FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 102 "Identitas Aynur"


__ADS_3

*Ratna


Aku mendekati Aynur. Perempuan yang jauh lebih berpengalaman menelusuri oase yang panas. Seberapa lamanya dia menapaki gurun itu, berapa kilometer dia kuat melangkahkan kakinya, berapa banyak mineral yang dia butuhkan agar tetap bisa bertahan dalam kepanasan, dan bersama siapa saja dia melalui semua itu. Dari semua pertanyaan yang kuajukan, tak ada kalimat yang dia sembunyikan. Dia jujur mengatakan apa adanya. Ada perempuan yang hidupnya lebih mengerikan. Perempuan yang tak punya bekal iman, hidup dalam penjajahan hak dan dia bisa menjalaninya selama bertahun-tahun. Dan, anehnya dia rela.


Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa hidup tenang. Padahal, dunia ini hanya akan meliriknya sebagai wanita tak terhormat. Tapi, justru dia mengatakan dirinyalah yang paling terhormat. Tidak ada yang melebihi kehormatannya. Sampai pada jawaban itu aku tertegun.


Lalu, sore ini aku kembali bertegur sapa dengannya. Aku ingin memperjelas perkataannya.


"Apa maksudmu waktu itu?"


"Aku hanya perlu menghasilkan uang, tapi tidak dengan menjual kehormatan."


Di hadapannya, aku mendadak jadi orang yang bodoh.


"Tapi, kenapa kamu ada di tempat itu?"


"Aku adalah kembang desa. Sejak usiaku lima belas tahun, banyak pria yang datang melamarku. Tapi, aku dianggap wanita terkutuk."


"Kenapa bisa?"


"Aku belum selesai bicara. Dengarkan saja aku!"


Aku terdiam seketika.


"Kenapa aku berkata demikian? Aku juga tidak mengerti apa yang membuat pria-pria banyak yang teropsesi padaku. Itulah yang mengakibatkan perempuan di desaku punya pemikiran yang tidak logis. Menganggapku sebagai perempuan yang telah dikutuk. Katanya, sejak aku didatangi oleh pria-pria, perempuan-perempuan itu sulit mendapatkan jodoh. Bagi para pria, aku adalah perempuan paling terhormat. Tapi, tidak bagi perempuan. Termasuk keluargaku yang kemudian seperti orang kalap, serempak membuangku ke jalanan. Mereka mengusirku dengan alasan supaya mereka tidak jadi bahan gunjingan dan objek kutukan selanjutnya. Apalagi, dari pria yang melamarku, tidak ada satu pun yang kuterima lamarannya. Barangsiapa yang menolak pinangan seorang pria, dia dianggap akan mempersulit jodohnya sendiri di kemudian. Itu sudah semacam kutukan bagi para perempuan. Nyatanya di kemudian hari, tetap ada saja yang datang hanya demi ingin mendengar bagaimana caraku berbicara dan menolak pria. Karena kutukan itu tidak berlaku bagiku, perempuan banyak yang cemburu. Mereka tidak sepertiku."


"Apa kamu punya kelebihan?"


"Menurutmu bagaimana? Kelebihan apa yang kamu tangkap saat bicara denganku?" Dia tersenyum aneh sembari menatapku penuh makna. Pandangan yang misterius.


"Mungkin dari caramu berbicara membuat orang lain semakin ingin tahu."


Dia tersenyum lebar. Entah apa artinya itu.

__ADS_1


"Aku sendiri berpikir, banyak perempuan yang lebih unggul dariku. Tapi, kenyataannya lain. Pria-pria berkomentar, mengatakan aku berbeda dari perempuan lainnya."


"Kenapa kamu menolak mereka?"


"Aku tidak ingin menikah pada waktu itu. Alasanku yang katanya malah menjadi ajang perlombaan. Katanya aku perempuan mahal. Akan aku lanjutkan. Setelah aku dibuang, aku bertemu dengan penolong. Dia seorang cenayang. Katanya, aku punya daya tarik tersendiri. Ada pemikat di dalam diriku. Dia mengantarkanku pada seseorang mami. Awalnya aku berpikirku nyawaku seperti tengah digadang-gadang tidak akan selamat dan kerhomatanku akan rusak. Tapi, siapa yang berani mendekat padaku? Kamu harus mengeluarkan rupiah yang sangat banyak." Di akhir kalimat dia mendesis. Lalu, tersenyum mengerikan.


"Karena itu, kamu bilang kamu yang paling terhormat?"


"Kehormatan tidak akan pernah bisa ditukar dengan uang. Sekali pun mereka yang pernah bersamaku menganggap berhasil membeli kehormatanku, tapi sesungguhnya kehormatanku masih utuh."


Lantas aku mengadukan semua yang aku ketahui dari Aynur kepada Yazeed.


"Setengah jiwanya Aynur sudah tidak waras. Itu yang tidak dia ceritakan padamu. Apa yang dia katakan, dirinya tetap menjadi perempuan terhormat, itu hanyalah caranya sendiri agar dia tetap bisa hidup. Supaya orang lain tetap memandangnya sebagai wanita baik-baik sekali pun keadaannya begitu. Jika dia merendahkan dirinya sendiri, dia akan dihantui rasa takut dan kekhawatiran seumur hidup. Dia memerangi dirinya sendiri."


"Tapi, siapa yang akan menyangka dia wanita tidak waras?" tanyaku keheranan.


"Dia kelihatan waras. Dia tidak sepenuhnya sadar jika selama ini dia dimanfaatkan oleh orang lain."


"Yaz, aku nggak ngerti. Sejak kapan dia tidak waras?"


"Kenapa dia tidak melarikan diri?"


"Dia dikendalikan oleh orang lain. Di tengah ketidaksadarannya dimanfaatkan oleh cenayang yang menolongnya, seolah-olah dia baik-baik saja melampaui kemalangan nasib itu sampai lima tahun."


"Kapan kamu tahu dia sudah nggak waras lagi?"


"Beberapa bulan sebelum aku melepaskannya. Aku mengajak seorang psikiater, menyamar sebagai penyewa Aynur. Yang kami lakukan setelah hanyalah mengecek kejiwaan Aynur yang sesungguhnya."


"Berapa uang yang kamu keluarkan?"


"Jangan tanya. Bukan urusanmu, Na. Sudah. Kau hanya perlu urus kandunganmu. Intinya, kau dan dia sama-sama menjadi korban."


"Kamu menyelamatkan orang seperti kami. Makasih, Yaz."

__ADS_1


"Belajarlah dari Aynur. Berdirilah dengan kakimu. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi harapan orang-orang di sini. Salat, salawat, dan usaha. Pengampunan Tuhan jauh lebih luas. Aku juga pembelajar sepertimu. Teruslah berpikir positif. Apa pun yang psikiater katakan padamu, perhatikan dan kerjakan."


"Iya, Yaz. Aku sedikit lebih baik walaupun perubahannya nggak begitu besar. Masalah kepercayaan, aku nggak akan pernah semudah dulu lagi memberikannya."


"Tapi, percayalah bahwa Tuhan selalu ada untuk hamba-Nya."


"Yaz, aku dengar kamu sudah pernah menikah tiga kali, ya?"


Dia mengangguk.


"Aku kira orang sepertimu tak akan dapat cobaan hidup sebesar itu."


"Semoga itu memang ujian yang meningkatkan. Bukan bala' atas maksiat yang kulakukan."


"Maksudnya?"


"Ujian itu hanya datang pada manusia beriman. Tidak selain itu."


"Jika aku ingin di sini sampai nanti, apa boleh, Yaz?"


"Suatu saat kau akan menemukan pria yang akan menikahimu. Kau tidak mungkin di sini selamanya."


"Kenapa kamu justru sudah memikirkan itu, Yaz?"


Yazeed mengabaikanku.


"Yaz, aku saja belum kepikiran. Aku cuman mikir gimana nasibku dan anakku nanti."


Dendam itu membara di dalam hatiku. Dan, aku telah bersumpah mendoakan Pak Su dan Hakim mati di penjara. Aku tidak akan memaafkannya seumur hidupku. Aku juga tidak akan mengakuinya sebagai bapak biologisnya bayi di dalam perutku. Tak akan pernah kuminta dia bertanggung jawab. Aku tidak akan sudi berurusan lagi dengannya. Karena nama itu membuatku lukaku semakin menganga. Hingga kini belum ada penawarnya.


"Yaz, apa mungkin Pak Su masuk penjara?"


"Sabar. Semua masih diusahakan. Tapi, jangan berharap padaku, Na. Mintalah semuanya pada Tuhan."

__ADS_1


"Iya, Yaz."


Yazeed selalu menyuruhku tak terbebani dengan apa pun. Dia memperlakukanku sama seperti perempuan yang ada di sini. Satu per satu bilik dia datangi. Itulah yang dia lakukan jika tidak ada keperluan di luar. Dia mendidik kami menjadi perempuan baik, percaya diri, mandiri, dan bersosialisasi kepada orang-orang yang punya latar belakang berbeda. Aku hanya salah satu dari perempuan beruntung yang mendapatkan pertolongan darinya.


__ADS_2