FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 176 "Mosaik 4"


__ADS_3

*Wardah Mustika Rahayu


Aku segera menukasnya, "Aku jujur, Mas. Ada apa, sih?"


"Tik, kamu seharusnya tahu kalau dengan memberikanku patrem itu, masalah akan muncul."


"Mas, aku sengaja mengesampingkan itu. Yang penting aku bisa ngasih kamu sesuatu. Dan sesuatu itu bagian dari yang paling berharga dari hidupku. Keris itu, Mas. Patrem yang sering ada bersamaku. Kutitipkan padamu agar nanti dia menjadi hadiah istimewa juga untuk calon istrimu."


"Tapi, apakah kamu tahu patrem itu bisa membawa dampak buruk untuk orang lain?"


"Nggak, Mas. Patrem itu nggak akan menyakiti siapa pun. Lagipula Mas Nizam kenapa jadi percaya begituan. Aku kira Mas Nizam mengabaikan itu semua."


"Bukannya aku mempercayai itu. Tapi, rasanya janggal, Tik."


"Janggal?"


"Aku bingung mau ngomong dari mana. Sebentar."


Aku membiarkannya diam sebentar saja. Aku sendiri jadi memikirkan sesuatu. Apa yang tidak aku ketahui setelah keris itu berada di tangan orang lain? Apa Nyai Sekar Wangi marah aku memberikannya pada orang lain?


"Biarkan aku yang nanya. Apa ada kejadian, Mas, habis aku ngasih patrem itu ke kamu?"


"Beberapa hari setelah patrem kuberikan pada seorang perempuan, perempuan itu meninggal. Tapi, dia diagnosis tekanan darah tinggi dan punya penyakit paru-paru. Sebetulnya bukan itu yang aku permasalahkan. Soal itu, aku menganggapnya memang murni karena penyakit terlepas dari penyebab yang sebenarnya, yang nggak tahu ketahui, Tik.


"Terus terus?"


"Keris itu sempat berada di tangan Kiai. Beliau pengasuh pesantren Al-Furqan Magetan."


"Artinya Mas Nizam melamar putri Kiai itu?"


"Ya. Tapi, setelah itu Kiai memberikanku amanat agar mengembalikannya. Entah Abah tahu dari mana. Abah juga tahu nama patrem itu Nyai Sekar Wangi. Betul?"


Aku terkejut mendengar itu. "Kok bisa? Aku nggak ngasih tahu ke kamu, Mas."


"Itu di luar kuasa kita sebagai orang awam. Aku hanya bisa menduga Abah mendapatkan isyarah."


"Memang, Mas. Aku sempat perang dengan Bapak. Ini kali pertamanya Bapak sangat marah. Marah besar. Bapak tahu patrem itu tidak lagi bersamaku. Tapi, aku tahu Bapak akan lebih marah besar padamu, Mas, kalau aku ngasih tahu kamulah orang yang memegangnya. Lalu, akhir-akhir ini Bapak sering bertemu dengan dua orang. Mereka membicarakan keris. Keris Nyai Sekar Wangi dan keris Brojomukti."


"Apa hubungannya?"

__ADS_1


"Aku masih ingat. Dulu ada pria datang ke rumah memohon kepada Bapak agar diberikan keris. Keris perlindungan. Sebelum Bapak tahu patremku tidak ada di tanganku, mereka sudah bertemu sebelumnya. Aku kalau nguping biasanya setengah-setengah, Mas. Tapi, kalau nggak salah dia ingin membalaskan dendam pada seseorang. Dia punya misi untuk mencelakai seorang perempuan. Entah apa kaitannya keris Brojomukti, Nyai Sekar Wangi, dan perempuan itu. Tapi, seakan-akan ketiganya saling berkaitan."


"Maaf, Tik. Maaf. Bapakku pernah berencana akan mencelakaiku?"


"Bapak hanya ingin merebut kembali patrem itu, Mas. Tapi, Bapak nggak turun tangan sendiri. Bapak nyuruh salah satu dari dua orang yang kusebut tadi."


"Siapa dua laki-laki itu? Coba kamu ingat-ingat namanya!"


"Nggak tahu aku. Kalau ciri-cirinya dia laki-laki yang tinggi. Wajahnya nggak buruk. Biasa aja. Yang lebih tua, dia lebih pendek. Wajahnya sangar. Sulit tersenyum. Mereka punya kulit cokelat. Sekilas wajah mereka agak mirip juga, sih, Mas."


"Apa namanya Sumarjo?"


"Bapak jarang panggil nama. Aku nggak pernah tanya. Ibu juga jarang mau cerita kalau sekiranya itu masalah pribadi Bapak."


*Ibban Nizami


Sampai pada percakapan ini, pelakunya hanya ada dua orang. Ki Dalang dan Sumarjo. Hakim mungkin terlihat sedang berpihak, tapi sebetulnya dia sedang membela yang lain. Aku akan mengabaikannya dulu. Fokus pada dua nama saja. Jika dilihat dari pernyataan Mustika yang kedua terakhir, dua orang itu sepertinya memang Sumarjo dan Hakim. Aku cenderung pada mereka. Namun, aku merasa belum masuk akal jika alasan mereka mengenal Ki Dalang karena ingin membalaskan dendam pada seseorang perempuan. Sementara, yang dicari-carinya selama ini adalah Fizah. Dia pasti mempunyai alasan tertentu kenapa masih mengejar Fizah ketika tempat itu telah dibongkar paksa. Kemudian, saat Ki Dalang menyuruhnya untuk mencari patrem Mustika itu, Sumarjo memanfaatkan kesempatannya dengan mencelakai Fizah. Sementara sudah terdengar logis. Tapi, kenapa dia baru mencelakai Fizah setelah mendapatkan perintah itu? Kugoyahkan dugaan sementaraku.


"Oke. Dan, sekarang aku minta maaf harus mengembalikan ini. Sesungguhnya aku tidak berhak menerimanya. Ini amanah yang harus kusampaikan. Bersama pemilik yang sesungguhnyalah, patrem itu akan melekat begitu dekat. Kalian sudah bersama sejak lama, kalian tidak bisa dipisahkan. Hari ini aku mempertemukan kalian lagi. Ini milikmu, Tik. Simpanlah sendiri. Terima kasih atas niat baikmu."


"Maaf jika keinginananku malah membuat keadaannya begini, Mas."


"Ya nggak papa. Setidaknya aku sudah tahu sebagian besar ceritanya. Penasaranku terobati, Tik. Lalu, apa yang akan kamu katakan pada Bapakmu setelah keris ini kembali?"


"Apa kamu punya handphone?"


"Enggak, Mas."


"Yang jelek-jelekan aja?"


"Nggak ada."


"Seandainya ada, nanti kamu bisa memberi tahu aku apa pun info yang berkaitan dengan masalah ini."


Warung dibuka. Penjaga kasir sudah siaga di tempatnya. Beberapa pembeli mulai berdatangan.


"Kalau boleh tahu siapa, Mas, nama calon istrimu?"


"Tsaniya Tabriz."

__ADS_1


"Bahagianya mendapatkan pria baik kaya Mas Nizam." Dia tersenyum.


"Kamu mau makan apa biar aku yang traktir."


"Mas Nizam aja. Aku jarang mood makan, Mas. Efek hamil muda."


"Minuman?"


Dia tetap menggeleng.


"Aku pamit pulang aja, Mas. Makasih sudah menjaga patrem ini."


"Kok buru-buru?"


"Kebetulan rumah lagi kosong."


"Terima kasih sudah menyempatkan."


"Iya, Mas."


Aku lega. Kini patrem itu telah kembali pada pemiliknya.


"Tik, Tik?" Aku mengejarnya.


"Ya?"


"Apa aku bisa ketemu sama Hakim?"


"Siapa dia?"


"Salah satu laki-laki yang kamu maksudkan tadi salah satunya Hakim. Kamu tahu di mana dia?"


"Wah, aku nggak ngerti, Mas. Maaf nggak bisa ngasih info detail. Coba, ya, kalau habis ini aku dapat info, aku tak melipir ke rumahmu sebentar. Siapa tahu bisa."


"Makasih banget, Tik."


"Ya, Mas. Assalamu'alaikum?"


Kujawab lirih.

__ADS_1


Adab kesantunan memang sudah melekat erat dalam dirinya. Dengan siapa pun dia bersikap baik. Aku benar-benar bersyukur masih diperkenankan mendapatkan pertolongan melaluinya. Meskipun dia sudah pernah kukecewakan hatinya.


Selamat membaca. Selama tidur. Terima kasih atas doa-doa terbaiknya. Doa yang baik semoga kembali pada yang mendoakan. 🙏🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2