuan di desa ini punya larangan tertentu di mana larangan tersebut berlaku untuk semua perempuan dari usia anak-anak hingga dewasa. Tidak boleh ada perempuan yang pergi ke arah utara desa. Bahkan, sekadar untuk lewat pun mereka tidak diperkenankan. Jika dilanggar atau ketahuan ada warga desa perempuan yang muncul dari arah sana, mereka akan dikenai sanksi atas pelanggaran norma sosial. Dan, sejauh aku tinggal di desa setelah pulang nyantri, aturan itu memang sangat dipatuhi. Tidak ada yang berani dekat-dekat dengan wilayah utara desa.


Hampir semua orang tua menakut-nakuti anak-anak perempuannya sejak dini supaya tidak punya keberanian pergi ke utara. Mereka mengatakan hantu wewe bergentayangan di sana. Wewe itu akan muncul dari arah barat, dari sebuah gedung tinggi yang sudah puluhan tahun dikosongkan. Hantu tersebut akan membawa siapa pun anak kecil yang lewat di sana. Lantas, siapa pun yang pernah dibawa wewe itu, mereka akan sulit kembali pada keluarganya. Anak kecil yang penakut hanya bisa mendengarkan itu sembari mencicit, menutupi telinganya, mencengkram tangan orang yang bercerita. Menggambarkan suasana mengerikan itu di kepala mereka. Kadang saat cerita itu diulang-ulang ketika mereka berniat keluar setelah magrib tiba, mereka nyaris tidak punya keberanian untuk membantah. Ya, kabar hantu wewe bergentayangan di wilayah utara desa sudah mendarah daging di desaku.


Akan tetapi, setelah ketika beranjak remaja, lalu lambat laun mereka akan sedikit mengerti bahwa wewe yang dimaksud sebetulnya adalah bukan makhluk gaib, melainkan perempuan-perempuan yang hanya akan bekerja di malam hari di salah satu rumah di balik lahan tebu. Remaja dan dewasa yang sudah memahami itu dilarang menceritakan kepada siapa pun. Tidak ada yang tahu kenapa tempat itu bisa tetap berdiri di tengah-tengah masyarakat yang notabene sudah mengetahui.


Dulu aku pernah ingin mencoba mencari tahu dan membongkarnya. Tetapi, ibu melarangku untuk berurusan dengan mereka. Biarlah orang lain yang bergerak. Dan, sampai sekarang tempat itu nyaris diabaikan. Tidak ada yang berani membocorkan keberadaan tempat itu. Aku tidak tahu siapa pelakunya. Karena larangan ibulah yang menyurutkan niatku. Lambat laun aku sendiri juga mengabaikan selagi warga desa tidak ada menjadi korban kemanusiaan di sana.


Hanya pada malam itulah, aku mendapati dua perempuan yang tidak kukenal tiba-tiba muncul dari arah sana malam-malam. Berasalan sedang dikejar orang. Awalnya aku tidak menyadari. Tetapi, setelah melihat Fizah dan Ratna bermasalah dengan dua orang tadi, pikiranku tertuju ke sana. Mereka awalnya tidak jujur mengatakan nama mereka yang sebenarnya. Aku masih menunggu pengakuan itu.


"Makan dulu!" Dua makanan yang dipesan baru datang.


Ratna memandang Fizah. Dia meringis kesakitan seraya menggeleng-geleng.


"Fizah, ikut aku sebentar!" Aku bangkit.


Matanya bertanya kenapa. Dia pun beringsut membuntut.


"Dia sakit apa?"


*Ranaa Hafizah


Aku semakin takut untuk berkata jujur. Masalahnya ini bukan tidak hanya menyangkut soal Ratna. Tetapi, juga privasi diriku yang telanjur sudah diketahui sebagai penghafal Alquran. Walaupun ada keyakinan bahwa pria di depanku memang orang yang baik, sungguh ini tidaklah mudah. Aku masih peduli dengan harga diriku di mata seorang pria. Apalagi, di depan pria yang sudah mengirimiku surat tiga kali.


Aku bisa menimbang seberapa berharganya harga diri seorang wanita. Pria mana yang tidak akan mengubah persepsinya pada perempuan sepertiku walau dengan seribu alasan yang kujelaskan? Pria mana yang tidak akan berpikiran miring melihat perempuan najis seperti diriku mengatasnamakan dirinya sebagai penghafal Alquran? Bukankah itu semuanya terdengar seperti dusta dan penuh kemunafikan? Tetapi, aku sangat membutuhkan bantuan Pak Nizam.

__ADS_1


"Dia sakit apa?"


Aku merasa semakin dikejar oleh rasa ketakutan. Semakin dikejar oleh pertanyaan yang memaksaku harus jujur, aku semakin ingin membungkam mulutku rapat-rapat. Aku bisa mendeteksi ketidaksabaran dalam pertanyaan itu.


"Dia...dia i-tu." Aku menelan ludah.


Aku berharap Pak Nizam menjanjikan sesuatu. Apabila aku jujur, beliau akan segera mengirimku dan Ratna ke pesantren yang jauh dari rumah. Supaya Pak Su dan Mas Hakim tidak akan pernah bisa menemukan kami lagi. Minimal sampai kami menemukan kekuatan dan cara untuk melawan.


"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Aku juga tahu Ibumu tidak pernah mengajarimu berbohong. Dan setahuku, kamu tidak pernah berbohong pada siapa pun. Benar gitu?"


Implisit. Pernyataan itu menohok. Pak Nizam sudah menampar pipiku keras-keras.


"Pak Nizam, saya mohon, Pak. Bantu kami." Aku memohon sekali lagi dengan suara yang lebih meringik dan memelaskan.


"Semakin kamu memaksa, aku semakin yakin kamu memang bermasalah dengan dua pria tadi."


Pak Nizam masih mendiamkanku.


"Bilal tidak kuasa menolak perintah itu karena sebuah ikatan." Aku melanjutkan.


"Jadi, kamulah perempuan yang kulihat malam-malam kabur dari klub malam itu?"


Aku menahan peluru yang datang dari satu arah tepat di depanku. Peluru itu menembus dadaku. Menimbulkan rasa sakit yang tidak dapat kuperlihatkan pada pria itu. Aku menahan dan terus menahan hingga rasa sakit itu benar-benar seperti telah mematikan syaraf perasaku. Memotong urat-urat nadiku. Aku mati berdiri.


Pak Nizam tersenyum sinis. Sedikit memalingkan wajah, lalu kembali menatapku dengan berkata, "Aku hampir tidak percaya. Apa gunanya kamu menghafal Alquran?"


"Apa salahnya jika saya menjadi seseorang yang ingin menjadi kalam Allah?"

__ADS_1


Aku pun diam sebentar. Yang kutatap hanya berdiam. Membenarkan posisi peci.


"Apa karena Pak Nizam pernah melihat saya keluar dari klub malam?"


"Seharusnya aku tidak memandang langit, tapi tanah. Tempatmu berada sekarang."


Walaupun itu sangat tersirat, tapi aku paham betul. Dengan mudahnya Pak Nizam mengatakan aku perempuan rendahan. Sudah cukup jelas Pak Nizam tidak akan mau menbantuku melarikan diri. Dia mungkin sangat terkejut. Tetapi, aku lebih terluka dan malu dikatakan sebagai perempuan rendahan. Harga diriku telah jatuh di matanya.


"Saya akan melupakan semua isi surat itu, Pak. Permisi. Assalamu'alaikum."


Bahkan, aku tidak mendengarnya menzahirkan jawaban salam.


Aku melenggang pergi. Ratna masih terlihat lemas. Tidak mau menyendok makanannya. Aku menarik lengannya.


"Ayo!"


"Berangkat sekarang?"


"Iya. Kita pergi ke tempat yang aman."


"Pak Nizam mau bantu, Zah?" Wajahnya semringah.


Aku menatapnya. "Kita harus cari sendiri, Ratna. Lupakan Pak Nizam."


Aku melihat barang-barangku sudah diturunkan dari motor. Sudah jelas Pak Nizam tidak mau membantuku. Baiklah. Aku tidak akan mengemis. Sudah cukup aku dihina di kolong sampah itu. Dan, di hadapan pria sepertinya, aku tidak akan meminta apa-apa. Kuangkat tas itu. Satunya kuberikan pada Ratna.


Kini aku melanjutkan perjalanan. Entah ke mana.

__ADS_1


"Semoga saja ada penolong lain yang Engkau kirimkan selain dia, Ya Allah." Kubantinkan itu sembari menyingkirkan langkah jauh dan semakin menjauh darinya. Ternyata orang sepertinya pun memandangku berbeda. Ya. Aku memang Sumayyah binti Khayyat.


__ADS_2