FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 188 "Keberanian"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Aku berubah pikiran. Memendam rahasia dalam ketakutan membuatku jarang tidur nyenyak di malam hari. Bahkan, terkadang mimpi-mimpi buruk menghantui dimana suatu hari nanti akan ada masa rahasiaku akan diketahui orang lain. Ratna adalah kunci dari rahasia ini. Jika Ratna tak bercerita kepada siapa pun, maka selamanya rahasia itu akan aman. Tapi, setelah aku berpikir panjang sebelum menjelang tidur, aku memutuskan akan mengatakannya pada abah dan ummik besok. Hanya kepada mereka berdualah aku akan bercerita. Sama halnya aku pernah bercerita pada ibuk, lalu ibuku memahamiku dengan perasaannya yang tulus. Aku berharap mereka berdua bisa bersikap lebih daripada itu, karena mereka orang tua kandungku.


Usai abah ngaos kitab dengan para santri dan ummik menyimak Alquran sampai pukul sembilan malam, aku meminta mereka untuk tinggal di ruang tengah beberapa menit saja. Aku meminta itu dengan perasaan tak tentu. Aku tengah memaksa, melawan semua perasaan takutku. Kutinggalkan Alquranku di meja kamar. Aku menghampiri mereka yang justru sudah terduduk lebih dulu. Wajah ummik menunggu, sedangkan abah dengan ketenangannya menyalakan televisi. Aku hanya sedikit membatin, tak biasanya abah kerso (mau) menonton televisi malam-malam begini. Bahkan, aku tak pernah tahu abah menyalakan televisi saat pagi atau siang hari pun. Abah tak menatapku. Malah mengganti-ganti cannel.


"Nduk, eneng opo?" (Nduk, ada apa?)


Kutelan salivaku. Aku mengulur napas yang panjang.


"Bah, Mik, Niya ingin cerita serius."


Seketika berpacu begitu cepat. Aku tak berani mengangkat wajah terlalu tinggi. Kubuang pandanganku ke motif bunga pada karpet turki yang dulu pernah dibeli saudara yang pernah kuliah di Turki.


Aku belum mendengar abah merespons. Abah justru tertawa kecil melihat siaran ulang film kartun. Perlahan hatiku diliputi ketenangan. Suasananya tidak lagi beku.


"Kejadian wingi to?" (Kejadian kemarin, ya?)


Ummik yang terus menanggapi.


"Enggeh, Mik. Begini..."


Saat aku mulai bercerita perlahan-lahan, suara televisi pun dikecilkan. Tapi, abah tidak mematikannya. Abah dan ummik serius menyimakku bicara. Aku mengatakan dengan jelas siapa yang membuatku harus terlibat dalam kejadian kemarin, apa motifnya, dan kujelaskan siapa Pak Su yang sebenarnya. Aku hanya mengatakan bahwa Pak Su ialah bapak kandung Hakim yang dulu kuanggap sebagai kawan baikku. Kuberanikan mendongak. Ummik menegang. Berbeda dengan abah yang tetap tenang mendengarkan seluruh kalimat yang masih kusampaikan seperempatnya.


Aku juga menjelaskan detail bagaimana kejadiannya. Ummik berubah nelangsa. Mungkin ingat ada dua laki-laki yang hampir berkorban nyawa. Sampai pada keterangan aku mengatakan bahwa Pak Su dan Hakim akhirnya ditangkap. Wajah mereka pun tampak lega.

__ADS_1


"Tapi, Nduk, nyapo kok sampek duwe dendam karo sampeyan? Sampeyan salah opo?"


Terjemah: (Tapi, Nduk, kenapa kok sampai punya dendam sama kamu? Kamu salah apa?)


Deg!


"Niya pernah membuat masalah dengan mereka."


"Masalah opo?"


"Bah, Mik, bahwa sebetulnya..." Dua kali aku menelan ludah.


"Sebetulnya Niya dulu per-nah...pernah berada di suatu tempat. Tempat itu sangat menjijikkan. Sangat tidak aku sukai. Niya membenci tempat itu. Maka dari itu, Niya memutuskan pergi dari sana. Setelah itu, Niya menjadi buronan. Jujur...jujur...awal kali Niya ke sini, saat Niya belum tahu siapa status Niya yang sebenarnya, tujuan Niya ke sini hanyalah ingin mencari tempat perlindungan. Niya tidak punya niat lain selain itu. Pak Nizam yang mengarahkan Niya agar sampai di sini, tapi Yazeedlah yang justru menjadi perantaranya."


"Gusti Allah ki adil. Kerono sampeyan gelem kabur, dadi buronan, Abah karo Ummine maleh iso ketemu sampeyan. Iso ugo yen sampeyan ndak pernah neng panggonan kui, saiki Abah durung iso ketemu sampeyan."


Air mataku menggenang. Ia akan jatuh setetes jika aku mengedipkan mata.


"Abah bener, Nduk. Panggenan opo to kui?"


Terjemah: (Abah benar, Nduk. Tempat apa itu?)


"Tempat para wanita malam, Mik." Suaraku melirih. Aku benar-benar tidak berani mengangkat wajah sedikit pun.


"Innalillahi, Ya Allah," ucap ummik dengan nadanya yang terdengar menyakitkan di telingaku. Bukan karena ummik menyakiti, tapi karena aku sendiri yang tidak pernah siap mendengar tanggapan orang.

__ADS_1


Ummik mendekat, berbisik, "Nduk?"


Ummik memaksaku agar menatapnya. Ummik menghisap isaknya lirih. Sampai ummik pun terluka karena diriku.


Aku menatap ummik, tapi aku tak berani mempertegas pandangan.


"Sampeyan sek perawan opo ora?"


Terjemah: (Kamu masih perawan atau tidak?) bisik ummik lirih. Kukira abah saja tidak bisa mendengarnya.


Aku mengangguk. Harapanku sangat besar ummik akan mempercayaiku. Ya, aku memang tahu segalanya di sana. Tapi, aku bisa menjamin bahwa aku masih sangat layak untuk disebut sebagai seorang gadis.


"Wallahi, Nduk?"


Kali ini aku mendalami tatapan itu. Aku merasuk ke dalam air mata yang sudah jatuh ke pipi itu. Aku pun juga merasa tak dipercayai dengan kalimat terakhir ummik. Aku diharuskan bersumpah agar perkataanku dapat dipercayai. Air mataku berderai. Lebih deras daripada air mata ummik.


Aku menjabat tangan ummik. Aku mencium tangan itu sembari berkata, "Wallahi. Wallahi bahwa saya masih gadis, Mik. Saya masih gadis. Saya tidak pernah sudi ada di antara mereka. Tapi, keadaan menginginkan saya harus berada di sana."


"Ya Allaaaaah, nasibmu koyo mangkene to, Nduk, Ya Allaaaah."


Terjemah: (Ya Allaaaah, nasibmu seperti ini ya, Nduk, Ya Allaaaaah)


Aku ingin menjabat tangan ummik sekali lagi. Tapi, ummik terburu bangkit. Entah apa yang ummik rasakan hingga harus bangkit saat aku sudah mengusung semua keberanianku. Aku tak berprasangka ummik tengah marah karena ummik pun menangis. Tapi aku tak berani bangkit mengejar ummik ke kamar. Lalu, abah terpekur. Memainkan jari-jarinya untuk bertasbih. Kudengar kalimat istigfar berulang-ulang. Wajahku seperti tengah dipukul. Dadaku tengah dihantam. Tenggorokanku tercekik. Sesak dan sakit rasanya. Lebih baik mereka berkata banyak daripada harus diam tanpa bisa kuartikan. Aku tak berani menerjemahkan atau rongga dadaku akan semakin tertikam. Aku berusaha terus mengerti bahwa mereka pun mungkin juga tak siap mendengarkannya.


Aku pamit undur diri pelan-pelan. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kuseka air mataku. Aku kembali ke kamar. Kuamati abah dadi sela pintu. Aku terduduk di lantai. Abah masih terdiam di sana. Lalu, mematikan televisi. Mulut abah tak lagi bergerak. Abah seperti tengah memikirkan sesuatu. Tapi, aku tahu wajah abah begitu sendu.

__ADS_1


"Abah, Ummik, aku minta maaf atas kebodohanku yang dulu. Semua ini tak pernah kuminta."


Selamat membaca. InsyaAllah besok undangan disebar šŸ˜šŸ˜‚ makasih semuanya. Sehat selalu... šŸ¤©šŸ˜šŸ˜šŸ˜


__ADS_2