FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 105 "Kesalahan"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Ketika di ndalem hanya ada aku dan ummik, ummik mendekati posisiku duduk di meja makan dapur.


"Mbak Ufi dan Fizah ke mana, Mik?"


"Neng pondok putri." (Di pondok putri)


Aku santai mencari inspirasi desain baju yang akan diproduksi selanjutnya. Fashion casual


pria yang pernah kudesian sebelumnya ternyata cukup menarik minat. Di toko Ning Ala laris manis. Kehabisan stok di produksi pertamanya. Mungkin karena desain yang aku buat sederhana, tapi menarik. Harga yang kubandrol juga tidak mahal. Tapi, awal-awal Ning Ala dan Gus Rayyan komplen harga yang aku pasang terlalu mahal. Takut kalau tidak laku di pasaran. Lantas, harga kuturunkan sepuluh persen dari harga awal sebelum masuk pasaran dengan sedikit perubahan pada desain.


Ummik melirikku sedang apa. Lantas mengajakku bicara, "Mbokyo Mbak Ulya kapan-kapan digawekne desain baju sing istimewa."


Terjemah: (Coba Mbak Ulya kapan-kapan dibuatkan desain baju yang istimewa)


"Belum jadi istri kok, Mik. Nanti sajalah." Dengan tatapanku yang masih fokus ke layar gawai.


"Kok ngoten, Le?" (Kok begitu, Le?)


"Nggeh begitu, kan, Mik. Bagusnya begitu."


"Barang sing spesial iku kudu diparingne lek pun simah to, Le?"


Terjemah: (Barang yang spesial itu harus diberikan kalau sudah menikah, ya, Le?)


"Ningali sinten sing dikasih."


Terjemah: (Lihat siapa yang dikasih)


"Woh, ngono. Terus iyo gamis ijo sing sampeyan tumbas wingi pundi? Ummik pengen ndelok."


Terjemah: (Woh begitu. Terus iya gamis hijau yang kamu beli kemarin mana? Ummik ingin lihat)


Sontak aku menatap ummik.


"Kemarin, kan, Ummik sudah lihat?"


"Pengen delok maneh."


Terjemah: (Ingin lihat lagi)


Aku gamang menerawang ekspresi ummik yang santai, tapi seperti sedang bermaksud tertentu.


"Aku kasih ke orang, Mik."


"Berarti spesial yo, Le?"

__ADS_1


"Waduh," batinku.


"Nggeh...itu...anu...nggeh biasa saja, Mik."


"Le, sampeyan paham pora nyapo kok Abahmu maringi sampeyan jeneng al-amin?"


Terjemah: (Le, kamu paham atau tidak kenapa kok Abahmu memberimu nama Al-amin?)


"Ya...hmm....mungkin itu su-paya aku bisa amanah dalam segala hal, Mik."


"Bener, Le. Cobo saiki sampeyan jujuro opo sing Ummik ndak paham."


Terjemah: (Betul, Le. Coba sekarang kamu jujur saja apa yang Ummik tidak paham)


"Maksud Ummik sebenarnya nopo to niki (apa, ya ini)?"


Aku mengerti. Aku baru sadar ummik mungkin sudah mengetahui aku memberikan gamis itu pada Iza. Dan, ummik sedang menguji kejujuranku. Ummik tidak suka menuduh. Tapi, ummik selalu memberikan ruang kesempatan siapa pun untuk berkata jujur.


Berat. Tidak semudah itu mengatakan aku menyukai Iza di atas ikatanku dengan Mbak Ulya yang telah disepakati dan tinggal menentukan tanggal. Malam itu, tanggal belum jadi ditentukan. Aku berdalih supaya Mbak Ulya memutqinkan hafalannya terlebih dahulu. Jika dia ingin meraih mimpinya dulu, maka aku pun tidak bermasalah. Maka, akhirnya tanggal pernikahan pun diurungkan.


Ummik mengulangi pertanyaannya tadi. Aku meletakkan gawaiku.


"Ummik tahu semua hal."


"Bener, Le. Ummik memang wis (sudah) ngerti."


Dugaanku benar.


Terjemah: (Sekarang begini saja. Kamu mintanya bagaimana? Kamu saja yang memutuskan tanggal pernikahan. Abah dan Ummik nurut)


"Mik, aku tidak keberaran menuruti keinginan Ummik. Tapi, Ummik sudah paham banget aku gimana orangnya. Kalau pun aku tidak siap menikah dengan Mbak Ulya dalam waktu dekat, Ummik rida aku mengulurnya?"


"Yo kalau itu maslahahnya luweh akeh kanggo sampeyan, Ummik ndak masalah, Le."


Terjemah: (Ya kalau itu maslahahnya lebih banyak untuk kamu, Ummik tidak masalah, Le)


"Kita bisa menundanya dulu sambil menunggu kepastian Tsaniya. Siapa tahu Tsaniya memang benar masih hidup. Dan, kita bisa kumpul bersama saat pernikahanku nanti, Mik. Bagaimana?"


Ummik mengangguk. "Tapi, Ummik nyuwun kejujuranane sampeyan, Le."


Terjemah: (Tapi, Ummik minta kejujuranmu, Le)


Ummik menatapku. Kukira ummik tidak terus memintaku menjelaskan.


"Walaupun aku mengulur waktu, apa salah, Mik, kalau aku memberikan sesuatu pada perempuan lain? Aku bukannya tidak mau, Mik, menikah dengan Mbak Ulya mboten (tidak). Hanya menunggu waktu sampai siap."


"Dadi sampeyan bener wis maringi Iza baju ijo wingi?"

__ADS_1


Terjemah: (Jadi kamu benar sudah memberikan Iza baju hijau kemarin?)


Mau tidak mau aku mengiyakan. Akan kuterima nasihat ummik jika ummik menghendaki duko (marah) kepadaku.


Ummik menghela napas panjang. Ummik mendiamkanku. Aku tahu ummik sedang ingin menengahi.


"Assalamu'alaikum?" Mbak Ufi dan Iza salam bersamaan. Langkah kaki mereka hampir gak tak jadi masuk karena tahu aku dan ummik berdua di dapur. Tapi, ummik tetap mempersilakan mweqk masuk.


"Iza, lenggah rene disek, Za!"


Terjemah: (Iza, duduk sini dulu, Za)


*Ranaa Hafizah


Berdebar hatiku. Getar-getir demi mempersiapkan telinga yang mungkin saja akan mendengarkan kemarahan bu nyai atas kesalahanku menerima baju dari Gus Fakhar. Mata Gus Fakhar menyuruhku duduk saat aku mendekat. Lalu, Mbak Ufi menyingkir pelan-pelan ke depan ndalem menyirami tanaman.


"Nduk, baju wingi sinten sing maringi?"


Terjemah: (Nduk, baju kemarin siapa yang memberi?)


Kepalaku otomatis bergerak ke bawah. Aku sungkan menatap bu nyai. Sementara, tatapan bu nyai berubah menjadi lebih tajam. Rupanya begini rasanya dimarahi bu nyai. Ini belum jika bu nyai mengeluarkan kata-kata yang membuktikan kemarahan itu benar-benar terjadi. Masih sebatas permintaan jujur saja hatiku getar-getir.


"Memang aku, Mik, yang memberi," ucap Gus Fakhar.


"Ummik nyuwun Iza sing njawab."


Terjemah: (Ummik minta Iza yang menjawab)


Aku memejam mata. Lalu, mengiyakan dengan suara lirih. Kugigit bibirku. Malu dan sungkan. Kuhardik diriku sendiri, "Dasar tidak tahu malu kamu, Zah," batinku.


"Ummik saiki paham teng nopo kok Mbak Ulya siaki jarang purun diutus neng ndalem."


Terjemah: (Ummik sekarang paham kenapa kok Mbak Ulya sekarang jarang mau disuruh ke ndalem)


"Ngapunten, Mik. Aku yang salah. Ummik ampun (jangan) marah ke Iza," ucap Gus Fakhar.


"Iza, Ummik percoyo sampeyan."


Terjemah: (Iza, Ummik mempercayaimu)


Jika ditelaah baik-baik, kalimat itu bersifat implisit. Yang dikatakan Bu Nyai Ridhaa menamparku begitu keras. Dalam sesaat kalimat persuasi itu menyudutkanku. Artinya beliau melarangku untuk melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Meskipun, aku ada di posisi yang kupikir tidak salah, kebingungan antara menerima pemberian Gus Fakhar atau menolaknya, tapi aku tidak dapat mengutarakannya. Tenggorokanku tersekat sesuatu.


"Le, Iza iku sing teko nglamar wis loro."


Terjemah: (Le, Iza itu yang datang melamar sudah dua)


Bu nyai menatap kami bergiliran.

__ADS_1


"Demen kui uduk kehendake sopo-sopo. Tekane roso tresno kui sangka Gusti Allah. Tapi, pripun carane amrih mboten dadi prasangka-prasangka sing mboten sae tur nggelakne. Artine ojo nganti dados madlarate perkoro liyan."


Terjemah: (Suka itu bukan kehendak siapa-siapa. Datangnya perasaan sayang itu dari Allah. Tapi bagaimana caranya supaya tidak menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik dan mengecewakan. Artinya jangan sampai menjadikan kerugian perkara lainnya)


__ADS_2