
*Ibban Nizami
Di Banyuwangi.
Seperti yang sudah aku janjikan tadi, Mbak Rubia memintaku ikut makan dengannya dan Pak Iman, dan aku menyaguhi itu. Berhubung sore aku masih ada jadwal mengajar, aku mengusulkan acaranya diganti malam. Mbak Rubia mengiyakannya setelah bicara dengan Pak Iman.
Aku paham alasan Pak Iman mengajak makan Mbak Rubia. Hanya saja aku berpura-pura tidak mau ikut campur urusan mereka. Semenjak aku tahu gerak-gerik Pak Iman yang berbeda kepada Mbak Rubia, aku mengurangi jarak dengan Mbak Rubia. Namun, sejauh ini pertemanan kami tidak berbeda dengan sebelumnya.
Sekali dua kali Mbak Rubia tetap memberiku bekal makan siang. Pernah aku menyuruhnya untuk tidak memperlakukanku demikian. Lebih baik untuk meraih kemaslahatan dalam pertemanan. Tetapi, ternyata Mbak Rubia juga memberikan kotak makan siang itu untuk Pak Iman yang sering memberinya snack. Sekarang Mbak Rubia memilih meminta izin terlebih dahulu sebelum membawakanku bekal. Lebih-lebih, akhir-akhir ini ibuk memperlakukanku manja seperti anak perempuannya.
Aku menunggu di pos satpam. Kutelepon Mbak Rubia.
"Bu Bia, saya di pos satpam. Magriban dulu kalau belum."
"Ini saya dan Pak Iman baru selesai, Pak. Tunggu kami sebentar." Langsung ditutup.
"Ngedate berdua, Mas?"
"Nongkrong."
Kumasukkan handphone dalam saku jas.
"Gimana pencurian motor yang kemarin itu?"
"Langsung dilaporkan, Mas."
"Tadi polisi ke sini? Bener?"
"Iya, Mas. Kronologi kejadiannya sudah terekam jelas di CCTV. Sudah dibawa mereka sebagai batang buktinya."
"Saya dengar itu bukan mahasiswa sini, tapi menyamar."
"Video sudah disebar. Dominan komentarnya emang katanya bukan mahasiswa kampus ini."
"Baguslah kalau begitu."
"Assalamu'alaikum?" Lantang suara itu berasal dari arah belakangku.
Pak Iman memukul pundak satpam tersebut.
"Ayo, Mas ikut kami."
Satpam tersebut mendongak. "Kami siapa maksudmu?"
"Aku, Mbak Rubia, dan Mas Nizam."
"Lhah dalah. Saya kira berduaan." Satpam itu melengos.
"Monggo, Pak Ibban." Mbak Rubia muncul.
__ADS_1
Menengok, lalu bertanya, "Di mana Pak Iman?"
Aku menggerakkan dagu.
Mbak Rubia melongokkan kepalanya ke dalam pos. "Pak, ayo mending berangkat sekarang aja. Keburu malam. Belum antre pesanannya."
Satpam menyahut, "Iya. Tongkrongan sebelah itu rame banget jam segini. Mending cari tempat lain yang lebih romantis."
"Bukan pacaran, Pak Mun," ucap Mbak Rubia sembari berlalu.
Di kafe tongkrongan mahasiswa.
"Saya saja yang pesan." Mbak Rubia menawarkan.
Dia mendahului langkahku dan Pak Iman tanpa bertanya makanan apa yang ingin kami berdua nikmati.
"Memangnya dia tahu apa makanan kita?"
Aku menggeleng.
Beberapa menit antre, Mbak Rubia kembali.
"Saya lupa." Dia tertawa. "Pak Iman dan Pak Ibban pesan apa, ya? Tadi saya main nyelonong."
Aku dan Pak Iman mengambil duduk di depan pintu masuk. Kebetulan ada dua kursi kosong. Pak Iman menarik kursi lagi dari meja kosong sebelah kanan tempat ini.
Pak Iman memegang daftar menu. Mbak Rubia membawa kertas siap menulis pesanannya.
"Ayam gepreklah yang murah."
"Pak, masak sana sini belinya ayam geprek?" tanya Mbak Rubia.
Pak Iman menoleh. "Lha memangnya kenapa?"
"Ganti menu dong, Pak. Kentang goreng atau apa gitu."
"Oke. Kentang gorengnya satu. Blue ice satu. Cukup." Lalu, memegang handphone.
"Ujung-ujungnya ayam geprek," ucapnya sembari menulis. Lalu, menatapku.
"Aku terserah saja. Sama kaya Mbak Rubia."
"Serius?"
"Iya." Kuambil handphone.
Mbak Rubia meminta daftar menu di tangan Pak Iman. Dia mendekat ke arahku. Jarinya menunjuk dua kata dari atas.
"Saya belum pernah nyoba. Boleh boleh. Level pedas."
__ADS_1
"Nggak jaga suara, Pak?"
"Loss."
Mbak Rubia tersenyum.
"Minumannya hangat saja. Jeruk."
"Nggeh." Dia menulisnya.
"Sebentar, ya." Dia menatap kami yang sudah fokus dengan layar handphone.
Pemain musik menempati mimbar yang disediakan. Mereka mengubah satu buah lagu menjadi jenis musik akustik. Romantika bait-bait lirik lagu itu sangat terasa sejak intronya. Tak terasa bibir menirukannya diam-diam. Sayangnya, aku tidak hafal liriknya. Googling sebentar mencari lagu yang tidak aku ketahui judulnya apa.
"Apa judulnya, Mas?"
"Emboh (tidak tahu). Kurang populer di telinga saya, Mas."
Beberapa lirik lagu aku tulis sebagai keywoard penelusurannya. Muncullah lirik itu. Setengah lagu tersisa. Aku menirukannya hingga akhir.
"Mas, Mas, Mbak, silakan bergabung. Nyanyi bareng kita. Ketiga Kakak ini akan mengiringi suara emas kalian. Ayok, silakan!"
Mbak Rubia duduk. "Mungkin lima belas menitan lagi baru matang."
Tanpa pikir panjang, aku berdiri.
"Ooo itu Masnya. Silakan, silakan!"
Hampir semua kepala menoleh. Mereka yang sebagai besar mahasiswa akhirnya bersorak-sorak. Kebetulan ada mahasiswi yang kupegang. Aku sempat menoleh, mereka mahasiswi semester tiga. Ada yang kemudian mengangkat tangan memberikan semangat. Gemuruh tepuk tangan memeriahkan suasana kafe ini.
Aku mengambil mikrofon di tangan penyanyi sebelumnya, perempuan. Aku dipersilakan duduk. Sebelumnya aku berbisik kepada tiga pemain musiknya. Aku akan menyanyikan lagu "For The Rest of My Life" versi akustik yang dipopulerkan Maher Zain.
Musik dimainkan. Gitaris yang mulai memetik. Berurutan violinisnya. Sekali lagi para pengunjung kafe mengangkat tangan. Menepukkan sepasang telapak tangan. Kutatap wajah semringah di ujung pintu. Bibir Mbak Rubia yang merekah, serupa mekarnya kuncup bunga teratai yang indah. Tetapi, wajah Mbak Ala berkelebatan di pelupuk mataku. Dia menolak ajakanku taarufan. Aku tidak tahu apa alasan yang sebenarnya.
Mbak Rubia mengangkat kepalan tangannya. Aku membalasnya dengan senyuman. Satu bait pertama kunyanyikan. Lagu ini harus melibatkan emosi dan perasaan yang dalam agar sampai kepada pendengarnya. Aku memejamkan mata. Menikmati lirik demi liriknya. Lalu, aku membukanya saat mekantunkan reff lagu.
Perempuan di depan pintu itu termangu. Lama dan semakin lama dia memakai kedua tangannya untuk menyangga dagunya. Dia ikut memejamkan mata. Hampir beberapa pengunjung sengaja menaruh sendok, memejamkan mata dengan mulut seraya menirukan nada dan liriknya. Satu lagu berakhir dengan tepuk tangan lebih meriah.
Satu mahasiswiku angkat tangan. Berkata kemudian, "Pak, request boleh?" Dia sudah kegirangan.
"Iya monggo!"
"Cinta luar biasa, Pak." Dia tersenyum. Kembali duduk.
"Satu buah lagu cinta luar biasa," kataku.
Makanan datang ke mejaku. Aku tetap melanjutkan intro yang baru masuk. Karena hampir dari mereka hafal lirik lagunya, suasana kafe ini berubah menjadi ruang konser. Meriah. Mereka menyanyikannya bersama-sama denganku. Pun mengangkat tangan dan menggerakannya ke kanan kiri. Yang duduk bersama kekasihnya pelan-pelan menyadarkan kepala pada bahu, saling merekatkan kedua tangan. Lalu, Mbak Rubia di sana berdiri. Mengambil jarak dekat untuk mengambil video. Sepanjang lagu ini masih kunyanyikan, aktivitas makan dan minum ditinggalkan.
"Terimalah lagu dari orang biasa. Tapi, cintaku padamu luar biasa.
__ADS_1