FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 67 "Dua Calon Imam"


__ADS_3

*Rubia El-Hazimah


Mimpi apa aku semalam? Seingatku aku tidak mimpi apa pun. Malam-malamku yang lalu sepi tanpa keindahan. Tapi, malam ini dia mengindahkan segala-galanya dalam satu tarikan keputusan yaitu memilihku menjadi pendamping hidupnya.


"Tapi, bagaimana aku memilih dua benda ini?" Aku meletakkan cincin dari Pak Iman dan keris dari Pak Ibban. Dua pemberian yang sangat kontras. Untuk keris yang katanya bernama patrem, aku tidak tahu apa maksud Pak Ibban memberikan benda sejenis itu. Aku juga baru tahu dia menyukai benda-benda sakral yang pastinya bernilai fantastis.


Jujur aku lupa soal cincin itu ketika Pak Ibban datang melamarku. Saking bahagianya diriku. Tetapi, andaikata Pak Ibban tahu aku telah dilamar lebih dulu oleh Pak Iman, aku yakin dia tidak akan maju. Sebab, meminang di atas pinangan orang lain itu tidak diperbolehkan. Baru terlintas di pikiranku persoalan itu setelah melihat cincin itu tergeletak di kasur.


Entah kenapa aku khawatir jika aku memberitahukan ini pada Pak Ibban, dia justru akan mundur. Tapi, meskipun demikian, bukannya keputusannya tetap ada padaku? Aku harus jujur demi keadilan untuk Pak Iman karena memang dia yang lebih berhak untuk mendapatkan jawaban. Bisa jadi aku akan berdosa karena telah menolak lamaran pria pertama, sedangkan di saat yang sama pria kedua datang membawa lamaran yang sebenarnya aku nantikan. Itu tidak adil bagi Pak Iman yang mengharapkanku.


Aku mengirimkan pesan.


Kebetulan Pak Ibban sedang online.


^^^"Sebelumnya saya minta maaf."^^^


Lima detik saat aku mengetik kelanjutan kalimat, centang berubah biru. Dia pun ikut mengetik.


"Untuk?"


Dia mengetik lagi. "Lamaran tadi?"


Aku mempercepat ketikan takut Pak Ibban salah paham. Langsung send.


^^^"Benar kata njenengan. Pak Iman memang menyukai saya. Tapi, saya lupa ngasih tahu njenengan, Pak Ib. Punten. Sebelum njenengan melamar, Pak Iman sudah memberikan saya cincin. Cincin itu masih saya tangguhkan."^^^


Centang biru. Dia langsung meneleponku.


📞"Gimana, Mbak?"


Aku menghela napas. Sedikit gugup menjelaskan ulang kalimat di chat tadi.


📞"Saya minta maaf, Pak."


📞"Jelaskan saja, Mbak!"


📞"Benar kata njenengan. Pak Iman tiba-tiba datang ke rumah. Siang-siang sepulang saya dari sekolah. Dia tidak ke rumah njenengan?"


📞"Tidak. Hampir dua minggu kita tidak kabar-kabar."


📞"Bagaimana menurut njenengan? Saya minta maaf, Pak. Jujur saya lupa."


📞"Kamu sudah memberitahu orang tuamu?


📞"Sudah. Begitu njenengan pulang tadi, Papa dan Mama juga baru ingat."


📞"Saya bicarakan dulu dengan Pak Iman. Nanti saya kabari lagi."

__ADS_1


📞"Iya, Pak Ib."


📞"Pak?"


📞"Hmm?"


📞"Saya minta maaf."


📞"Nggak apa-apa. Namanya juga orang lupa."


📞"Ya sudah. Makasih, Mbak. Assalamu'alaikum?"


📞"Wa'alaikumussalam." Aku menutupnya.


Setidaknya aku sudah berani jujur daripada aku merasa bersalah. Jika aku tidak terus terang, aku cemas itu akan berdampak pada persahabatan Pak Ibban dan Pak Iman. Aku sendiri tidak menyangka Pak Ibban tiba-tiba datang melamar setelah aku mengundangnya makan malam.


Aku mengangkat keris itu. "Aku memang menyukaimu, Pak Ibban. Bukan Pak Iman." Lalu, kubuka sarung kerisnya. Benda sakral yang unik.


"Aku baru tahu ada keris sekecil ini dan katanya khusus diperuntukkan bagi perempuan," gumamku kemudian.


Keris itu mungkin sangat spesial bagi Pak Ibban. Dan, tiba-tiba aku merasa tidak terlalu pantas mendapatkan pusaka itu.


Sembari menunggu jawaban Pak Ibban, kugunakan waktu untuk mempelajari materi yang akan kusampaikan besok. Mumpung mata masih terjaga. Cemilan alen-alen dan jus mangga masih menemaniku meskipun tadi aku benar-benar sudah makan begitu banyak. Tapi, kebiasaan ngemil di malam hari masih sering kulakoni. Lebih-lebih ketika sedang mengerjakan tugas apa pun. Harus ada sesuatu yang mendampingi. Tapi, aku jarang sekali meminum kopi.


Setengah jam kemudian. Aku terkantuk-kantuk. WA Pak Ibban masih online. Tak berselang lama akhirnya dia mengirimiku screenshoot dialog pesannya dengan Pak Iman.


"Bener. Ngomong-ngomong tumben, Mas?"


^^^"Aku telpon."^^^


"Jangan. Aku di luar. Rame. Chat aja."


^^^"Saya tadi ke rumahnya. Melamar dia. Tapi, saya tidak tahu kamu sudah melamarnya."^^^


"Santai, Mas. Dari awal aku juga sudah tahu kamu juga menyukainya. Sory, kemarin itu aku nggak mampir ke kontrakanmu. Siapa cepat dia dapat. Konsepnya, kan, begitu 😂."


^^^"Oke. Saya akan sepenuhnya menyerahkan jawaban itu pada Mbak Rubia. Dia bebas memilihku atau memilihmu."^^^


"Siap, Mas. Tapi, kemungkinan besarnya dia pasti akan milih kamu. Cincin itu hanya sebagai bukti bahwa aku juga menyukainya meskipun aku juga tahu saat ini dia menyukaimu."


^^^"Ya sudah. Oke. Saya beritahu Mbak Rubia. Dia pasti bingung harus memilih dua lamaran."^^^


"Siap. Aku tunggu kabarmu, Mas."


Pak Ibban meneleponku kembali.


📞"Bagaimana, Pak?"

__ADS_1


📞"Seperti di chat tadi. Intinya saya dan Pak Iman pasrah. Terserah kamu memilih siapa. Dan, siapa pun yang terpilih kami harus legowo (lapang dada).


📞"Oh, ngoten?" (Oh, gitu?)


📞"Saya harap kamu memutuskannya dengan adil. Dengan kemantapan dan atas pertimbangan orang tuamu juga. Saya tidak masalah misal kamu tidak memilihku. Karena Pak Iman juga ternyata lebih dulu berhak andaikata kamu sebenarnya ingin memilih dia."


Mereka sama-sama dewasa. Tidak mengandalkan egoisme diri. Aku dihadapkan pada dua pria yang keduanya memang salih. Tapi, dari awal hatiku cenderung memilih Pak Ibban. Bahkan, aku tidak kalau ternyata Pak Iman juga menyukaiku. Dan, dengan Pak Ibban melamar, artinya cintaku sudah sampai ke hatinya. Dia membalas cintaku dengan datang pada orang tuaku tanpa basa-basi lagi.


📞"Saya usahakan, Pak Ib."


📞"Saya minta maaf, Mbak."


📞"Loh, kenapa, Pak?"


📞"Kedatanganku membuatmu jadi sulit."


"Justru aku sangat bersyukur, Pak. Itu artinya aku tahu perasaanmu," batinku.


📞"Tidak apa."


📞"Istirahat, gih! Assalamu'alaikum?"


📞"Wa'alaikumussalam warahmatullah."


Kubuka kotak cincin itu. Cincin perak dengan tiga pertama. Aku mencoba memasangkannya di jari manis kiriku. Kupikir apa aku egois jika tetap memilih Pak Ibban karena aku ingin mempertahankan pilihan? Apa itu akan adil untuk Pak Iman?


Aku menelepon Pak Iman. Pertama kalinya aku menghubunginya terlebih dahulu. Sayangnya dia tidak mengangkat. Memberiku pesan, melarangku menelepon karena masih di luar rumah. Dia bertanya ada apa.


"Bagaimana perasaan Pak Iman yang sebenarnya?"


"Jika dengan aku menjelaskan itu malah membuatmu berat mengambil keputusan, lebih baik nggak usah 😉😇."


"Tapi, setidaknya jika saya tahu, Pak."


"Cincin itu sudah cukup menjadi alasan terbesar kenapa dia harus kuberikan padamu."


"Tapi, aku butuh alasan yang lebih jelas. Aku tidak ingin salah memutuskan."


"Pilih sesuai nuranimu."


"Kenapa Pak Iman begitu pasrah?"


"Wajibku. Apa aku bisa memaksamu saat aku tahu yang sebenarnya kamu mencintai Mas Nizam?"


"Memilih dicintai atau mencintai, Ya Allah?" batinku.


Cinta mereka datang di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2