FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 63 "Keimanan Cinta"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Sudah lama aku bergeming di atas bentang sajadah. Mungkin sudah dua puluh menit aku bersimpuh. Aku memutar dan terus memutarkan rentengan bundaran kayu sebanyak sembilan puluh sembilan itu. Yang kudengar hanya desis kalimat zikir dari mulutku sendiri. Aku menahan untuk tidak mengatupkan mata.


"Aku membutuhkan petunjukmu, Ya Allah." Tersela sebaris kalimat di antara jeda napasku yang kian melenguh panjang. Dan, akhirnya hatiku seperti dihujam tombak dari arah depan. Mungkin memang sudah waktunya aku membahagiakan ibuk. Aku menuruti permohonan ibuk yang terpendam. Aku berupaya memantapkan hatiku sendiri, memilih mana yang berdampak baik untuk kehidupanku di masa mendatang. Tidak ada kerugian bagi siapa pun yang memprioritaskan malaikat berselendang bianglala bernama ibu.


Lebaik baik jika aku menjadi pria realistis dan idealis. Memandang apa yang sudah jelas di depan, lalu meninggalkan fatamorgana dalam bayang. Segala yang diucapkan ibuk, maka bagiku adalah perintah Tuhan. Bahkan, meninggalkan salat sunah demi memenuhi panggilan ibu pun diperbolehkan. Aku tidak ingin menjadi Jurais yang ditimpakan bala' karena mengabaikan panggilan ibunya. Sehingga dia tertimpa fitnah yang menyudutkan dirinya sebagai pria yang menghamili perempuan yang datang setelah ibunya memanjatkan sebuah doa.


"Maaf," batinku.


Tidak terasa sudah hampir subuh. Aku mengambil Alquranku. Latihan satu maqrak untuk persiapan musabaqah bulan mendatang. Selain itu, berlatih di pagi hari juga dapat meningkatkan kualitas suara itu sendiri. Di pertengahan maqrak, aku menoleh. Aku langsung mengucapkan tasdiq dengan lagu bayyati.


Aku membawa sajadahku. Sepuluh menit lagi azan subuh sudah harus dikumandangkan. Aku berjalan lima menit menuju musala.


"Pak Nizam selaku jalan sendiri. Mbok cari pendamping hidup," kata imam musala yang biasanya melimpahkan badal padaku. Tiba-tiba dia mensejajari langkah di samping kiriku.


"Pangestune mawon, Pak." (Mohon doa restunha saja, Pak)


"Bagaimana rumah tangga anak Bapak yang waktu itu?"


"Anak Bapak itu manut sekali. Bapak tahu dia tidak setuju ketika dikenalkan dengan santri pilihan ibunya. Alhamdulillah sekarang sudah hamil lima minggu." Pak Imam menyentuh pundakku. "Pak Nizam, intinya yo ndak usah kalau ingin menuruti kata orang tua. Lawong yo perkaranya bagus."


Pak Imam menyebutkan satu buah hadis yang menjelaskan tiga doa mustajab.


ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ


"Rak nggeh ngoten, Pak?" (Begitu kan, Pak?)


"Benar, Pak Imam."


Doa ibu salah satu penyebab cepat dimakbulkannya doa. Apa yang kutunggu? Hadis itu menjelaskan dengan sangat gamblang. Pada apa aku akan terus bersikukuh? Atas doa dan restu ibuk, sudah pasti cinta bukan menjadi alasan penangguhan keputusanku.

__ADS_1


Usai salat subuh, aku pergi mencari sayur. Sederhana saja karena aku juga hidup sendiri. Sop ceker ayam dengan sambel kecap akan menjadi manu sarapan yang akan aku buat. Kabetulan juga ada dua tetangga perempuan yang juga sedang menuju tukang sayur langganan.


"Mas Nizam ini lo, ganteng dan masak sendiri lagi. Ya Allah, kalau Mas Nizam mau ke rumah Ibu. Ibu tiap hari masak banyak lo."


"Terima kasih banyak, Bu. Saya sudah biasa." Aku memberi mereka senyum.


Semua wanita yang belanja memperhatikanku. Karena di antara mereka berenam, memang hanya aku yang laki-laki. Tukang sayurnya saja juga sudah lansia.


"Kok sudah biasa apa dari dulu hidup sendirian to, Pak Nizam? Kayaknya kemarin-kemarin beberapa kali ada yang datang apel," ujar yang lain.


Aku hanya bisa tersenyum. Kuangkat kresek putih berisi seperempat kilo daging ayam isi ceker dan sayap. Aku mengambilnya. Lalu, satu kresek berisi kubis, daun seledri, dan wortel. Ketika aku melihat salah di antara ibu-ibu itu ada yang mengangkat brokoli, aku juga tertarik membelinya.


"Hitung semuanya, Bu." Aku mengeluarkan dompet. Uang lima pilih ribu di tanganku. Aku memberikannya pada penjual.


Aku ingat cabe di dapur sudah habis.


"Cabenya sekalian."


Penjualnya mengangguk. Sejurus kemudian mengurangi jumlah lembar yang akan diberikannya padaku.


"Nggeh. Makasih, Bu."


"Bu, Ibu, saya permisi, nggeh. Mari!"


"Iya, Pak Nizam. Ya." Begitu jawab mereka serempak. Mengakhiri dengan tawa cekikikan.


Begitu sampai di rumah aku segera memasaknya karena aku juga harus mengajar pagi tiga SKS. Sembari menunggu air mendidih untuk merebus wortel dan brokolinya terlebih dahulu, aku menyapu seluruh ruangan sampai teras. Di rumah, ibuk sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan sendirian tanpa berkeluh kesah. Bahkan, tidak pernah menyuruh anaknya. Aku belajar menjadi ibuk ketika jauh dari pangkuannya. Tidak ada yang salah jika aku bisa mengurus pekerjaan rumah meskipun aku laki-laki. Lagipula, itu juga sudah biasa kulakukan dulu ketika mengabdi di ndalem kiai. Santri putra yang menjadi abdi ndalem juga sudah biasa menerima utusan memasak makanan kesukaan kiai atau bu nyai, selain tugas mereka juga menjadi sopir.


Teleponku berdering.


📞"Buk, sudah benar-benar sehat?"

__ADS_1


📞"Alhamdulillah. Seger waras, Zam."


📞"Begini, Buk."


📞"Piye (bagaimana), Zam?"


📞"Njenengan doakan. Aku akan melaksanakan perintah Ibuk."


📞"Setiap langkahmu, Ibuk akan berusaha memberikan doa terbaik. Sudah waktunya, Le. Ayahmu di sana pasti juga paham banget. Pernikahan juga wadah bagi sepasang manusia untuk meneruskan talabul ilmi. Bener opo ora jare Ibuk (benar apa tidak kata Ibuk)?"


📞"Benar, Buk. Terima kasih banyak, Buk."


Nasihat ibuk untukku, aku menjadikannya sebagai kekuatan dan pandangan hidup. Patokan arah. Memang sudah seharusnya dari dulu aku memberi. Ibuk tidak pernah meminta apa-apa dariku. Meminta hal yang menyuruhku harus berkorban. Sementara dalam berjuang ngopeni kedua anak sepeninggal ayah, ibuk tidak pernah mengutarakan keluh kesahnya. Basmalah dan salawat sebanyak-banyaknya untuk mengawali keputusan yang insyaallah akan kutunaikan malam ini juga. Aku akan melupakan perasaanku sendiri.


📞"Sudah, ya, Buk. Aku lagi masak. Assalamualaikum."


Aku langsung menutupnya. Handphone masuk kantung kemeja pendekku.


Tiga puluh menit kemudian. Sarapan matang dan rumah sudah bersih. Aku mengangkat sop yang masih di kuali ke atas papan kayu.


Aku pergi mandi. Dulu mandi selalu antre, sekarang sepi. Tiba-tiba terkenang masa-masa di pesantren. Terakhir sowan Kiai Karim dua tahun lalu. Apalagi pesantren yang dulu pernah kumasuki sewaktu masih sekolah menengah atas. Hanya ketika safari ramadan selama dua puluh hari aku nyantri di pesantren di Magetan, juga saat bu nyai sedang melaksanakan ibadah umrah. Aku pun merindukan guru-guru.


Dua puluh menit kemudian sekaligus salat duha dua rakaat.


Ada yang mengetuk pintu kemudian. Aku tidak jadi mengangkat piring. Aku ke depan memeriksa siapa yang datang.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah."


Dia langsung menatap mataku. Aku sendiri kaget melihatnya tiba-tiba berdiri di depanku. Padahal, kemarin aku baru membicarakannya dengan ibuk. Sepertinya tidak akan mungkin dia menemuiku. Rupanya aku salah sangka. Dia nekat. Dan, sudah pasti dia ke Tulungagung sendirian tanpa izin orang tuanya.


"Maaf jika aku mengganggu Mas Nizam. Izinkan aku masuk."

__ADS_1


"Lebih baik kita bicara di luar saja. Sory. Saya di rumah hanya sendirian. Kamu pasti paham maksudku."


Dia mengangguk.


__ADS_2