FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 114 "Sendang Biru"


__ADS_3

*Yazeed Akiki Mubarak


Ditemani sopir pribadiku, Kang Toyo, aku berhasil menempuh perjalanan Magetan Tulungagung dalam jarak tempuh yang tidak lama. Aku tidak salah memilihnya menjadi sopir. Kang Toyo hampir paham semua seluk beluk daerah yang ada di Jawa Timur. Dia pernah menjadi sopir bus selama lima tahun setelah keluar dari sekolah menengah pertama, sebelum akhirnya dia turun merangsek gegap gempitanya kota Jakarta. Memutuskan berhenti menjadi sopir, dia menerima tawaran pekerjaan yang menggiurkan di sana. Naas setelah itu dia justru kalap, terhasut oleh kerasnya kehidupan dunia, lalu menjadi preman jalanan.


Tiba di depan rumah Fizah, aku merasakan damai yang kembali hadir. Perasaan ini persis ketika aku baru menginjakkan kaki pertama kali di rumah Ning Zuja, istri pertamaku yang telah meninggal. Sendang menawarkan langit yang terbentang apik. Terhampar biru dengan pintalan serat-serat awan. Aku menyebutnya Sendang Biru.


"Ayok!"


Kurapalkan salawat sembari melangkah mendekati gubuk yang katanya tempat tinggal Fizah. Muncullah perempuan muda yang sedang berkacak pinggang, lalu menggeliat serta menguap selebar-lebarnya. Pandangannya seketika menyipit sesaat setelah melihat arah langkahku pelan menuju dia.


"Assalamu'alaikum?"


"Ya. Wa'alaikumsalam. Cari siapa?"


Tatapannya segera menilai. Mengedari pakaian tak resmi yang sedang kukenakan.


"Mau nagih utang, ya? Sory, ya, aku sudah enggak ada urusan sama penagih. Aku sudah lama insaf." Gelagatnya jauh berbeda dengan Fizah. Sangat kontras. Sepintas aku tidak yakin jika dia salah satu anggota keluarganya.


Kang Toyo hendak menyahut, tapi aku memberinya isyarat supaya tidak berbicara apa pun sampai aku mengizinkannya.


Sejurus kemudian, seseorang menyapaku dari belakang. Aku dan Kang Toyo menoleh memastikan.


"Siapa, nggeh? Sinten niki?" (Siapa, ya? Siapa ini?) ucapnya dengan bahasa jawa krama inggil yang sangat halus.


Meskipun aku tidak melihat kemiripan di wajah perempuan baya itu dengan Fizah, tapi kesopanan itu mencerminkan tingkah senada seperti yang ditunjukkan Fizah beberapa kali di hadapanku.


"Monggo! Silakan masuk! Ayo ke sini." Dengan sangat ramah yang akrab, dia mempersilakan aku memasuki ruang tamu yang gelap. Perempuan muda tadi memicingkan matanya seraya menggeser posisi berdirinya. Dia pun duduk di kursi panjang depan rumah dengan tetap mengawasi gerak-gerikku. Beberapa kali dia tampak masih mengantuk. Lalu, dia menggerai rambutnya yang beberapa sisinya telah diberi warna merah mata.


"Kenalkan saya Yazeed."


"Masyaallah wong bagus ini namanya Yazeed. Njenengan yang namanya Yazeed? Ngapunten, Mas, saya lupa kemarin sudah bertemu di pesantren Fizah, yo."


Aku mengangguk sekali.


"Alhamdulillah saget panggih. Saya seneng njenengan mau pinarak mriki."


Terjemah: (Alhamdulillah bisa bertemu. Saya senang kamu bersedia berkunjung ke sini)

__ADS_1


"Lha ini siapa, Mas?"


"Kartoyo. Supir saya, Bu Mini."


"Alhamdulillah enggeh, Mas. Nama saya Mini. Itu julukan karena saya pendek, Mas. Tahu alamat sini dari Fizah anak Ibuk?"


"Iya kemarin sebelum ke sini saya memastikan kesediaan Fizah menikah dengan saya."


"Nikah?" Aku mendengar sepintas perempuan muda itu menggumam tidak suka.


"Sulung, buatkan minuman, Nak!"


Aku menoleh ke arah perempuan itu. Dia bangkit. Gurat wajahnya enggan. Dia lewat samping rumah.


"Siapa, Bu?"


"Anak Ibu yang pertama. Saya panggil dia Sulung. Nama aslinya Ayu Pramesti. Anak saya tiga. Fizah yang kedua."


"Ooo."


"Iya, Mas Yazeed. Terus jadi sebenernya Mas Yazeed ini anak Pak Kiai ngoten to (begitu, ya)?"


"Hoalah, Mas. Mbokya jangan merendah di depan saya."


Aku tertawa kecil. "Tidak, Bu. Bapak hanya penggembala ternak dan tukang ngaji."


"Fizah sudah cerita banyak, Mas. Mas Yazeed punya padepokan di Magetan juga. Namanya Darul Amin kalau tidak salah. Maaf, yo, Mas. Fizah juga sudah cerita itu...yang latar belakang pernikahan njenengan sebelumnya."


"Harus, Bu. Saya seneng jika di balik kekurangan saya ini, Fizah mau jujur dan mengatakan apa adanya. Memang itu yang saya harapkan."


"Lalu, kalau Ibuk boleh tahu apa yang membuat Mas Yazeed ini suka?"


"Ketika sunnah ingin segera saya lakukan lagi, saya bertemu dengan perempuan yang menurut saya tepat."


"Tepat?"


"Aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Tapi, apa mungkin Ibunya tidak tahu masalah ini? Ini perkara besar. Kemungkinannya Fizah belum cerita apa-apa ke Ibunya. Aku tidak berhak bercerita. Ini masalah pribadi Fizah. Dialah yang paling tepat menceritakan semuanya," batinku. Aku menahan kata-kata.

__ADS_1


"Tapi, saya juga tidak heran jika Mas Yazeed mengatakan Fizah perempuan yang tepat. Bagi saya, Fizah itu anak yang mbarakahi (memberkahi)."


"Memberkahi bagaimana, Bu?"


"Sejak dia ada di keluarga saya, dia mengubah kehidupan Ibuk jadi lebih mudah. Maksude yo sembarangane jadi ringan. Lebih tenang dan nyaman. Saya tidak pernah mengeluh selama merawat Fizah."


"Apa maksud Ibu..." Aku urung meneruskannya.


"Begini. Ibuk tidak punya hak penuh menentukan siapa yang pantas untuk dia. Dengan alasan apa pun njenengan terangkan pada saya, Mas, itu pun hanya bisa saya dengarkan saja. Ibuk lihat njenengan sungguh-sungguh, tapi Fizah masih tujuh belas tahun. Masih muda belia sekali. Masa remajanya akan habis di pernikahan jika dia menikah secepatnya. Ibuk hanya bertugas mengingatkan, tapi ndak berhak memutuskan."


Aku belum berani menyela. Aku mendengarkannya dengan saksama.


"Njenengan paham maksud saya?"


"Bukannya njenengan orang tua Fizah?"


Beberapa detik kami saling menukarkan pandangan lekat-lekat. Sejurus kemudian ibunya Fizah menggelengkan kepala.


"Bukan?"


"Saya hanya orang yang beruntung mendapatkan titipan itu. Jadi, kepada siapa pun yang menginginkan anak Ibuk, Fizah, dia kudu mengetahui orang tua yang sebenarnya."


Aku melihat kejujuran itu. Aku cukup tercengang. Dan, pasti Fizah belum mengetahui siapa dia yang sebenarnya.


"Makanya itu, Ibuk eman kalau Fizah cepat-cepat menikah. Ibuk sayang sekali. Fizah itu pinter, gemati, manut, dan pemberani. Bukan Ibuk ndak percaya lo, Mas, ya. Yang Ibuk pertimbangkan itu banyak. Tapi, sebanyak apa pun pertimbangane, sekali lagi Ibuk hanya perantara. Fizah belum tahu cerita ini, Mas. Ibuk harap Mas Yazeed tidak menceritakannya dulu."


"Fizah seharusnya sudah tahu ini dari dulu, Bu."


"Ibuk ndak tega, Mas. Takut berpisah sama Nduk Fizah. Tresnane Ibuk ndak bisa digambarkan dengan apa saja. Lha yo ini, kan, sebetule masalahnya cuman waktu. Saat Ibuk sudah siap, mantep, Ibuk akan cerita. Tapi, sejauh ini yang tahu hanya Mas Yazeed. Mas Yazeed, jika Fizah menerima lamaran njenengan, biarkan dia menggapai cita-citanya dulu. Fizah masih butuh belajar dan menggali pengalaman supaya bisa mengimbangi pengalaman yang Mas Yazeed punya. Apa permintaan Ibuk ini memberatkan?"


"Fizah itu sebetulnya meminta saya untuk menunggu."


"Lalu?"


"Saya ke sini ingin membicarakan itu, Bu. Saya mohon izin supaya menikahi Fizah."


"Ibuk masih eman dengan cita-citanya."

__ADS_1


"Saya akan membantunya, Bu. Saya serius. Saya tidak pernah main-main bila saya sudah mengiyakan."


__ADS_2