FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 177 "Di Perbatasan"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Ketahuilah apa yang terjadi setelah itu. Aku tidak tahu dari mana asal mereka. Mereka tiba-tiba terus berada di belakang mobil. Membuntut sampai beberapa belokan jalan. Kadang aku merasa aneh karena laju mereka tak seperti ingin menyalip. Ketika aku memelankan tarikan gas, laju mereka pun mendadak lebih pelan. Sampai aku benar-benar yakin mereka itu orang mencurigakan yang terus berusaha membuntutiku.


Aku dalam perjalanan kembali ke pesantren. Dengan membawa pesan-pesan dari ibuk semisal kiai dan bu nyai menanyakan perihal pernikahan bukan Rajab nanti. Kumanfaatkan kawanku yang sekarang beralih profesi menjadi MUA sekaligus wedding organizer. Yang dulunya join dengan perias lain, sekarang dia sudah resmi menjadi owner sejak empat tahun lalu. Kukira dengan menyewa paket lengkap di sana, itu nanti sudah cukup memeriahkan acara unduh mantu dan resepsi di rumah.


Beberapa kali aku menengok spion. Motor-motor itu masih tetap melaju pelan seperti kendaraan lainnya. Ada salah satu pengendaranya yang menghilang. Tinggalah dua motor yang terkadang lajunya ingin mensejajari mobil ini. Tapi, aku tidak begitu khawatir. Justru aku ingin terus memantau sampai sejauh mana mereka akan terus membuntuti. Di tempat yang ramai seperti ini mereka tidak bisa mencelakaiku. Maka, beberapa kali aku mencari jalur yang berbeda dari biasanya, yang akan memperpanjang lama perjalananku.


Yang membuatku agak was-was ketika aku mulai keluar dari wilayah Banyuwangi, setelah beberapa meter aku melewati patung penari gandrung yang menjadi perbatasan antara wilayah Banyuwangi dan Jember. Di sinilah kemudian aku melalui jalur Gumitir. Suasananya berubah drastis begitu aku melaju sendirian di jalan aspal mulus itu. Keadaannya sangat kebetulan sepi sekali. Kalaupun ada, hanyalah beberapa motor yang menyalipku dengan kecepatan lebih tinggi. Jalur ini cukup panjang dengan medan berkelok-kelok dan kesan mengerikan. Aku memang sudah terbiasa membawa mobil sendirian keluar masuk wilayah Banyuwangi melewati jalur ini. Tapi, saat aku tahu dua motor itu tetap melaju di belakangku, perasaan was-was ini semakin menjadi-jadi. Aku tidak bisa membiarkan mereka menyalip, lalu memblokade jalanku.


Aku menscreening medan ini dengan kecepatan sembilan puluh kilo meter per jam. Kecepatan hanya akan turun menjadi delapan puluh lima saat melewati belokan demi belokan. Motor itu berubah menjadi alap-alap. Meraung-raung untuk menakut-nakutiku. Kesan mistis jalur ini berubah lebih mencekam. Dalam hati aku berharap tidak akan ada mobil besar yang akan kutemui di depan dan aku ingin jalur ini menjadi lebih ramai. Kenapa aku bisa menjadi segupuh ini? Aku kembali memfokuskan pandangan. Jika aku melamun sedikit saja dan terlalu sering mengawasi spion, aku bisa celaka di tempat.


Raungan motor itu terdengar semakin dibuat-buat. Lajunya meliuk-liuk meski tak berada di medan berkelok-kelok. Mereka hendak menyalip. Kutambahkan tarikan gas. Dan, sayang sekali salah satunya ada yang sudah berhasil memepet mobilku. Tapi, berhubung medan belok ke arah kanan dan dia berada di sisi kiri, laju mereka memelan untuk menghindari belokan tajam atau mereka akan terperosok ke bawah sana. Jarum pada spedo menunjuk angka seratus sepuluh. Ini kecepatan yang menurutku terlalu cepat untuk melalui medan seperti ini.


Bising knalpot motor itu sangat mengganggu. Mereka berusaha menggagalkan fokusku. Aku bisa dikejar, lalu dihajar di tempat. Sebetulnya apa masalah mereka denganku dan siapa mereka? Sejak kapan mereka mengintaiku? Aku tidak punya musuh atau masalah dengan siapa pun, kecuali Ki Dalang. Tapi, patrem itu telah kukembalikan, maka seharusnya aku sudah terbebas masalah dengan siapa-siapa. Jika aku mengajak mereka berbicara baik-baik, kemungkinannya aku malah celaka. Mereka hanya orang suruhan, yang hanya akan mendengarkan perintah atasannya. Sudahlah. Percuma berpikiran ingin meminta penjelasan pada mereka.


Kedua motor itu berhasil memepet. Orang yang duduk di jok belakang berteriak dan melemparkan batu ke kaca mobilku. Tampang mereka benar-benar seperti preman. Laju kami terus berdampingan sampai lima ratus meter kemudian. Kami berusaha saling mendahului dan akhirnya mereka tetap bisa menyusul. Aku terus berusaha agar jangan sampai mereka menyalip dan berhasil memblokade jalanku. Kusenggol motor yang ada di sebelah kananku. Mereka pun terjatuh. Salah satunya terlempar cukup jauh. Mereka mengumpat. Tapi, pengendara motor di sebelah kiriku mengamuk. Berteriak-teriak tidak jelas. Kugunakan kesempatan itu untuk menancap gas. Bising motor itu terdengar semakin jauh. Mereka tidak memburuku lagi.


Sekitar setengah kilo kemudian, sepertinya banku bermasalah. Seperti bocor mendadak. Aku melipir di pinggir dekat pohon. Aku turun untuk memastikannya. Naas sekali ban belakang sebelah kananku kempes. Tak sengaja aku melihat sesuatu yang berserakan. Kuambil sebagiannya. Aku bisa memastikan benda itu adalah pecahan aluminium yang tajam. Wajar jika banku bisa langsung kempes. Menurutku ini jebakan. Aluminium itu hanya tersebar di tempat tertentu. Kutoleh arah kiriku. Mereka tidak lagi mengejar.

__ADS_1


Jalan masih sepi. Kalaupun ada yang lewat itu hanyalah motor yang tidak mungkin kutumpangi. Kuperiksa jam tanganku, masih pukul sembilan pagi. Kutelepon Mas Iman.


📞"Minta tolong, ya. Mendadak. Mobilku ada di Gumitir. Belum jauh. Jemput aku bisa?"


📞"Bocor atau gimana?"


📞"Kena aluminium."


📞"Sory, Mas. Aku ada acara. Sudah di lokasi dari tadi."


📞"Oh, gitu. Ya sudah. Oke."


Kutengok kanan kiri barangkali ada kendaraan yang bisa aku tumpangi. Aku tidak membawa ban serep. Lagipula ban serep juga masih rusak. Kupastikan sekali lagi preman tadi berhenti memburuku. Aku khawatir mereka malah membawa kawan-kawannya lebih banyak. Tapi, sepertinya mereka memang sudah pergi. Aku bisa lebih lega sembari menunggu kendaraan lewat. Mungkin lebih baik jika aku numpang di motor saja. Aku kesulitan menemukan mobil lewat. Aku melambaikan tangan saat ada motor dengan jok kosong. Tapi, dia mengabaikanku. Muncul lagi, tapi pengendaranya perempuan. Beberapa motor muncul dari arah berlawanan. Sekitar lima menit kemudian, ada pria muda melaju pelan. Aku berharap dia bisa kutumpangi.


"Mas, Mas?"


Dia sedang menatap hapenya. Berhenti mendadak tepat di depanku.


"Ya Allah, maaf, Mas, maaf. Lagi lihat hape."

__ADS_1


"Ya ya. Boleh saya numpang sampai bengkel. Orang sini bukan?"


"Orang sini. Tapi, saya mau ke Jember, Pak. Silakan kalau mau numpang."


"Tapi, bengkel jauh dari sini, Mas. Gimana? Masalah nggak?"


Dia dengan senang hati mau membantuku.


"Makasih." Aku menaiki jok belakang.


"Pak, mobilnya gimana itu?"


"Saya nggak ada ban serep. Itu bocor kena pecahan aluminium. Emang di sekitar sini biasa, ya, ada yang pasang jebakan begini?"


"Setahu saya nggak tu, Pak. Bapak bukan orang sini?"


"Saya Banyuwangi juga. Tapi, baru kali saya kena jebakan begini. Nanti orang bengkelnya biar ke sini. Bisa mungkin, ya. Macetnya di sini. Bikin susah."


Semoga saja mobilku aman sampai aku kembali dengan orang bengkel.

__ADS_1


__ADS_2