FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 23 “Permintaan Pulang”


__ADS_3

*Rabi’ah Al-Adawiyah


Ning Rahil hendak turun. Kumasukkan baju dan jaket Gus Ray ke dalam kresek bekas di kursi. Lalu, Ning Rahil menyuruhku ke kamar saja. Sudah tidak ada lagi tugasku. Tapi, Gus Ray masih saja memanggilku. Memanggil Ning Rahil juga. Dia mengancam akan memberikanku hukuman jika tidak ada yang mau mengambilkan bajunya. Ning Rahil mendekati pintu dan berkata tidak ada baju yang terjatuh. Malah menyuruh Gus Ray cepat-cepat keluar dari kamar mandi, harus bersegera menemui tamu di depan. Tidak sopan jika anak-anaknya abah tidak ada yang keluar menyapa. Tapi, Gus Ray melarangku ada di dapur. Dia tidak akan keluar jika aku masih di sana. Ning Rahil pun memberikan isyarat agar aku segera pergi. Kubawa kresek itu dengan hati riang gembira. Jika kuberikan pada santri-santri di kamar, lalu kulelang dengan harga tinggi pastilah mereka mau. Toh baju kotornya orang berilmu pun membawa berkah. Sayangnya itu hanya pikiran jailku. Tak mungkin jugalah aku melakukannya sebab itu bukan hakku. Akhirnya, malam itu juga aku langsung mencucinya.


Esok hari sekitar setengah empat pagi. Kamarku yang kebetulan memang berhadap-hadapan dengan pintu dapur ndalem, memudahkan Gus Ray untuk menggedor-gedor pintu kamarku yang masih terkunci. Tidak ada yang menyahut. Bel kegiatanlah yang usai itu menjadi sasarannya. Aku dan kawanku memasang telinga dengan benar. Heran kenapa suara belnya seperti sedang dimainkan. Kupikir itu bukan ulah pengurus. Sontak aku ingat baju dan jaket Gus Ray yang sengaja kujemur di depan kamar. Karena jika kujemur bersama jemuran santri justru akan sangat lucu. Ingin kujemur di ndalem, malam itu ndalem juga sudah tutup. Tapi, aku santai menghadapi Gus Ray. Kubuka pintunya perlahan. Gus Ray refleks melangkahkan kakinya mundur supaya tidak dapat mengetahui santri-santri yang masih tidur di dalam.


Kutanya kenapa. Gus Ray menyedekapkan kedua tangannya, menoleh ke belakang, menunjuk gantungan baju dan jaketnya yang masih basah. Lantas, dia bertanya balik kenapa aku juga harus mencuci bajunya yang dia cari tadi malam. Dia mendoktriku sebagai santri tidak sopan. Berani membawa bajunya tanpa seizin. Aku sebenarnya tahu alasannya marah seperti itu. Lebih tepatnya karena tidak boleh sembarang orang yang menyentuh barang pemberian kekasihnya, Ning Khumza. Aku menahannya untuk tidak segera membawanya pergi. Masih basah kataku. Tetapi, dia abai. Melepas jaket dan bajunya.


Sekarang, bagaimana kabar Gus Ray? Apakah dia sudah menikah dengan Ning Khumza? Gadis cantik yang besar di Kairo hingga usia sepuluh tahun, baru pindah ke Indonesia bersama kedua orang tuanya. Sayangnya, aku terburu-buru pindah pesantren sebelum memastikan mereka sudah bahagia di pelaminan. Tapi, apa kemungkinannya yang membuat mereka harus menunda pernikahan jika kedua pihak keluarga sudah setuju dan kedua calon mempelai juga sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga?Dan, kudengar dulu mereka juga akan membangun bisnis bersama. Dilatarbelakangi kesukaan Gus Ray dan Ning Khumza yang sama-sama menyukai fashion. Padahal, andaikata belum, aku ingin memintai abahku untuk melamar Gus Ray. Lambat laun, perasaanku luntur bersama kesibukanku mempelajari ilmu-ilmu di pesantren dan mempelancar hafalan. Hanya tiba-tiba ingat kenangan lucu itu. Tetapi, Gus Ray sepertinya tidak mungkin ingat lagi cerita lima tahun silam.


“Mbak La, Mbak La, njenengan ditelfon Abahmu.”


“Tumben,” pikirku.


Mbak Nura memberikan gawainya.


“La, minggu ini bisa pulang tiga hari?”


“Duko nggeh, Bah. Coba kula tanyakan ke Ummik Nur.”


Terjemah: (Tidak tahu, ya, Bah. Coba saya tanyakan ke Ummik Nur)


“Hemmm...tapi, apa Abi saja yang matur?”


“Memange wonten nopo, Bi?”


Terjemah: (Memangnya ada apa, Bah?)


“Bisnis butik. Ini permintaan Umikmu.”


“Bisnis butik, Bah?” Sepertinya ada sesuatu yang lain, tapi abi merahasiakannya dariku.


“Iya. Pokoknya nanti jika Abah sudah pamit ke Ummik Nur, kamu harus langsung pulang, La. Paham?”


*Ibban Nizami


Kubaca karya dandang gula yang diberikan Mustika tadi pagi. Dia cukup menarik disebut sebagai perempuan desa yang berbudaya. Kalaupun ada duta kebudayaan yang diselenggerakan dalam lingkup lokal, dia sudah memenuhi kriterianya. Kuat latar belakangnya sangat mendukung. Tapi, setelah kubaca dengan saksama, dia seperti sedang menyampaikan perasaan terdalamnya meskipun ada beberapa kosa kata yang tidak aku mengerti. Bagaimana jika dia benar-benar menanggapi sikap ibu yang seolah-olah menginginkannya menjadi menantu? Sebagai perempuan yang sudah dilamar, lalu mengirimkan karya yang menurutku itu sangat melankolis, itu menimbulkan tanya di kepalaku. Namun, harapanku semoga dia hanya memandang lelaki yang dijodohkan dengannya sebagai lelaki yang paling layak. Bukan aku yang masih sering disibukkan dengan urusan selain pernikahan.


Kupandang foto ayah. Kuletakkan kepala dua tanganku di bawah dagu.


“Entah kapan anakmu ini menginginkan pernikahan. Belum ada yang benar-benar bisa mengikat. Tapi, ada dua perempuan yang sekarang berusaha mendekati. Namanya Rubia El-Hazimah dan Rabi’ah Al-Adawiyah. Aku belum tahu siapa di antara mereka yang benar-benar sesuai dengan kriteriaku dan Ibuk. Mereka sama-sama santri dan tentunya juga berakhlak. Kadang-kadang mereka terlihat seimbang. Ya Allah,” batinku.


“Tadi pagi aku lupa,” gumamku kemudian.

__ADS_1


Aku menelepon pondok.


“Assalamu’alaikum?”


“Ya wa’alaikumsalam, Ustadz.”


“Mbak Ala ada kegiatan? Saya mau bicara dengannya.”


“Baru tadi sore dia pulang, Tadz.”


“Oh, gitu?”


“Ngapunten apa njenengan butuh nomor pribadinya Mbak Ala?”


“Boleh, Mbak.”


“Sebentar, Tadz.”


Hening beberapa detik.


“Tadi sebelum pulang, Mbak Alanya juga memang menitipkan nomornya barangkali njenengan berniat menghubungi.”


Dia membacakan nomor Mbak Ala.


“Sama-sama, Ustadz. ***....”


Dia menjeda salamku.


“Kenapa?”


“Ngapunten banget, Tadz. Tadi Ummik Nur berpesan kepada saya lain jika setelah mengajar, njenengan disuruh ke ndalem.”


“Nggeh insyaallah. Sebelum pindah insyaallah saya akan sowan.”


“Nggeh, Tadz.”


“Oke. Makasih, Mbak. Assalamu’alaikum.”


Ada yang mengetuk pintu depan. Pintunya langsung dibuka. Kupikir ibuk, tapi ternyata suara yang melenguh kemudian milik seorang lelaki—Mas Bayu?


Nurin di depan televisi menambahkan suara.


Aku bangkit menemuinya.

__ADS_1


Mas Bayu sungkem pada ibuk. Seketika ibuk meluruhkan bola-bola kristal untuk anaknya yang gagal membina rumah tangga—tanpa diucap.


“Mamah mana, Yah?” Nurin mencebik. Dia berlari ke ambang pintu siapa tahu mbak masih ada di luar.


“Kok nggak ada, Yah? Nurin kangen.”


“Sini, Rin!” Mas Bayu melambai Nurin. Menyuruh Nurin duduk di pangkuannya.


“Ayah mau nginep di sini? Tapi, Mamah nggak diajak, Yah? Mamah ke mana?”


Aku dan ibuk bertatapan.


Nurin memeluk erat pinggang Mas Bayu dari samping. Telunjuknya mengarah ke koper.


“Harusnya itu.. Mamah diajak Ayah ke sini. Tidur dengan Nurin dan Ayah. Apa Ayah masih memarahi Mamah lagi?” Lalu, wajahnya mendongak.


“Besok Mamah ke sini menemui kamu, Rin.”


“Ayah janji?” Nurin memasang tatapan—jangan sampai ayah bohong.


Mas Bayu mengangguk.


“Zam, temannya rekan kerjaku ada yang pengen dicarikan jodoh. Kamu belum ada, kan?”


Nurin menyahut, “Paklek sudah punya kok, Yah.”


Ibuk tersenyum tipis.


“Aduh, Paklek, jangan cubit bokongku dong.”


“Siapa jodohnya Paklek?”


“Kak Mustika.”


“Wardah Mustika Rahayu penari itu?” Pandangan Mas Bayu berlari ke arahku, lalu pada ibuk.


Tidak ada yang menjawab. Justru Mas Bayu terbahak kemudian.


“Kenapa, Bayu?” tanya ibuk.


“Nggak kusangka seleramu penari, Zam, Zam. Kupikir seleramu santri atau anak kyai. Etdaaah.....” Dia tertawa lagi. Geleng-geleng.


“Belum, Yu. Nizam belum punya calon. Memangnya perempuan yang kamu maksud seperti apa?”

__ADS_1


“Dia berjilbab. Dulunya juga santri. Biasa traveling ke luar negeri. Dia anak orang kaya. Punya bisnis konveksi yang sangat maju. Karena dia dulu pernah jadi santri, aku berani nawarkan ke kamu, Zam. Santri, kan, demenanmu?”


__ADS_2