FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 111 "Kepergok"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


"Mbak, sejak kamu ndak di ndalem, aku capek banget rasanya. Di ndalem, aku jarang banget setoran. Giliran setoran, badan ini rasanya sudah pegel semua. Semua aku kerjakan sendiri. Bedanya, kamar Bu Nyai aku sekarang tidak perlu membersihkan. Enteng kalau ada temennya. Andai saja ndak ada drama begini. Kamu masih di ndalem kerja bakti sama aku. Mbak Ulya ke ndalem juga jarang-jarang atau pasti lagi masak aja."


"Maaf, Mbak Fi. Ini di luar perkiraanku."


"Okelah. Aku kembali, ya. Nanti dicari Bu Nyai."


"Gus Fakhar sekarang lagi apa?"


"Aku dengar tadi sih deresan. Sudah, ya. Assalamu'alaikum?"


Aku menjawab salam itu lirih. Kubuka mangkuknya.


"Isinya lontong sayur dan sate kelinci."


Aromanya merontakan perutku. Menunya menggugah selera. Kebetulan aku belum makan sejak tadi.


Aku menoleh ke belakang. Mbak Furi ternyata masih di posisi sama. Dia murajaah hafalannya.


"Wih, dapat kiriman dari ndalem ini."


Aku mengembangkan senyum.


"Bu Nyai masih perhatian banget sama kamu. Beruntung kamu, Mbak. Disayang Bu Nyai itu kenikmatan. Hmmm...pengen juga. Hehehe."


"Ndak tahunya aku pindah ke sini karena berbuat salah," batinku.


"Mau makan bareng aku ndak?"


"Boleh boleh. Ayok!"


Aku membawa makananku ke kamar. Mbak Furi yang dari kamar sebelah kupaksa ikut masuk. Tidak masalah karena dia yang lebih dulu tahu aku dapat makanan dari ndalem.


Sejurus kemudian, aku mendengar derap langkah kaki berdebum cepat ke depan kamar. Aku menoleh.


"Mbak?"


Mbak Ufi melambaiku.


"Buka saja dulu tidak apa-apa," kataku pada teman-temanku.

__ADS_1


Aku bangkit. Kupakai sandalku.


Mbak Ufi menata napas. "Mbak, tadi aku lupa dikasih pesen Gusnya. Makanan itu hanya buat kamu."


"Gitu? Kok aneh, ya?"


"Ndak tahulah. Pokoknya begitu. Sudah ya."


"Iya, Mbak. Terima kasih."


Aku menoleh, hendak melepas sandal, kulihat teman-temanku heboh. Mereka kasak kusuk. Mataku menatap penasaran sampai mendekati bingkai pintu.


"Ada apa, Mbak?"


"Ada surat."


"Haaa? Surat? Surat apa?" Aku jongkok. Meminta surat itu. Aku meraihnya dari pegangan Mbak Ummu. Dadaku berdenyut-denyut. Pasti berhubungan dengan larangan makanan ini sampai kepada orang selain aku.


Aku melirik mereka sebelum membacanya.


"Pasti dari Gus Fakhar, ya, Mbak?" Pertanyaan itu tak terdengar sedang meledek, tapi mencari pembenaran.


"Mungkin."


Iz, kemarin aku dapat pesan dari Mas Yazeed. Intinya dia minta kejelasan dari kamu. Paling tidak, ya, kamu ngasih keterangan iya atau tidak gitu saja. Balas surat ini, nanti Ufi aku suruh ngambil. Biar dia saja yang jadi mbak posnya. Kalau hari ini atau besok tidak ada balasan, dia mau ke sini lagi setelah pulang dari Banyuwangi dan Mojokerto.


"Yazeed itu siapa?"


"Kejelasan apa lo, Mbak Zah?"


"Iya, nih. Jadi yang Arek bicarakan itu bener, kan. Kamu memang cukup dekat dengan Gus Fakhar."


Semua santri di kamarku turut andil menyumbangkan kalimat. "Hati-hati, Mbak. Gus Fakhar sudah punya calon istri. Semua di sini tahu, Mbak Ulya calon istrinya. Makanya semenjak tahu beliau sudah memberikan cincin peningset, kami yang ngefans beliau langsung gugur ke bumi."


"Yazeed siapa, sih?" tanya Mbak Furi.


"Temannya Gus Fakhar." Aku tidak yakin dengan kejujuranku.


Aku tertodong oleh tatapan-tatapan mereka.


"Minta kejelasan. Hmm...min-ta ke-je-las-an. Minta kejelasan itu berarti kamu ditawari sesuatu?" Pertanyaan itu nyaris menyebut kata aku dilamar.

__ADS_1


Aku hampir tersedak air liurku sendiri. Tenggorokanku gatal. Aku berdehem-dehem.


Aku sengaja memperlama gaya batuk-batukku. Berharap mereka segera mengalihkan topik pembicaraan. Tapi, ada yang dari mereka malah menumpuk gelisahku dengan pertanyaan lain. Semakin melebar sampai ada salah satu dari mereka mengira aku dilamar Yazeed.


"Serius dilamar Yazeed? Kaya apa orangnya? Pasti dikenalkan Abah. Mbak ndalem itu urusan jodohnya ada di tangan Kiai Bahar."


Mbak Rere menambah, "Mbak, suratmu jangan sampai ada yang tahu. Muraqibah paham, bisa kena sanksi berat. Atau, nggak gitu dilapor ke Bu Nyai. Ada lo arek putra ngasih surat ke sini, besoknya mereka dikenai sanksi setelah dipanggil ke ndalem berdua. Tapi, katanya yang nyidang Guse. Lha ini Gusnya yang ngirim surat, layo yang nyidang pasti Bu Nyai atau malah langsung Kiai Bahar. Ati-ati lo."


"Maaf, aku ndak bisa cerita."


"Yaaah, padahal kita pengen tahu banget. Siapa Gus Yazeed?"


Aku menerawang mata mereka satu per satu. Sebetulnya mereka tidak kelihatan sedang menerkamku dengan tuduhan apa-apa. Tapi, seolah-olah pertanyaan itu melucuti keberanianku untuk berbicara. Kalimat di tenggorokanku, rasanya hanya bisa sampai pada kerongkongan. Apabila aku memberi mereka keterangan, aku cemas mereka akan semakin leluasa bertanya.


Mbak Furi setengah berbisik, "Kamu dilamar bukan? Tapi, kamu dekat dengan Gus Fakhar. Ini gimana sebenarnya? Ayolah ngobrol dengan kita."


Mereka terus membujuk rayu. Mereka justru mengeluarkan ultimatum akan memberikan suratku pada muraqibah jika aku tidak lekas bicara. Kekhawatiranku berlarian ke sana ke mari. Muara itu akan selalu berhenti pada pertanyaan bilamana mereka tahu aku yang sebenarnya? Kurasakan keringat dingin mulai menerobos kain jilbabku. Wajahku mungkin sudah terlihat gugup.


"Oke. Jawab saja intinya gitu," ujar Mbak Furi.


"Aku tidak dekat dengan siapa pun."


"Ya ndak mungkin. Ini buktinya kamu dikasih surat dari Gus Fakhar. Walaupun ini tidak ada tulisannya siapa pengirimnya, bener kan dari Gus Fakhar? Soalnya perantaranya Mbak Ufi," kata Mbak Ummu.


"Ya Allah, kenapa Gus Fakhar mengirimiku surat dengan cara seperti itu. Tapi, jika Mbak Ufi tidak lupa memberitahu, aku akan mengambil surat itu dulu."


"Kita nggak menuduh, Zah. Kalau kedekatan kamu itu beneran, kasihan Mbak Ulya. Dia pernah lo kata teman sekamarnya, melepas cincin itu sampai beberapa hari," kata Mbak Furi lagi.


"Apa mungkin itu yang membuat orang-orang jadi membicarakan aku?" batinku.


"Santri-santri penasaran, kan, ya kenapa cincin itu dilepas. Setahu kita pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Eh, ternyata diundur. Kita nggak sabar soalnya pengen lihat Mbak Ulya jadi manten (pengantin)." Mbak Furi tetap yang dominan bicara.


"Heh, jangan sampai Mbak Ulya tahu lo," ujar yang lain.


Aku memberanikan diri bicara lagi. "Gus Yazeed itu kawan Gus Fakhar. Gus Yazeed yang membantuku masuk ke sini."


"Gimana ceritanya?" Mbak Ummu yang bertanya.


Aku sudah menduga mereka akan bertambah penasaran dengan keterangan baru yang aku sampaikan.


"Ehmm...ya begitulah pokoknya. Beliau menawarkan aku sesuatu. Maaf aku tidak bisa cerita banyak."

__ADS_1


Mereka menghela napas. Tidak bertanya lagi. Tapi, aku tahu mereka masih butuh keterangan panjang lagi sampai mereka merasa puas.


Mohon maaf atas keterlambatan up sampai seminggu lamanya. Kemarin sy sudah menyampaikan ini di grup dan story fb karena ada halangan menulis. Bisa di add fb saya Kuni Umdatun. Terima kasih untuk segala dukungan, kesabaran, prasangka positif panjenengan semua. Sekali sy minta maaf karena membuat panjenengan menunggu. InsyaAllah nanti saya up lagi entah sore atau malam, nggeh. Terima kasih banyak. 🌸🌸🌹🌹🌹❤️🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2