FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 156 "Nyai Sekar Wangi"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Aku berusaha untuk tidak menghitung waktu yang terus berjalan. Hitungan menit berputar menjadi jam sampai tiba pada detik-detik abahku menyampaikan sesuatu. Mikrofon itu diberikan pelan-pelan kepada abahku yang sudah berdiri menggantikan posisi kang santri yang membawakan acara. Hanya ummik dan Bang Fakhar yang tahu abah akan menyampaikan apa. Aku di sini sebatas pendengar saja.


Kutoleh orang-orang yang berada di belakangku. Mula-mula aku menubruk wajah Yazeed yang tengah menatapku serius. Tapi, pandanganku tertarik seketika pada seseorang yang kutunggu sejak tadi. Dia duduk di kursi paling belakang. Mungkin dia datang di tengah acara. Padahal, sebetulnya dia sudah mendapatkan kursi khusus di barisan kedua.


Pak Nizam menatap sumber suara. Suara abah menarik semua perhatian. Menyadap suara-suara yang lain sehingga hanya suara abahlah yang terdengar paling nyaring.


"Pak, kenapa dulu kamu harus mengataiku seperti itu? Jika takdir kita memang bersatu, kenapa ada celah dimana aku punya alasan untuk tidak menginginmu lagi? Kenapa, Ya Allah? Seberapa besar rasa bersalahmu? Apa yang bisa membuatku yakin jika di masa depan nanti, justru kamulah yang menjadi sumber kekuatanku? Gustiiiii," batinku.


Mukaddimah abah membuatku semakin bisa mendengar bunyi detak jantungku. Fokus mataku terkunci pada setiap kata yang keluar darinya. Lalu, tiba-tiba abah melambaiku. Ummik di sampingku menyuruhku ke depan sesuai dengan perintah abah. Tingkahku menjadi kaku. Aku hanya tidak percaya diri. Tidak ada yang mengenalku. Kupastikan aku telah berjalan dan memakai pakaian yang pantas. Aku diam sejenak. Saat abah mengangguk, aku mulai berjalan pelan-pelan.


"Alhamdulillah. Malam ini saya ingin memberikan kabar bahagia untuk panjenengan semuanya. Alhamdulillah dan alhamdulillaaaaah, pada jam ini saya mengharapkan doa dan restu, serta kesaksian. Saya meminta Ibban Nizami agar ke depan terlebih dahulu. Monggo, Mas!"


Aku pun melihat ekspresi yang senada di wajahnya. Tapi, dia tak secanggung diriku. Pak Nizam melangkah pasti dengan sedikit menunduk melewati orang-orang yang serempak menoleh ke arahnya.


Abah pun melanjutkan kalimatnya setelah Pak Nizam berada di sebelah kanan abah. "Insyaallah saya akan menikahkan mereka berdua."


Kutatap abah sedalam-dalamnya. Walau aku ingin mengatakan tidak, tapi aku berusaha tetap menciptakan senyum. Seindah mungkin sampai orang lain tidak bisa menerka gurat kesedihan di mataku. Kucium punggung tangan abah. Lalu, Pak Nizam melakukannya pula. Lebih lama dari kecupanku.


"Anak kedua saya Tsaniya Tabriz dengan Ibban Nizami. Saya mohon doa restunya, nggeh. Dan, insyaallah akan ada undangan pernikahan kedua yang akan kami haturkan pada panjenengan semuanya di lain waktu."


Abah mengeluarkan sebuah keris cilik dari jasnya. Patrem milik Pak Nizam. Beliau mengangsurkannya padaku. Kutadahkan tangan kananku sembari mempertanyakan satu hal, ada apa dengan keris ini?


Masih kupandangi keris itu. Lantas kutatap yang dulu pertama mengenalkannya padaku. Keris dan Pak Nizam, di antara mereka seperti ada rahasia. Kenapa mata dan wajahnya sangat tenang? Tidakkah dia merasakan hal sama denganku? Apakah di antara abah dan Pak Nizam pernah terikat perjanjian di masa lampau? Rasanya itu lebih tidak mungkin lagi.

__ADS_1


"Keris Nyai Sekar Wangi iki saiki dadi duwekmu, Nduk!" (Keris Nyai Sekar Wangi ini sekarang menjadi milikmu)


Keris Nyai Sekar Wangi? Aku dan Pak Nizam menanyakan itu dengan mata kami. Kali ini ekspresi kami begitu senada.


"Njenengan tahu nama keris ini?" Lepaslah penasaran itu.


Abah hanya memegang pundak Pak Nizam seraya memberinya senyum tipis.


*Ibban Nizami


Sejujurnya aku sangat terkejut ketika mendengar nama Fizah berubah menjadi Tsaniya Tabriz. Itu artinya dia gadis asli keturunan kiai. Gadis yang dulu pernah dijodohkan Bu Nyai Ridhaa padaku. Yang kupikir dulu hanyalah keinginan bu nyai yang tidak akan menjadi nyata. Rupanya kini gadis yang kukenal sebagai Fizah bukanlah gadis biasa saja. Begitu wajar apabila selama tujuh belas tahunnya dia sangat dicintai oleh Bu Mini. Dia yang dianggap sebagai anak pembawa berkah. Dan, inilah rahasia besar yang Bu Mini maksudkan. Tentang Fizah anak seorang kiai.


Aku semakin merasa berdosa telah merendahkannya, sedangkan dia harusnya kumuliakan sebagai putri kandung kiaiku sendiri. Sebab, apa pun yang yang ada pada semua zurriyahnya, tugasku sebagai murid ialah menghormati. Tapi, ternyata aku justru menyakiti perasaan putrinya. Kutahan emosi dan perasaanku. Aku berusaha bersikap setenang mungkin.


Lain lagi saat Abah Bahar menyebutkan nama keris yang aku sendiri belum mengetahuinya. Pernyataan kiai membuatku berpikir. Mustika juga tidak pernah memberitahuku sebelumnya. Apa yang kudengar baru saja, itu disebabkan karena kemuliaan abah semata atau memang ada kaitannya antara alasan Mustika memberikan patrem itu dengan kejadian malam ini? Atau, mungkin Mustika dan Abah Bahar sebelumnya sudah saling mengenal? Aku sangat berharap beliau segera menjelaskannya kepadaku. Kepada kami yang penasaran. Begitu pula Fizah yang tugasnya di sini hanya manut dalam menerima perintah abahnya. Aku tahu dia jauh lebih terheran-heran. Tapi, seharusnya dia sudah mengetahui sebagian besar ceritanya ketimbang aku yang tidak mengerti sama sekali.


Abah menyuruhku menempati kursi barisan kedua. Juga meminta agar ibuk duduk bersebelahan denganku. Tapi, ibuk menolak. Katanya lebih nyaman bila di belakang terkena semilir angin malam.


Unduh mantu malam ini berakhir pada pukul setengah sebelas malam. Terlalu larut untuk membicarakan hal yang sangat penting. Kulihat abah dan bu nyai begitu lelah. Tampak sudah lesu dan mengantuk.


"Zam, ojo muleh. Sampeyan turuo neng pondok. Sesok esuk wayahe ngaji kitab, badalono Abah yo."


Terjemah: (Zam, jangan pulang. Kamu tidur di pondok. Besok lagi jadwalnya ngaji kitab, gantikan Abah, ya)


Begitu dhawuh abah sebelum masuk ke ndalem. Dan, sepertinya rahasia besar itu tidak akan diceritakan malam ini.

__ADS_1


Dua pengantin sudah masuk ndalem lebih dulu. Aku sengaja masih di luar karena kulihat Fizah duduk termenung di kursi. Dia belum berpindah posisi sejak usai bersalaman dengan para tamu undangan. Kudekati dia pelan-pelan.


"Apa kamu berat hati menerima perintah Abahmu?" Aku tak perlu basa-basi. Yang terlihat di wajahnya hanyalah gundah. Patrem itu masih di genggamannya.


"Siapa pemilik patrem ini? Aku tahu ini bukan milik seorang laki-laki," katanya dengan memandangku.


"Namanya Mustika. Wardah Mustika Rahayu."


"Benarkah ini bernama Nyai Sekar Wangi?"


"Aku tidak tahu. Tepatnya belum tahu. Tapi, Abahmu memang berkata begitu."


"Kenapa perempuan itu memberikannya padamu, Pak?"


"Aku tidak tahu."


"Harusnya Pak Nizam tahu. Bagiku ini janggal."


Baru kali ini kami berbincang-bincang dengan kalimat yang cukup panjang. Apakah ini pertanda dia sudah bisa menerima semuanya?


"Apakah hanya aku yang pantas untuk menerima benda sakral ini?"


"Jujur saja aku pun tidak tahu. Hanya Abahmulah satu-satunya kunci jawaban."


Sebetulnya aku juga bisa menanyakannya pada Mustika. Tapi, tak mungkin aku berurusan lagi dengannya yang sudah menikah.

__ADS_1


Ngapunten nggeh hanya bisa 1 eps. Juga belum bisa membalas satu per satu komentar panjenengan. Terima masih untuk dukungan dan waktunya karena bersedia membaca sampai sejauh ini. ❤️🌹🙏


__ADS_2