FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 57 "Majelis Dua Keluarga"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Tiba-tiba saja, malam ini ada tamu datang tidak diundang. Ketika aku masih baru beranjak keluar mengisi pengaosan (pengajian) maknan kitab diba' al-barzanji, Mbak Ufi muncul di seberang pintu.


"Gus, ditunggu Ummik di bawah, Gus."


"Abah masih ada pasien?"


"Nembe mantun, Gus." (Baru selesai, Gus)


"Tamu dari mana, Mbak?"


"Duko (tidak tahu), Gus. Tapi, kedengarannya dari Trenggalek. Tamu diutus lenggah (disuruh duduk) di ndalem, Gus."


"Ok. Kamu tinggal, Mbak."


Ada dua mobil yang datang. Kupikir mereka siapa. Beberapa di antara mereka yang turun dari mobil masih sangat asing. Hanya satu yang kukenal yaitu Kiai Ammar yang keluar dari pintu belakang bersama Bu Nyai Rohmah. Mereka pengasuh pesantren salaf besar di Trenggalek, Pondok Pesantren As-Salam.


Aku berjalan mendekati mereka. Sungkem pada Kiai Ammar. Penumpang lainnya sudah berada di dalam.


"Ini Dek Fakhar?" Bu nyai memastikan.


"Enggeh, Bu Nyai. Ngapunten, ada keperluan apa ini? Saya kok tidak dikasihtahu apa-apa kalau akan ada tamu agung. Ngapunten tidak ada persiapan untuk menyambut."


"Rencananya sudah jauh-jauh hari," sambung Kiai.


"Monggo pinarak!" (Silakan duduk!)


Aku lewat pintu belakang. Ummik masih di dapur dengan Mbak Ufi. Tetapi, ummik baru saja melenggang ke depan.


"Ada apa ini?" Aku berbisik pada Mbak Ufi.


"Itu, Gus, njenengan katanya mau dijodohkan malam ini."


"Kok bisa?"


"Lho saya juga kurang paham, Gus. Tapi, dhawuh Ummik seperti itu."


"Yang mau dijodohkan dengan saya ada di depan? Apa kamu sudah lihat orangnya?"


"Sepertinya belum, Gus. Sering, Gus."


"Emmm..."


"Mereka orang tuanya Mbak Ulya, Gus."


"Masyaallah. Jadi, selama ini Mbak Ulya putrinya Kiai Ammar?"

__ADS_1


"Insyaallah seperti itu, Gus."


"Sebentar. Kamu malah tahu banyak. Dari?"


"Ngapunten. Ummik sendiri yang bicara ke saya, Gus."


Ummik kembali ke dapur.


"Ummik, maksud Ummik apa menjodohkan Fakhar dengan Mbak Ulya semendadak ini?"


"Ki rencana wis suwe, Fakhar." Ummik kelihatan tidak terlalu serius menanggapi aku yang masih terkejut.


Terjemah: (Ini rencana lama, Fakhar." Ummik kelihatan tidak terlalu serius menanggapi aku yang masih terkejut)


"Ummik, tolong ini dijelaskan dulu."


"Awakmu ngerti nyapo Mbak Ulya mondok nang kene?"


Terjemah: (Kamu ngerti kenapa Mbak Ulya mondok di sini?)


Aku tidak menjawabnya.


"Supoyo luweh cedak karo keluargane adewe, Le. Awakmu wis dijodohne wiwit awakmu sektas mlebu aliyah."


Terjemah: (Supaya lebih dekat dengan keluarga kita, Le. Kamu sudah didodohkan sejak kamu baru masuk aliyah)


"Jadi, selama ini Ummik pura-pura?"


"Aku hanya akan menikah dengan perempuan pilihanku sendiri, Mik."


"Awakmu ndak sayang Ummik?"


"Loh, nggeh, mboten ngoten."


Terjemah: (Loh, ya, tidak begitu)


"Percuma lehmu ngaji khatam hikam lek awakmu ra biso legowo. Abahmu wis setuju, Le."


Terjemah: (Percuma kamu ngaji khatam hikam jika kamu tidak bisa lapang dada. Abahmu wis setuju)


Ummik memberi isyarat Mbak Ufi agar membawakan dua piring berisi roti.


"Ilingo. Ojo mburu barang sing durung pasti. Mending nompo opo eneke sing wis ketoro."


Terjemah: (Ingat! Jangan mengejar sesuatu yang belum pasti. Lebih baik menerima apa adanya yang sudah terlihat)


"Lalu, bagaimana dengan Tsaniya yang Ummik yakini masih hidup?" Aku hanya membatinkan itu. Aku tidak mau berdebat dengan ummik walaupun selama ini ummik malah memperjuangkan sesuatu yang belum pasti.

__ADS_1


Ulya, Ulya, Ulya. Ya, aku mengulang-ulang nama itu dalam pikiranku. Sejak kapan dia menerima perjodohan ini?


Mbak Ufi kembali, berkata, "Gus, diutus ke sana."


Mau tidak mau aku tetap harus menghargai kedatangan mereka. Jauh-jauh datang dari Trenggalek untuk memenuhi niat yang baik.


Aku duduk di samping abah. Sekilas aku mengerling, tidak ada Mbak Ulya di sini. Dia pasti di pontri. Dan, dia pasti sudah tahu kedatangan orang tuanya malam ini. Kenapa juga sebelumnya dia tidak berkata jujur padaku?


"Alhamdulillah kita saget makempal wonten majelis niki kapurih maksud nggeh meniko silaturahmi keluargi antawis keluargi kula lan Kiai Mas'udi. Mugi-mugi angsal barakah saking ngarsanipun Allah ta'ala." Abah mengawali.


Terjemah: (Alhamdulillah kita bisa berkumpul di majelis ini dalam rangka yaitu silaturahmi keluarga antara keluarga saya dan Kiai Mas'ud. Semoga mendapatkan barakah dari Allah ta'ala)


Jika ini hanya acara pertemuan dua keluarga, semoga perjodohan itu belum diresmikan. Aku masih bisa menegonya. Jika aku menolak perjodohan ini, maka artinya aku harus mencari calon secepatnya. Ya aku harus bisa meyakinkan Ummik terutamanya.


Tidak ada rangkaian acara khusus. Malam ini memang terlihat hanya pertemuan biasa. Sampai setengah jam kami saling berbincang-bincang, belum ada yang menyinggung perjodohan itu. Aku lega. Mbak Ulya tidak diperkenankan hadir. Tetapi, usai memperhatikan abah dan Kiai Ammar yang terlihat sangat akrab, ikatan dua keluarga ini nantinya akan memberikan peran yang besar dalam memajukan pesantren.


Aku ingat cita-cita abah sejak dulu ialah memiliki ribuan santri. Hanya saja abah tidak pernah menargetkan itu. Abah terus fokus mendidik santri-santri yang ada dan melayani masyarakat yang datang berobat. Dan, abah tidak pernah menyinggung soal syarat perempuan yang bisa kujadikan calon istri, terkhusus calon istri yang nantinya dapat memperat ukhuwah dua pesantren. Sebenarnya itu sah-sah saja bagi siapa pun kalangan trah pesantren yang ingin mencari jodoh dari kalangan sama, tapi tidak denganku.


Semakin lama perbincangan mereka mulai keluar jalur topik utama maksud kedatangan malam ini. Abah dan Kiai Ammar sibuk membicarakan batsul masail. Pelan-pelan aku menyingkir dari sana tanpa sepengetahuan. Aku akan menemui Mbak Ulya di pontri.


Dia tengah mendaras di depan kamarnya. Aku menyuruh santri yang lewat agar memanggilnya ke sini. Dia menoleh padaku begitu mendengarkan pesan. Lalu, dengan tetap membawa Alquran di tangannya, dia berjalan dengan raut wajah biasa-biasa saja.


"Mbak, aku tanya serius, kamu jawab jujur."


"Enggeh, Gus."


"Kamu tahu Abah dan Ummikmu datang, kan?"


Dia mengangguk.


"Kamu tahu soal perjodohan kita?"


Dia pun menggerakkan sama.


"Kenapa kamu tidak jujur padaku. Sudah jelas, kan, wisata ke Tulungagung kemarin bagian dari rencana Ummik yang sudah kamu ketahui juga?"


"Punten. Kalau itu, saya belum tahu, Gus. Bener." Dia menjawabnya dengan agak menunduk.


"Kamu sendiri apa setuju perjodohan ini diteruskan?"


Dia juga mengangguk lagi.


"Pertanyaan terakhir. Dan, ini yang paling penting. Apa kamu menyukaiku?"


Dia urung menjawab. Melihat wajahnya yang justru malah mendongak, aku memastikan sebetulnya dia tidak setuju. Aku tidak perlu memastikan terlalu dalam karena sesungguhnya aku tidak perlu tahu bagaimana perasaannya padaku. Baik dia menyukaiku atau tidak, aku berharap perjodohan itu bisa dibatalkan.


"Kamu matur (bilang) pada Abahmu jika kamu tidak bisa meneruskan perjodohan ini."

__ADS_1


Dia tersenyum tipis, lalu mengangguk.


Tetapi, justru aku bertanya-tanya. Kenapa dia tersenyum?


__ADS_2