FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 144 "Lautan Sungai"


__ADS_3

Episode yang ditunggu-tunggu. Selamat membaca, ya. ❤️ Bacanya pelan-pelan aja lhooo. 😁👌🙏


*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Saat angin sore sedang bernyanyi. Mengajak pucuk-pucuk merah agar ikut beriang gembira seperti orang menggeleng dan menganggukkan kepala. Selembar daun jati jatuh dari ketinggian, mengalah pasrah hingga jatuh menghantam tanah basah yang tengah diguyur rintik-rintik hujan. Sebagian halaman masih ditimpa bayang-bayang pepohonan. Angin mengudara semakin kencang. Rintik-rintik pun tak lagi mengarah vertikal. Terombang-ambing ke kanan kiri. Daun jati tadi berpindah posisi. Muncullah garis setengah lengkung di sudut barat langit. Ada pelangi di sore hari.


Kuambil hasil tes DNA itu sendirian. Kunaiki mobilku tanpa Kang Bimo. Kang Bimo harus menjemput seseorang menggunakan mobil abah. Tepat pukul setengah lima sore, setelah aku memutus kegiatan yang masih berlangsung, aku meminta para santri agar melanjutkan kegiatan sampai setengah jam lagi. Aku terburu-buru. Aku tidak ingin membuat semua keluarga menunggu.


Aku gusar sendiri. Semula aku tidak sepenuhnya yakin. Tapi, sebagai laki-laki aku tidak mungkin enggan mengakui bahwa aku memang telah salah mengartikan perasaanku sendiri. Aku sudah sepenuhnya siap menyambut semua kemungkinan terbaiknya. Semua orang yakin. Dan, kali ini aku sudah yakin bahwa aku tidak salah sudah menunjukkan sinyal kedekatanku, lalu memperlihatkannya pada seluruh santri.


Tiba di rumah sakit ba'da magrib. Mumpung masih baru beberapa menit selesai kumandang azan, aku menunda salat. Aku harus segera menemui petugas laboratorium terlebih dahulu. Kupercepat langkahku. Hatiku merajuk tak sabar. Menyuruhku berjalan dengan langkah lebih panjang. Di depan pintu lab, aku membuka pintu kacanya pelan-pelan. Kuedarkan pandanganku ke sembarang orang yang duduk-duduk di dalam. Yang berkepentingan denganku langsung melambaikan tangan. Dia menuju ke arahku sembari membawa hasil tes DNA itu.


Kuterima amplop itu dengan getar dada yang tak keruan. Ingin kubuka di tempat. Tapi, akan lebih baik jika aku membukanya di rumah supaya rasa penasaran ini tuntas bersama-sama. Jika ternyata benar, semua orang bisa mereguk kebahagiaan itu tanpa celah.


"Terima kasih banyak, Pak." Aku menjabat tangan itu.


Aku segera pulang. Aku tidak akan mampir ke mana-mana. Semua orang sudah menunggu dan semuanya telah dipersiapkan. Kumasukkan amplop itu ke saku jas. Keluar dari halaman rumah sakit, kulihat masih ada satu toko bunga yang masih buka. Aku turun sebentar. Aku menyuruh penjualnya supaya mengikatkan dua puluh lima tangkai bunga mawar putih, tiga bunga mawar merah, dan lima bunga krisan putih.


"Buketnya yang cantik ya, Mbak. Buat orang spesial itu."


"Oke, Mas."


Aku menunggu lima belas menit. Tapi, rasanya sudah seperti satu jam. Aku bersandar di badan mobil sembari merasakan gerak kaki yang tidak bisa diam. Gerak kinestetik otomatis.


"Ini, Mas. Seratus delapan lima."


Kuberikan dua lembar uang merah. "Ambil saja kembalinnya, Mas." Lama kalau harus menunggu kembalian. Aku terburu-buru sampai lupa berterima kasih.

__ADS_1


Al-Furqan hening. Juga gelap. Cahaya lampu di halaman pesantren mungkin salah satunya rusak. Hanya empat yang menyala. Dua di antaranya lampu musala dan ndalem.


"Kang, lampunya tolong diganti. Cepet!" Kumintai tolong ke sembarang santri. Santri itu pasti akan melaporkannya kepada pengurus.


Kulepas sandal cepat-cepat. Hanya milikku yang kemudian terlihat berserakan daripada lima pasang sandal lainnya. Seketika aku berdiri di depan tengah pintu. Mereka menabrakku dengan tatapan kaget. Ummik berdiri mendekatiku.


"Bagaimana, Le?"


Aku mengeluarkannya. "Belum kubuka, Mik."


Tuan Kabi, Nyonya Syawa, Bu Mini, Mbak Ulya, dan Mbak Ufi turut sengaja dikumpulkan di ruang tamu sebagai saksi hasil tes DNA yang kini dipegang ummik. Ummik kembali duduk. Aku demikian. Bukan hanya aku yang bersitegang. Tidak ada yang tersenyum. Abah dan Tuan Kabi saja yang terlihat paling tenang. Mbak Ufi mengerutkan alisnya. Tak mengedipkan kelopak matanya. Tapi, aku tidak bisa mengartikan ekspresi Mbak Ulya yang menurutku masih ambigu, kecuali jika tadi dia sudah mendengar semua ceritanya. Wajah Nyonya Syawa tampak sudah mengharu biru. Dia memegang tangan Tuan Kabi. Lalu, Bu Mini tersedu-sedu menyambut nyata perpisahan yang akan terjadi antara dirinya dengan Iza. Mengalah pasrah lebih dulu. Sementara aku sendiri fokus memperhatikan ummik yang sedang berusaha membuka lem amplop itu dengan setengah tergesa-gesa. Sampai harus meminta agar aku saja yang membukanya.


Dengan mengucapkan basmalah lirih, aku menarik isi amplop itu. Hanya dengan membacanya sekilas, kuulang dua kali, aku memberikan perintah, "Mbak Ufi, panggil Tsaniya sekarang."


"Haaaa."


Semua orang terkaget. Isak Bu Mini makin menderu keras. Mbak Ulya mencoba menenangkan dengan mi ik wajah tak begitu mengerti. Tapi, dia paham betul orang yang tengah ditatapnya itu sedang menghadapi kesedihan yang paling tidak diinginkannya terjadi seumur hidup.


Mbak Ufi yang kusuruh masih terbengong-bengong seperti orang kesambet. Mulutnya menganga. Kulihat dia menelan ludah. "Apa, Gus? Njenengan menyuruh saya manggil Tsaniya?"


Aku mengangguk seraya tersenyum. Kutatap ummik dan abah bergantian. Kami pun berpelukan. Tangis kami pecah.


"Alhamdulillaaaaah, Le. Haduh Gusti Allah, Ya Allaaaaah. Allahu Akbar. Muhammadar Rasulullah. Ya Kariim, Ya Kariim, Ya Rahman, Ya Rahim." Ummik tak berhenti memuji Allah.


Abah mencengkramku dan ummik begitu kuat. Menepuk-nepuk punggungku. Air mata abah menggenang di pelupuk. Sementara, milik ummik sudah beruraian di wajah. Pundakku basah ditumpahi sebagiannya.


"Aku minta maaf membuatmu merasa tak enak hati," kataku pada Mbak Ulya.

__ADS_1


"Aku nggak ngerti, Gus. Apa maksudnya ini? Tsaniya siapa yang njenengan maksud, Gus?"


Aku hendak menjelaskan, tapi Nyonya Syawa segera menoleh dan mengambil alih jawaban, "She's Ranaa Hafizah. Kamu kenal, kan?"


"Maksudnya Ranaa?"


"Dek, Ranaa itu adik kandung Fakhar. Hasil tes DNA itulah yang mengatakan kebenarannya. Why? What' wrong?"


"Gus, aku ingin kamu jelaskan semuanya padaku."


"Iya iya. Nanti aku jelaskan. Nanti, ya. Timingnya nggak pas kalau sekarang."


Aku keluar sebentar untuk mengambil bunga yang sudah kubeli tadi. Aku membawanya ke ruang tamu. Kuletakkan di sampingku duduk.


"Mbak Ulya, bener kata Mbak Syawa tadi. Adik iparnya sampeyan sudah ditemukan. Sampeyan dan Fakhar bisa segera menikah."


Ummik beralih menatapku. "Le, besok kita siapkan syukuran yo, Le. Kamu undang sekalian Abah dan Umine Gus Yazeed."


"Iya, Mik."


"Bu Mini?" panggil ummik.


Bu Mini mendongak tanpa kuasa. Gerak tubuhnya mendekat ke ummik menggontai. Jika berdiri, diperkirakan Bu Mini akan langsung terjatuh. Dia menatap ummik sangat dalam.


"Katakan apa yang panjenengan inginkan dari kami? Setelah selama tujuh belas tahun ini panjenengan merawat Fizah. Sampai di tumbuh jadi anak baik. Tolong panjenengan katakan yang sejujur-jujurnya! Kita di sini sudah mengetahui semuanya. Bu Mini saya anggap keluar sendiri."


"Bu Nyai, ngapunten. Seandainya Bu Nyai menyuruh saya jujur, pasti njenengan tidak akan sanggup mengiyakan."

__ADS_1


Abah ikut bicara, "Kami minta maaf. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Benar kata aampeyan, Bu. Keluarga kita pasti tidak akan ada yang sanggup."


"Saya ingin bertemu dengan Ranaa, Pak Kiai."


__ADS_2