FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 83 "Cemburu"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Seketika lantunan zikirku melirih. Aku mendengar langkah orang mondar-mandir di depan pintu. Aku menyibakkan selimut. Bangkit. Dari kemarin loyo meriang sekaligus diare. Perut kosong, kurang ***** makan, lalu masuk angin. Sekarang pun masih sedikit mules.


Aku membuka pintu. Aku mendapati Iza di sana.


"Ada apa, Za?"


"Tidak, Gus. Tadi diminta Bu Nyai ke sini." Kepalaku sedikit menunduk.


"Ngapain?"


"Njenengan apa sudah sehat?"


"Ooohh. Ya seperti yang kamu lihat. Lumayan. Terima kasih tehnya." Gus Fakhar tersenyum.


"Kudengar kamu dilamar seseorang? Siapa?"


"Orang Banyuwangi, Gus."


"Kamu kenal dengan dia?"


"Nggeh."


"Kok bisa?"


"Dia ngontrak di Tulungagung, Gus."


"Kerjaannya?"


"Katanya dosen."


"Sudah mapan dong?"


Dia mendiamkan pertanyaanku.


"Kamu terima lamaran itu?"


Dia menggeleng.


"Tidak?"


"Maksudnya belum tahu, Gus."


"Kamu ragu?"


"Nggeh, Gus."


"Alasannya?"


"Bingung."


Aku menyandarkan pundak kiriku ke daun pintu.


"Coba kamu kalau ngomong yang jelas. Bingung karena?"


"Ehm..."


"Bingungnya itu karena kamu pengen atau enggak?"


"Bingung mau bicara, Gus."


"Bicara gimana?"


"Bu Nyai dhawuh itu pria yang akan dijodohkan dengan Adik njenengan."


"Iya to?"


Dia mengangguk.


"Oh, aku paham. Kamu aslinya pengen nerima, tapi bingung setelah tahu Ummik sudah punya rencana itu? Lalu, kamu bingung ngomongnya gimana. Gitu, kan?"


"Tidak juga, Gus."

__ADS_1


"Berarti sebagian kataku bener."


"Terus gimana?"


Gemas melihatnya tidak bisa bicara lengkap. Aku harus banyak bertanya pada dia jika aku ingin tahu semuanya. Aku tidak akan membiarkannya pergi sampai dia menjawab.


"Ning Ulya kapan balik, Gus?" Dia malah mengalihkan topik bicara.


"Jawab dulu pertanyaanku." Suaraku spontan terdengar tegas.


Dia pun mendongak.


Aku menyadari sikapku mungkin membuatnya merasa aneh. Aku mengulang pertanyaan dengan melembutkan suara.


"Bu Nyai pesan saya disuruh salat istikharah, Gus."


"Istikharah itu aslinya nggak penting kalau hatimu sudah punya kecenderungan. Jika suka ya bilang suka, enggak ya enggak. Beres."


"Tapi, Gus..."


"Tapi kenapa?"


Aku tidak sabar menunggu jawabannya.


"Gimana itu kamu bisa kenal dengan dosen itu?"


"Di Tulungagung dia dekat dengan Ibu saya, Gus."


"Oh, pantesan. Pendekatannya langsung ke Ibumu." Aku mengangguk mengerti. Artinya pria itu sungguh-sungguh ingin melamar Iza.


"Gus, sebetulnya pria itu ke sini bukan untuk meminang saya. Tapi..."


"Tapi? Nggak apa-apa jujur aja, Za."


"Kiai yang mempertemukan kami. Saya juga kaget tahu dia ada di sini tadi."


"Sebentar sebentar." Aku menatapnya lebih serius. "Kamu itu sebenarnya sudah kenal baik atau belum?"


"Belum, Gus. Sekedar tahu."


"Tidak, Gus." Nadanya kontan agak meninggi. Dia menunjukkan sinyal.


Biasanya aku ngempet bicara dengannya. Tapi, setelah aku mendengar percakapan abah dan ummik membicarakan Iza dilamar, aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan Iza setelahnya. Secara tidak sadar, aku khawatir apabila Iza menerima lamaran itu.


"Aku bantu bicara ke Ummik atau Abah kalau kamu tidak berani. Gimana?"


"Tidak usah, Gus," katanya menegaskan.


Perutku berbunyi. Mendadak mules. Aku berjingkat-jingkat melenggang dari hadapan Iza tanpa bicara. Pandangannya mengekori langkahku.


*Ranaa Hafizah


Aku baru ganti baju. Bersiap tidur. Mbak Ufi baru dari kamar mandi. Wudu sebelum tidur. Sebelum dia menduduki tempat tidur, dia memperhatikanku sebentar.


"Kenapa, Mbak?"


"Enggak. Cuman itu lo ketiakmu bolong. Jahitan bajunya lepas paling."


"Mosok?" Aku mencari pembenaran.


"Loh, iya i."


"Terus itu apa kok ada hitam-hitam?"


"Ini? Ini tanda lahir."


"Tanda lahir?" Mbak Ufi mengernyitkan dahi.


"Iya, Mbak. Ini bukan hitam kok. Dah cokelat ini. Tapi, dulu kata Ibuk pas lahir warnanya item banget."


Mbak Ufi seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, bertanya, "Eh, coba lihat dikit boleh?"


"Boleh." Aku membukanya sedikit. Jahitan bajuku memang lepas cukup panjang.

__ADS_1


"Ehmmm..." Dia melipat bibirnya.


"Ada sesuatu, Mbak?"


"Enggak. Nggak, sih, Mbak. Hmm...tapi, cuman mau bilang itu tanda lahirnya besar."


Aku meringis. "Lumayan, Mbak."


Mbak Ufi merebah. Aku mengikuti, miring ke kiri menghadapnya. "Mbak?"


Dia menoleh. "Napa?"


"Kamu membayangkan tidak bagaimana wajah putri kedua Bu Nyai?"


Dia miring menghadapku. "Ya kadang mbayangin juga. Ya aku, kan, sudah pernah dengar sosok bayinya Ning Tsaniya itu gimana."


"Kalau fotonya sudah tahu?"


"Belum."


"Masak belum?"


"Bu Nyai pernah cerita, tapi nggak pernah ngasih tahu fotonya kok. Kalau dari ceritanya, mungkin... ini mungkin lo, ya. Mungkin sebelas dua belas cantiknya seperti kamu, Mbak."


Aku tertawa lirih.


"Loh, Mbak, tumben bisa ketawa sampek gitu. Cieee."


Aku membungkam mulut. Ngempet. "Apa lo, Mbak, kamu tu."


"Sebulan kenal, ya, baru ini lihat kamu tertawa selepas itu, Mbak Za."


"Nggak lo maksudku kok bisa kamu mengatakan aku sebelas dua belas dengan putrinya BU nyai."


"Aku tadi bilangnya mungkin lo. Mungkin. Lha kamu, sih, tanya ama orang yang nggak tahu."


Kami senyap beberapa detik. Lalu, Mbak Ufi bertanya lagi, "Aku jadi penasaran. Firasat seorang Ibu itu biasanya jadi gejala takdir."


"Pertanda kebenaran gitu?"


"Mungkin. Aku tiga lima tahun jadi abdi ndalem di sini. Kata abdi ndalem sebelumnya yang sudah boyong, keyakinan Bu Nyai itu tidak berubah lo. Padahal, sudah tujuh belas tahun lamanya."


"Terus?"


"Ya aku makin penasaran. Jangan-jangan putrinya itu beneran masih hidup, diasuh oleh seseorang. Tapi, aku kadang mikir gini, apa mungkin, ya, Ning Tsaniya itu sekarang jadi anak nggak bener. Yang nyuri, kan, sekelompok ninja. Gimana kalau dia dijual?"


"Kalau dijualnya ke orang tua yang baik, jadinya anak baik, kan?"


"Buat apa membawa kabur bayi kalau bukan untuk dijual? Perdagangan bayi itu masih marak lo."


"Semoga saja firasat Bu Nyai benar. Dia masih hidup dan sekarang menjadi wanita baik-baik."


"Tapi, kenapa tidak dicari lagi, ya?"


"Iya juga. Tapi, Mbak, kan kejadiannya dah lama banget. Wajah pasti tidak bisa dikenali."


Tiba-tiba aku ingat tanda lahir yang dipunyai Ning Tsaniya. Menurutku, tanda lahir itu bisa jadi bukti. Foto itu disebar, lalu siapa pun yang punya tanda lahir yang sama persis, anak itu dites DNA.


"Kira-kira dulu sudah pernah nyoba begitu belum, ya?" pikirku.


"Gimana tawaran Kiai? Kalau aku, iyain aja, deh. Selagi datang lelaki sholeh padamu, itu sudah cukup jadi pertimbangannya, Za. Sebulan baru di sini, langsung berkah ngabdimu. Ditawarkan langsung ama Kiai pulak."


"Aku juga belum bilang ke Ibuk, Mbak."


"Iya juga. Walimu berhak tahu. Siapa saja yang mungkin bisa jadi walimu?"


"Emang siapa saja, Mbak?"


"Urutannya gini. Ayah, kakek, saudara laki-laki, keponakan, paman, sepupu. Alternatifnya hakim. Diambil dari pihak Ayah dan yang seayah."


"Mereka harus tahu dulu."


"Tapi, pasti kamu sudah punya kecondongan, kan, mau menerima atau enggak?"

__ADS_1


Aku tidak bisa menjawab. Mungkin rasaku ingin bertemu Yazeed lagi sedikit tidak masuk akal. Namun, aku punya keinginan untuk mengenalnya lebih jauh dan mendengarkan kelanjutan ceritanya. Jika diperkenankan, aku ingin tahu lebih rinci bagaimana perjuangannya dalam membangun pondokan itu. Lalu, soal Pak Nizam? Dulu aku menghormatinya dengan memanggilnya beliau. Aku mengira dia akan memperlakukan wanita sama tanpa melihat latar belakangnya. Sikapnya yang dulu amat berharga bagiku. Tapi, kini aku sama sekali tidak mengharapkannya lagi. Dia telah menggores luka di wajahku dan menodai kekaguman sesaatku padanya.


__ADS_2