
*Ibban Nizami
Masih bulan Juli.
Hanya membutuhkan perjalanan sekitar setengah jam untuk jalur normal dan lancar menuju Genteng Wetan. Kunikmati hari-hari sebelum aku pindah mengajar ke Tulungagung. Tapi, aku harus mampir dulu ke bazar buku. Sudah kuniati berangkat setengah jam lebih awal supaya bisa mampir.
Kutatap sepeda motor sampingku. Kupikir aku tahu siapa pemilik motor dan helm berwarna warna hitam dua strip putih melingkar dengan tambahan stiker bertulisan mbak santri. Dari situ saja aku sudah bisa menebak tanpa menghafalkan plat nomornya.
Dia pernah mondok tiga tahun ketika duduk di bangku madrasah aliyah. Karena dia punya cita-cita sekolah di Jawa Tengah, akhirnya dia harus melepaskan statusnya menjadi santri, lalu menamatkan kuliahnya selama empat tahun mengambil jurusan matematika murni. Setelah itu kembali ke Banyuwangi, kuliah S2 di sini mengambil prodi pendidikan. Kurang lebih aku tahu riwayat itu sebab dia sendiri sudah seperti sahabat di kampus.
Ternyata setelah aku masuk, tak lama setelah melibaskan pandangan sekejap ke seluruh ruangan, dia memang di sana. Khusyuk memastikan buku yang dipegangnya. Hanya terlihat kepalanya yang tengah memakai jilbab instan berwarna merah tua. Kontras dengan warna kulitnya yang putih sebab terbiasa dibalut skincare, katanya begitu. Kepalanya menunduk. Bibirnya mengerucut dan kadang alisnya menyatu atau naik sebelah. Sesekali kepalanya memutar ke kanan kiri. Dia mungkin masih kebingungan memilih buku. Aku menghampirinya.
“Cari buku apa, Mbak?”
Dia mendongak seraya membenarkan kacamata bulatnya. Mencipta senyum.
“Wah, ada Pak Ibban. Cari buku apa njenengan?” Kembali menatap sampul belakang, membaca blurb.
“Novel.”
“Ternyata Pak Ibban penyuka novel juga, ya.”
“Kok kaget, Mbak? Aneh?” Aku tersenyum tipis. Kubaca beberapa judul di depanku.
“Saya kira Pak Ibban itu orangnya formalistis. Tiap saya meletakkan tugas mahasiswa njenengan di meja, buku-bukunya pasti yang nonfiksi. Malah ada kitab kuningnya.”
Pernyataan Mbak Rubia membuatku harus melepaskan tawa lirih.
“Kamu sendiri cari apa, Mbak?”
“Niatnya mau beli buku stastitika. Tapi, kepincut juga dengan novel-novelnya, Pak. Bagus-bagus. Coba njenengan rekom novel apa yang bagus untuk jiwa-jiwa yang sedang galau?”
“Ini saya juga baru mau tanya.”
“Kalau soal njenengan suka dengan novel ini saya agak heran beneran, Pak. Memang sejak kapan, sih?”
“Sejak di pesantren.”
“Loh, iyakah?”
“Kaget lagi.” Aku menertawakannya.
“Saya juga suka banget dari dulu. Malah dari sekolah dasar. Sekadar jadi penikmat saja. Bukan penulis. Atau, jangan-jangan Pak Ibban diam-diam malah sudah menerbitkan novel?”
“Ide bagus, Mbak.”
“Maksudnya?” Dia melangkah ke samping kananku. Menyisiri buku dengan jari-jari yang ujung-ujung kukunya diberikan warna.
“Sebelumnya tidak kepikiran.”
Kuperhatikan judul yang membuatku tertarik.
“Ini cocok untukmu.”
“Kala,” gumamnya. Dia mengambil alih. Membalikkan bukunya. Membaca blurb.
“Cocok ini. Njenengan mau beli buku ini juga?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Iyalah. Njenengan, kan, laki-laki. Hatinya tidak semelankolis perempuan.”
“Yang seputar ibu.”
“Mau dihadiahkan ke ibu Pak Ibban?”
“Saya baca sendiri kok.”
“Yang punyanya Iwan Setyawan sudah?”
“Sudah. Tahun 2012, awal cetak bukunya saya langsung beli itu.”
“Ehmm...Kalau Athirah? Tapi, saya lupa pengarangnya.”
“Juga sudah. Baru-baru ini saya bacanya.”
“Satu hari bersamamu?” Fokus memikirkan beberapa judul yang masih dia ingat.
“Juga sudah.”
“Ketika Ibu melupakanmu?”
Kontan aku menolah. “Siapa pengarangnya?”
“Hehe. Lupa, Pak. Saya coba bantu cari.”
Kami melangkah bersama. Mencari rak yang lain.
“Atau di tumpukan meja itu mungkin banyak, Pak.”
Kutatap dia. “Tidak ada jadwal pagi?”
“Masih nanti siang kok.”
Mbak Rubia mengangkat telunjuknya. Berseru.
“Itu, Pak, bukunya. Alhamdulillah ada.”
Dia mendahului langkah. Mengambilkan bukunya. Diberikannya padaku.
Kupastikan bukunya bisa menarik minatku. Aku sedang membutuhkan asupan buku tentang ibu. Sebentar lagi aku meninggalkan ibu lagi. Dan, ternyata buku ini memang cocok supaya aku tidak pernah menyakiti perasaan ibu yang selalu menganggapku anak laki-lakinya yang kadang belum cukup dewasa. Masih diperhatikan ini itu.
“Bagus, Mbak.”
Dia tersenyum.
“Tapi, sekarang aku mau beli apa, ya?” gumamnya kemudian.
*Rubia El-Hazimah
Kami berangkat ke kampus sama-sama. Juga sama-sama sudah membeli dua buah buku bacaan. Pak Ibban menyuruhku mendahului laju dengan isyarat tangannya yang dilambaikan. Aku menyalip, lalu belok ke kanan.
Sepuluh menit kemudian tiba di kampus. Memasuki pintu utama, lalu memarkir motor di barisan motor khusus dosen. Lagi-lagi kami memarkir berdampingan. Halaman yang sangat luas telah dipenuhi ribuan kendaraan.
“Nanti bisa keluar, kan, Pak, jika parkir di sini?”
Kucabut kontak.
“Bisa.”
__ADS_1
“Pak, saya ke masjid dulu. Mau duhaan. Tadi di rumah tidak sempat.”
“Ini masih jam berapa? Saya lupa tidak pakai jam tangan.”
Kulihat jam tanganku. “Kurang lima belas menit sebelum jam ketiga.”
“Ya sudah. Saya ke masjid juga.”
“Baik. Monggo, Pak!”
“Hoe, Mas Bro,” sapa Pak Satpam. Yang ramah sekali. Saking kelewat ramahnya, aku tahu setelah ini dia akan berkata apa.
Pak Ibban langsung menjabat tangan satpam itu. Jabat tangan khas orang yang sudah sangat akrab meski beda status di kampus. Tapi, mereka seumuran.
“Mesti berangkat bareng atau pulang bareng.”
“Pak, mesti itu kapan lo?” tanyaku.
“Kemarin hari Selasa juga berangkat bareng.”
“Ah, enggak. Masak?”
“Mas Dosen ini pasti ingat.”
Dia menatapku. “Itu yang kita tidak sengaja bertemu di warung.”
“Owh, itu. Tidak sengaja.” Kupukul punggung satpam itu. Sikapnya pasti seperti itu. Kata-katanya seperti mak comblang saja.
“Setiap dipergoki barengan, selalu ngeles katanya tidak sengaja. Tapi, kalau memang benar tidak sengaja ketemu, awas Mas Bro kalau berjodoh dengan Dosen jelek ini.”
“Atau, jangan-jangan kamu yang suka dengan Bu Bia?” Ganti menuduh.
Tatapan mereka bertemu dalam lirikan yang saling ingin menertawakan.
“Kata siapa? Aku nggak kuat. Dia jutek, tapi kadang-kadang cerewet.”
“Ayo, sarapan, Bro!” Merangkul Pak Ibban.
“Sudah, Mas. Kami mau salat dulu.”
“Busyeeet. Salat juga sampek barengan?” Dia tergelak.
“Sakarepmu (terserah kamu), Kin, Rukin,” kataku.
Aku mendahului langkah.
“Sudah salat duha belum?” tanya Pak Ibban pada Rukin.
“Belum.”
“Tinggal dululah. Kita duhaan dulu. Satpam lain juga masih ada.”
“Ya okelah.”
Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku sudah melihat Pak Ibban khusyuk berjamaah dengan Rukin satpam gokil itu. Aku cepat-cepat mengambil rukuh setelah antre lama di kamar mandi dengan para mahasiswi. Mereka menambah rakaat setelah salam pertama. Segera kulafalkan takbir beserta niatnya. Tak lama, di sampingku menyusul tiga perempuan yang ikut menjadi makmum.
Di depan gedung rektorat.
“Saya ke situ dulu, Bu.”
__ADS_1
“Baik, Pak.”
Aku berjalan sendirian menuju ruang dosen. Ruanganku dan Pak Ibban memang kebetulan dari awal sudah satu ruangan. Kuperhatikan mejanya ada tumpukan banyak lembaran makalah, buku tugas, berkas-berkas mahasiswa yang akan wisuda di akhir tahu nanti. Dan, aku juga mendapati kitab yang kemarin ketika aku pulang belum ada di sana. Ada kitab Fathul Izar.