
*Ibban Nizami
"Aku mungkin kesulitan jika aku masuk ke pesantren itu. Tapi, dengan beginilah aku bisa memanggil keluar wanita yang akan kaunikahi itu."
Sudah kuduga. Aku hanya menjadi umpan.
"Apa masalahmu dengan dia?"
"Sebetulnya aku tidak pernah menyukai orang yang banyak bertanya. Tapi, berhubung pertanyaanmu itu sangat spesial, aku akan menjawabnya."
Dia mencium keris itu. Lantas kembali menyarungkan warangkanya.
"Sayang sekali kauhanya mendengar sedikit tentang perempuan itu. Berapa banyak yang tidak kau ketahui hemmm?"
Aku tak membuang pandangan. Aku tak segan-segan meluruskan tatapanku tepat di bola matanya. Dia mungkin sudah tidak waras. Wajahnya tampak lebih renta dari usianya. Bekas luka jahitan yang sudah mengering dari telinga memanjang empat senti ke rahang atas. Putih matanya semburat kekuningan. Warna bibir yang sudah hitam. Bau mulutnya menyengat, perpaduan alkohol dan rokok. Kondisi psikisnya sudah tidak normal lagi. Itu menandakan kehidupannya yang amburadul.
"Asal kautahu, Anak Muda. Dia bukan wanita baik-baik. Dia munafik. Setelah kaumenikah dengannya nanti, kau akan tahu. Tidak mungkin kau tidak tahu bagaimana masa lalunya. Dia tidak akan mungkin menceritakannya padamu. Begitu? Ya begitu?" Dia tertawa lepas. Menguarkan bau busuk.
"Kamu bilang dia munafik? Kamu tahu apa artinya itu?"
"Jangan bicara seakan-akan kaulebih mengerti segalanya. Aku? Pria di hadapanmu ini jauh lebih paham." Dia menegaskan. Matanya melotot. Mulutnya mendekat ke telingaku. "Dia bedebah."
Ingin sekali aku meludahinya. Pikiran bebal itu seketika melintas. Kupelankan deru napasku. Emosiku hampir saja terpancing. Aku beristigfar dalam hati. Berulang kali.
"Dia punya ilmu hitam."
"Jangan bicara sembarang." Sudah jelas tidak mungkin Fizah mengenal dunia keilmuan di luar yang diajarkan di pesantren. Dia perempuan yang lahir dari keluarga baik-baik. Juga dibesarkan melalui tangan ibu yang lembut dan penuh kasih sayang. Aku semakin yakin bahwa dia sudah tidak waras.
Dia menyahut, "Dia tidak akan pernah menceritakannya pada siapa pun. Keris ini, kaulihat keris ini!"
"Keris ini tidak mungkin kalah hanya karena perempuan munafik seperti dia."
Di sinilah aku mulai mengerti. Dari keris itulah persoalannya muncul. Kalimatnya yang terakhir sangat berapi-api. Menyimpan penuh dendam dan hasrat ingin menyakiti. Tapi, apa hubungannya keris Brojomukti dan Fizah? Kulemparkan pertanyaan itu padanya.
Dia enggan menjawab. Dia pun menelepon seseorang menggunakan hapeku. Entah siapa yang akan dia ancam. Yang jelas tidak ada nomor keluarga pesantren kecuali nomor Gus Fakhar yang hanya kunamai gus dan satu nomor telepon pengurus putra yang kunamai pondok putra. Tapi, kemungkinannya dia akan menelepon nomor pengurus karena namanya mudah sekali dicari.
Aku tidak bisa melawan sebelum aku mendengarkan pernyataan-pernyataannya. Karena saat inilah aku bisa mendapatkan keterangan yang selama ini ingin aku dengar, yang sekiranya itu sulit kudengar dari Fizah.
Dia berkata kasar. Dia hampir saja membanting hapeku. Panggilan itu nihil jawaban.
"Jangan sampai ada yang mengangkat." Aku mengulang-ulangnya dalam hati.
Dia terus mencobanya sampai sudah yang kelima kalinya tetap bunyi tut tut tut yang mengakhiri.
Aku sendiri ikut bersitegang. Rasanya aku ingin merebut hapeku dari tangan kirinya. Khawatir setelah itu dia melemparkan hapeku karena sebal.
__ADS_1
"Telpon perempuan itu agar ke sini. Sekarang! Tunjukkan mana nomor hapenya."
"Aku tidak akan pernah mau. Terserah kaupaksa aku berapa kali. Lagipula dia tidak punya hape."
"Aku tidak percaya."
"Ter-se-rah." Sama sepertinya yang menunjukkan muka kesal. Aku pun demikian.
Dia mencobanya sekali lagi. Wajah kesalnya berubah agak semringah.
"Cepat datang ke sini dengan Fizah atau calon suaminya akan celaka di tanganku! Aku tunggu sampai nanti malam jam tujuh. Dengarkan itu baik-baik! Aku shareloc."
*Tsaniya Tabriz
Kegiatan santri baru saja usai. Bang Fakhar juga baru dari pondok putri ngaos kitab al-hikam. Bersamaan dengan langkah abang memijak teras, datanglah salah seorang santri putra dengan raut muka bingung dan gupuh. Bahkan dia datang dalam keadaan sarung hampir mlorot.
Abang menoleh dan menanyainya, "Ada apa, Kang?"
"Anu, Gus...ini...ada...mmm...anu yang telepon." Dia gugup. Dia kebingungan mau bicara.
"Kenapa to? Yang jelas kalau ngomong itu," pinta abang.
"Barusan...ini...baru yang nelpon." Dia berdecak. Kesal gagal menjelaskan.
"Ada yang baru telepon? Siapa?" tanya abang lagi.
"Iya terus kamu kenapa gugup?" Giliran aku yang bertanya.
"Tapi, anu, Gus, suaranya bukan Tad Nizam."
"Haaa?" kataku spontan.
"Mana biar aku telepon lagi." Bang Fakhar menengadahkan tangan.
"Oh, nggak biar aku telepon pakek hapeku aja buat memastikan."
Abang buru-buru menelepon Pak Nizam. Tersambung, tapi dia melirikku sambil menggeleng. Sambungan kedua juga begitu. Lalu, sambungan ketiga malah diputus. Abang mengerutkan dahi. Lalu, abang mengirim voice note.
"Kang, kamu baik-baik saja? Telepon aku balik."
"Memangnya tadi ngomong apa?"
"Setangkap saya tadi, Gus. Begini...hmm...kita diminta dateng dengan Fizah atau Tad Nizam akan celaka. Peneleponnya juga sudah share lokasi, Gus." Santri itu memberikan gawainya pada abang.
"Jember?"
__ADS_1
"Jember, Bang?"
"Iya. Ini lihaten to, Dek." Bang Fakhar mendekatkan gawainya.
Aku mendekat.
"Loh, iya, Bang. Terus kita harus gimana, Bang?" Aku ikut kegupuhan.
"Apa kamu punya masalah sama orang?"
"Bang, jangan dibahas sekarang, ya."
"Gus, punten tadi dikasih batasan sampai jam tuju."
"Jam tujuh?" Abang menengok jam dinding. "Lhah, apa nyampek kalau jam tuju?" Menghitung jari seraya bergumam. "Sembilan jam. Tapi, cukup sih, Dek."
"Gimana, Bang?"
"Tapi, Abang penasaran siapa yang mengancam tadi?"
Aku sudah bisa menduganya. Mungkin mereka salah satu dari anak buahnya Pak Su atau malah Pak Su sendiri. Tapi, aku tidak mungkin menceritakannya sekarang. Aku hanya tiba-tiba khawatir. Ternyata orang lain pun bisa terancam karena masalah pribadiku dengan Pak Su.
"Aku nggak tahu, Bang. Mendingan kita berangkat sekarang."
"Berangkat ke mana, Mas? Nggak makan dulu apa? Aku sudah bikin tempo mendoan krispi. Enak banget," rayu Kak Ulya.
Tapi, kami sama sekali tidak bisa tergiur dengan makanan apa pun. Abang gak begitu menghiraukan juga.
"Cobain dikit, Mas!"
Abang mengambil, lalu menggigitnya sedikit. Lalu, mengangguk mengatakan enak. Sekadar untuk menyenangkan hati yang memasak.
"Aku mau ke Banyuwangi sekarang. Ummik dan Abah ke mana?"
"Ummik simak Alquran sama warga."
"Kok nggak ikut?"
"Ummik nggak ngajak. Abah ada di ruangannya sana."
"Ayo kita temui Abah dulu, Dek." Bang Fakhar menarik tanganku.
"Mau ngapain, Dek?" Kak Ulya membuntut.
Aku tidak sempat menjawab.
__ADS_1
Abah masih mengobati pasien yang terkena gangguan. Aku sempat mendengar kasak-kusuk mereka. Pasien itu terkena gangguan semacam pelet bulu perindu. Alhasil kami tidak bisa menunggu abah. Pasien itu baru datang dan rampungnya bisa setengah jam lagi. Bang Fakhar pun mengajak pergi. Hanya menitipkan pesan pada Kak Ulya kami ingin menjemput Pak Nizam di Jember.
Wusssshhhh! Laju memburu kecepatan angin.