
*Ratna
"Di mana Papa dan Mama dimakamkan?"
"Mereka dimakamkan di sini. Nanti Ibu antarkan kalau pengen ke sana. Sekarang istirahat dulu. Ibu ambilkan makanan, ya?"
"Tidak usah, Bu. Kami masih kenyang," sergah Fizah.
"Tidak apa-apa, Mbak."
"Bu, bener. Nanti saja," kataku.
"Ya sudah. Ibu ambilkan minuman dulu." Bangkit.
"Bapak beli gorengan, gih!"
Pak Abad ikut menyisih. Anak laki-lakinya yang masih bersama kami sangat canggung. Pun memilih membiarkan kami berdua saja.
"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, Zah."
"Apa kamu nggak ingin tahu dulu info soal orang tuamu dulu?"
"Semakin lama kita di sini, mereka akan penasaran dengan kita. Apa kamu bisa menjawab pas ditanya di mana kita bertemu? Tidak, kan?"
"Tapi, kamu jadi, kan, ziarah ke makam orang tuamu?"
__ADS_1
"Jadi. Kita minta arah-arah jalannya saja. Tidak usah ditemani. Aku khawatir mereka tahu siapa kita, Zah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku takut."
"Oke. Aku manut kamu."
Buk Malikah keluar menyodorkan dua gelas teh hangat.
"Sembah nuwun, Bu." (Terima kasih, Bu)
"Bu, bisa Ibu antarkan ke pemakaman sekarang?"
Fizah langsung menatapku. Mengarahkan matanya ke arah dua gelas yang masih panas. Aku tidak paham apa maksudnya.
"Nanti setelah kita minum, njenengan bisa mengantarkan, kan, Buk?" katanya kemudian.
"Mbak Ratna bisa di sini sampai nanti malam. Selama Ibu di sini, baru sekali ini bisa berbicara langsung dengan Mbak Ratna. Dulu, biasanya setelah Mbak Ratna pulang sekolah, les akademik, terus sore sampai malem les piano, menyanyi. Ibu tahu itu lo, Mbak. Ya Ibu senang aja. Ibu menerima dengan tangan terbuka kalau Mbak Ratna mau di sini. Rumah itu, rumahnya Mbak Ratna maksud Ibu. Itu sudah dijual oleh ahli waris yang lain. Pemilik yang sekarang seorang seniman. Ibu dengar, guru seni di sekolah SMA di kota ini. Duda anak satu. Jarang di rumah. Juga jarang sekali bersosialisasi dengan warga. Ibu sarankan Mbak Ratna menemui keluarga yang lain. Mereka pasti akan sangat senang. Setelah sekian lama mereka menganggap Mbak Ratna telah tiada, tentu kepulangan Mbak Ratna akan menjadi kejutan. Iya, kan?"
Aku dan Fizah saling menatap. Tujuanku sekarang hanya pergi bersamanya. Pilihan yang paling aman daripada aku pulang menemui mereka. Aku tidak berani. Jika aku sudah dianggap mati, mereka tak mungkin lagi mencari keberadaanku. Justru jika aku tiba-tiba kembali, mereka akan terus mempertanyakan bagaimana aku selama ini. Yang kenyataannya aku jauh dari kehidupan yang layak. Aku yang kini telah menjadi perempuan kotor, ternodai.
Kekasihku, Ali, seorang pria yang pernah menjalin hubungan diam-diam denganku ketika aku masih kelas sepuluh, mungkin sudah memiliki kekasih yang lain. Dimana dia sebenarnya masih kerabatku sendiri. Tapi, tidak ada yang tahu termasuk papa dan mamaku. Hubungan yang tidak terikat itu, pasti akan lebih mudah dilepaskan. Tidak ada janji di antara kami. Aku pun telah melupakannya ketika aku mulai menjadi perempuan malam di kolong sampah. Aku bukan lagi menjadi perempuan yang pantas untuknya.
Mereka telah tiada bersama waktu. Kalaupun aku masih diperbolehkan meminta pada Tuhan, cukup kuminta satu hal dari-Nya seorang pria yang mau menerimaku apa adanya. Yang tidak pernah memandang perempuan sepertiku sebagai najis. Mungkinkah itu lelaki yang pernah menolongku? Seandainya takdir membersamakan kami dalam pertemuan yang lain?
Aku tidak berani berkata banyak di depan Bu Malikah. Aku tahu mereka keluarga yang baik, tapi aku tidak merasa aman dan nyaman berada di dekat mereka. Kami pamit dengan alasan pergi ke suatu tempat yang tidak dapat kami ceritakan pula. Fizah yang meminta maaf sebesar-besarnya telah merepotkan dan mengantarkan kami sampai di makam. Lalu, mereka mengiyakan usia kami minta meninggalkan. Dan, Fizah menyampaikan doa-doa sebagai balasan untuk Bu Malikah sekeluarga. Bersamaan dengan itulah, hujan turun rintik-rintik.
Dua buah ranting pohon yang daunnya masih segar menghijau kutancapkan di depan pusara makam papa dan mama. Fizah yang mengajariku. Dia juga menceritakan sedikit hal kenapa dia menyuruhku meletakkan ranting itu. Rasulullah pernah mendengarkan penghuni makam berteriak dalam alam kubur. Hingga kemudian Rasulullah mendatangi, menancapkan pelepah kurma, lantas mendoakannya.
__ADS_1
Kuperhatikan Fizah khusyuk berdoa. Mulut itu seperti sakral melantunkan kalam-kalam Tuhan. Apabila gravitasi air jatuh ke tanah menimbulkan bunyi yang merelaksasikan telinga, maka suara Fizah jauh lebih merdu dan indah. Suaranya lebih seperti penawar. Aku tertegun. Siapa kamu sebenarnya, Fizah?
*Ranaa Hafizah
Perjalanan Kediri Tulungagung.
Setelah sampai di alun-alun kota Tulungagung, Ratna mengajakku berhenti untuk membeli makanan. Ya nasi ataupun makanan apalah yang bisa mengganjal perut. Penjual makanan berderet-deret di sekitar sana. Barang sejenak kami sangat tertarik karena juga sudah kelaparan. Tapi, aku melarangnya. Tujuan kami ke sini untuk mensucikan diri dan melaksanakan salat taubat. Selain itu, uang yang kami bawa tidaklah banyak. Masih sisa setelah kami gunakan untuk membayar ongkos ojek dan bus yang kami naiki tadi. Dan, sisanya tidak mungkin kami gunakan untuk membeli makanan sementara itu bukanlah uang halal. Mungkin masih ada cara lain supaya kami tetap bisa mendapatkan makan sampai malam nanti. Dengan raut wajah yang sedikit kecewa, Ratna tetap mendengarkan omonganku. Dia mengekoriku.
Bertemu keramaian di depan masjid, sebelum kaki kananku melangkahkan kaki lebih dulu, aku mematung sejenak dan merapalkan doa. Tidak ada habisnya aku mengucapkan syukur. Pada akhirnya, manusia pasti akan menemui kemenangannya.
"Semoga nikmat ini bukanlah ujian. Tapi, buah dari sabar yang telah kami pendam. Terimalah langkahku menuju rumah-Mu, Ya Malikul Mulk. Izinkan kami mendapatkan menit demi menit bersama-Mu. Lindungilah kami dari pandangan yang tidak baik. Jauhkanlah kami dari rasa was-was." Kuusapkan kedua telapak tanganku ke wajah.
Aku menoleh. Kudapati Ratna memerhatikanku berdoa.
"Ngapain, Ratna? Ayo masuk!"
Dia menahan lenganku.
"Apa orang sepertiku pantas masuk ke tempat suci ini? Lihatlah orang-orang itu beribadah. Mereka mengaji, salat, dan berzikir tanpa henti."
"Apa kamu tahu apa dosa yang telah mereka lakukan?"
Ratna menggeleng.
"Begitu pun kita. Tidak ada yang tahu kecuali Allah dan hati kita sendiri. Orang lain hanya akan mampu berprasangka sejauh yang mereka duga. Ratna, aku dan kamu sama. Kamu tidak pernah bersalah atas kejadian yang menimpamu. Kita akan cari solusi sama-sama jika Pak Su dan Mas Hakim melawan kita dari jauh. Tapi, sampai sekarang kita masih aman. Semoga saja selalu aman. Simpan nama Allah dalam hatimu."
__ADS_1