FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 132 "Kata Hati"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Aku tetap di ndalem. Aku perlu menenangkan diri. Bertemu dengan orang banyak saat hatiku kalut seperti ini, aku tidak siap. Aku masuk ke kamar Mbak Ufi saat dia sedang di dapur menggoreng sesuatu.


Aku mematut diri di depan cermin selama beberapa menit. Tapi, aku tidak menemukan keyakinan di sana. Aku yang tidak menyadari, aku yang tidak siap menerima kenyataan, atau mereka yang terlalu mengharapkan kembalinya Tsaniya sehingga mereka sampai harus memperjelas semuanya kepada ibuku? Ketidakyakinanku berdampingan dengan rasa khawatir mereka tidak akan siap menerima masa laluku. Apa jadinya nanti? Apa jadinya harkat martabat keluarga ini jika seandainya aku betul perempuan asli trah pesantren, yang tumbuh besar di tangan wanita desa? Pesantren ini dibangun oleh kekuasaan kiai yang bijaksana, wira'i, dan alim. Apakah saat semuanya terkuat nanti dan aku terbukti putri kedua bu nyai, apakah aku diterima? Jika keluargaku menerima, apakah santri-santri akan menganggapku bagian dari keluarga ini? Gusti, aku khawatir mereka terluka. Aku tidak sanggup menjelaskan semuanya. Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga tanda lahir ini hanyalah tanda lahir biasa yang tidak ada kaitannya dengan keluarga ini.


Kubanting pantatku ke kasur. Aku tak bisa tenang walaupun aku sudah menghalaunya dengan doa-doa. Cerita yang dibawa Tuan Kabi dan Nyonya Syawa seakan-akan menjadi bukti penguat. Kurebahkan badanku. Kuseberangkan pandanganku ke langit-langit kamar. Terdengar kang santri mengaji menggunakan lagu jiharkah. Sendu sekali. Irama melankolis itu mendesak kegalauanku. Wajah ibuku menindihnya sangat kuat. Betapa ibuku sangat menyayangiku. Apakah benar ibuku yang tak pernah menyinggung soal ini, itu karena ibuku tidak ingin lepas dariku? Irama itu terus didengungkan sampai pada kalimat la tahzan innallaha ma'ana. Tangisku pecah. Membuncah ke pipi. Tak ada isak. Aku menahannya, tapi rasa hangat itu merambat ke seluruh wajahku. Mungkin wajahku sudah memerah.


Kugali sekali lagi. Apa yang sebetulnya aku takutkan? Berpisah dengan ibuk? Mengkhawatirkan masa laluku? Cemas keluarga ini terluka? Aku bergeming beberapa detik. Sepertinya aku lebih mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku bukan gadis pemberani. Hatiku berkelesah. Aku bersikukuh ingin mempertahankan harga diriku sendiri saat aku sudah terjatuh pada masa lalu yang menjijikkan. Tak tenang. Aku tak tenteram sedikit pun. Rasa emanku tidak ingin terlihat rendah di mata orang lain mengalahkan keresahanku akan berpisah dengan ibuk. Aku mendekap diriku sendiri. Tercium bau busuk yang muncul entah dari mana. Kotor sekali diriku ini. Kuremas-remas sprei. Kuhantamkan kepalan tanganku. Dadaku remuk. Ulu hatiku nyeri. Kepalaku pening.


"Mbak, ayok makan yok!"


Aku membalikkan posisiku badanku cepat-cepat. Kuusap-usap pelan dengan kerudungku.


Dengan riangnya, Mbak Ufi kembali menawarkanku makan. Dia ingin aku menemaninya.


"Ini aku dah bawa nampannya sekalian. Porsinya sengaja aku banyakin. Ayok makan!" Nampan itu bergesekan dengan lantai. Aku tetap diam berpura-pura tidur. Lalu, dia mendekatiku. Menyentuh lengan kananku.


"Mbak, tidur to? Jangan tidur looo." Dia mendengus.


Aku merasakan embusan napas Mbak Ufi begitu dekat dengan pipiku.


"Ih, ini mah pura-pura tidur namanya. Ayok bangun Mbak! Emoh aku kalau pura-pura gini. Ada apa, sih?" Dia berdecak.


Aku tidak mempedulikannya.

__ADS_1


"Aku goreng nugget lo, Mbak. Enak pol. Gus Fakhar kemarin beli. Nugget ama rolade. Duuuuhhh. Aku keburu ngiler iki (ini) loo, pehh."


Spontan dia menabok pantatku sambil berkata, "Kapok." Dia memaksaku bangun.


Aku berpura-pura mengerjap. "Apaan lo, Mbak? Kamu ganggu aku tidur." Kuperhatikan mimik sebalku. Kutadik selimut untuk menutupi wajahku.


"Sek sek (bentar bentar). Wajahmu kenapa merah gini? Abis dirubung semut apa nangis? Hayoo. Sini-sini aku pengen lihat!" Dia menarik paksa selimutnya.


Kugunakan kedua telapak tanganku. Tapi, Mbak Ufi tidak menyerah ingin melihat wajahku. Sampai akhirnya dia menggelitiku dan mencubitiku. Otomatis aku meronta-ronta. Kubilang cukup.


"Abis nangis yo?"


Aku menggeleng.


"Ya udah kalau nggak abis nangis. Sekarang kita makan. Ma-kan!" Satu kata terakhir dia seperti tengah mendikteku. Dia menarik kedua tanganku. Tubuhku yang enggan membuatnya harus melenguh kesal dan sedikit bertenaga.


"Ning apa?"


"Ning nong neng gung pak bayan. Sego jagung ora doyan." Dia tergelak sendiri. Melihat pipiku sedikit naik karna menahan tawa, dia semakin girang dengan menunjuk-nunjuk diriku.


Kupukul lengannya sekeras mungkin. "Hiiiih."


"Wis ayo makan! Aku luwe (lapar). Sudah ngiler. Bau roladenya sangat menggoda. Amat yummy."


Aku hampir saja tersungkur kalau tidak cepat menjatuhkan kaki. Karena Mbak Ufi menarik cepat tangan kananku. Menyuruhku duduk di lantai.

__ADS_1


Dia mengambil nasinya lebih dulu. Langsung pakai tangan. Memperlihatkan kelezatan makannya. Ekspresinya terkesan-kesan dibuat-buat supaya aku tertarik. Matanya terpejam. "Gusti, enak pol iki (ini). Gak ada tanding." Menurutku Mbak Ufi hanya sengaja menggodaku. Sudah tiga kali dia memasukkan nasi ke mulutnya, tapi aku masih enggan. Pandangannya lurus ke warna rolade yang digoreng terlalu kecokelatan.


Aku menatap Mbak Ufi yang abai dengan tatapanku. "Mbak Fi, menurutmu aku ini gimana?"


"Gimana piye?" Tanpa menatapku. Dia sedang menggigit nuggetnya.


"Aku orangnya kaya gimana?"


"Kaya manusialah." Dia masih cuek. Rasa laparnya menguasai ekspresi yang dia tunjukkan saat ini.


"Lha emang aku kambing apa."


"Kamu itu perempuan. Kamu abdi ndalem. Kamu santri Abah dan Ummik. Kamu perempuan yang dilamar oleh pria ganteng. Gus Yazeed dan Pak Dosen itu."


"Bukan itu maksudku."


Mbak Ufi barulah menatapku. "Terus apa?"


"Gimana seandainya kalau aku memang adik Gus Fakhar?"


"Wah, kalau dari pertanyaanmu itu kelihatan kamu sudah siap menerima kenyataan, deh. Ya aku seneng dong. Bu Nyai marem, aku juga marem. Sedih tahu, Mbak, lihat Bu Nyai nangis-nangis sendiri pas tahajudan denganku. Kalau pas Bu Nyai galau, Bu Nyai milih tahajudan denganku. Kayak nggak mau orang lain ngerti kalau Bu Nyai sebetulnya sedih banget. Sama anak sendiri pasti kangen. Jadi, kalau Bu Nyai mengharapkan kamu mau tes DNA itu wajar. Bu Nyai kan sebetulnya sudah tahu dari kemarin-kemarin kalau kamu punya tanda lahir itu. Tapi, kedatangan Pak Kabi dan Bu Syawa yang bikin Bu Nyai memastikannya ke orang tuamu, Mbak. Udahlah kamu tenang saja. Apa salahnya kalau kamu emang ternyata Adik Gus Fakhar. Kamu ningku." Dia muluk lagi. Menyuruhku muluk juga.


"Makan dulu biar nggak spaneng."


Dia memandangku sembari mengunyah.

__ADS_1


"Memangnya napa? Sungkan jadi keluarga pesantren ini? Jujur, ya, aku sendiri punya feeling kemungkinannya kamu Adik Gus Fakhar itu delapan puluh persen."


__ADS_2