FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 119 "Luka di Punggung"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


"Kabi dan Syawa itu siapa, Mik?"


Ummik menggiringku ketika aku baru turun dari tangga aula pondok putri. Rencananya aku ingin menemui Iza karena kebetulan di sedang menyendiri di bawah pohon, mendaras Alqurannya.


Beberapa santri yang lalu lalang mendadak minggir dan berhenti. Atau, beberapanya melipir langsung masuk kamar.


Ummik menghentikan langkahnya. "Kemungkinan besar Adikmu benar-benar masih hidup, Le."


"Ummik bercanda?"


"Mas Kabi dan Mbak Syawa, mereka tahu eroh postinganmu neng media sosial. Mereka adoh-adoh teko kene. Nyeritakne sembarange. Mbiyen mereka tahu tumbas bayek songko uwong. Bayek iku duweni tondo lahir sing podo."


Terjemah: (Mas Kabi dan Mbak Syawa, mereka melihat postingan kamu di media sosial. Mereka jauh-jauh ke sini. Menceritakan banyak hal. Dulu mereka pernah membeli bayi dari seseorang. Bayi itu punya tanda lahir yang sama)


"Mik, apa itu cukup meyakinkan? Kok aku nggak yakin itu Tsaniya. Bisa jadi orang lain. Berarti sekarang mereka membawa anak itu?"


"Le, mbiyen mereka ngramut Adikmu ndak suwe. Mereka kepekso mbuang Adikmu neng pelatarane omahe wong. Mereka wong rantau. Saiki wis muleh neng Tulungagung. Terus, sampeyan eleng Iza duweni tondo lahir sing podo to, Fakhar?"


Terjemah: (Le, dulu mereka merawat Adikmu tidak lama. Mereka terpaksa membuang Adikmu ke halaman rumah seseorang. Mereka orang rantauan. Sekarang sudah pulang ke Tulungagung. Terus, kamu ingat Iza punya tanda lahir yang sama to, Fakhar?)


"Ummik yakin dia itu Tsaniya karena sudah dari awal Ummik sangat yakin kalau Tsaniya masih hidup."


"Sampeyan yo ngono. Sampeyan ndak percoyo kerono ket awal ndak seyakin Ummik. Tapi, Abahmu mikire podo koyo Ummik."


Terjemah: (Kamu juga begitu. Kamu tidak percaya karena dari awal tidak seyakin Ummik. Tapi, Abahmu mikirnya juga seperti Ummik)


"Tidak begitu, Mik. Maksudku pengakuan orang itu tidak cukup kuat."


"Makane iku, mereka ajak-ajak sampeyan nggoleki Adikmu neng Tulungagung."


Terjemah: (Maka dari itu, mereka mengajak kamu mencari Adikmu di Tulungagung)


"Mik, kenapa tidak pasang iklan khusus lagi saja?"


Ummik menarik tanganku. Aku menurut.


"Ini anak saya, Mbak Syawa."

__ADS_1


Aku duduk. Sekilas penampilannya mirip Syahrini setelah hijrah dan suaminya cenderung ke face Cicho Jerico versi tua. Aku masih tidak yakin.


"Jika memang orang itu ada di Tulungagung, kenapa nggak pasang pamflet di grup Tulungagung? Mungkin juga bisa radar Tulungagung. Kita bisa menceritakan ulang peristiwa yang njenengan alami dengan judul True Story."


"Ya kalau mereka mengaku," ucap lelaki di depanku.


"Bener, Le. Lek ditekani langsung luweh gampang"


Terjemah: (Benar, Le. Jika didatangi langsung lebih gampang)


Aku membenarkan ummik.


"Kalian bener. Belum tentu orang itu mau mengakui."


"Yes that's true."


"Ufi? Nduk Ufi?" Abah memanggil Mbak Ufi yang kedengarannya masih mandi.


"Mungkin masih mandi, Bah. Ada apa?"


"Celukno Iza. Kon mrene." (Panggilkan Iza. Suruh ke sini)


Ummik bangkit. Lima menit beliau kembali membawa Iza yang membuntut di belakangnya ummik.


*Ranaa Hafizah


"Nduk, Abah nyuwun tulung sampeyan kerso yo disuwuni tulung."


Terjemah: (Nduk, Abah minta tolong kamu mau ya dimintai tolong)


Tentu aku gagap. Aku tidak yakin dengan anggukan otomatisku baru saja. Tapi, pengiyaanku disambut senyum Kiai Bahar.


"Ummik dan Mbak Syawa bisa memeriksa tanda lahir Iza."


"Ke kamarmu, Nduk." Ummik mengajak Iza bangkit.


Mau tidak mau aku menurut. Mana mungkin aku menolak permintaan mereka. Di hadapan orang banyak aku hanya mampu menggeming. Kutandaskan kalimat yang seharusnya keluar. Mereka tidak perlu memastikan apa pun. Aku yakin apa yang mereka prasangkakan itu hanya akan membuahkan hasil. Aku sangat yakin. Hanya kebetulan saja aku mempunyai tanda lahir yang sama. Tapi, aku tetaplah Ranaa Hafizah anak seorang ibuk penjual nasi jagung di pasar. Soal kedekatanku dengan Bu Nyai Ridhaa itu pun tak lebih dari ikatan antara guru dan murid saja.


Bu nyai mengajakku ke kamarku.

__ADS_1


"Permisi," ucap perempuan itu saat melenggang di samping Kiai Bahar.


Bu nyai dan perempuan itu menungguku membuka punggungku. Perempuan itu lantas membantuku membukakan resleting belakang bajuku.


"Hei, tak perlu malu, Sayang. It's okey, we are the same. Perempuan juga, kan? Please, jangan malu. Aku buka sedikit, oke?"


"Bagaimana jika mereka menanyakan beberapa luka yang ada di badanku?" Kekuatanku sebatas nyengir dan berharap kalau pun mereka bertanya apa-apa, rasa penasaran mereka akan berhenti saat aku menjawabnya.


"Innalillahi. Ini luka apa, Nduk Iz?" Pandangan bu nyai terseret ke wajahku. Mencari tatapanku yang menunduk malu.


"Iya luka apa ini kok banyak, Dek?"


Anak mataku berair. Kuseka secepatnya dengan ujung jariku. Wajahku terasa hangat. Kemalanganku di masa kelimut itu tersalin kembali. Pertanyaan itu seakan-akan mencelanku. Aku merasa tertuduh walaupun aku mengerti itu tidak lebih dari satu pernyataan singkat. Tersirat maksud tidak selayaknya perempuan mempunyai luka sebesar itu di punggung. Tanpa aku menjawab pun, pasti mereka juga tahu luka itu bekas sayatan apa.


Baik aku atau pun Ratna sudah cukup sering mendapatkan ultimatum Pak Su yang kami kira hanyalah omongan belaka. Tapi, suatu ketika pecut itu sungguh meluncur ke punggungku setelah aku mencoba kabur dan aku tak mengindahkan pembeli yang telanjur membayar mahal. Walau hanya sekali itu, tapi luka itu cukup dalam. Pasti tak akan cepat memudar di kulitku yang langsat.


"Luka ini seperti terkena pecut. Benar itu, Sayang? Hmm?"


Aku membungkam rapat-rapat. Kugigit bibirku yang terasa mulai bergetar. Raup wajahku semakin hangat. Satu bulir hangat meluncur, jatuh menubruk lantai.


"Ya sudah. Ndak usah dijawab," kata bu nyai.


Bu nyai meminta izin untuk membuka sedikit kainku hingga terlihat dengan jelas tanda hitam itu.


"Ya Allaaaaaaaah." Bu nyai bergeming. Merapalkan sesuatu. Tangannya terlepas dari pundakku. Gerakannya lunglai. Aku tidak berani menoleh ke arah mereka berdua. Mataku terus mengangsurkan air mata ke lantai.


Tubuh di sampingku justru terhuyung ke belakang.


"Ya Allah astagfirullah."


Aku dan perempuan itu bergegas memeriksa. Teriakanku membuat Gus Fakhar tiba-tiba muncul di depan pintu. Aku jingkat. Resleting belakang bajuku belum ditutup. Untung saja aku memakai jilbab instan yang panjang. Aku bangkit, menyisih untuk membenahinya.


"Kenapa Ummik bisa pingsan?" Gus Fakhar gupuh.


"Saya nggak tahu. Tiba-tiba saja Ibu Nyai pingsan setelah melihat tanda lahirnya dia," jawab perempuan itu.


Gus Fakhar mengangkat bu nyai. Menaikkan kaki beliau supaya mapan di tempat tidurku lebih nyaman.


"Iz, buatkan minuman!"

__ADS_1


Aku mengangguk. Di pintu, aku bertabrakan dengan Mbak Ufi yang baru selesai mandi. Dia mencicit menanyakan bu nyai kenapa. Aku urung menanggapinya. Kuabikan dia yang melongo mengikuti arahku.


__ADS_2