FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 38 "Menghadiri Undangan"


__ADS_3

*Rubia El-Hazimah


"Rumahmu sebelah mana ini?" tanya Pak Iman di telepon. Loudspeaker.


"Masih jauh?" Suara Pak Ibban tidak begitu kedengaran. Sound sistem di seberang menyadap suaranya.


"Gimana? Nggak dengar," balas Pak Iman menggunakan nada lebih tinggi.


Aku dan Pak Iman berada di satu mobil. Niat semula ingin berkendara sendiri, tetapi Pak Iman menawarkan. Kebetulan papa juga mengizinkan dengan syarat keadaan harus tetap aman. Jika bukan dengan Pak Iman, aku tidak akan bersedia. Sejauh ini, dia menjaga dengan seorang perempuan.


Posisi kami sekarang tidak jauh dari rumah Pak Ibban. Kami memilih rute sesuai yang diarah-arahkannya di chat. Kata Pak Ibban di seberang telepon, tidak lama lagi sampai. Pak Iman mengangguk-angguk usai diberitahu kami harus lewat sebelah mana. Rute yang diarahkan sebelumnya ditutup. Jadi, harus memilih rute yang lain, yang sedikit lebih jauh.


Pak Iman memutar stir. Putar balik di halaman warga yang luas.


Aku membuka galeri gawaiku. Aku ingin kembali mengingat momen pertama yang aku abadikan dua hari yang lalu, di kafe. Berulang kali aku memutar video itu sembari mengerjakan tugas kampus. Sekarang aku masih ingin mendengarnya lagi dan lagi.


Kebetulan aku tidak memakai headset. Pak Iman menanggapi. "Suaranya bagus."


"Iyalah, Pak. Buktinya kemarin semua pengunjung suka. Mahasiswinya sampai request lo."


"Kamu tidak sekalian request?"


"Pak Ibban terburu turun panggung. Tidak enak dong, Pak, kalau nyuruh balik."


"Untuk kamu apa, sih, Mbak yang tidak disanggupi." Pak Iman tersenyum menjahiliku.


"Mbak, makasih beberapa hari dibawakan makanan."


"Iya, Pak. Sama-sama. Ngomong-ngomong ini mana rumahnya?"


"Depan situ. Katanya Mas Ibban mau keluar nyamperin kita."


"Oke."


Kulihat Pak Ibban melambaikan tangan. Memberi aba-aba di mana Pak Iman harus memarkir mobilnya.


Pak Iman membuka kaca. Melongokkan kepalanya keluar. "Di situ?" teriaknya.


Pak Ibban mengangkat jempol.


"Mbak Rubi belum pernah ke sini?"


"Sekali. Tapi, lupa jalan."


Kami keluar dari mobil.


"Ibunya Pak Ibban di mana?"


"Itu di rumah. Mau mampir dulu?"


"Boleh boleh." Aku beralih tatap pada Pak Iman. "Pak, ke rumah Pak Ibban dulu, yuk!"


Pak Iman memandang Pak Ibban. "Masih lama mulainya?"

__ADS_1


"Setengah jam lagi. Monggo kalau mau ke rumah."


"Ya sudah kalau gitu. Ayo!"


Dua pria dewasa itu berjalan di depanku. Mereka berbincang-bincang tanpa melibatkanku. Langkah mereka terhenti kemudian. Kami tidak sengaja bertemu dengan perempuan cantik dengan riasan wajah dan pakaian khas penari. Kukira dia sendirian. Empat teman di belakangnya menyusul.


"Mustika?" panggil Pak Ibban.


Perempuan itu hanya diam. Membenahi selendang untuk menutupi pundaknya yang terbuka. Kelihatan malu ketika kami berusaha menatapnya lekat-lekat. Terutama aku yang memang tengah memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Perempuan itu pun pergi, meninggalkan sekuntum senyum untuk yang telah menyapanya.


"Siapa dia?" tanyaku.


"Wardah Mustika Rahayu namanya. Sinden dan penari andalan desa ini. Anaknya Dalang Jatmiko."


"Pantesan, ya." Aku manggut-manggut.


"Kayaknya aku lihat dia risih atau bagaimana itu tadi? Iya nggak?" Pak Iman sepemikiran denganku.


"Dia mungkin malu berpakaian seperti itu di hadapan kita."


"Bukannya penari pasti seperti itu?" tanyaku.


"Masalahnya dia ingin berhenti menjadi penari. Tapi, dia tahu posisinya. Mau tidak mau. Dia gadis yang baik dan penurut. Kemampuan nari dan nyindennya sudah diakui semua orang di desa ini."


"Sepertinya Pak Ibban sudah sangat mengenalnya. Ya moga aja karena perempuan itu dikenal banyak orang. Wajar jika Pak Ibban pun terdengar fasih menjelaskan," batinku agar hati tidak mencemburu. Membuatku ingin lekas menyaksikan penampilan perempuan itu. Benarkah yang dikatakan Pak Ibban?


"Monggo, monggo!" Pak Ibban mempersilakan kami masuk. Rumahnya sepi. Ibunya belum datang menyambut kami.


"Ibunya njenengan di mana?"


Aku duduk.


"Minum apa ini? Saya buatkan."


"Tidak perlu, Mas," jawab Pak Iman.


"Itu acaranya siapa yang ngurus?" tanya Pak Iman kemudian sembari duduk.


"Bapaknya perempuan tadi."


"Loh aku kira kamu, Mas."


"Panjanglah ceritanya. Awalnya memang organisasi. Ya tapi yang menghandle semua acaranya bukan kami. Dalang itu sulit diajak kompromi. Dan, sebetulnya kalian itu saya undang tanpa persetujuan mereka."


"Saya sudah pernah nonton pagelaran wayang. Cukup sering pas di Jogja dulu," kataku menambah.


"Hiburan masyarakat atau acara?"


"Di acara-acara pertunjukan seni, Pak."


"Ada tamu to, rupanya?" tanya ibunya Pak Ibban.


Aku dan Pak Iman bersalaman.

__ADS_1


"Mbak Rubia dan siapa ini?" Sembari duduk.


"Kalian dapat undangan?"


"Kita diundang Mas Ibban, Bu." Pak Iman yang menjelaskan.


"Ini katamu tidak terbuka untuk umum to, Zam? Kadung Ibuk tidak jadi ngundang konco-koncone (teman-teman) Ibuk yang suka wayang. Ibuk dengar penyambutnya calon bapak mertuanya Wardah."


Aku menyela, "Yang njenengan bilang namanya Mustika tadi?"


"Bener, Mbak Rubi. Kalau kata Ibuk, sih, Dalang Jatmiko itu asline ingin mengenalkan langsung besannya pada masyarakat. Secara besannya itu seniman yang rumahnya Sleman."


"Siapa namanya? Barangkali saya kenal, Bu."


Pak Iman fokus menundukkan pandangannya ke layar handphone.


"Ismawan."


"Berarti saya tahu. Cukup populer di sana. Anaknya kalau tidak salah namanya.. ehm...siapa, ya? Gum.. Gumelar atau siapa gitu. Satu univ dengan saya waktu itu. Dia sendiri pun lumayan famous. Seingat saya, dia juga pendiri komunitas seni di kampus."


"Pantesan, yo, Mbak," ucap ibunya Pak Ibban.


"Mas Iman kok bisa barengan dengan Mbak Rubia apa rumahnya dekat?"


Pak Iman menoleh. "Tadi saya menjemputnya. Daripada motoran sendiri-sendiri, Bu."


"Tapi, Mas Iman dan Mbak Rubia ini tidak ada hubungan apa-apa, kan?"


Aku dan Pak Iman mendadak kikuk.


"Teman sesama dosen, Buk." Aku menyerobot jawaban daripada keduluan Pak Iman.


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Haa?"


"Loh, ya iya alhamdulillah." Beliau menoleh samping kanan. "Alhamdulillah, kan, Zam?"


Pak Iman kembali sibuk memperhatikan handphone. Aku hanya khawatir Pak Iman merasa kurang nyaman.


"Ibuk doakan nanti Mas Iman mendapatkan perempuan seperti Mbak Rubia ini. Cantik dan pintar. Solehah."


Antara iya dan tidak. Pak Iman tidak langsung mengiyakan atau mengaminkan doa itu. Namun, wajahnya tampak flat. Dan, kelihatannya dari tadi dia sedang ngempet berbicara. Dia berbeda dengan sewaktu di kantor. Lalu, tiba-tiba dia bangkit meminta permisi mengangkat telepon. Entah sengaja menyisih atau benar-benar ada kepentingan sendiri. Aku jadi sungkan.


Justru dengan tinggal bertiganya kami di ruang tamu, ibunya Pak Ibban bertanya padaku, "Mbak Rubia ini kriterianya calon suami yang bagaimana?"


"Kriteria saya, Bu?" Aku tersenyum canggung.


"Dijawab saja, Mbak. Ibuk memang ingin tahu beneran. Tahu, kan, Nizam ini masih jomblo tong tong."


"Ya seperti umumnya, Bu. Ehm...yang salih."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Maaf, tiga hari tidak up. Soalnya saya sedang ngejar event di PF sebelah. DL mefet dan saya masih nulis beberapa episode. 😅😅🙏🙏


__ADS_2