FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 190 "Pencarian 2"


__ADS_3

"Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Begitu juga di Sarangan. Hampir satu jam kami berkeliling, bahkan Ulya juga sempat membeli cemilan dan pernak-pernik, tapi Niya juga tidak kutemukan. Aku mengira dia di perahu atau naik kuda sendirian, ternyata juga tidak. Aku meminta Ulya agar menemaniku keliling sekali lagi, tapi dia mengeluh panas. Baju yang dia kenalan sekarang hitam dan kainnya memang tidak terlalu nyaman dipakai, katanya. Kubiarkan dia duduk-duduk di bawah tempat yang teduh. Aku mencari Niya sekali lagi.


Sampai akhirnya aku sudah menyerah. Tempat semakin ramai dan aku semakin kesulitan melihat satu per satu orang yang berlalu lalang. Aku selalu terkecoh oleh perempuan yang bertubuh setinggi Niya dengan pakaian yang seingatku pernah dipakainya. Kuputuskan mencari di tempat lain.


"Ke mana lagi, Mas?"


"Atau kamu pulang aja kalau capek?"


"Tapi, masak njenengan pergi sendirian."


"Ya nggak apa-apa. Ya sudah aku antar kamu pulang."


"Nggak nggak. Aku tetap ikut. Aku nggak tega njenengan nyari sendiri begini. Kita cari sama-sama sampai ketemu."


"Eh, sebentar."


Teleponku berdering.


📞"Assalamu'alaikum gimana?"


📞"Wa'alaikumussalam. Sudah ketemu belum? Aku bantu cari."


📞"Nggak perlu. Aku makasih."


📞"Aku mau memastikan juga dia tidak kenapa-kenapa."


Nadanya terlalu serius. Aku akhirnya membiarkannya ikut mencari.


📞"Aku cari di Telaga, Salon, tapi nihil. Ada usul ke mana gitu?"


📞"Ada masalah apa sampai dia keluar tidak pamitan?" Dia langsung mengarah pada topik itu.


Aku sendiri tidak berpikir Niya pergi karena sedang ada masalah di rumah. Semua masalahnya sudah selesai.


📞"Nggak ada masalah sama sekali."


📞"Nggak. Aku yakin dia pergi karena dia nggak tentram di rumah."


📞"Tapi, ya memang nggak ada masalah apa-apa di rumah."


"Sudah. Kok jadi nggontok-nggontok (berkata dengan tenaga) gitu," ucap Ulya sembari mengelus lenganku.


📞"Posisi di mana?"


📞"Masih di telaga. Kita ketemu di depan gerbang loket."


📞"Oke. Aku ke sana sekarang."


Sekitar lima menit Mas Yazeed datang sendirian naik ojek online.


Dia mengetuk kaca mobil. Aku persilakan dia masuk.


Brek! Pintu ditutup.


"Kok bisa sampai seperti ini?" Dia menunjukkan wajah serius.


"Aku tidak tahu. Dia pergi tanpa sepengetahuan orang-orang."

__ADS_1


"Dia nggak mungkin pergi sendirian jauh dari sini. Tsaniya nggak suka keramaian. Jadi nggak mungkin juga dia pergi ke telaga kalau ternyata dia pergi memang dalam keadaan ada masalah."


Dia benar juga. Dia lebih menyukai tempat yang sunyi. Aku ingat bagaimana pertama kalinya dia membuatku terpesona karena sikapnya yang tenang dan terlihat tak peduli dengan sekitarnya.


"Kautanyakan itu pada Ibunya."


"Mana mungkin dia pulang ke Tulungagung?"


Aku mencoba menghubungi nomornya lagi. Aktif, tapi tidak diangkat. Kukirimkan pesan singkat.


"Dek, kamu di mana? Kita lagi nyari kamu sekarang. Aku, Ulya, dan Mas Yazeed." Centang dua. Aku telepon mati data selulernya sudah tidak aktif lagi.


"Mas, coba saja Mas telfon Ibunya."


"Iya ya."


Tersambung.


📞"Bu, apa Niya ada di situ?"


📞"Loh, la mboten, Gus. Apa Senduk Niya tidak pamitan?"


📞"Tidak, Bu. Tapi, bener memang tidak ada."


📞"Tidak, Bu."


"Coba kirim nomornya biar aku telepon," kata Mas Yazeed.


Aku kirim langsung padanya.


*Yazeed Akiki Mubarak


📞"Ini Yaz, Buk. Yazeed. Apa benar Niya tidak di sana?"


📞"Nggeh, Gus."


📞"Buk, aku ngomong serius. Sekali mati aku tanya apa Niya ada bersama Ibuk sekarang?"


Diam sebentar.


📞"Tidak ada, Gus. Niya pergi ke mana, ya?" Harusnya suara orang kaget tidak seperti itu.


📞"Jadi bener dia tidak ada di situ?"


📞"Maaf, Gus, Ibuk juga tidak tahu. Setelah Niya tinggal di pesantren, Ibuk rasa itu sudah bukan jadi tanggung jawab Ibuk untuk memikirkan Niya lagi." Kali ini terdengar lebih serius.


Aku gamang.


📞"Tapi, Ibuk jujur? Aku khawatir kalau seandainya Miya tidak di Tulungagung, lalu dia ke mana? Kalau memang dia ada di sana, tidak apa-apa. Dia aman."


📞"Gus Yazeed ndak usah mengkhawatirkan Niya, Gus. Ibuk akan berdoa supaya Niya lekas ketemu." Suaranya menjadi pelan.


📞"Sekali lagi aku minta Ibuk jujur, Niya benar tidak di sana?"


📞"Benar, Gus."


📞"Oke. Assalamu'alaikum?"


Aku kembali masuk mobil.

__ADS_1


"Gimana?"


"Katanya nggak ada. Tapi, sebetulnya aku nggak yakin. Apa kita ke sana sekarang?"


"Bagaimana dengan pondok, Mas?"


"Coba kamu telepon muraqib dan muraqibah. Bilang kegiatan hari ini diliburkan semua. Minta ganti dengan khataman Alquran per kamar." Fakhar memberikan telepon genggamnya pada istrinya.


"Nggeh."


Perjalanan diteruskan.


"Mbak, kirimi aku nomornya Fizah."


Jika aku yang meneleponnya, aku berharap dia bersedia mengangkat. Jujur aku masih mengkhawatirkannya jika tiba-tiba dia tidak keruan ke mana. Aku yakin dia pasti sedang merasa bermasalah sampai dia punya pemikiran kabur dari pondok. Dia bisa menjadi nekat meskipun hatinya ketakutan.


Kling! Pesan masuk. Nomor Niya.


^^^"Niya, ini aku Yaz. Kamu di mana? Aku khawatir." Kukirim begitu saja tanpa kupikirkan apa yang telah kutulis. Centang dua. Aku menunggunya. Kutatap terus menerus.^^^


Setelah sepuluh menit. Kubaca lagi pesanku. Aku baru sadar jika pesanku seharusnya tidak begitu. Tapi, percuma dia akan tetap bisa membacanya. Ya sudahlah. Memang begitulah perasaanku sekarang. Suatu ketika aku ingin jujur padanya bahwa masih ada perasaan khusus yang belum bisa aku hilangkan saat mendengar namanya. Begitu juga kemarin. Aku ingin marah ketika dia datang sendirian menemui Ratna. Apalagi ketika dia menolak tawaranku dengan memilih pulang sendiri.


"Niya, Niya, ke mana kamu?" batinku.


Belum juga dibalas. Aku mencoba meneleponnya. Terakhir dilihat tiga menit yang lalu. Tapi, sudah tidak aktif lagi. Menurutku ini sengaja. Dia sengaja menghindari komunikasi denganku ataupun keluarganya. Kenapa dia sebetulnya?


Kukirim pesan lagi.


^^^"Aku akan mencarimu sampai dapat." Centang satu.^^^


Kumasukkan ke saku jaket.


"Sudah kamu kabari muraqibnya?"


"Sudah, Mas. Baru dibalas iya sendiko dhawuh gitu katanya."


"Ya sudah."


"Mas, kalau Niya tidak ada di rumah Ibuknya gimana? Ummik ziarohnya nggak lama, Mas. Nanti Ummik Malang kabut."


"Ya sampai ketemu kita baru pulang."


"Calon suaminya ke mana?"


"Dia pulang. Ke sini lagi nanti pas nikahan," jawab istrinya.


"Sudah ngabari dia?"


"Mending nggak usah. Kasihan buat semua orang bingung." Fakhar tidak setuju. Tapi, itu lebih baik juga.


"Ya."


Sebentar lagi Niya akan menikah dengan orang lain. Yang tak lain orang itu adalah laki-laki yang katanya kembaranku. Tinggal menghitung hari. Sepuluh hari menuju akad nikahnya. Aku tidak tahu apakah aku akan benar-benar bergembira melihatnya bersanding dengan laki-laki lain. Tapi, sebagai pria aku harus lebih legowo. Pria yang bijaksana dan tahu agama. Ya aku harus bisa demikian. Aku selalu berusaha meyakinkan itu di saat aku goyah dengan perasaanku yang sudah-sudah.


Selamat membaca. ❤️ Sehat-sehat nggeh semuanya.. 💗🙏💪


Undangan aku sebar sekarang, ya. Hehehe.


__ADS_1



__ADS_2