FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 73 "Ketika Purnama Menghilang"


__ADS_3

*Ibban Nizami


📞"Ya sudah. Enggeh. Ibuk siap-siap saja dulu. Kalau Mas Iman belum berangkat, Ibuk bisa bareng dia. Nggeh? Kayaknya belum berangkat kok, Buk."


📞"Iya wis (sudah). Ibuk siap-siap dulu. Lagipula Ibuk juga tidak pernah ke Tulungagung."


📞"Iya, Buk. Assalamu'alaikum."


📞"Wa'alaikumussalam, Zam."


Aku telepon Mas Iman. Pesanku sudah centang dua.


📞"Gimana? Berangkat jam berapa?"


📞"Nanti, Mas Bro. Setelah magrib langsung berangkat."


📞"Oke. Sekalian minta tolong kamu jemput Ibuk saya di rumah. Ibuk maksa pengen ke sini."


📞"Oke, Mas. Insyaallah nanti saya jemput."


📞"Iya. Terima kasih, Mas."


Mas Iman memutus panggilannya lebih dulu.


Kukirim pesan SMS ke ibuk.


"Buk, ba'da magrib njenengan langsung dijemput. Ibuk langsung siap, nggeh. Perjalanan jauh. Ibuk pakai jaket. Bawa bajunya tidak usah banyak-banyak. Minum obat anti mabuk. Aku nggak ingin Ibuk sampai sini malah jatuh sakit." Pesan terkirim.


Aku mengirim pesan lagi. "Ibuk tidak usah bawa makanan apa-apa. Tidak usah beli. Biar aku yang masak, Buk. Aku juga bisa tinggal beli di warung."


Di rumah.


Data handphone stay hidup. Aku menunggu kabar dari orang tua Mbak Rubia dan Dio. Sayur dan lauk di dapur sudah habis. Aku tinggal beli di warung depan. Siapa tahu setelah itu ada kabar baik. Aku keluar sebentar, jalan kaki.


Saat aku membeli, ada tetangga yang juga sedang membeli nasi goreng, lalu menanyakan kabar Mbak Rubia. Dengan jujur, aku mengatakan dia sedang sakit. Aku mengaminkan doa yang kemudian dipanjatkan oleh wanita itu. Aku juga sekalian memberitahukan jadwal les ngaji dan sekolah sementara libur karena keadaan yang mendesak.


"Ini, Mas."


Aku memberikan lembaran uang itu sembari menyongsong kresek. Kuberi uang pas.


Setelah aku kembali, meletakkan sayur itu di kuali, aku melihat notifikasi panggilan tidak terjawab di ponselku yang sedang aku cas. Aku segera menelepon balik panggilan dari mamahnya Mbak Rubia. Aku berdecak. No respons. Geser ke bawah, aku memanggil Dio. Dia pun sama. Mengabaikan panggilan.


Kutinggal salat dan mengaji. Kuhabiskan puluhan lembar Alquran seraya mendoakan Mbak Rubia. Sampai di penghujung malam, aku masih menghadap layar handphone dan laptop. Kutinggal mengerjakan tugas upload data mahasiswa. Teh kencur tinggal separuh gelas besar.


Dan, tidak terasa aku ketiduran sebelum aku salat isya. Aku terbangun ketika tiba-tiba ada yang berkali-kali mengetuk pintu depan lumayan keras. Dengan langkah sedikit terhuyung dan mata buram, aku membuka pintu. Menyambut kedatangan ibuk dan Mas Iman dengan mulut yang sedang menguap.


"Masuk, Buk!"


"Ibuk belum salat. Jam berapa ini?" Ibuk meletakkan tas besarnya di kursi. Kepalanya memutar ke kanan kiri, mencari di mana jam dinding.


"Tidak ada jam, Buk. Mati belum aku ganti."


"Masih jam dua," jawab Mas Iman.


"Kita jamaah dulu kalau gitu. Aku juga ketiduran. Belum isyak."

__ADS_1


Mas Iman yang mengambil posisi menjadi imam. Dia lebih terjaga. Sepuluh menit berlalu.


"Bagaimana kabar Mbak Rubia, Le?"


Aku dan Mas Iman bergantian mencium punggung tangan ibuk.


"Belum. Adik dan Mamahnya belum memberi kabar lagi."


Kami bertiga istigasah sampai menjelang subuh. Mas Imanlah yang tetap memimpin. Di sela-sela zikir itu digumamkan, pikiranku tertuju pada Mbak Rubia. Aku bukan seorang ibu yang memiliki ikatan dan perasaan yang kuat, tapi tidak kabarnya Mbak Rubia telah membuatku tidak bisa tenang.


Pagi sekitar pukul delapan lebih, usai sarapan nasi dan sayur yang kubeli tadi malam, kami pergi ke rumah Mbak Rubia dengan mobil Mas Iman.


Setibanya di sana, aku melihat garasi rumahnya sudah dibuka. Lega rasanya. Mungkin mereka sudah pulang. Tetapi, ketika mobil hendak belok ke halaman, satpam menyuruh Mas Iman parkir di luar. Aku membuka kaca mobil, ada banyak rangkaian bunga di sana.


"Mas Iman, cepat!" Aku gupuh.


Mobil berhenti. Aku dan ibuk turun segera. Mas Iman belakangan.


Satu dua tiga langkahku mendekat ke garasi. Senyap. Terdengar suara ibuk yang meringik, lalu memelukku erat. Sementara Mas Iman melangkah lebih dekat. Berdiri di depan karangan bunga itu. Dia bergeming di sana. Aku mengajak ibuk terus berjalan pelan-pelan. Aku menelan saliva. Kupegangi pundak Mas Iman. Ibuk melepaskan tanganku. Kemudian, aku dan Mas Iman berpelukan. Saling menepuk punggung. Tidak terasa air merembes dari sudut mataku. Wanita yang kutangisi setelah ibuk adalah Mbak Rubia.


"Dia meninggalkan kita secepat ini," ujar Mas Iman. Sebagai pria, dia berusaha kuat. Aku pun demikian. Aku kembali menepuk-nepuk punggungnya.


"Kita ke dalam, Le," ucap ibuk tidak berdaya.


Aku melepaskan pelukan dari Mas Iman.


Kami melangkah sejajar. Aku melihat dio yang sudah berpakaian putih di dekat pintu. Dia berlari ke arahku. Langsung menangis sambil memelukku.


"Kak Rubi, Mas Ib. Kok bisa begini."


"Jadilah laki-laki yang kuat untuk Mamahmu, Yo," bisikku padanya.


"Bagaimana Mamahmu?"


Dio melepaskan tangannya. "Mamah baru saja pingsan. Kamu lihat aja, Mas, di dalam. Ada yasinan. Ayok!"


"Ayo, Buk!" kataku.


Papah Mbak Rubia langsung menoleh. Berdiri menyambut kami. Aku sedikit mempercepat langkah demi langsung menyongsong wajah yang tengah diguyur kesedihan. Kami berpelukan sangat erat.


"Takdir Rubi hanya sampai di sini," kata beliau.


"Nggeh, Om. Jujur saya kaget. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Kabar sakitnya yang tiba-tiba sangat mengejutkan."


Aku melepaskan.


"Ibuk saya datang ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa."


"Terima kasih, Bu." Beliau menatap ibuk.


Mas Iman mendekat, memeluk seraya berkata, "Saya juga, Om. Sebetulnya bukan kabar ini yang kami nantikan. Seandainya Mas Nizam yang menjadi pilihan Mbak Rubia, itu tidak jauh lebih menyedihkan daripada apa yang saya lihat sekarang."


"Takdir Rubia di dunia sudah usai."


Mereka melepaskan pelukan.

__ADS_1


"Om minta maaf. Benar-benar minta maaf. Kejadiannya sangat mendadak."


Beliau mengisyaratkan supaya kami ikut duduk seperti beliau yang memulai duduk di kursi sofa yang sudah dipinggirkan.


Kami bersiap mendengarkan kelanjutan kejadiannya. Kami sudah sangat penasaran.


"Ok ada kepentingan di Singapura. Rubia memang sudah mengeluh pusing. Sedikit tidak enak badan. Tapi, katanya dia butuh refreshing. Lama tidak traveling. Itu benar. Terakhir dia jalan-jalan itu setahun lalu. Dia izin tiga hari mengajar. Karena takut ada apa-apa, Mamahnya juga ikut. Tapi, Dio pilih ke kos-kosan temannya. Musibah terjadi. HP Rubi hilang. Dia menolak dibelikan HP baru. Mamahnya sudah mengingatkan harusnya dia langsung membeli HP di sana supaya jika kalian menanyakan hasil lamaran, kalian tidak bingung. Entah dia sudah punya firasat atau bagaimana, Rubia melarang Om dan Tante memberitahukan keberadaan kami di Singapura. Dua hari dia jalan-jalan ke banyak tempat dengan Mamahnya. Fotonya dikirim ke Dio."


"Iya, Om. Saya sudah lihat fotonya."


"Sebetulnya yang tahu jelas itu Mamahnya. Kata Mamahnya, dia mual-mual dan pusingnya bertambah parah. Penyakit lamanya kambuh. Dan, setelah dilab hasilnya mengejutkan. Dia harus dirawat. Tapi, tensinya naik turun. Dua hari yang lalu tensinya sangat tinggi 180. Kami gupuh. Sedangkan, Om sendiri juga masih ada kepentingan dengan direksi industri. Malamnya dicek dan ketika Rubia sedang telfon kamu, tensinya bagus. Turun drastis. Kami ada harapan. Tapi, tiba-tiba kemarin pagi. Tensinya melonjak naik lagi sampai 190. Dia sudah tidak dapat diharapkan lagi. Dokter sudah memastikan ada pembuluh darah yang pecah di dalam otak."


Ibuk menangis. Aku memeluk ibuk dari samping meskipun aku sendiri sedang menahan diri.


"Tapi, bronkitisnya sempat sembuh?"


"Belum. Ketika dia telepon kamu, dia masih batuk-batuk parah itu. Rubia sudah lama meninggalkan kebiasaan makan dan ngemilnya semenjak semester tiga dia sakit. Setahun dia sembuh. Dan, baru akhir-akhir dia mulai makan dengan terbiasa. Bahkan, malam itu, Mas. Dia saking senangnya kamu mau datang ke rumah, dia merayakan bahagianya dengan membeli banyak makanan untuk kamu. Sebetulnya begitu."


Aku menunduk. Kuusap air mataku yang jatuh setetes.


"Om, saya minta maaf."


"Saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya karena telah membebani pikiran Mbak Rubia," ucap Mas Iman.


"Tidak. Kalian tidak usah minta maaf. Buat apa. Om yang salah. Om, minta doanya, ya. Tolong kepergian Rubia diikhlaskan. Tapi jika Om boleh jujur, kalian sama-sama pria yang baik. Berat bagi Rubia untuk memilih salah atau dari kalian. Tapi, Om juga tidak akan menutupi bahwa perasaan Rubia yang sebenarnya jatuh pada Mas Nizam. Om minta maaf pada Mas Iman. Tolong dimaafkan."


Mas Iman diam sebentar. Dia mengangguk dua kali.


"Saya tahu itu, Om. Sepertinya itu lebih baik tidak dibahas lagi."


Mamah Mbak Rubia mendekat. Wajah itu masih sangat merah dan matanya sipit. Bibirnya melengkung turun. Dua benda di genggaman itu lantas diletakkan di meja.


"Rubia nitip pesan agar ini dikembalikan. Rubia sudah tenang. Rubia meninggal dengan keadaan yang mudah. Dia minta maaf. Dia mendoakan kalian agak kelak kalian mendapatkan pengganti yang lebih baik." Kalimat itu diucapkan dengan suara parau.


"Apa ada lagi yang Mbak Rubi sampaikan?" tanya Mas Iman.


"Tidak ada. Dia hanya memohon supaya Tante menyampaikan permohonan maafnya. Bahkan, sebelum kalian mendengar jawabannya secara langsung, Mas Ibban hanya mendengar dari telepon, dia sudah pergi lebih dulu. Perjalanannya sudah berakhir, Mas. Rubia sudah tidak ada bersama kita. Tolong itu dimaafkan."


"Saya menyayangi Mbak Rubia, Bu. Jujur saya sebagai ibunya Nizam mengakui kebaikan dan ketulusan Mbak Rubia. Saya kaget. Kaget banget." Ibuk menangis lagi. Isak ibuk mengeras.


"Mohon dimaafkan, ya, Bu."


Mereka bertukar tangis. Saling mendekat dan akhirnya menguatkan dalam pelukan.


"Tidak ada kesalahan sedikit pun yang sudah dilakukan Mbak Rubia, Bu. Saya bahagia bisa masak dan mendengar langsung kalau Mbak Rubia menyukai anak saya Nizam. Pria biasa dari desa."


"Tante minta maaf menolak dan sering mengabaikan panggilan Mas Nizam. Tadi malam Tante sempat telepon, Tante mengabari akan take off jam setengah satu. Tante minta maaf sekali lagi."


"Tidak apa-apa, Tante. Insyaallah tidak ada yang saya permasalahkan."


Malam menjadi sangat gelap sebab purnama telah menghilang dari sisinya.


Bumi mendadak gersang sebab air sudah tak mampu lagi menyirami.


Laut menjadi badai karena matahari sedang berduka dan enggan menduduki langit.

__ADS_1


Begitu juga hatiku yang seketika menjadi kosong karena keindahan Tuhan yang dititipkan padanya telah sirna.


Maaf menunggu lama. Terima kasih stay di Fizah. InsyaAllah POV Fizahnya akan segera muncul. Maaf juga buat yang sudah yang nungguin Fizah, tapi Fizahnya belum nongol juga. 🌹❤️🙏


__ADS_2