FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 126 "Cinta Seorang Ibu"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


"Iza sekarang umur tujuh belas, nggeh?" Ummik terus melontarkan pertanyaan.


"Inggeh, Bu Nyai. Tapi, sayangnya Iza putus sekolah. Ngapuntene, Bu Nyai, hafalan Fizah lancar nggeh?"


"Hafalan Iza masih fokus murajaah. Masih melancarkan. Tapi, insyaallah kalau orang tuanya rida, terus mendoakan, diberikan rizki yang halal, insyaallah semuanya lancar."


"Aamiin aamiin. Monggo disambi. Gus, Kiai, ngapuntene hanya seperti ini. Tapi, buahnya masih seger."


Tuan Kabi mengawali. Dia mengupas salak. Lalu, menawarkannya pada istrinya supaya ikut mencicipi.


"Bu Mini, sebelumnya kami sekeluarga meminta maaf. Bukan bermaksud apa-apa..."


"Nggeh, Pak Kiai."


Abah menoleh padaku. Menyuruhku melanjutkan.


"Dulu Bu Mini pernah bekerja di Madura?"


"Pernah, Gus. Tidak ada dua tahun. Setelah itu kami pulang. Iza lahir." Bu Mini tersenyum.


"Lalu, Bu Mini pernahkah mendengar ada kabar seseorang mencari anak perempuan, lebih tepatnya bayi yang memiliki tanda lahir hitam di ketiaknya?"


"Ooo...itu anu, Gus, begini...saya kok mboten pernah dengar. Siapa, Gus, yang mencari?"


"Di media sosial mboten, nggeh?"


"Kami ini hidup kekurangan, Gus. Apalagi saya juga orang kuno. Jadul. Jadi tidak paham apa itu media sosial, Gus," terangnya cukup lancar.


"Keluarga kami yang mencari. Dan, maksud kedatangan kami ke sini ingin meminta izin supaya Iza bisa melakukan tes DNA."

__ADS_1


"Ngapunten, Gus, ya sebetulnya saya pernah diberitahu Nduk Fizah. Panjenengan sekeluarga meminta Nduk Fizah. Nduk Fizah sendiri...hmm masih meminta pendapat ke saya. Nggeh bukannya saya keberatan, tapi..." Bu Mini diam sejenak. "Tapi..." Urung dilanjutkan.


"Fakhar punya Adik perempuan bernama Tsaniya Tabriz. Tapi, sampai sekarang dia belum kami temukan setelah tujuh belas tahun pencarian. Kami tidak memandang siapa pun, Ibu Mini. Asalkan dia mempunyai tanda lahir yang sama, kami memohon izin agar keluarga berkenan. Permohonan kami hari ini jatuh kepada Iza. Kebetulan Iza pernah bercerita langsung kepada saya, Bu Mini. Sekali lagi kami tidak bermaksud apa-apa selain menjemput ikhtiar kami." Ummik menjelaskan dengan sangat gamblang.


"Nggak mudah mencari gadis usia tujuh belas yang punya tanda lahir seperti milik Tsaniya. Saya mohon Ibu Mini tidak tersinggung karna permintaan ini. Sampai hasilnya jelas, kami nggak akan berani menyebut Iza sebagai Tsaniya yang hilang. Sekaligus kami ingin mengenakan Tuan Kabi dan Nyonya Syawa," kataku. Aku menoleh pada mereka berdua. Aku mengangguk memberikan isyarat melemparkan kalimat selanjutnya.


Tuan Kabi mulai berbicara, "Perkenalkan saya Kabi. Tidak banyak yang akan saya jelaskan di sini. Karena saya di sini hanya sebagai pelengkap. Tidak pantas bila berbicara terlalu banyak. Hanya satu hal saja. Kami dulu pernah membeli seorang anak. Intinya kami sudah salah langkah memutuskan itu. Anak yang kemudian kami adopsi kami beri nama Shanna Zazlyn. Karena suatu hal, anak itu...emm...kalau tidak salah, ya, waktu itu malam-malam sudah lewat jam dua belas malam. Saya meletakkan bayi itu di depan rumah seseorang. Saya tidak tahu siapa. Tapi, alamatnya di Tulungagung. Sudah itu saja. Tugas saya menjelaskan sudah gugur."


Aku melanjutkan, "Jika bukan karena Iza punya tanda lahir yang sama, saya nggak akan langsung nemui Bu Mini. Jadi, Bu Mini sudah pasti paham nggeh."


"Sepuntene. Saya sekeluarga harus menerangkan ini kepada njenengan," ucap abah.


"Bu Mini bersedia mengizinkan?" tanya ummik.


"Ternyata waktu ini tiba juga. Ngapunten, Bu Nyai." Anak mata Bu Mini berair. Dia meraih tangan ummik seketika itu juga.


"Ngapunten, Bu Nyai. Ngapunteeeeen. Kula nyuwun angunging pangapunten. Kula sayang kaleh Fizah. Sayaaaang saestu."


Terjemah: (Maaf, Bu Nyai. Maaaaaf. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya menyayangi Fizah. Benar-benar sayang)


Ummik menatap Bu Mini lekat-lekat.


"Kami siap mendengarkan," lanjut ummik.


Aku menangkap kebingungan di wajah itu.


"Saya mohon maaf, Pak Kiai, Bu Nyai."


"Mengapa panjenengan meminta maaf, Bu?" tanya abah.


"Ada sesuatu yang harus disampaikan?" Aku yang selanjutnya bertanya.

__ADS_1


Jujur saja aku juga sangat penasaran. Antara khawatir dan bahagia. Antara cemas dan mengharapkan. Tapi, aku punya firasat besar. Kuingat kembali firasat ummik. Jika semuanya benar, aku dan abahlah yang keliru karena tidak mempercayai ummik sepenuhnya.


Kami menunggu. Tapi, yang ditunggu masih enggan membuka mulut.


"Mohon apa pun yang saya lakukan, saya mohon dimaafkan, Pak Kiai, Bu Nyai." Bu Mini menelungkupkan tangan.


"Insyaallah. Semoga segala niat baik saya dan panjenengan dicatat sebagai amal salih."


"Aamiin, Pak Kiai. Aamiin."


Gadis muda itu menyahut tiba-tiba. Meninggikan suara. "Fizah saudaraku. Nggak mungkin dia anak Pak Kiai. Dia Adikku. Kalian bisa bertanya kepada semua saudara kami. Mereka pasti mengatakan sama. Sekali lagi Fizah itu Adikku. Saudara kandungku." Dia berdiri di ujung pintu samping.


"Sulung, ndak usah ikut campur. Sudah sampeyan dolan sana. Gih!"


Sulung mendekat. Dia duduk di samping ibunya. Sembari memegang lengan, dia bertanya, "Bu, tapi emang bener kan? Fizah itu saudaraku." Dia menegaskan dengan sangat yakin.


"Jawab, Buk! Katakan kalau emang itu bener. Aku nggak pernah mau tahu. Aku cuek. Urusan Ibuk bukan urusanku. Tapi, yang kuyakini emang begitu. Bahkan, Ibuk lebih menyayangi Fizah timbang aku. Iya, kan Buk? Itu tanda Fizah bener-bener anak Ibuk."


Keduanya menukarkan pandangan tak sama.


"Pak Kiai, tolong, yang aku katakan ini fakta. Bener. Fizah anak kandung Ibuku. Kita saudara. Walaupun, kita nggak pernah akur dari dulu..."


"Sudah, Sulung. Sudah! Ndak sopan berkata begitu." Bu Mini menggertak.


"Buk?" Nada Sulung meningkahi. Dia berani meninggikan suara selantang itu di depan orang banyak.


"Sulung!" Bu Mini membalas sama. Matanya melotot.


Kedua tangan sulung yang tengah memegang lengan ibunya seketika terlepas.


"Kenapa aku ngerasa ini aneh, Buk? Ibuk tinggal mengatakan pada mereka, Fizah itu saudaraku. Anak Ibuk. Aku, Bungsu, dan Fizah adalah tiga bersaudara. Yang Ibuk besarkan sejak dulu dengan keringat dan jerih payah jualan di pasar. Apa susahnya bilang begitu?" Dia kembali menatap abah dan ummik bergantian. Lalu, berhenti padaku. "Ibuku nggak bisa menjelaskan. Saking sayangnya Ibuk ke Fizah, Ibuk pasti tidak terima. Tapi, yang aku katakan barusan cukup mewakili, Mas."

__ADS_1


Bu Mini mengajak sulung bangkit. Mereka menyisih. Kudengar lagi percakapan dengan nada tinggi. Mereka terlibat cekcok. Yang paling dapat kudengar saat sulung mengatakan dia sebetulnya juga menyayangi ibunya. Dia mengakui ketidaksukaannya pada Fizah, tapi jika Fizah harus pergi dari keluarganya, dia mengasihani ibunya. Tapi, percakapan selanjutnya tidak terdengar lagi. Bu Mini kembali. Menyertakan wajah sembap. Melangkah serta mengusap wajah.


"Ngapunten, Bu Nyai, Pak Kiai. Sulung punya sikap yang sangat tidak sopan. Dia tidak pernah masuk pesantren, Pak Kiai. Saya mohon dimaklumi," ucap Bu Mini yang sedang menunjukkan wajah sungkan.


__ADS_2