
*Tsaniya Tabriz
Aku mendapati wajah semrawutnya dibawa pamit pulang. Antara cemburu, kecewa, dan memaklumi. Andaikata aku punya kuasa untuk menolak, akan kuperjuangkan cintaku pada Yazeed sampai ke pelaminan. Namun, apalah dayaku di sini. Status, kebahagian abah dan ummik, juga harapan ibuku membuatku tak memiliki banyak peluang untuk menolak. Ini tentang birrul walidain kepada dua orang tua yang tidak dapat aku hindari. Tentang kewajiban seorang anak menuruti kemauan orang tuanya dan tugas santri mengamalkan apa yang pernah dipelajarinya. Masa laluku sudah buruk, lalu apa jadinya bila aku pun dikenal para santri sebagai anak yang tak patuh dan memberi citra buruk orang tuanya? Walaupun semua itu harus kubayar dengan kemasygulan hati. Cintaku tak sampai pada pemiliknya. Maafkan aku, Yazeed. Beribu maaf aku tak bisa melanjutkan semuanya. Mungkin memang bukan aku perempuan yang pantas menggenggam cintamu. Kupandangi dia yang sudah melenggang pergi dengan mobil nya.
Keesokan harinya. Subuhku disambut oleh suara Pak Nizam sedang mengajikan kitab Fathul Izar. Aku tak tahu kitab apa itu. Tapi, dia begitu fasih membaca setiap arab gundulnya dan memaknainya dengan bahasa jawa. Begitu juga penjelasannya tentang rumah tangga walau dia masih bujang.
Aku berdiri mematung di tengah pintu. Menyandarkan kepala ke sisi kiriku. Beberapa ayat kurapalkan lirih. Desir angin pagi membelai wajahku mesra. Setengah kutahan rasa kantukku. Tak ada kegiatan pagi ini. Masih libur sampai esok hari. Suara Pak Nizam terus memasuki lorong telingaku. Kupikir akan lebih nyaman jika aku duduk di kursi. Kududukkan pantatku ke kursi anhaman rotan. Kuhela napas panjang.
Ketika suaranya berhenti sejenak, sepi pun mengambil alih. Pengantin baru belum keluar dari kamar sejak azan subuh tadi. Entah apa yang mereka lakukan. Abah berzikir di ruang pasalatan, sedangkan ummik murajaah hafalan di kamar. Mbak Ufi langsung pamit pulang setelah tahajud tadi. Dijemput pamannya naik mobil sewaan karena rumahnya juga tak begitu jauh. Lagu ini juga tak perlu repot-repot memasak, sisa makanan tadi malam masih sangat cukup kalaupun dimakan sampai besok. Tadi sudah kuhangatkan semuanya. Pun sudah kusiapkan nasinya, tinggal menunggu matang di magic jar.
"Nduk?" Abah mangegetkanku. Beliau menyentuh pundak kananku. Lantas duduk bersebelahan denganku.
"Dalem, Bah."
"Kabeh kerono hasil istikharah Abah, Nduk. Sampeyan ikhlas?"
Terjemah: (Semua karena hasil istikharah Abah, Nduk. Kamu ikhlas?)
"Insyaallah, Bah." Tak mungkin aku mengatakan tidak.
"Bah, tapi kenapa njenengan bisa tahu nama keris ini?"
"Abah oleh isyarah."
"Berarti Abah sudah yakin kalau Pak Nizam jodohnya Niya?"
"Nizam saguh ngabdi, Nduk. Abah ndak pengen sampeyan ninggalno pesantren iki."
Terjemah: (Nizam saguh ngabdi, Nduk. Abah ndak pengen kamu meninggalkan pesantren ini)
"Abah yakin Pak Nizam orang yang benar-benar baik?"
"Insyaallah, Nduk. Mbiyen Simbahmu Kiai Soleh pernah ngomong neng Abah, mbesok jodohe salah siji anakmu kui enek sing duwe keris."
Terjemah: (Insyaallah, Nduk. Dulu Simbahmu Kiai Soleh pernah ngomong pada Abah, suatu saat jodohnya salah satu anakmu itu ada yang mempunyai keris)
"Jadi, masa depanku telah ditebak sejak dulu, Bah?"
"Simbahmu duduk uwong sembarangan, Nduk. Sing ikhlas yo. Nduk, insyaallah Abah yakin yo kui lo jodone sampeyan. Ummikmu bener ket awal. Ummikmu tanpo ngerti pesene Simbahmu, Ummikmu njodohne sampeyan karo Nizam."
Terjemah: (Simbahmu bukan orang sembarangan, Nduk. Yang ikhlas ya. Nduk, insyaallah Abah yakin ya itulah jodohmu. Ummikmu benar sejak awal. Ummikmu tanpa tahu pesannya Simbahmu, Ummikmu menjodohkanmu dengan Nizam)
Apakah Kiai Soleh menurunkan sebagian kesaktiannya padaku? Aku masih ingat persis bagaimana aku pernah lolos dari malam-malam di gurun panas itu. Mereka seperti tiba-tiba mati mendadak di depanku. Tapi, itu juga bisa karena tirakat abah dan ummik yang diperuntukkan kepadaku.
"Iki duduk kebetulan. Gusti Pangeran wis ngatur kabeh."
Terjemah: (Ini bukan kebetulan. Allah sudah mengatur semuanya) Abah mencari posisi yang lebih nyaman.
Lima belas menit berlalu. Langit semburat biru. Daun-daun mangga di luar pagar pesantren tampak berguguran beberapa di antaranya.
"Sampeyan rungokne, Nduk!" (Kamu dengarkan, Nduk!) Abah tersenyum.
"Haaa?"
__ADS_1
Abah diam. Dan, aku lekas menyadari bahwa abah tengah mengungkap kepuasannya setelah mencermati apa yang disampaikan Pak Nizam kepada santri-santri putra.
"Oh, nggeh."
"Sampeyan pengen rabi kapan, Nduk?"
"Bah, Niya ingin kuliah ke luar negeri."
"Opo kudu adoh?" (Apa harus jauh?)
"Abang akan menemani Niya."
"Lawong Kakanganmu kui jektas rabi, mosok yo arepe ninggalne bojo."
Terjemah: (Lha Kakakmu itu, kan, baru menikah, masak mau meninggalkan istri)
Kutundukkan wajahku.
"Kuliah neng Magetan wae, Nduk. Universitas sing akreditasine wis apik mesti kan akeh."
Terjemah: (Kuliah di Magetan saja, Nduk. Universitas yang akreditasinya bagus mestinya kan banyak)
Aku semakin tertunduk. Lagipula kenapa aku harus tergiur dengan impian-impan yang dikatakan Bang Fakhar. Jika abah saja tidak mengizinkan aku diboyong ke Darul Amin, mana mungkin abah membiarkanku berjarak dengannya hingga ribuan kilo. Kepada siapa Tuhan menitipkan pertolongan-Nya? Pak Nizam pun orang yang sangat patuh pada abah. Sekali pun kuminta padanya nanti, kemungkinannya mungkin juga kecil. Yazeed, mungkin kamulah yang mau membantuku mewujudkan impianku. Dengan kesungguhan dan cintamu padaku, kamu selalu menjadi bermuara atas semua cita-citaku.
"Kakanganmu ket maeng durung metu songko kamar. Mosok yo Mbakmu arep ditinggal. Mengko lek langsung dikersakne ngandhut, pripun, Nduk? Mesakne to?"
Terjemah: (Kakakmu dari tadi belum keluar dari kamar. Masak ya Mbakmu akan ditinggal. Nanti kalau langsung dikehendaki hamil bagaimana, Nduk? Kasihan kan?"
"Soal kapan wayahe rabimu, Abah ora mekso, Nduk. Sampeyan pengene kapan, sampeyan maturo mae Ummikmu."
Terjemah: (Soal kapan waktu pernikahanmu, Abah tidak memaksa, Nduk. Kamu pengennya kapan, sampeyan bilang ke Ummikmu)
Tapi, aku tahu abah ingin segera aku menikah tak lama setelah ini. Apalagi ummik yang menghendaki perjodohan ini dari awal. Apa artinya menikah muda bagi perempuan pemimpi sepertiku? Tapi, bukannya sebetulnya juga ingin menikah dengan Yazeed? Lalu, apa masalahnya? Bisik yang lain, aku seperti seseorang yang telah kehilangan hak dan dituntut untuk membahagiakan orang lain. Aku ingin hidup dengan ibuku saja. Menemani ibuku di pasar tanpa meresahkan masa lalu dan masa depan. Air mataku ingin meluruh.
Sinar matahari celingukan di antara celah ranting dan daun pohon mangga. Tak ada Mbak Ufi, ndalem menjadi sepi. Bila kang santri telat menyapu halaman, biasanya Mbak Ufi yang langsung bertandang meskipun dengan cerewetnya mengatakan kang santri itu pemalas.
*Tsaniya Tabriz
Aku sudah mandi, salat duha lebih awal, dan mendaras setengah juz. Aku jalan-jalan di halaman pesantren sembari mendengarkan celoteh kang santri. Ketika aku sendirian bolak balik memutari halaman, tak ada satu pun santri yang mengusik. Mereka pun lalu lalang seperti biasa. Malah ada yang lewat serta menunduk. Tanpa sadar aku mencari Pak Nizam. Di mana dia setelah mengaji bersama santri tadi? Apakah dia masih di pendopo masjid.
Aku berjalan ke arah sana. Abah sedang menerima satu pasien yang datang jauh-jauh dari Bondowoso. Kulihat beberapa pasang sandal masih terjejer rapi. Aku berusaha mengintipnya. Seketika aku terkejut. Yang kuintip pun tak sengaja melongokkan kepalanya ke luar bingkai pintu kayu jati khas ukiran jepara. Aku membelakangi wajahnya segera. Aku menyisih. Kudengar langkah pelan mendekatiku.
"Ada yang ingin kamu tanyakan, Ning?"
Alisku terangkat. "Sejak kapan dia memanggilku begitu?" batinku.
"Apa aku bisa bicara dengan Pak Nizam berdua saja?"
"Mau ngobrol di mana? Di sini atau di saung?"
"Di sini tidak apa-apa. Maksudku di masjid."
"Pak, saya langsung to the point saja. Kapan Pak Nizam ingin menikah dengan saya?"
__ADS_1
"Apa itu artinya kamu sudah mau menerimaku?"
"Jawab saja, Pak!"
"Itu urusan walimu. Kiai yang berhak menentukan ini. Kalau pertanyaannya aku balik gimana?"
"Aku mau menikah dengan Pak Nizam, asal dengan syarat."
"Pernikahan dengan syarat?"
"Bukankah itu diperbolehkan?"
"Hmm oke. Ya sudah apa syaratnya?"
"Sebelum saya rampung hafalan, apakah Pak Nizam bersedia untuk tidak menyentuh saya?"
"Aku baru dengar ada syarat seperti itu? Coba kamu tanyakan dulu pada Abahmu, apa boleh jika perempuan mengajukan syarat begitu."
"Pak Nizam tinggal jawab saja."
"Ini soal hukum, Ning. Nggak bisa main asal jawab."
Kenapa juga aku terlalu frontal membicarakan itu dengannya? Aku lupa sedang berbicara kepada siapa. Kesal. Aku jadi malu sendiri. Aku nyelonong pergi.
Aku berpapasan dengan ibunya Pak Nizam. Beliau tersenyum menyapaku. Kuberikan senyum sama walaupun aku tidak sempat mengajak bicara. Aku kesal sendiri. Bercampur malu. Kenapa juga aku menanyakan itu padanya? Tidak seharusnya aku berbicara terlalu intim dengannya. Pak Nizam pasti tidak akan mudah mengiyakan permintaanku. Dia pun pasti akan memperhitungkannya.
"Dek?"
Aku tak merespons panggilan Bang Fakhar di ruang tamu.
"Kok udah keluar kamar? Sudah kelar?"
"Apanya yang kelar hayok?"
"Duuuh," batinku. Keceplosan lagi.
"Kak Ulya di mana, Bang?"
"Di kamar."
"Ngapain?"
"Pengen tahu aja. Dia lagi mandi."
"Masih baru mandi?"
"Iya. Kenapa emangnya?"
"Eh, kok aku mikirnya begini?" batinku lagi. Mendadak eror.
Di depan Bang Fakhar pun aku salah tingkah. Kira-kira apa yang sedang dipikirkan Pak Nizam sekarang? Aku pergi ke kamar mandi belakang. Berwudu. Tak terasa perutku keroncongan. Tapi, makan pun menjadi tak berselera.
Selamat membaca. Sudah gini aja. š š š
__ADS_1