FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 107 "Pembelaan untuk Fizah"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


"Nggeh, Mik. Fakhar coba paham. Tapi, apa Ummik duko (marah) karena aku punya perasaan dengan Iza?"


"Ummik kurang demen, Le. Ummik ndak pengen nganti milarani Mbak Ulya. Sampeyan paham to maksude Ummik?"


Terjemah: (Ummik kurang suka, Le. Ummik tidak ingin sampai menyakiti Mbak Ulya. Kamu paham, kan, maksudnya Ummik?)


"Tapi, apa Ummik akan tetap menyuruh Iza tidur di kamar santri?"


"Lha piye maneh?" (Mau bagaimana lagi?)


"Iza tidak salah, Mik. Dia tidak harus pindah kamar. Aku lihat dia keberatan, tapi kadung merasa bersalah pada Ummik. Ummik tidak pengen mengubah keputusan?"


"Baik Ummik marah opo ndak karo Iza, tapi iki demi maslahahe atimu, Fakhar."


Terjemah: (Baik Ummik marah atau tidak dengan Iza, tapi ini demi kebaikan hatimu, Fakhar)


Ummik menghela napas.


"Sampeyan mestine wis ngerti, Le. Tapi, iseh ngebotne perasaanmu neng Iza. Ngono? Sampeyan butuh belajar dadi laki-laki sing siap lahir batin dadi pemimpin keluarga. Diawiti tekan saiki."


Terjemah: (Kamu pastinya sudah paham, Le. Tapi, masih memberatkan perasaanmu pada Iza. Begitu? Kamu buruh belajar menjadi laki-laki yang siap lahir batin menjadi pemimpin keluarga. Dimulai dari sekarang)


"Maka dari itu, Mik, aku tidak ingin mempercepat pernikahan ini sampai aku siap lahir batin."


"Tapi, tidak dengan memperhatikan Iza seperti itu."


"Nggeh. Nggeh."


"Ndak enek masalah karo bajune. Tapi, niatmu kui lo, Le, sing dadi masalah. Sepiro-piro sampeyan maringi Iza baju, lek niate sampeyan liyo, ceritane bakalan bedo maneh."


Terjemah: (Tidak ada masalah dengan bajunya. Tapi, niatmu itu lo, Le, yang jadi masalah. Berapa pun kamu memberi Iza baju, kalau niatmu lain, ceritanya akan beda lagi)


"Nggeh, Mik. Ya Allah, enggeh." Kucium pipi ummik dua kali.


"Mesti andalanmu ngene iki." (Pasti andalanmu seperti ini) Ummik menggerutu melihatku merayu.


Aku tertawa lirih.


"Yowis sepurane yo, Le." (Ya sudah minta maaf, ya, Le)


Aku memeluk ummik sekali lagi.


"Tapi, Iza babuke panggah neng kamar santri."


Terjemah: (Tapi, Iza tidurnya tetap di kamar santri)


"Enggeh pun (ya sudah) kalau itu maunya Ummik. Dia sudah mengembalikan bajunya, Mik. Terus siapa yang harus memakainya, Mik?"


"Nopo dibalekne?" (Kenapa dikembalikan?)


"Sungkan sama Ummik."

__ADS_1


"Kene bajune biar Ummik sing nyimpen."


Terjemah: (Sini bajunya biar Ummik yang menyimpan)


"Ummik yang pakai?"


"Yo endak to." (Ya tidaklah)


"Terus piye hasile? Wis enek sing menghubungi sampeyan, Fakhar?"


Terjemah: (Terus bagaimana hasilnya? Sudah ada yang menghubungimu, Fakhar?)


"Belum ada, Mik. Mik, kata Mbak Ufi, Iza itu juga punya tanda lahir yang sama. Apa Iza sekalian di tes DNA?"


"Yo kenek, Le. Tapi, Iza opo purun?"


Terjemah: (Ya bisa, Le. Tapi, Iza apa mau?)


"Kemarin itu pas tangannya teriris pisau, aku kepikiran tes DNA diam-diam. Tapi, aku ragu, Mik."


"Yo Iza kudu rido, Le. Akade kudu podo ikhlas. Ummik ndak purun lek sijine ndak lilo."


Terjemah: (Ya Iza harus rida, Le. Akadnya harus sama-sama ikhlas. Ummik tidak mau kalau salah satunya tidak ikhlas)


"Tapi, tidak dalam waktu dekat, ya, Mik."


"Sembarang. Pokok usaha terus. Keyakinan Ummik tetep podo (sama). Justru akhir-akhir iki Ummik kok ngroso (merasa) semakin yakin."


"Yakin Dek Tsaniya akan segera berkumpul dengan kita?"


Terjemah: (Iya, Le. Kamu benar, Le. Pernikahanmu menunggu Tsaniya ditemukan saja)


Aku lega mendengarnya. Masih ada tenggang waktu bagiku untuk mempersiapkan hati. Belajar mencintai perempuan yang belum bisa kucintai.


*Ranaa Hafizah


"Mbak, kamu beneran mau pindah kamar? Aku ndak ada temen ngobrole lo, Ya Allaaaah."


"Bu Nyai mintanya begitu, Mbak."


"Ya Allah, kok bisa juga lo Gus Fakhar nekat ngasih kamu sesuatu padahal dah punya Mbak Ulya. Kasihan Mbak Ulya juga kalo sampek tahu piye (bagaimana)?"


"Tapi, berita ini ndak sampai bocor ke temen-temen santri, kan?"


"Ndak tahu aku. Kayane ndak mungkin kalo bocor. Kecuali kalo Mbak Ulya cerita ke santri-santri."


"Aku khawatir kalau sampek santri-santri tahu. Sebetulnya ndak enak, Mbak, pindah kamar saat situasi begini."


"Bener. Seakan-akan kamu penyebabnya, Mbak."


"Ya aku tahu kok maksud Bu Nyai apa. Aku juga salah kenapa kemarin aku terima gamisnya."


Mbak Ufi berbisik, "Yang lebih salah itu Gusnya. Aku lo kaget pas tahu kalian didudukkan. Tebakanku dari awal lo bener, Mbak. Sikap Gusnya itu aneh. Beda dari biasanya. Kamu tuh koyok (kaya) spesial gitu bagi Gusnya. Subhanallah. Huru hara apa, sih, ini."

__ADS_1


"Mbak, anterin aku ke kamar muraqibah, ya. Tapi, kamu yang bilang kalau aku mau pindah kamar."


"Oke, Mbak Iz. Bentar aku pakek jilbab dulu."


Aku sudah mengemasi barang-barangku. Walaupun hanya berbeda tempat, aku masih di pesantren ini, hatiku masih memberatkan kekecewaan bu nyai padaku. Gundah bila bu nyai belum rida memaafkanku. Aku pun harus berusaha bercengkrama dengan banyak orang. Aku belum sanggup membayangkan berapa kali aku akan berbohong pada semua orang.


"Santri-santri itu biasane pada kepo, Mbak. Kamu jangan kaget, yo. Jawab sekenanya saja." Mbak Ufi meniup ujung kerudungnya yang masih belum rapi.


"Justru itu yang aku khawatirkan, Mbak Fi. Andai kamu tahu yang sesungguhnya, apakah kamu masih akan sepeduli ini padaku," batinku. Kembali terbayang sikap Pak Nizam. Kadang aku ingin menangis. Mencari pembelaan diri atas ketidaksanggupanku. Namun, aku kembali diingatkan pada besarnya ujian yang datang sesuai dengan tingkatan keimanan seseorang.


"Yuk!"


Aku membawa tasku.


Bersamaan dengan langkahku keluar kamar, pintu kamar Bu Nyai Ridhaa pun dibuka. Gus Fakhar dan bu nyai keluar dari sana.


"Sungkem, gih!" suruh Mbak Ufi.


Kuletakkan tasku. Aku mendekati bu nyai pelan-pelan. Beliau mencangking tas yang tadi. Belum aku sungkem pada beliau, beliau menunjukkan apa yang dicangking. Beliau menyuruhku mengambilnya. Aku terbengong.


"Ndak opo-opo, Za. Iki wis dadi hak milike sampeyan. Sampeyan mboten usah mangsulne barang sing wis diparingne."


Terjemah: (Tidak apa-apa, Za. Ini sudah menjadi hak milikmu. Kamu tidak usah mengembalikan barang yang sudah diberikan)


"Bu Nyai, tolong njenengan tersenyum. Itu akan membuatku lega," batinku.


"Iki, Nduk." (Ini, Nduk)


"Enggeh." Kuambil tas itu.


Aku melirik Gus Fakhar yang menatapku cemas.


"Ngapunten, Bu Nyai," kataku setelah menyucup punggung tangan beliau.


"Iyo, Nduk. Ummik sek nyuwun tulung sesok esuk sampeyan mriki masak. Ummik tunggu setorane sampeyan."


Terjemah: (Iya, Nduk. Ummik masih minta tolong besok pagi kamu ke sini masak. Ummik tunggu setoranmu)


"Ya Allah, lega rasanya mendengar Bu Nyai masih membutuhkan tenagaku," batinku.


Aku pun pamit pergi. Mbak Ufi mendahului jalanku. Dan, kudengar langkah kaki di belakangku terus mengekori sampai ke pintu ke depan kamar muraqibah.


"Iz, besok kamu ke ndalem lagi, ya. Dengarkan apa kata Ummik. Sory aku nggak bisa membujuk Ummik agar kamu tetap tidur di ndalem."


Aku membalikkan badan. Pelan-pelan aku menyisih. Malu diperhatikan santri-santri yang lewat. Kenapa Gus Fakhar juga tidak sadar sedang menjadi perhatian santri karena berbicara dengan raut wajah serius seperti itu padaku?


"Gus, njenengan ditingali santri," (Gus Fakhar dilihati santri) kata Mbak Ufi.


Aku menoleh ke sekitar. Lalu, tatapanku menabrak tubuh Ning Ulya yang tengah memperhatikan kami di tengah pintu kamar pengurus. Dia memegang Alquran dalam pelukannya.


"Bahaya ini," seru Mbak Ufi.


Gus Fakhar pun pergi setelah tahu Ning Ulya memperhatikan kami dengan ekspresi berpikir. Tak tersenyum.

__ADS_1


Aku dan Mbak Ufi melangkah mendekati Ning Ulya.


"Ning?" Aku memanggilnya.


__ADS_2