FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 145 "Permata Hati"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Aku hanya menurut ketika Mbak Ufi dengan tergesa-gesa menyuruhku segera beranjak dari kamar. Dia juga memaksaku agar sedikit memoles wajah dengan bedak. Dia juga menanyaiku apakah aku sudah mandi. Dan, aku memang sudah mandi sejak tadi.


"Pokoknya aku seneng banget hari ini. Kapan-kapan aku mau masakin kamu menu paling spesial, Mbak. Pokoknya kamu tenang. Tenang gitu lo. Ini bukan kabar buruk."


"Hasil tes?"


"Iya dong. Semua orang sudah kumpul di ruang tamu. Yok!"


Aku tidak tahu kalau yang berkumpul di antara mereka, salah satunya adalah ibuku. Kapan ibuku datang dan siapa yang menjemputnya ke sini? Mungkin datang bersama Nyonya Syawa dan Tuan Kabi? Ibuk hanya menatapku, tapi tak berani membalas sapa senyumku. Ibuku menunjukkan wajah paling sedihnya.


Sementara itu, Gus Fakhar bangkit. Melakukan adegan yang sama dengan waktu itu. Dia memelukku. Kali ini di depan orang banyak. Dia mencium pipi kanan kiriku, lalu ubun-ubunku. Memelukku sekali lagi.


"Semoga Allah memberkahi Adikku yang paling cantik ini." Dia memencet ujung hidungku.


Meski wajahnya sangat antusias, tapi fokus pikiranku masih kepada ibuk.


Tuan Kabi memanggil Gus Fakhar. Dia mengangsurkan buket bunga Gus Fakhar tadi.


"Buat kamu. Pasti suka, kan?"


Aku mengangguk. Buket itu memang sangat indah.


"Kamu mau baca hasil tes DNAnya?"


Aku mengangguk.


Gus Fakhar memintaku supaya duduk. Tangan kanan Bu Nyai Ridhaa mengelusi paha kiriku. Berkali-kali melempar senyum terindah. Kuncup mawar merekah di bibirnya. Yang tidak tersenyum hanyalah ibuku dan Ning Ulya.


Aku membacanya dengan saksama. Ya, tidak ada kesalahan di sana. Teknologi telah berbicara. Hasil itu membuat semua orang yang ada di ruang tamu ini percaya. Kutoleh Bu Nyai Ridhaa. Aku memang harus menunjukkan hormatku pada ibu kandungku. Juga pada bapak kandungku, Kiai Bahar. Aku sungkem bergantian pada mereka. Untuk pertama kalinya Kiai Bahar memelukku.


"Abah, Ummik?" Bu Nyai Ridhaa sampai meneteskan air matanya saat panggilan itu keluar dari mulutku. Tapi, aku masih merasa aneh dengan panggilan itu. Karena aku belum terbiasa saja.


"Apa, Nduk?"


"Apa saya boleh tidur di pondok saja?"


"Lha ngopo, Nduk?"


"Hmm..." Aku menundukkan wajah.

__ADS_1


"Gak opo-opo. Ya sudah sampeyan turune neng pondok gak opo-opo."


Terjemah: (Tidak apa-apa. Ya sudah kamu tidurnya di pondok tidak apa-apa)


Kiai Bahar amat mengertiku.


"Tapi, sampeyan sudah legowo to, Nduk?"


Aku mengangguk.


Dengan perizinan ini, aku akan belajar memposisikan diriku. Juga agar tak menyinggung perasaan ibuku. Jika ibuku menganggap aku kelihatan sangat bahagia, aku khawatir ibuku akan merana. Ibuku akan merasa telah kutinggalkan.


Kang Bimo mematung di pintu. Uluk salam kemudian.


"Kuenya, Gus."


Gus Fakhar menyuruh meletakkannya di lantai. Tuan Kabi menggeser nampannya ke arahku. Gus Fakhar mengangkatnya. Menghadapkannya padaku.


"Potong kue, yuk!"


Kue coklat bertuliskan untuk Adikku Tersayang, Tsaniya Tabriz.


"Nggak usah kaget. Kejutannya masih ada lagi nanti. Gih, dipotong kuenya."


"Dikasih ke siapa?" tanyanya.


Siapakah yang paling berhak? Ibu yang membesarkanku atau Bu Nyai Ridhaa yang melahirkanku? Aku terdiam beberapa detik. Kugunakan sendok yang juga telah disiapkan. Lama sendok itu menggantung karena aku masih bingung akan menyuapkannya kapada siapa.


"Kelamaan." Akhirnya Gus Fakhar yang melahap suapan pertamaku.


Mereka tertawa.


Aku menyendoknya lagi. Tanpa mengurangi rasa hormatku sedikit pun pada ibuku, aku memilih menyuapi Bu Nyai Ridhaa sebagai penyebab hadirku di dunia ini. Lalu, pada ibuku yang susah payah membesarkanku dan melimpahiku dengan kasih sayang tiada batas. Ketiga kalinya aku menyuapi Kiai Bahar. Keempatnya aku mendekat pada Nyonya Syawa. Karenanyalah aku dipertemukan dengan ibuku. Karenanyalah aku bertemu dengan ibu kandungku. Sama seperti yang lain, Nyonya Syawa memperlihatkan air muka bahagianya.


"Kapan-kapan kita harus shoping, Sayang."


"Kakaknya juga mau," celetuk Gus Fakhar.


Aku meliriknya sambil mencebik.


Aku hampir melupakan sesuatu. Kupandangi wajah Ning Ulya juga dengan senyum tipis. Kugeser dengkulku.

__ADS_1


"Ning, aku minta maaf bikin kamu cemburu."


Wajah serius itu perlahan-lahan berubah. Kedua pipinya terangkat naik. "Kok bisa, ya, aku cemburu sama Adikku sendiri."


Dia memelukku. "Kamu beneran Tsaniya?"


"Bidznillah, Ning."


Kami saling menukar pandang.


"Tsaniya Tabriz putra kedua Kiai Bahar? Benarkah itu kamu?"


Aku mengangguk. "Semua atas izin Allah."


"Santri-santri harus diluruskan."


"Biar saja, Ning. Nanti mereka akan tahu sendiri."


"Biar jadi urusanku itu," sahut Gus Fakhar.


Aku punya banyak keluarga. Tiga orang ibu yang sangat menyayangiku. Suasana ini nyata kehangatannya. Giliran aku yang ingin menangis. Air muka ibuku meremas dadaku. Seperti menyuruhku mengiba dan memintaku jangan pernah lupakan ibu.


"Buk, jadi aku, kan, yang cengeng." Kutahan air mataku.


"Terima kasih sudah hadir di tengah-tengah kehidupan ibuk, Nak."


"Kalau saja Nyonya Syawa..maksudku Mama Syawa tidak meletakkanku di depan kontrakan Ibuk dan Bapak, kita nggak akan ketemu, Buk. Sekali pun mungkin, kita ketemu tidak dengan ikatan dan perasaan sedalam ini. Iya, kan, Buk?"


Ibuk mengangguk-angguk. Cara menangisku sudah seperti bayi. Mencebik dan sesenggukan lirih. Sedangkan, tangis ibuk telah menganak sungai. Meski sebetulnya ibuk juga senang aku telah menemukan keluargaku yang sesungguhnya, tapi kesedihan tentu mendominasi perasaannya saat ini.


"Ibuk jangan pulang dulu, ya. Barang sehari dua hari, Buk. Ya, Buk, ya?" Aku merajuk. Tak ubahnya anak kecil meminta permen.


"Iya. Ibuk akan nginep dua hari."


"Nanti kita tidur bareng di kamar tamu, ya, Buk. Ibuk tak masakin."


Ibuk mengangguk terharu.


"Harusnya Ibuk ajak Mbak Sulung dan Bungsu, Buk."


"Tahu, kan, mereka gimana, Zah."

__ADS_1


Gus Fakhar mengajak Mbak Ufi keluar dari ruang tamu. Mereka membicarakan sesuatu di dalam. Aku mendengar mereka berbicara dengan berbisik.


Maaf terlalu malam. 😁 Besok semoga bisa up. šŸ¤—šŸŒ¹


__ADS_2