FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 128 "Pertemuan Kedua"


__ADS_3

*Sulaiman Ad-Daffa'


Semalam kami tidur di rumah salah satu kawan Mas Nizam sewaktu nyantri dulu. Kebetulan tempat tinggalnya hanya berkarak lima kilo dari pesantren. Selepas sarapan, kami pamit berangkat. Maksud hati ingin juga mengajak Mas Kabir, tapi dia memohon maaf sebab dia harus bekerja, berangkat pukul delapan pagi. Setiba di Al-Furqan, kami langsung menuju ndalem kiainya. Tapi, saat Mas Nizam bertanya kepada salah seorang santri, santri itu mengatakan Kiai Bahar sedang memenuhi undangan pengajian di Kartoharjo. Hanya ada bu nyai yang masih ada simak Alquran bersama beberapa santri putri, termasuk dengan calon menantunya, di Botok Geplak. Sedangkan, putranya Gus Fakhar juga sedang ada di konveksian.


"Kita balek. Nanti ke sini lagi," ucap Mas Nizam.


Aku mengeluarkan kunci mobil Mas Nizam dari saku kemejaku. Dia memintaku yang nyetir. Dia beralasan lelah.


Masuk mobil. Perlahan setir kubelokkan ke kanan. Kaca kubiarkan tetap terbuka. Sebentar menganggukkan kepala, menyapa santri yang lewat.


"Kamu ingat dua perempuan yang pernah kita temui waktu aku mengajakmu membeli baju untuk hadiah ulang tahun Mbak Rubia?"


"Ya. Aku ingat, Mas."


"Mereka Fizah dan Ratna. Aku ingin menemui Ratna di padepokan Yazeed."


"Fizah juga di sana?"


"Ada di sini."


"Jadi sebenarnya kamu ingin menemui Fizah di sini, Mas?"


"Enggak. Siapa tahu jika aku mengajakmu, ada santri yang kepencut sama kamu." Dia membubuhkan tawa di akhir kalimat.


"Etdaaaah." Aku pun menertawakan niatnya yang menurutku lucu. Tapi, ada benarnya juga. Selama ini aku belum bisa melupakan Mbak Rubia.


"Semua santri di sini penghafal Alquran. Kamu tinggal pilih. Dengan syarat sudah siap berumah tangga. Insyaallah jadi."


"Kamu sendiri gimana?"


"Tunggu saja ke depannya."


Mobil berpacu dengan kecepatan angin yang bertiup dari arah yang berlawanan. Mas Nizam turun bertanya kepada orang di pinggir jalan. Padepokan yang dimaksud bernama Darul Amin. Katanya hanya setengah jam agar bisa sampai di sana. Selanjutnya, kami mengandalkan maps. Sekitar satu setengah kilo, kami belok ke jalan yang sudah tidak lagi beraspal. Untuk memastikan kami tidak melewati jalur yang salah, Mas Nizam turun bertanya lagi. Menghentikan jalan seorang pria sepuh yang sedang membawa segebok rumput. Pria sepuh itu tampak manggut-manggut. Dua kali menunjuk arah ke utara. Sepertinya kami memang masih harus jalan terus.


Mas Nizam kembali masuk. "Nggak jauh. Tinggal terus. Yok!" Menutup pintu.


Sepuluh menit kemudian.


Sepintas kulihat padepokan ini tidak serupa padepokan. Ada empat penjaga di luar gerbang kayu hang menjulang tinggi kira-kira tiga meter. Penjaga itu mirip seperti body guard dengan pakaian serba hitam. Juga udeng di kepala.


"Yakin ini tempatnya?"

__ADS_1


"Aku nggak tahu." Mas Nizam mengajakku turun.


Aku pun melangkah turun meski sedikit ragu. Kututup pintu mobil pelan-pelan.


"Kau belum tahu padepokan apa ini. Aku hanya mengira-ngira sebelumnya. Padepokan ini bukan pesantren."


Belum ada gambaran. Pikiranku menerawang.


Kami melangkah berjajaran.


"Assalamu'alaikum. Permisi." Mas Nizam yang memulai.


"Wa'alaikumussalam." Keempatnya menjawab serempak. Lalu, salah satunya bertanya, "Anda ingin menemui siapa dan ada perlu apa?"


"Saya ingin menemui Yazeed dan Ratna. Perempuan yang sekarang sedang hamil."


"Jadi, perempuan itu lagi hamil sekarang?" batinku.


Aku tidak tahu kenapa Mas Nizam tiba-tiba berurusan dengan mereka. Siapa Ratna dan Fizah? Aku hanya sekilas pernah mendengar dari cerita yang disampaikan padaku sebelumnya.


"Gus Yazeed sedang keluar. Jam segini beliau jarang ada di ndalem. Abah dan Ummik tidak bisa diganggu karena ada acara di dalam."


"Kalau boleh tahu acara apa? Kapan kami bisa menemui? Saya harus membicarakan hal penting dengan Yazeed dan Ratna. Pasti kalian tidak mengizinkan jika saya ingin menemui Ratna tanpa izin Yazeed."


"Minta tolong tanyakan!"


Mereka berbisik. Lalu, salah satunya merogoh ponsel dari saku celana. Agak menyisih sembari mendekatkan ponsel ke telinga.


Aku menahan untuk tidak bertanya. Nanti aku juga akan tahu sendiri. Jika Mas Nizam mengajakku, berarti dia memang siap untuk menceritakannya padaku.


"Silakan duduk di saung itu."


Aku menoleh, menatap saung yang ditunjuk. Ada dua saung berjejer. Beratapkan merang. Mirip seperti gubuk di tengah sawah.


Pria itu ke dalam. Yang lainnya tetap di depan. Berdiri seperti patung.


Kami menunggu Ratna dipanggilkan.


Burung-burung bercicit-cuit. Terbang menyebar ke udara ketika ada angin berembus lebih kencang. Di samping kananku, jalan ini diapit oleh pohon-pohon kelapa. Sinar matahari mendesak beberapa helai daunnya agar bisa bersitatap dengan mataku yang sedang mengerling ke beberapa sisi.


"Padepokan ini sangat tertutup untuk orang luar."

__ADS_1


Lalu, ada dua orang berturut-turut masuk ke gerbang tanpa izin. Mereka membawa tumpukan rumput di atas kendaraan. Kami memperhatikan dua orang itu.


"Sepertinya tidak," kata Mas Nizam kemudian.


Dia menatapku. "Hanya untuk orang yang tidak dikenal. Bagi masyarakat sini, kelihatannya tidak masalah.


Selang beberapa menit, gerbang dibuka. Puluhan orang keluar dari sana. Rata-rata yang keluar adalah laki-laki dengan usia dua puluh lima ke atas. Ada yang berjalan kaki dengan memeluk kitab di dada. Yang lainnya saling berpamitan, lalu menaiki sepeda jengki ataupun turonggo. Yang kelihatan agak muda mengendarai sepeda motor.


"Mungkin habis ada pengajian di dalam," kataku.


Ratna menyembul dari lubang gerbang yang hampir ditutup kembali.


"Ratna?" panggil Mas Nizam.


Dia menutupi perutnya. Kebetulan dia sedang memakai baju yang sangat longgar. Sekilas tidak kelihatan kalau dia tengah hamil. Perlahan dia mendekat. Raut mukanya setengah disembunyikan.


Mas Nizam menggeser pantat. Mempersilakan Ratna duduk di saung yang sama.


"Sehat? Bayimu juga?"


"Pak Nizam tahu itu?"


"Aku sudah tahu. Aku tahu semua kecuali yang akan aku tanyakan padamu, Na. Tapi, kamu bener sudah sehat?"


Dia enggan menjawab. Kalimatnya tak segera keluar. Malah menatapku. Matanya bertanya aku siapa. Sekilas ingin bertanya, tapi tidak berani.


"Aku yang waktu kamu temui di depan toko baju. Namaku Sulaiman. Panggil saja Iman. Sudah berapa bulan?"


Mas Nizam menatapku agar tidak menanyakan itu. Aku mengajukan pertanyaan lain, "Barusan ngaji?"


"Iya, Pak." Dia segera menatap Pak Nizam. Yang baginya tidak lebih asing dariku. "Pak Nizam sudah menemui Fizah?"


"Sudah. Aku barusan juga mampir, tapi aku langsung ke sini. Habis dari sini, nanti balek ke sana. Aku minta maaf sudah meninggalkanmu waktu itu dengan Fizah di jalan. Apa kamu memaafkanku?"


Ratna mengangguk.


"Terima kasih, ya. Sekali lagi aku minta maaf."


"Aku sudah menemukan tempat tinggal di sini, Pak. Yazeed yang menolongku."


"Aku sudah tahu. Ibunya Fizah yang bercerita. Fizah juga bilang begitu."

__ADS_1


"Oh."


__ADS_2