
*Wardah Mustika Rahayu
Setelah usai membuat puisi cinta untuk Mas Nizam, aku pergi ke ruang khusus bapak sedang membersihkan debu di wayang-wayangnya. Aku di ambang pintu, sudah sering memperhatikan bapak memperlakukan wayang-wayang itu seperti anak sendiri. Jika anak wadonnya ini hanya diperlakukan demikian saat masih kecil, maka wayang-wayang itu justru lebih beruntung. Mungkin akan selamanya diperlakukan baik selama bapak masih hidup. Bahkan, di hari khusus malam satu sura, semua wayang itu akan disucikan dengan doa-doa yang hanya dimengerti oleh bapak, dalam ritual jamasan (memandikan benda pusaka dengan air kembang).
Selain wayang, di ruangan ini terdapat pusaka keramat seperti keris. Tidak banyak. Tapi, bapak adalah pengagum benda pusaka seperti itu. Sedikit atau banyak aku mengerti apa yang paling disukai bapak. Wajar jika bapak selalu mementingkan budaya dan adat saat melakoni kegiatan sehari-harinya. Walaupun bapak terkadang sering terlihat ngotot, contoh saja seperti saat rembukan dengan Mas Nizam kemarin malam, sebetulnya bapak tipikal orang yang sangat menghargai tradisi turun temurun dan teguh pendirian.
Karena aku anak wadon (perempuan) satu-satunya, maka aku harus bisa mewarisi budaya leluhur dengan menjadi sinden dan penari sejak dini. Kata bapak, cocok dengan untuk membimbing keprawiranku sebagai perempuan. Yang pada dasarnya semua sifat lembah lembut dan gemulai itu ada pada seorang perempuan khas jawa. Maka, aku harus melatih itu dengan dengan suatu hal yang dapat melekat dengan jiwa dan karakteristikku.
Andaikata anak bapak itu laki-laki, sudah pasti dia akan menjadi penerus bapak, menjadi dalang tersohor. Bila perlu tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tapi hingga ke mancanegara. Sebab, budaya leluhur indonesia ini juga telah terbaca masyarakat dunia sejak lama. Dihargai dan diinterpretasi. Jika orang luar saja menghargai, kenapa para penerusnya malah menghindari? Itulah sekilas kepercayaan bapak sejauh yang aku pahami.
“Ini cundrikmu. Jaga baik-baik.” Bapak memberikan keris kecil itu padaku.
Kugenggam cundrik itu.
“Tapi, kenapa bukan Emak yang Bapak kasih?”
“Jiwa mudamu butuh pepeling (pengingat).”
“Tika ingat kok apa kata-kata Bapak.”
“Sebentar lagi ada yang datang. Buktikan kalau kamu memang masih ingat nasihat Bapak.” Bapak belum menatapku. Masih sibuk mengelapi wayang-wayangnya.
“Siapa, Pak?”
Tak berselang lama terdengar emak menyapa seseorang. Kedengarannya lebih dari dua orang.
“Buatkan minuman yang enak, Nduk.”
Aku hanya menerka, mereka itu tamu bapak dari jauh. Tak jarang juga bapak didatangi seniman atau praktisi yang datangmewancarai. Pernah juga mas-mas dan mbak-mbak kuliah kerja nyata yang selama empat puluh lima hari mendalami budaya seni wayang dan sinden di sini.
Sepuluh menit aku datang membawa sirup es blewah dan mentimun. Wanita seumuran emak melemparkan senyum ramah.
“Mereka keluarga seniman.” Bapak memberitahu.
Kami bersalaman.
“Terima kasih minumannya.”
__ADS_1
“Inggeh, Pak.”
“Kami datang jauh-jauh dari Sleman untuk menemui anak gadisnya Ki Dalang Jatmiko. Jadi, kamu orangnya?”
Aku mengangguki itu.
“Dia anak satu-satunya saya, Mas Darya. Sampeyan pasti suka. Bener apa bener?”
Mereka beradu tawa.
“Kenapa Bapak menjodohkanku dengannya?” Tiba-tiba terlepas.
Seketika itu emak menatapku dengan pandangan melarang.
“Bapak tidak menjodohkan, tapi mengenalkan. Begitu to, Pak Ismawan?”
“Benar. Ini bukan perjodohan.”
Aku mendelik. Sudah bisa kutebak mereka pasti sedang merencanakan sesuatu. Kutatap emak yang ikut senyum-senyum. Dan, pasti emak juga terlibat. Aku meneruskan tanyaku dalam batin.
“Kami sudah banyak mendengar kisahmu. Kamu anak yang berbakat rupanya. Selain cantik parasmu, tapi kamu juga anak yang santun. Lebih mengagumkan ketimbang hanya mendengar dari Bapakmu.” Pak Ismawan manggut-manggut.
“Namaku Darya Setyo Aji Gumelar.”
“Lulus tiga tahun lalu,” tambah ibunya.
“Berarti masih lebih tua Mas Nizam,” batinku menyambungi.
“Apa yang Ayahku katakan tadi benar banget. Aku juga tertarik banget untuk mendalami seni denganmu.”
Bapak hanya tersenyum simpul. Lantas aku mengamati perubahan ekspresi di wajah emak. Dan, keduanya sama.
“Kita bisa menjalaninya dengan satu visi dan misi yang sama. Gimana?”
“Kenapa mereka terdengar sangat terburu-buru. Apa yang sebetulnya mereka cari?” batinku lagi.
“Bapak tidak pernah mengajarimu diam di depan orang yang sedang bertanya. Mereka bukan menasihati, tapi menunggu jawaban.” Bapak menegaskan kalimatnya.
__ADS_1
“Apa mungkin Bapak ingin mengujiku?” Aku membatin.
“Dijawab, Mustika!” Emak pun menyuruh.
“Tika bingung, Mak.”
Jawabanku malah ditertawakan. Tawa paling keras dari mulut bapaknya yang menganga cukup lebar.
“Lebih enak kalau Nak Mustika nurut saja apa kata Bapak. Kan beres.”
Aku terpojokkan. Sementara, aku jarang sekali mengeluarkan pendapat di depan orang banyak. Ini kali pertamanya aku dilamar orang dan bapak langsung kelihatan semringah tanpa masalah. Siapa mereka sebenarnya?
Percakapan selesai. Satu jam pertemuan mendadak malam ini menyisakan banyak tanya di hati. Dari tadi aku hanya menyimak. Tersenyum pura-pura jika menurutku tidak lucu, tapi mereka amat bahagia membicarakannya. Tapi, mereka benar-benar niat. Datang jauh-jauh dari Sleman, sampai di sini hanya istirahat satu jam.
“Mereka tidak menginap di hotel, Pak?”
“Pasti menginap, Mak.”
Aku beringsut ke kamar.
“Mustika?”
Aku berbalik arah. Menyibakkan selambu.
“Dalem, Mak.”
“Mereka seniman besar. Nama Bapakmu akan ikut terangkat jika kamu mau menerimanya. Kalian cocok. Sesama seniman pasti akan saling mengerti. Satu hati dan tujuan. Pikirkan itu!”
“Tika mau salat, lalu latihan nari, Mak.”
Dua hari lagi ada tanggapan di dusun sebelah. Selain aku telah dikenal sebagai penari andalan desa, jika aku tidak mampu tampil sempurna, nama bapak akan dipertanyakan.
Musik di tip kecil kunyalakan. Ingin sekali punya handphone, tapi bapak melarangku. Padahal, akan ada banyak keuntungan jika aku bisa memilikinya, termasuk jika ingin menyimpan nomor Mas Nizam.
Aku berdiri di depan cermin besar dan panjang di depanku. Kupakai selendang warna hitam dengan ujungnya yang merah di pundakku. Musik tari jejer jaran dawuk berbunyi telah berbunyi beberapa detik. Aku bersiap dengan gerakan ngiwir. Gerakan dengan posisi kaki kiri berada di depan dan kaki kanan di belakang. Lalu, gerakan kedua tangan mengibas bawah ke atas dengan cara membentangkan tangan melewati batas pundak sembari memegang selendang. Terakhir, sembari menggelengkan kepala ke kiri kanan bersamaan dengan kedua tangan mengibaskan.
Musik ini mempunyai karakteristik energik. Gerakan demi gerakannya harus dilakukan dengan lincah dan cepat, tapi tidak boleh terlihat kaku. Koordinasi gerakan yang diciptakan sebisa mungkin harus terlihat menyatu dengan iringan musik. Maka, terciptalah gerakan yang estetis.
__ADS_1
Di tengah gerakan itu terjadi, aku memandang diriku bergerak leluasa di depan cermin. Inilah aku yang sejak kecil diajarkan bagaimana merawat budaya. Bapakku seorang tetua desa, jika anaknya perempuan kurang cocok menjadi dalang, maka dia lebih cocok menjadi penari. Dengan kelihaianku ini, banyak pemuda-pemuda yang berkesenian memuji bakatku. Katanya, ini luar biasa. Tak jarang mereka datang melamarku, tapi bapak belum pernah menerimanya. Justru malam inilah, aku bertanya apa spesialnya Kang Darya?
😊😊😊