
*Ibban Nizami
Hari minggu. Ba'da tahajud, aku dan ibuk berangkat sowan kepada para pengasuh pesantren tempatku dulu menimba ilmu. Kami menuju Magetan terlebih dahulu sebelum ke Jawa Tengah. Sekarang masih sekitar dua jam perjalanan. Baru saja melewati rumah sakit umum Dr. Harjono Ponorogo. Dan, musik yang kudengarkan saat ini ialah suara merdu ibuk sedang mengaji. Meskipun ibuk bukan penyanyi ataupun qariah, tapi kemampuanku di bidang olah suara berasal dari jiwa ibuk. Bedanya, ibuk tidak pernah mengenal dunia seni suara selama hidupnya. Hanya mau belajar padaku menerapkan nada apa yang mudah dan enak digunakan ketika binnazaran Alquran.
Satu kali al-fatihah dalam batinku. Kuhadiahkan kepada Mbak Rubia. Di akhir ibuk membaca, aku mendengar lirih ibuk menyebut nama Mbak Rubia juga. Diam-diam ibuk telah memperlakukannya seperti putri sendiri.
"Zam, doa kanggo (untuk) Mbak Rubia."
"Sudah, Buk."
"Kerismu kemarin juga kaubawa, kan?
"Aku pasti membawanya, Buk."
"Ibuk bukannya nyuruh kamu segera melupakan perasaanmu pada Mbak Rubia endak, Le. Beban urusan yang ditanggung manusia yang telah meninggal itu banyak."
"Perasaan hanya masalah waktu, Buk. Njenengan tenang saja."
"Muga-muga lantaran sowan Kiai, hatimu dan Ibuk bisa menjadi lebih legowo. Neriman ing pandum (menerima pemberian)."
"Nggeh. Aamiin."
Setiba di Magetan.
Pesantren tempatku ikut pesantren kilat selama dua puluh hari di bulan ramadan. Tidak banyak yang berubah. Perbedaannya ada pada banyaknya pohon tinggi di depan pesantren dan bertembahnya sarana santri, termasuk kamar. Petak-petak kamar santri putra maupun santri putri juga masih sama. Dimana masing-masing kamar dibangun terpisah. Satu kamar hanya dihuni empat orang saja. Sekilas akan mirip terlihat seperti perkampungan.
Aku menuntun langkah ibuk. Mengerlingi sudut pesantren yang masih dapat terjangkau pandanganku. Dan, seperti biasanya abah kiai akan duduk melayani masyarakat yang datang berobat. Mengobati penyakit dalam yang tidak berkesudahan atau penyakit yang tidak dapat didiagnosis pengetahuan ilmiah seorang dokter. Tidak ada tarif. Jika penyakit itu hanya biasa, dulu abah kiai hanya menganggap itu bagian dari taawun sesama hamba Allah. Entah bagaimana sekarang.
"Di mana Bu Nyai?"
"Zam, Bu Nyaimu yang mana?"
"Dulu Bu Nyai umrah. Aku tidak sempat bertemu beliau. Paling sekarang ada di ndalem itu."
Maka, keluarlah satu pemuda tinggi dan wanita yang usianya lebih muda daripada ibuk. Atau, mungkin sebetulnya sejajaran. Aku dan ibuk menghampiri beliau.
"Assalamu'alaikum?"
Baru setelah beliau menjawab, aku menyatukan alis. Wajah di depanku tidak asing. Aku mengabaikan pertanyaanku.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Sinten niki (siapa ini)?"
Kami saling menelungkupkan tangan.
"Ngapunten. Ini Bu Nyai, nggeh?"
"Loh, sek to, Mas. Kula kok nate pirso sampeyan ki teng pundi?"
Terjemah: (Loh sebentar, Mas. Saya kok pernah tahu kamu itu di mana?)
Pria di samping bu nyai, yang kuingat dia adalah Gus Fakhar, usianya di bawahku, dia menjawab, "Laki-laki di foto itu, kan, Mik?"
__ADS_1
"Masyaallah. Bener. Ya Allaaaaah. Silakan masuk! Monggo, monggo!"
Kami berempat duduk.
"Mbak Ufi? Mbak?"
Seorang perempuan muncul dari dalam. Datang membungkuk, kemudian menjatuhkan dengkulnya.
"Mbak, nyuwun tulung tamune disuguhi sekul."
Terjemah: (Mbak, minta tolong tamunya disuguhi nasi)
"Kok merepotkan, Bu Nyai," ucap ibuk.
"Mboten mboten." (Tidak tidak)
Bu nyai menatapku pesantren. Nyala antusiasnya.
"Ya Allah, masyaallah. Ummik pernah ke Tulungagung. Rekreasi. Lha kok mbiten panggih sampeyan, Mas. Pripun sehat?"
Terjemah: (Ya Allah, masyaallah. Ummik pernah ke Tulungagung. Rekreasi. Lha kok tidak ketemu kamu, Mas. Bagaimana sehat?)
"Alhamdulillah."
Ibuk buru-buru mengucap, "Pangestune, Bu Nyai. Semoga sehat selalu."
"Enggeh nggeh. Aamiin ya rabbal alamin. Alhamdulillah. Ummik bersyukur banget saget ketemu sampeyan neng ndalem. Lha sampeyan iki asline nopo santrine Abah?"
"Dulu saya hanya ikut kilatan. Dan, itu sudah lama sekali, Bu Nyai."
"Mas, sampeyan kemutan to biyen Ummik pernah matur opo?"
Terjemah: (Mas, kamu ingat, kan, dulu Ummik pernah berkata apa?)
"Nggeh, Bu Nyai."
"Bagaimana sekarang?"
Ibuk seketika menatapku. Ibuk memang belum pernah kuceritakan soal ini.
Aku menyangka jika malah dipertemukan dengan kawan simak Alquran Ummik Nur Fatimah. Yang dulu mengatakan akan menjodohkanku dengan putrinya yang hilang. Meskipun aku ingat itu, tapi aku tidak menganggap itu serius.
"Kalau tidak salah namanya Tsaniya Tabriz, nggeh?"
"Iya, Mas."
"Pripun, nggeh." Aku mendadak sungkan ingin menanyakan dimana keberadaan putri beliau sekarang ini. Mengiyakan perjodohan tanpa tahu wajahnya itu tidak akan membuatku yakin.
"Assalamu'alaikum?" Abah kiai masuk.
Aku menggeser dengkul. Segera meraih tangan yang mengayun di depanku.
__ADS_1
"Bah, disowani santrine njenengan."
Terjemah: (Didatangi santrinya Abah)
"Sopo iki?" (Siapa ini?)
"Nizam. Ibban Nizami, Bah."
"Iki mesti rene ngaturi undangan. Iyo ngono?" Abah kiai tersenyum.
Terjemah : (Ini pasti ke sini mengantarkan undangan. Iya begitu?)
"Bah, niki tiyang jaler sing pengen kula jodohne kaleh Tsaniya, Bah."
Terjemah: (Bah, ini pria yang ingin saya jodohkan dengan Tsaniya, Bah)
Abah kiai mengabaikan perkataan bu nyai.
"Nggeh sebelumnya saya minta maaf. Niat yang pertama, kami bermaksud silaturahmi. Belasan tahun saya tidak sowan. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan sampai hari ini. Kedua, ngapunten sebelumnya, saya ingin menunjukkan ini kepada Abah."
Aku mengeluarkan keris itu dari saku jaketku.
"Patrem nggo wadon sopo iki, Le?"
Terjemah: (Patrem untuk perempuan siapa ini, Le?)
"Saya pasrah, Bah. Yang menurut Abah pantas untuk saya."
Ibuk menyambung, "Sebelumnya saya pun minta maaf, Kiai, Bu Nyai. Nizam ini baru ditinggal tutup usia oleh sahabat perempuannya. Jadi, mbok menawi panjenengan berkenan menawarkan satu santri untuk putra saya, Kiai."
Mbak ndalem keluar lagi membawa nampan besar. Isinya diletakkan di lantai. Duduk lesehan.
"Nduk, tulung celukno kancamu."
Terjemah: (Nduk, tolong panggilkan temanmu)
"Nggeh, Bah."
Tak berselang lama, mataku dibuat terpana. Mendapati dua perempuan yang salah satunya telah kukenal. Dua perempuan itu duduk.
"Mbak Ulya mboten usah mriki." (Mbak Ulya tidak perlu di sini)
Mbak Ulya itu lantas pergi. Sementara, aku masih terkesiap memandang perempuan itu.
Tinggallah perempuan itu sendirian. Wajahnya menunduk. Tapi, aku tahu dia sempat melirikku tadi. Melempar tatapan tidak suka.
"Sampeyan purun to sing ayu ngene iki?"
Terjemah: (Kamu mau yang cantik seperti ini?)
Maaf, nggeh, nunggu tiga hari. Tiga episode langsung saja. Semoga tetap bisa dinikmati. Selamat malam. Rahasia demi rahasia sudah terjawab. 😊✌️🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1