FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 138 "Heboh di Dapur"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Keesokan harinya setelah aku tes DNA, setelah semua santri selesai ngaji kitab dasar jazariyah, aku kembali ke kamar pondok. Jika aku terus menyepi, aku justru akan tetap memikirkan ibuku dan hasil tesnya nanti. Hasilnya masih lama. Aku bergabung dengan santri-santri putri yang jadwal piket masak sore di dapur pondok. Di pesantren Al-Furqan ini, selain dibimbing untuk mendalami ilmu agama, santri-santri putri juga dilatih menjadi perempuan yang prigel mengurusi dapur. Satu kamar yang bertugas piket menghandle pondok, dibagi menjadi dua bagian yaitu piket masak dan piket bersih-bersih halaman, perpustakaan, poskestren, dan teras pondok. Jika kamar mandi kotor, santri-santri yang piket pun wajib membersihkan. Tugas santri-santri yang tidak mendapatkan jadwal hanya wajib membersihkan kamar mereka masing-masing.


Aku baru saja mengangkat rebusan daun pepaya yang setelah kuperiksa sudah matang.


"Mbak, parutan kelapanya sudah rampung?"


Mbak Furi mengangguk. "Mbak, nanya dong kenapa pas kamu balik dari ndalem kok nangis?"


"Bumbunya sudah diuleg juga?"


Dia menoleh. Mengarahkan dagunya. "Itu yang ngupas malak pada ngobrol sendiri."


"Mbak, cepetan!" kataku. Lagakku sudah seperti orang profesional saja.


"Bentar, ah. Lagi asik ini."


"Eh, rebusannya uwis (sudah) lhooo."


Mbak Furi bangkit. Tak sabaran melihat kerja mereka pelan. Dia mengambil cobek yang sudah terisi kupasan bumbu.


"Ntoh, ntoh, Mbak Furi ndak sabar."


"Habis situ ghibah mulu."


Santri-santri di depan dapur berisik. Kupikir ada apa.


"Di depan ada apa?" Aku yang hendak duduk membantu Mbak Furi menyiap sisa bumbu yang belum dikupas.


Mbak Furi menggeleng. "Kamu kupas deh. Aku mau ngecek dulu."


Mbak Furi berlari. Belum dia keluar pintu, dia hampir menabrak Gus Fakhar. Teman-teman santri yang terbiasa hanya memakai kerudung sekenanya, alias leher tidak dikancingi, dan yang masih cinceng-cinceng sampai memperlihatkan betis karena habis membersihkan peralatan dapur kotor, mereka merunduk tidak jadi menoleh ke arah Gus Fakhar. Jelas mereka kaget tiba-tiba Gus Fakhar mematung di sana.


Aku menatapnya. Gus Fakhar pun melambai ke arahku.


"Ih, kamu yang dipanggil Gus Fakhar?" tanya Mbak Furi setengah heran.


Aku menggeleng. Tapi, sepertinya siapa lagi kalau bukan aku. Di dapur juga tidak ada Ning Ulya. Aku mendekat ke arah beliau. Langkahku diiringi telisik mata santri yang melihatku sedikit aneh.


"Ada apa, Gus?"


Gus Fakhar spontan meraih tanganku. Menarikku tanpa penjelasan. Aku tidak bisa melepaskan karena genggaman itu cukup kuat. Maka bersamaan dengan itu, kudengar bisik-bisik tak enak seketika keluar dari mulut santri. Lebih-lebih santri-santri yang doyan ghibah temannya sendiri. Jadi seperti kucing yang mendapati iwak asin. Aku ingin meronta, tapi kelihatannya malah tidak baik.


Kami sempat bersimpangan dengan Ning Ulya. Dia yang kemudian langsung melemparkan tatapan tidak suka padaku. Menghardikku dengan sekali pandang. Aku harap Ning Ulya tidak berprasangka terlalu jauh. Aku juga tidak tahu kenapa Gus Fakhar akhir-akhir terlalu frontal padaku. Kemarin tiba-tiba memelukku seperti hendak kehilangan kekasih. Sekarang, malah mempertontonkan langsung kepada santri-santri yang jelas akan menduga-duga. Lumrahnya manusia yang akan mudah sekali menjatuhkan prasangka.

__ADS_1


"Gus?"


Gus Fakhar tidak melepaskan tanganku. Aku mencoba menoleh ke belakang. Pandangan para santri masih membuntuti langkah. Jelas mereka terheran-heran. Aku khawatir mereka mengkaitkannya dengan urusan cinta segitiga atau perebut pasangan orang. Aku sendiri justru ikut berprasangka yang tidak-tidak.


"Gus, maaf malu dilihatin."


"Kamu pasti menoleh kuajak jika tidak kupaksa begini."


"Njenengan mengajak ke mana?"


"Yazeed di rumah sakit."


"Ya Allah. Njenengan serius?"


"Iya."


Gus Fakhar melonggarkan pegangannya.


"Kalau masalah itu, njenengan memberitahu saya saja, saya pasti akan menjenguk, Gus."


"Sudah kita omongin lagi nanti."


"Parah, Gus?"


"Parah. Jahitannya cukup banyak. Belum sadar diri sampai sekarang."


"Sopirnya datang ke sini. Dia sempat bilang minta aku bawa kamu ke rumah sakit."


Kupikir, apakah dia ingin membahas kesediaannya menungguku sampai tiga empat tahun? Atau, kalau tidak begitu dia ingin memberitahuku soal Pak Su. Gawat jika Gus Fakhar sampai mengetahuinya.


"Gus, saya bisa ke sana sendiri. Mohon izin keluar, Gus."


"Nggak. Kamu harus kuantar. Perempuan kok kluyuran sendiri. Nggak akan aku beri izin. Lagipula aku juga ingin menjenguk."


Aku tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kang?" panggil Gus Fakhar pada Kang Bimo yang tengah mengelap badan mobil.


"Antar ke rumah sakit, ya."


Gus Fakhar menyuruhku masuk setelah Kang Bimo membukakan pintu belakang.


Tepat ketika azan mulai dikumandangkan, kami sampai di rumah sakit. Gus Fakhar tidak mengajak kami salat jamaah asar dulu. Dia bilang nanti saja. Dia juga baru menelepon sopir Yazeed, lalu dia mengajak kami ke ruangan VIP. Di sanalah aku melihat Yazeed yang gagah perkasa terkulai tak berdaya. Aku mengiba.


"Kenapa bisa begitu, Gus?"

__ADS_1


"Sopirnya yang tahu persis kejadiannya. Katanya, dia mau ngomong penting juga. Bicaralah nanti. Aku nggak akan ikut campur."


"Kang Toyo, Gus?"


"Gus Yazeed yang ingin bicara."


"Tapi, lihat kondisi beliau begitu, sepertinya kok.."


"Sudah. Insyaallah cepat siuman. Doakan saja!"


Setengah jam kami menunggu, tapi tanda-tanda Yazeed akan sadar pun belum ada. Gus Fakhar memintaku untuk tetap tinggal, sedangkan dia mau kembali ke pesantren. Jadwal beliau ngaos dengan santri putra. Dia juga menenangkanku agar tidak memikirkan banyak hal. Katanya, dia akan memberitahu pengurus kalau aku sedang di rumah sakit. Sebetulnya sudah pasti akan aman. Aku akan selamat dari hukuman karena keluar tanpa izin. Berhubung aku keluar dengan Gus Fakhar, pengurus tentu tidak akan berani berbuat apa-apa.


Dua jam kemudian. Kang Toyo sampai menyuruhku memakan nasi bungkus yang sudah dia beli di kantin rumah sakit.


"Terima kasih, Kang."


"Kejadiannya bagaimana, Kang?" Aku baru berani menanyakan.


"Disambi makan, Mbak. Ndak apa-apa. Biasa saja. Tidak usah sungkan-sungkan."


"Dia ditusuk oleh suruhan Pak Su."


"Astagfirullah, apa Pak Su ada di Magetan?"


"Iya. Tadinya saya sudah mengirim enam orang. Tapi, mereka telat datang. Tahu-tahunya Gus Yazeed sudah nggak sadar."


"Melihatmu begini, itu sama artinya kamu mengorbankan nyawa untukku, Yaz," batinku.


Sampai Gus Fakhar yang kata Kang Toyo akan segera menjemputku, Yazeed belum juga sadar. Aku keburu penasaran dengan kejadian yang sebenarnya. Aku berharap dia juga membawakanku kabar gembira yang lain.


"Mbak, Guse sadar, Mbak!"


Aku bangkit. Kulihat jari-jari Yazeed perlahan bergerak-gerak. Kang Toyo beringsut memanggil dokter. Aku membisikkan sesuatu, "Sadarlah, Yaz. Aku di sini memenuhi panggilanmu."


Alis Yazeed bergerak. Mungkin itu respons karena dia bisa mendengarkanku.


Dua orang datang ke ruangan. Dokter memeriksa sebentar. Lalu, mengatakan kondisi Yazeed sudah lebih baik daripada sebelumnya. Tak lama kemudian, kelopak mata Yazeed bergerak membuka. Dengan kedipan yang sangat pelan, dia memandang ke arahku. Lalu, kepada dokter dan Kang Toyo. Tangannya seperti memberi isyarah agar aku duduk di sampingnya.


"Kenapa, Yaz?"


Dia hanya berdiam. Tapi, tetap saja memandangku.


Kulihat Kang Toyo hendak keluar dari ruangan. Membuntut dokter. "Kang, tetap di sini, ya. Jangan tinggalkan kita berdua."


"Oh. Siap." Kang Toyo berdiri di samping pintu.

__ADS_1


Terima kasih banyak, selalu mendoakan saya dan karya ini. Semoga ke depannya lebih banyak yang tertarik. Selamat membaca. Selamat penasaran. Kok penasarannya gak rampung-rampung, ya. Ehe❤️❤️


__ADS_2