FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 122 "Prinsip Cinta"


__ADS_3

*Yazeed Akiki Mubarak


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Dokter Maher.


Aku mempersilakannya. Kami menyisih beberapa meter dari Ratna.


"Beberapa kali pertemuan aku bertemu dengannya, jujur aku sangat bersimpati dengannya. Aku menangkap sinyal-sinyal positif. Seperti yang Gus katakan waktu itu. Jika memungkinkan apa yang dia inginkan bisa dilakukan di sini, tolong lakukan. Dia belum mampu mengontrol emosinya dengan baik. Pertemuan terakhir, dia kelihatan sudah jauh lebih sehat. Tapi, malam ini aku cukup kaget. Emosinya belum stabil. Dengan dia leluasa melakukan apa yang ingin dia lakukan, itu akan sangat membantu, Gus."


"Oke. Makasih, Dok. Aku sudah merencanakan ini juga, tapi kupikir waktunya belum tepat."


"Justru masa-masa seperti ini, inpuls dari luar itu sangat berpengaruh. Pengaruhnya sangat baik. Saya khawatir jika dia nggak semakin membaik, depresinya akan bertambah berat. Itu bisa berpengaruh pada kesehatan kandungannya. Kalau belum cek kandungan, segera saja dicek bagaimana kondisinya."


"Oke siap."


"Dan aku juga ingin menawarkan sesuatu, Gus. Ya kalau Ratna bersedia, aku mau menikahinya."


"Bukannya kau sudah menikah?"


"Sebetulnya istriku sudah meninggal. Delapan bulan lalu dia dipanggil Tuhan saat melahirkan. Aku punya anak perempuan. Aku dan baby sister yang mengasuhnya."


"Timingnya nggak tepat."


"Nggak sekarang, Gus. Kalau keadaannya sudah membaik, mungkin ini bisa kita bahas lagi."


"Urungkan niatmu, Dok, jika kauingin menikahinya karena simpati."


"Dia sangat membutuhkan uluran tangan orang lain. Saat ini dia sangat mengkhawatirkan nasib anaknya nanti. Dia membutuhkan pendamping. Jika sampai nanti anaknya lahir, lalu dia terbebani dengan keberadaan anak itu karena harus mengurusnya sendirian, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya."

__ADS_1


"Dok, aku berpikiran sebaliknya. Kelahiran anak itu bisa menjadi pengaruh besar. Dia sebetulnya bisa. Yang bisa membuatnya sadar suatu saat nanti adalah kelahiran anaknya."


"Ya. Nggak ada yang salah dengan asumsimu. Anak itu mungkin akan menjadi keajaiban bagi Ratna. Persis yang pernah aku alami dulu, Gus. Semuanya berubah drastis. Soal tawaranku tadi, itu hanya jika dia mau, Gus. Setidaknya di kehidupan mendatang, dia bisa menghadapi hidupnya dengan lebih percaya diri. Jadi atau tidak, itu nggak masalah buatku. Yang penting sekarang, aku berpesan, Gus, agar dia lebih punya banyak waktu menempati zona nyamannya."


Lima belas menit Dokter Maher mengajak Ratna berkomunikasi. Setelah itu dia berbincang-bincang ringan dengan Aynur yang sebetulnya masih dalam keadaan perawatan.


Aku melangkah menuju tangga rumah. Aku terpekur menghadap rembulan yang cahayanya sedang berbaur dengan pijar lampu-lampu bilik dan halaman. Juga lampu tepat di atas kepalaku ini. Aku bebas memandang. Orang-orang di sini masih melakukan aktivitasnya. Tahun demi tahun aku mengembangkan pondokan ini. Menjaganya agar tetap lestari. Kukerahkan segala daya dan upayaku demi jalan maslahah. Hanya aku satu-satunya yang menjadi penerus. Tapi, apakah selamanya aku akan sendiri?


Tentu saja orang tuaku yang tidak pernah menyinggung masalah ini pun sebetulnya mengharapkan. Aku tak masalah bersanding dengan siapa pun, tapi dengan syarat dia juga harus mampu menerima semua yang terjadi di sini. Dan, mungkin orang yang tepat itu ialah Ranaa Hafizah. Yang ternyata dia bukan putri kandung Ibu Mini.


Kuputar kembali percakapan waktu itu. Pernikahan tidak akan mungkin terjadi tanpa wali. Karena restu masih tertangguhkan. Tidak ada bayangan apa pun, yang mungkin bisa mengarahkan langkahku pada identitas Ranaa yang sebetulnya. Dan, sayangnya Ibu Mini berpesan agar aku tidak mengatakan ini kepada siapa pun. Entah kenapa kepalaku malam ini terasa penat dan berat. Mungkin saja aku terlalu banyak menyimpan semuanya sendirian. Dan, sudah waktunya aku mencari pasangan yang mau mendengarkanku bicara. Akhir-akhir aku mulai kerap memikirkannya.


Pijar rembulan menjadi redup di pelupuk mata. Kujatuhkan pantat ke kursi anyaman rotan di belakangku. Kuambil rokok bungkus putih dari saku jaket. Satu dari tiga yang tersisa kusulut kemudian. Kuangkat kakiku perlahan bersamaan dengan ujung rokok yang mulai menempel di kedua bibirku. Semburan pertama berlarian ke udara. Semakin menjauh dari pusatnya. Asap dan tahmid lolos untuk yang kedua kalinya. Kakiku bergoyang-goyang otomatis. Bagaimana caranya aku bisa mengungkap identitasnya?


"Yaz, Yaz, sini!"


Aynur memanggilku dari bawah. Begitu juga Ratna yang mendongak, menatapku datar. Keduanya perempuan yang cukup menarik. Tapi, tak ada nyala di wajah Ratna. Kesedihan itu terlihat membebat hari-harinya. Seiring berkembangnya janin yang tengah dia kandung.


Andaikata aku menikah dengan Ratna, aku belum bisa percaya pada diriku sendiri. Apakah aku bisa menikahinya tanpa memandangnya iba. Sebab, aku tidak akan mengubah rasa belas menjadi cinta. Itu prinsipku. Bahwa pernikahan harus terjadi atas dasar cinta yang murni. Akhir-akhir ini aku memerhatikannya dari jauh. Aku mempelajari dirinya. Aku ingin hidupnya terasa selamat dan terhormat sampai kejiwaannya benar-benar pulih. Sampai dia kembali menemukan arti bahagia di tengah kesengsaraan hidup yang dia maksud. Sementara, itu adalah tugas yang memang sudah selayaknya aku berikan kepada semua penghuni yang ada di sini, Pondokan Darul Amin.


Aku bangkit. Menuruni anak tangga dengan langkah biasa. Disela itu aku mengisap ujung rokokku yang masih menyala.


"Ada apa?"


"Kata Si Dokter Maher itu aku sudah sembuh." Senyumannya melengkung biasa.


Saat aku menatap Ratna, Ratna membuang muka. Dia berdiri membelakangiku. Wajahnya menyerap kirana langit. Tangan kanannya pelan-pelan mengusap perut. Wajah rembulan memang terlihat seperti seorang ibu yang menggendong bayi. Apa mungkin dia sedang melihat itu? Tapi, dia sudah terlihat lebih tenang daripada tadi.

__ADS_1


"Yaz, aku ingin segera keluar dari sini," ucap Aynur.


"Pergi ke mana? Bukannya keluargamu tidak ada yang peduli. Kaumau menemui cenayang itu lagi?"


"Ke mana pun aku mau."


"Jika sesungguhnya kau merasa ini tempat uang paling nyaman untukmu, tetaplah tinggal di sini sampai kapan pun kaumau."


"Aku ingin mengembara, Yaz," katanya penuh keyakinan.


"Sampai aku benar-benar yakin kau tidak akan pernah kembali ke kolong comberan itu, aku akan melepaskanmu."


"Aku janji tidak akan mengulang kembali. Kau juga tahu, kan, aku nggak pernah ingin ada di sana. Dukun perempuan itu...ya a-ku tidak akan menemuinya lagi."


"Apakah kauingin tua di jalan?"


Kutinggal berbincang-bincang dengan Aynur, Ratna menyisih tanpa menoleh. Aku tak mencegahnya.


"Aku masih punya harapan. Aku akan hidup bersama alam Tuhan ini. Aku akan menjalaninya walau susah." Hampir di akhir kalimat, suaranya mendadak getar. Ke mana keteguhan yang selama ini dia tunjukkan?


"Sudahlah. Jangan pikirkan itu sekarang. Kembalilah ke bilikmu!"


Kalau boleh tahu apa yang membuat Yazeed terlihat pantas dengan Ratna? šŸ˜…šŸ˜…


Bagaimana kabar njenengan semuanya? Beberapa hari tidak up hehe. Dua eps semoga bisa mengobati rindu. Maaf, maaf, dan terima kasih selalu. šŸ’—šŸŒ·šŸŒ·šŸ™šŸ™


Met sore..

__ADS_1


__ADS_2