FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 154 "Berusaha Mengikhlaskan"


__ADS_3

*Yazeed Akiki Mubarak


Ritual paling menyenangkan bagiku adalah merokok di bawah temaram lampu depan rumah. Sambil menyaksikan wajah malam yang menurutku selalu suram semenjak aku kembali hidup sendirian. Juga ketika Kiai Bahar dan Bu Nyai Ridhaa datang ke rumah untuk menjawab lamaranku. Kuperhatikan bunga kusuma wijaya yang sedang bermekaran jadi tak seindah malam kemarin. Sembari merasakan sedikit nyeri di bekas luka jahitanku, kusesap ujung rokok yang malam ini rasanya tak begitu nikmat.


Tadi ba'da magrib, Kiai Bahar dan Bu Nyai Ridhaa datang ke rumah membawakan banyak oleh-oleh. Sejak awal aku tahu, kedatangan mereka hanya memperjelas apa yang diucapkan Tsaniya dua hari yang lalu.


"Begini, Kiai. Sejatosipun ket wingi kula kaliyan Umine niki kepengen tindak mriki. Tapi, keranten wonten acara dateng pondok, hajat niki nggeh dipuncanceled."


Terjemah: (Begini, Kiai. Sebetulnya dari kemarin saya dan Uminya ini ingin datang ke sini. Tapi, karena ada acara di pondok, hajat ini ditunda)


"Pripun (bagaimana), Yi, lamaran Yazeed?" Abah bertanya.


"Sakderenge ngapunten. Kula lan Umine Tsaniya ajenge terus terang mawon. Sakderenge panjenengan dugi, Tsaniya sakmeniko sampun pikantuk jodo. Mugi-mugi Mas Yazeed angsal ingkang langkung sae."


Terjemah: (Sebelumnya minta maaf. Saya dan Uminya Tsaniya akan berterus terang saja. Sebelum panjenengan datang, Tsaniya itu sudah mendapatkan jodoh. Semoga Mas Yazeed mendapatkan yang lebih baik)


"Kenapa, Kiai? Apa sudah dijodohkan?" tanya ummi.


"Sakderenge kula ngertos Fizah niku Tsaniya, jodone Tsaniya alhamdulillah sampun ditentukan. Kula saestu nyuwun pangapunten."


Terjemah: (Sebelumnya saya mengetahui Fizah itu Tsaniya, jodoh Tsaniya alhamdulillah sudah ditentukan)


"Oooooh begitu. Sayang lo. Padahal, Ya Allah saya sudah senang Yazeed menemukan perempuan yang cocok. Tapi, sepertinya memang bukan jodoh, Bah, ya. Duuuuuh." Ummi pun terus terang mengatakan kekecewaannya. Walaupun aku masih baru pertama mengenalkan Fizah kepada orang tua, tapi sesungguhnya mereka sudah jatuh hati sejak pertama ketika melihat Tsaniya. Merekalah yang paling bersemangat ingin segera memberikan cincin peningset.


"Ngapurane yo, Mas."


"Iya, Yi. Semoga apa yang Kiai putuskan menjadi keputusan yang terbaik untuk Tsaniya."


Tak mungkin aku memperlihatkan wajah harapku pada mereka.


"Pernikahan digelar kapan?"


"Insyaallah lek sodoyone sampun beres, Fakhar sampun simah, akan segera dilangsungkan. Pangestune mawon," jawab Bu Nyai Ridhaa.


Terjemah: (Insyaallah kalau semuanya sudah beres, Fakhar sudah menikah, akan segera dilangsungkan. Mohon doa restunya saja)


"Kula dan Umine Tsaniya dongakne mugi-mugi mbenjang pikantuk jodo ingkang salihah."


Terjemah: (Saya dan Uminya Tsaniya mendoakan semoga mendapatkan jodoh yang salihah)


Usai percakapan itu, mereka pamit pulang, aku justru mengkhawatirkan yang lain.


"Bagaimana kalau saat pernikahan Fakhar, dua manusia itu menyusup ke sana?" gumamku.


Kupanggil Kang Toyo. "Kang sini!"


Dari seberang telepon dia mengiyakan.


Gema zikir masih berlangsung di aula bersama. Dilanjutkan dengan kajian fiqih dasar bersama abah. Aku beranjak Kang Toyo berjingkat-jingkat keluar dari sana.


"Bagaimana kalau itu sampai terjadi?" Ujung telunjukku memukul-mukul tralis besi. Sekali lagi kuhisap rokokku. Masih tak senikmat biasanya. Lama kelamaan ia habis dengan hitungan isap yang entah sudah berapa. Kubuang puntungnya ke sembarang tempat.


Derap langkah kaki memburu cepat menaiki tangga. "Iya, Gus?"


"Duduk!"


"Kalau nanti tanggal pernikahan Fakhar ditentukan, pada saat itu aku mengutusmu mengerahkan enam orang agar menjaga pintu masuk. Aku tidak ingin dua orang itu menyamar menjadi tamu undangan, lalu membuat kacau di sana. Jangan sampai dia melukai Tsaniya sedikit pun. Paham kau?"


"Paham, Gus. Apa perlu kita bicarakan ini pada Kiai?"

__ADS_1


"Nggak perlu. Justru mereka tidak perlu tahu. Anggap saja tidak akan terjadi apa-apa. Kita harus bisa menjamin acara pernikahan itu tetap berjalan semestinya."


"Gus, tapi bukannya kalau mereka datang nanti kita bisa langsung melaporkannya kepada polisi."


"Penangkapannya usahakan jangan di area pesantren. Pasti gaduh."


"Artinya kita harus bisa memancing mereka keluar, ya Gus?"


"Ya. Aku beritahu kabar selanjutnya."


*Tsaniya Tabriz


Sepulang dari Telaga Sarangan, aku pulang seperti orang yang sedang dipergoki sesuatu. Kikuk. Kusembunyikan tanganku. Bahkan, di mobil tadi Kang Bimo sepertinya juga ingin menanyakan tanya aku membicarakan soal apa dengan Yazeed. Lebih-lebih dia sempat memperhatikan aku dan Yazeed memakai gelang yang sama. Tapi, setidaknya aku masih bisa mempercayai Kang Bimo tidak akan membocorkan pertemuanku hari ini tanpa aku memintanya merahasiakan itu.


Kang Bimo yang masih dibelakangku berkata, "Daripada nanti ditanyai Abah dan Ummik, mending gelangnya disimpan saja, Ning."


Aku menoleh. Berbisik, "Tapi, aku janji akan memakainya terus."


"Kondisional saja to, Ning, Ning."


"Ehmm...ya sudah aku manut Kang Bimo aja."


Kang Bimo tersenyum tipis.


"Kang, Kang?"


Kami menoleh bersamaan. Ummik bertepuk tangan memanggil Kang Bimo di tengah pintu. Kang Bimo mendahului langkahku. Berjalan mendekati ummik dengan sedikit membungkuk. Aku membuntut setelah buru-buru melepas gelangku. Kumasukkan ke dalam saku.


"Nembe teng pundi, Kang?" (Baru ke mana, Kang?)


"Baru jalan-jalan ke Telaga Sarangan, Mik."


"Lhoh karo sopo?" (Loh dengan siapa?)


"Woalah, cobo upamane Ummik ngerti. Ummik pengen titip. Lha sampeyan tumbas opo, Nduk, kok ndak nggowo opo-opo?"


Terjemah: (Oooh, coba seandainya Ummik tahu. Ummik pengen titip. Kamu beli apa, Nduk, kok tidak bawa apa-apa?)


"Gelang, Buk," jawabku sedikit ragu.


Syukurlah setelah itu aku diperbolehkan menyisih. Ummik mengutus Kang Bimo untuk membeli sesuatu.


Acara berlangsung khidmat. Usai di atas pukul sebelas malam. Santri-santri pengurus, utamanya, mereka masih mondar-mandir membereskan masjid pondok putra. Dua santri membawakan karung besar yang siap diisi kardus bekas jajan dan bekas gelas air mineral. Mbak Ufi dan Mbak Nuansa mengangkat piring-piring kotor yang sudah bersih dari sisa nasi. Begitu juga aku yang masih di luar rumah.


"Dooorrr."


Aku menoleh seketika. Bang Fakhar menyentuh pundakku kasar.


"Gimana ketemuan kamu tadi?"


"Jadi bikin aku galau, Bang."


"Dek, pernikahan Abang sebentar lagi lo. Cuman dua minggu lagi nanti aqdun nikahnya dimulai."


"Di As-Salam, kan?"


"Iyalah. Otomatis setelah itu kamu nikah. Mungkin sebulan setelah itu."


"Abah sudah dhawuh (bilang) begitu apa?"

__ADS_1


"Kira-kira. Kamu siap-siap, ya. Abang berharap saat pernikahanmu tiba, hatimu sudah ikhlas menerima semuanya. Ya kalau sebulan terlalu cepat, minta sama Abah dikasih longgar dulu dua bulan."


"Iya," tanggapku tak bersemangat.


"Sudah malam. Kamu harus istirahat. Fokus sama hafalan juga. Suatu saat, kamulah yang nantinya jadi penerus perjuangan Ummik. Kalau sebulan kamu bisa hafal satu setengah juz, ya lumayan, Dek. Dua tahun insyaallah sudah khatam. Banyakin salat sunnah."


"Iya. Bang, aku boleh pinjam hapenya?"


"Buat apa? Dah malem. Yuk, bobok."


"Pengen nanya kabarnya Yazeed bentar. Boleh, ya? Nanya kabar Ibuk juga. Kangen Ibuk."


Bang Fakhar mengeluarkannya dari saku. "Bawa aja. Besok pagi Abang ambil."


Kuberikan dia senyum tipis.


"Makasih, Bang."


Sebetulnya kalau selarut ini Ibuk pasti sudah tidur. Aku hanya mengirim pesan suara. Centang satu. Ibuk yang dari dulu tidak pernah mengenal teknologi canggih, pasti jarang memegang handphone. Apalagi jika ibuku pun merasa aku sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi karena sudah berada di tempat yang aman dan semestinya.


"Yaz?" Niatku sekedar testing. Barangkali dia belum tidur.


Benar sekali. Dua menit kemudian centang itu berubah biru.


Panggilan masuk. Kuusap ke atas tombol hijau itu.


📞"Assalamu'alaikum, Yaz?"


📞"Wa'alaikumussalam, Ning Ayu."


Kontan aku tertawa kecil.


📞"Kenapa tertawa?" Nadanya terdengar begitu pelan dan lembut.


📞"Harusnya kamu tidur, Yaz. Kamu masih pemulihan, kan?"


📞"Hari ini aku udah ngerokok lima kali." Tawanya setengah ditahan.


📞"Ya Allah, Yaz. Gimana kamu ini?"


📞"Aku butuh orang sepertimu, Ning. Yang mengerti keadaanku."


📞"Sekali lagi aku minta maaf."


📞"Kau sendiri belum tidur?" Dia mengalihkan pembicaraan. Seperti tak mau mendengar kata maafku.


📞"Mau ngomong kalau pernikahan Abangku tinggal dua minggu lagi. Mungkin undangannya akan segera sampai ke rumahmu."


📞"Sebelum kamu nikah, boleh aku minta sesuatu darimu?"


Debar ini menggerayang seketika.


📞"Apa?"


📞"Kamu sudah dalam keadaan benar-benar siap. Aku minta kamu jangan nikah jika kamu masih ragu. Waktumu nggak banyak."


📞"Lalu, gimana denganmu, Yaz? Apa kamu akan baik-baik saja?"


📞"Baik atau tidak baik, kamu nggak perlu ngurus itu lagi. Ingat! Keberadaanmu belum aman. Saat kamu sudah bersuami, aku percaya kamu pasti akan selalu aman. Meskipun itu bukan denganku."

__ADS_1


📞"Maaf, Yaz."


📞"Sudah, ya. Selamat malam."


__ADS_2