FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 207 "Minggu Kedua"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


"Selamat, Mbak Ufi. Bukan, eh, maksudku Ning Ufi Yasmina Madah."


"Ya Allah, jangan begitu to, Ning, Ning. Malu loo heeeeh," bisiknya. Masih dengan gaya khasnya yang agak heboh.


Hanya dengan aku memperhatikannya, aku tahu dia tengah berbahagia. Senyumnya tak habis-habis meski berkali-kali harus diberikan kepada tamu undangan yang memberikan ucapan selamat dan doa. Aku dan Mas Nizam sengaja tak segera pulang. Aku yang memintanya. Aku masih ingin berbincang-bincang dengan Mbak Ufi. Mas Nizam sendiri sekarang juga masih berbicara dengan Yazeed di depan mimbar pelaminan.


Mungkin agak sedikit kontras dengan mimik yang kudapati di wajah Yazeed. Air mukanya cenderung datar. Caranya menyapa tamu pun tak terlihat begitu riang. Mungkin malah agak sedikit segan. Tapi, aku melihatnya sedang berusaha memperlihatkan ekspresi sebaik mungkin. Dia bersikap begitu, mungkin karena belum mengenal siapa Mbak Ufi yang sebenarnya. Dia tidak akan percaya sekali pun aku memuji Mbak Ufi di depannya, kecuali jika nantinya dia sudah bisa menilai sendiri bahagia rasanya hidup bersama Mbak Ufi.


"Gimana pengganti arek ndalemnya? Ummik cocok ndak?"


"Lumayan cocok. Cuma mungkin masih tiga minggu jalan, jadi ya Ummik kadang masih mengeluhkan kurang prigelnya. Katanya nggak sama kaya kamu, Mbak."


"Howalah. Maapin lo yo. Tadi aku ndak sempet minta maaf sama Ummik, Ning. Nitip salam ya buat Ummik. Aku pasti akan ke pondok lagi."


"Ya insyaallah."


"Gimana kuliahnya lancar juga kan?"


"Alhamdulillah. Lumayan menguras pikiran, sih. Tugas kuliah semester awal pasti numpuk. Belum lagi kalau pas barengan dengan ujian tasmi' ke Ummik. Giliran minta toleransi ke Mas Nizam, dia nggak mau. Walaupun aku istrinya, katanya tugas ya tetap tugas. Mungkin nilaiku sudah jelek itu pasti makulnya Mas Nizam."


"Bisa kebetulan begitu, ya, Ning diajar sama suami sendiri." Dia terkikik.


"Qadarullah. Padahal, aku malah nggak pengen. Arek-arek jadi tahu siapa sebenarnya aku. Percuma aku menyembunyikan identitas sebagai istrinya."


"Nggak nyangka Gus Nizam yang dulu nggak sampeyan suka, sekarang malah makin manis perlakuannya."


"Alhamdulillah. Rahasia Allah."


"Ngomong-ngomong...mmm...tapi, sepuntene lo."


"Apa, sih, Mbak?"


"Sudah anu belum?"


"Anu?"

__ADS_1


"Iya anu."


"Anu apa?"


"Ya anu, Ning. Nanti kamu gimana gitu."


"Gimana gimana maksudnya? Anu apa lo, Mbak? Ih, kalau ngomong yang jelas. Ambigu hmmm.."


"Anu isi maksudku."


"Apanya yang isi?"


Mbak Ufi menepuk jidatnya.


"Yakin nggak paham?"


"Enggak. Isi apanya?"


"Perut."


"Ooowalaaaaah. Hamil?"


"Alhamdulillah belum."


"Malah alhamdulillah?"


"Pengenku emang begitu, Mbak."


"Sudah dicek emang?"


"Sudah. Kemarin. Aku iseng karena kepikiran tiap hari. Kebetulan juga sudah telat haid lima hari, jadi aku diem-diem cek. Dan, emang masih negatif. Mas Nizam belum tahu, Mbak. Dia nyantai kok."


"Ya untungnya, sih, Ummik sudah bakalan dapat calon cucu. Jadi ndak nyuruh sampeyan cepet-cepet."


"Bener."


Kupegang tangan Mbak Ufi. "Mbak Fi? Aku berharap banget kamu cepetan punya momongan."

__ADS_1


Itu karena aku ingat, salah satu keinginan Yazeed setelah menikah adalah segera mempunyai momongan. Di pernikahannya yang keempat ini, aku benar-benar ingin segera melihatnya menimang seorang putra. Diam-diam aku masih menyimpan gundah jika aku tidak melihatnya sama bahagianya denganku. Dia sudah berbaik hati mengantarkan aku ke Al-Furqan, yang ternyata itu adalah kediaman orang tua kandungku.


"Semua atas izin Allah kan, Ning? Aku terserah sama Allah ngasihnya bagaimana. Aku ndak menarget. Tapi, aku juga akan sangat seneng kalau dalam waktu dekat ini, kami langsung dititipi momongan."


"Ya ya. Aku pasti akan berdoa untukmu, Mbak Fi."


"Sampeyan juga begitu, Ning. Lancar hafalan dan kuliahnya. Syukur-syukur kalau lekas dikasih momongan."


"Aamiin. Makasih."


Tiga langkah menuju motor, aku sempat menoleh. Kembali menyaksikan kedua wajah itu kini sama-sama berseri. Aku ikut bahagia. Jika dibandingkan denganku, ternyata Yazeed memang lebih pantas bersanding dengan Mbak Ufi. Baru kusadari fisik mereka amat serasi.


Kejadian yang sama pada bulan selanjutnya. Sebelum aku tidur, sebelum aku memenuhi sunnah pasangan di malam jumat ini, aku lama berdiam di kamar mandi. Hatiku selalu gusar menantikan momen ini. Antara pasrah, khawatir, dan mungkin ada sedikit harapan. Aku menunggu beberapa waktu. Garisnya hanya muncul satu. Kucek ulang. Sampai Mas Nizam yang sudah menunggu, mengetuk pintu kamar mandi dua kali. Aku memintanya bersabar sebentar lagi. Test pack itu tak kunjung menggaris dua.


Empat bulan berjalan dengan hasil yang sama. Entahlah bagaimana perasaanku saat ini. Meski ini memang harapanku, tapi aku mulai mengkhawatirkan Mas Nizam. Campur aduk. Tapi, Mas Nizam sendiri tak pernah bertanya. Hanya saja dia seperti menghafalkan jadwal menstruasiku. Biasa terjadi di minggu kedua. Dan, pada hari-hari itulah Mas Nizam meminta semalam atau dua malam dalam seminggu, aku diminta untuk memenuhi hajatnya. Aku mulai curiga. Aku khawatir Mas Nizam sengaja memintaku karena sebetulnya dia diam-diam mengharapkan kehamilanku. Dia hanya memintaku di hari-hari tertentu saja.


Minggu kemarin dia sempat berbinar saat aku mengiyakan ajakannya. Mungkin dia berpikir mungkin saja akan ada kabar bahagia untuknya. Pada minggu ke dua, jadwal menstruasiku memang selalu datang di waktu yang tepat. Tapi bulan ini, saat siklus menstruasiku mundur sepekan, kupikir malam ini hasilnya akan berbeda. Mas Nizam kembali mengajakku untuk berusaha menggapai itu walaupun dia tidak pernah mengucapkannya terus terang padaku. Tapi, aku mulai mengerti maksudnya selama empat bulan ini.


Keesokan harinya, wajahnya akan tetap seperti biasanya. Dia akan menyambut pagiku dengan senyumannya yang merekah. Dia masih mendekapku erat-erat. Tak jua melepaskan setelah beberapa menit mata telah terjaga. Dan, seperti biasanya dia akan menggendongku ke kamar mandi. Aku senantiasa diperlakukan seperti seorang putri.


Pagi ini, entah kenapa menurutku sikapnya bertambah semakin manis. Apa sebenarnya dia pun mengerti aku sudah mulai merasa gundah mengkhawatirkan dirinya? Tak ada jadwal mengajar dan kuliah di hari sabtu. Semua mata kuliah sudah dilobi ke hari senin sampai jumat saja. Untuk itu, kami masih berlama-lama di kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, barulah kami keluar untuk menunaikan salat subuh berjamaah di kamar. Ketika rakaat salat rawatib dan subuh usai dilaksanakan, dia mengambilkan jilbabku di lemari. Jilbab yang masih baru, yang dia belikan lima hari yang lalu. Jilbab hadiah karena dia sempat mengira aku akan hamil di bulan ini. Dengan air muka yang berseri-seri, dia memakaikan jilbab instan itu. Lalu, membubuhkan kecupan di kening dan kedua pipiku.


"Terima kasih sudah sangat bersabar."


"Memangnya aku harus mengkhawatirkan apa?" Dia tersenyum.


"Ya mungkin saja, Mas."


"Jangan lupa tersenyum." Dia menyentuh kedua sudut bibirku. Dia menariknya agar aku mau tersenyum.


"Mas?"


"Yaaa?"


Demi menjangkau pipinya, aku harus berjinjit-jinjit. Di pagi inilah, untuk pertama kalinya aku menciumnya terlebih dahulu. Begitu aku sadar penuh apa yang aku lakukan baru saja, aku memalingkan wajah secepatnya. Aku ingin pergi, tapi langkahku terhenti. Mas Nizam menarikku hingga terpelanting ke arahnya. Tubuhku bergetar hebat. Aku membeku dalam tatapannya. Panas dingin itu kembali menyergap.


"Wangi banget body spraynya? Tadi bukan itu kayaknya?"

__ADS_1


"Habis, Mas."


__ADS_2