
*Rubia El-Hazimah
Tugas RPP untuk satu semester ke depan sudah aku selesaikan sekalian. Untuk semester ini aku menggunakan RPP yang sudah ditulis oleh guru yang aku gantikan mata pelajarannya. Tetapi, media pembelajaran materi besok lusa di kelas X MIPA unggulan 2, aku belum bisa menyelesaikan. Aku kepikiran Pak Ibban tadi.
Aku merebahkan badan. Aku membuka galeri, memutar video Pak Ibban menyanyikan lagu cihta luar biasa malam itu. Senandung yang tidak pernah bosan kudengarkan walau sudah berkali-kali aku dengarkan malam hari menjelang kedipan terakhir. Aku bagikan ke story dua media sosialku dengan caption والله يعلم في قلوبكم (Dan, Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam hatimu. Maka, mana mungkin Allah tidak paham aku yang aku mau). Tanpa privasi. Aku harap Pak Ibban memberi komentar.
Dan, saat aku masih stay on layar handphone, sepuluh menit kemudian, pesan masuk dari Pak Ibban.
^^^"اللهم لا تدع قي قلوبنا انتظار الشيئ لن يأتي"^^^
(Allahumma la tad'u fi qulubinan tidzarasy syai-i layyaktiya)
Aku mengartikannya dalam hati.
"Ya Allah, jangan biarkan hati kami menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang." Aku merasa Pak Ibban sedang mengingatkanku sesuatu. Tetapi, apakah benar maksudnya supaya aku tidak mengharapkan dirinya? Entahlah aku tiba-tiba berpikir ke sana.
^^^"Maksud njenengan?"^^^
Mengetik. Pesan masuk. "Sudah jelas, kan, Mbak?"
"Kalau boleh tahu, apa sebenarnya njenengan sudah menyukai perempuan lain?" Sebetulnya aku ragu, tapi aku penasaran. Akhirnya pesan terkirim. Terakhir dilihat dua menit yang lalu.
"Tapi?" Aku buru-buru menghapusnya sebelum dibaca. Aku sampai gerogi. Menghela napas kemudian.
Tetapi, kemarin....
Dua hari yang lalu.
Selesai dari sekolahan aku langsung meluncur ke Banyuwangi. Sambang rumah lama, pesan seragam olah raga ke usaha konveksi saudara, dan tujuan utamaku adalah silaturahmi ke rumah Pak Ibban. Tiba-tiba aku merindukan ibunya.
Kadangkala aku menyempatkan diri bertukar kabar lewat telepon. Aku akui aku sudah cukup dekat dengan ibu Pak Ibban. Entah Pak Ibban tahu itu atau tidak. Tetapi, kupikir ibunya juga cerita. Keberangkatanku ke sana, aku tidak memberitahukannya pada Pak Ibban. Aku perlu membicarakan sesuatu dengan ibunya.
Berangkat pukul satu siang, sampai di sana pukul sebelas malam. Aku izin tidak masuk mengajar satu hari. Lantas aku menginap di rumah Mbak Nasmah tepatnya, dia yang dulu pernah hampir dilamar Pak Ibban. Tidak mungkin aku malam-malam bertamu di rumah Pak Ibban. Baru keesokan harinya, pagi-pagi sekali, aku tiba di rumah Pak Ibban setengah tujuh pagi. Bahkan, saat masih terdengar srang sreng wajan dan bau ikan asin digoreng tercium.
__ADS_1
Akhirnya, aku ikut memasak di dapur bersama ibunya Pak Ibban. Senang sekali. Aku terharu bisa sedekat itu dengan beliau. Mungkin aku akan sangat bahagia bila hidup dengan keluarga seharmonis itu. Satu jam kemudian, sarapan matang keseluruhan. Aku ikut makan bersama mereka, juga Mas Bayu yang buru-buru berangkat bekerja ketika baru lima menit duduk di meja makan.
Di dapurlah, aku dan ibunya Pak Nizam berbincang-bincang. Aku mencuci piring kotornya.
"Buk, apa saya boleh berkata jujur?"
"Ya boleh to, Mbak Rubia. Jujur soal apa ini? Ibuk kok ikut penasaran."
Aku tersenyum.
"Buk, apakah Ibuk menyukai saya?"
"Ehmm...ya Mbak Rubia perempuan yang baik."
Kran kumatikan. Aku mengambil serbet untuk mengeringkan tangan. Piring yang terakhir kucuci, kuletakkan di rak. Lalu, aku menghadap ibunya Pak Ibban.
Aku memegang tangan beliau. "Buk, apa saya pantas menjadi menantu njenengan?"
"Enggeh."
"Mbak Rubia menyukai Nizam?"
"Sejak awal saya tertarik. Bagaimana Ibu bisa melahirkan seorang pria seperti Pak Ibban?"
Ibunya Pak Ibban duduk. Aku mengikuti.
"Mbak, tapi Mbak Rubia anak orang kaya. Apa Mbak Rubia sudah meminta izin pada orang tua sebelum berbicara seperti ini dengan Ibuk?"
"Sudah, Buk. Papa dan Mama juga mendukung."
"Asal Mbak Rubia tahu, Nizam memang penurut. Tapi, soal hati Ibuk kadang juga bingung. Ibuk juga tidak tahu siapa perempuan yang sebetulnya dia sukai saat ini. Kalaupun Nizam sekarang juga menyukai Mbak Rubia, dia tidak pernah cerita apa-apa. Kalau Ibuk pribadi, Ibuk manut siapa pun perempuan yang dipilih Nizam. Asalkan dia salihah dan kedua orang tuanya sudah rida. Legowo menerima Nizam apa adanya. Ya beginilah rumahnya, Ibuknya, kakaknya yang sudah bercerai."
"Jadi, Buk?"
__ADS_1
"Terbalas atau tidaknya perasaan Mbak Rubia itu tergantung Nizam sendiri, Mbak. Ibuk bisa apa lo, Mbak? Lawong dulu Ibuk juga menyarankan dia mencoba melamar Mustika, penari desa ini itu, dia tidak mau. Dia juga pernah melamar santri, tapi ternyata santri itu sudah dikhitbah, mungkin sekarang sudah menikah. Belum jodoh. Siapa tahu kalau Nizam memang jadi jodohnya Mbak Rubia, Mbak Rubia cobalah jujur saja. Kalau Mbak Rubia mau. Biasanya perempuan ngoten niko to, Mbak. Ibuk jadi ingat Khadijah istri Nabi."
Aku menyahut, "Menyatakan cinta pada pria yang salih."
Ibunya Pak Ibban tersenyum.
"Juga karena itulah saya hari ini menemui Ibuk. Jika bukan karena saya sudah yakin, jujur saya tidak berani."
"Lalu, apa masalahnya Mbak Rubia sekarang?"
"Bagaimana jika Pak Ibban sudah punya pilihan hati, Buk?"
"Sepurane (maaf), Mbak. Kalau Ibuk tahu, Ibuk akan ceritakan. Sejauh ini Nizam belum pernah bercerita siapa perempuan yang ingin dia nikahi. Jika sekedar ngomong teman dekat perempuannya siapa, ya, pernah. Awal-awal dulu Nizam pun cerita ketika sudah dekat dengan Mbak Rubia."
Aku mengambil tangan beliau. Aku mencium punggung tangan itu. "Saya mohon doa restunya. Saya akan mencoba bicara pada Papa dan Mama. Saya akan mengundang Pak Ibban ke rumah."
"Ibuk manut wae (saja). Ibuk yakin Nizam tidak akan salah pilih jodoh. Nizam itu laki-laki yang sangat menyayangi ibunya."
Begitulah percakapanku dengan ibunya Pak Ibban. Kini, gundah gulana itu membebat hatiku. Kurapalkan salawat nariyah yang keutamaannya dapat menggembirakan hati yang gelisah. Memang aku tidak pernah menyebut nama dalam barisan kalimat doa yang aku langitkan, tetapi Tuhan tahu apa yang tersimpan. Siapa yang aku mau yaitu dialah Ibban Nizami. Pria pujaan. Pria yang telah diutus takdir mengisi ruang kosong di hati. Yang mengkhusyukkan lama sujudku dan tengadah tanganku.
Aku tidak bisa membalas pesan Pak Ibban. Aku membiarkannya centang biru.
"Ya Allah, apa aku tidak bisa bertarung dalam doa, lalu memenangkan hatinya." Aku membantinkan itu sembari masih menggumam salawat.
Sekali lagi aku memutar lagu dalam storyku. Kulihat sudah lima puluh satu tayangan. Lalu, aku menghapusnya. Aku mengetik story baru
..."ربما عجزت انت، ولا كن الله لا يعجزه شيئ"...
...(Mungkin kamu memanglah tidak bisa, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah)....
Story tertulis tanpa terjemahan.
Terima kasih yang selalu setia menunggu dan mendoakan saya. Jazakumullah khairan pokoknya.. Big love... ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1