FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 196 "Walimah Satu"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Tamu agung yang tidak berhalangan sangat diharapkan agar tetap tinggal di pesantren. Sayangnya setelah sesi foto-foto selesai, para habib meminta pamit pulang terlebih dahulu. Mereka ada keperluan mendesak yang tidak bisa diwakilkan. Lantas, abah merayu agar para habib berkenan tinggal sebentar saja di ruang tamu ndalem, barang sepuluh menit. Ummik berbisik kepada abah karena masih ada oleh-oleh yang harus disampaikan. Tapi, mereka bertiga sepakat memohon maaf dengan sangat ramah. Lantas ummik dan ibuk tergopoh-gopoh ke ndalem. Mereka keluar dari masjid untuk mengambil parsel buah dan makanan, juga uang berkah yang sudah diniatkan dari awal harus sampai kepada mustahiqnya.


Santri-santri masih berdiam di masjid. Aku dan suami selaku mempelai, abah, ibu mertua, dan para tamu agung keluar dari masjid lebih dulu. Kami akan mengantarkan mereka sampai ke gerbang pesantren. Aku menoleh. Beberapa santri putri membawakan semua barang-barangnya. Lalu, Mbak Ufi yang menyusul belakang membawa uang berkah itu.


Para habib pamit setelah bersalaman hangat dengan abah, cipika-cipiki dan berpelukan. Tak ketinggalan beliau bertiga menyampaikan doa dan sepenggal nasihat untuk bekalku dan suami mengarungi bahtera rumah tangga. Sekali lagi beliau bertiga memohon maaf. Lalu, suamiku mencium tangan mereka bergiliran. Aku, ummik, ibuk, dan ibuk mertua menelungkupkan tangan sembari tersenyum mengantarkan kepulangan mereka.


Santri-santri putri tadi diisyarahkan ummik agar memberikan barangnya kepada sopir. Begitu juga Mbak Ufi langsung paham. Dia memberikan amplop itu kepada sopirnya, yang tak lain para sopir itu ialah tangan kanan para habib.


"Habis ini dirias lagi?"


"Mau salat dulu, Mas."


"Cie panggil aku mas. Kok nggak keren gitu sih." Dia berbisik mesra di telingaku.


"Lha gimana? Bener gitu, kan? Ya sudah tak panggil Pak Nizam aja."


Dia malah tertawa. "Ya sudah. Salat dulu sana. Yang khusyuk. Nanti kepikiran aku." Dia ngeloyor pergi. Langsung mengalihkan pembicaraan dengan ibu mertua.


Aku harus segera membersihkan riasan. Memburu waktu. Sudah jam lima sore. Kuangkat gaunku agar lebih mudah berjalan cepat.


"Zam, itu Senduk Niya kok ndak dibantu. Dibantu, Le," kata ibu mertuaku.


Dia berlari menyusulku. Langsung mengangkatku.


"Eh, eh, nggak usah diangkat gini." Aku merajuk. Malu dilihat santri-santri putri yang bergumul di depan dapur. Kudengar mereka berteriak-teriak histeris. Santri-santri yang lalu lalang memperhatikan sembari tertawa.


"Malu lo."


"Biarin. Kamu kurus banget. Ringan banget. Berapa bbmu?"


"Cuma 45 kilo. Tapi, ini gemuk kalau ukuran perempuan usia tujuh belas."


"Oh iya masih tujubelas yo. Lupa. Kirain sudah dua lima."


"Ingat lo, nggeh. Kita ada perjanjian di awal, Mas."


Dia tidak merespons.


"Mas? Dengar mboten (tidak)?"

__ADS_1


"Nggak denger."


"Turunkan kalau gitu."


"Nggak mau."


Aku baru diturunkan setelah berada di depan cermin rias. Santri putri yang tadi berkerumun di depan dapur, sekarang berdesakan di pintu menuju ruang tengah. Kasak-kusuk seraya cekikikan. Aku melirik mereka.


"Aku mau ganti dulu. Bebersih. Salat."


"Iya. Aku pengen di sini kok."


Mbak Lala kuajak ke kamar. Dia kuminta sekalian membersihkan wajahku supaya lebih cepat. Waktu asar sangat mepet. Kalau waktunya cukup. Aku ingin mandi sekalian setelah salat. Tidak usah lama-lama. Daripada nanti malam malah tidak sempat. Mbak Lala berpesan agar jangan terlalu lama. Karena prosesi make-up untuk walimahan ini jauh lebih lama. Aku pun bergegas.


Santri mengetuk pintu kamar mandi. Aku diperingatkan agar mandi lebih cepat. Tak ada sepuluh menit selesai. Tepat pukul setengah enam sore. Mbak Lala langsung mengajakku.


Kulihat Mas Nizam sedang asik menyantap makanan.


"Mau disuapin?"


Aku menggeleng.


"Mbak, dia sudah makan belum?"


"Sini aku suapin lagi, Ya Zaujatas Salihah."


Panggilan apalagi itu. Dia memanggilku istri salihah. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa menolak. Aku membuka mulut. Dia menyuapiku dengan sendok yang barusan dia pakai untuk makan.


"Ini tinggal tiga sendok aja. Mau lagi?"


Aku mengangguk. Ternyata perutku keroncongan lagi.


"Mbak, Mbak, nasinya lagi," ucapnya pada santri putri yang tetap berdiri di bingkai pintu.


Santri itu mendekat.


"Sebentar."


Aku disuapi lagi. Tinggal dua sendok, dia yang menghabiskan. Dia berikan piringnya pada santri yang menunggu di sampingnya. Santri itu sudah melted duluan sebelum mengambil piring.


"Suwun, ya, Mbak."

__ADS_1


"Enggeh, Gus," jawabnya. Dia menahan tawa dalam tundukan wajahnya. Menutupi mulut. Lalu, histeris di belakang.


Dia datang lagi membawakan sepiring nasi. Masih tak berani mendongakkan kepalanya lurus. Mulut ditutup dengan ujung kerudung. Piring berpindah tangan. Kulirik porsinya ditambahkan dan lauknya lebih bermacam-macam. Dia pasti memberitahu orang dapur kalau Mas Nizam meminta makan karena ingin menyuapiku.


"Aaaaak!"


Kuangkat tanganku. Isyarah aku belum leluasa makan karena Mbak Lala masih merayakan seluruh foundation setelah dimixing dan dibakar.


Kali ini Mbak Lala bekerja lebih cepat. Gerakannya cekatan dan profesional. Seakan-akan dikejar waktu. Tapi, memang benar juga. Sebelum jam tujuh nanti, Rias manten harus sudah selesai. Setidaknya setengah jam sebelumnya jika memungkinkan. Sementara, rias manggala, unyil, penerima tamu, saudara-saudara juga belum selesai. Untuk bridesmaid hanya memakai warna gamis yang sama, warna maroon, wajah tanpa rias. Karena mereka santri-santri, kelompok Mbak Furiyama teman sekamarku dulu.


Mas Nizam memakan nasinya sedikit demi sedikit. Katanya sudah njebeber. Aku belum jadi makan setelah lima belas menit kemudian. Dia menungguiku dengan hanya diam. Kadang tersenyum setelah memperhatikanku dalam-dalam. Kadang mengalihkan kebosanannya dengan membaca buku di smartphone.


Menit demi menit berlalu. Dia justru ketiduran. Menyedekapkan tangan. Wajahnya menunduk. Aku mendengarnya sedikit mendengkur.


"Mbak, saya makan boleh?"


"Bentar, ya, Ning." Diam sebentar. "Eh, tapi ya sudah makan aja, Ning. Tapi, kalau sudah ke lipstik tidak usah makan dulu."


"Gus?" Dia menoleh belakangnya. "Eh, suaminya malah tidur, Ning. Dibangunkan apa gimana?"


"Biarkan saja. Capek dia. Aku makan sendiri saja."


"Sulit, Mbak. Minta tolong saja."


"Le Nizam?" panggil ibuk mertuaku. Menepuk pundak Mas Nizam.


"Eh, njenengan, Buk?"


Mas Nizam terbangun. Pundaknya terangkat. Matanya merah sekali.


"Salat dulu, Zam."


"Sudah azan, Buk? Jam berapa ini?" Dia melihat jam tangan di tangan kirinya.


"Oh, sudah lebih lima belas. Kok nggak dengar adzan, Buk?"


"Ya adzan cuma lirih tadi. Semua sudah pada jamaah tadi. Ibuk juga sudah." Ibuk menatapku. "Sudah makan, Nduk Niya?"


"Belum, Buk. Masih kesusahan."


"Sini Ibuk suapin saja. Biar Nizam salat dulu."

__ADS_1


Aku menolak, tapi ibuk memaksa. Aku mengalah. Bahkan, ibuk menyuapiku sampai aku kenyang. Lantas ibuk diminta agar berkenan dirias. Begitu juga ummik, ummik yang tadinya request dirias belakangan saja karena sebetulnya ummik tidak suka dirias seperti itu. Ibuk mertua dan ummik dirias bersamaan.


__ADS_2