
*Ranaa Hafizah
Sejak percakapan dengan Pak Nizam setelah dari pasar kemarin, aku berpikir keras bagaimana caranya menawarkan itu pada Ratna. Dan, yang jelas Ratna harus tahu dulu kondisinya yang sebenarnya itu bagaimana. Meski demikian Ratna yang mengalami, tetapi aku juga ikut merasakan keterkejutannya nanti.
Ibuku kemarin sore sudah mengajakku dan mbak bicara serius di belakang rumah. Ibuku mengulangi tawaran yang disampaikan Pak Nizam kemarin. Mungkin Pak Nizam sengaja menyuruh ibuku supaya aku dan Ratna tidak banyak alasan untuk menolak.
Malam ini, ketika Ratna dan dua saudaraku sudah tidur, aku dan ibu masih melakukan pekerjaan di dapur untuk persiapan jualan besok. Ibuku memasak sayur yang dijual untuk besok, sedangkan aku membungkusi buah ke dalam plastik, dijual per kilo.
"Zah, jika sampeyan nanti sudah mendapatkan jodoh, Ibuk pengen banget dampingi sampeyan, Nak."
"Jelas Ibuklah. Memang siapa lagi."
Ibuku tersenyum. "Bapakmu dulu berwasiat supaya apa pun yang terjadi, tanah milik kita jangan sampai dijual. Itu untuk masa depanmu, Sulung, dan Bungsu."
"Aku belum jauh berpikir ke situ, Buk."
"Nak, Ibuk sudah ndak seperti dulu. Sampeyan sekarang boleh memutuskan keinginanmu sendiri. Ndak opo-opo. Sampeyan pengen rabi (nikah) atau tetap sekolah sampai perguruan tinggi juga Ibuk ndak masalah. Satu hal yang kudu sampeyan ngerti. Ada orang yang datang begitu saja pada keluarga kita, menawarkan banyak bantuan tanpa kita minta, Nak. Pikirkan tawaran kemarin."
"Aku belum membicarakannya pada Ratna, Buk."
"Besok pagi ajak bicara itu Si Ratna."
"Aku akan mencobanya besok."
Sejujurnya aku ingin jujur pada ibuku, tetapi entah kenapa setiap aku mencoba ingin mengeluarkan satu kata pembukanya, seluruh tubuhnya disadap ketakutan. Apabila sampai saat ini ibuku masih bungkam, itu karena ibuku sudah sangat percaya padaku. Aku yakin kabar dari Bara kemarin pasti juga sudah sampai di telinga ibuku, tetapi ibuku tidak mempermasalahkan itu.
Keesokan harinya.
Aku mendekati Ratna yang masih termenung di ranjang. Dia mengelusi perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Perutku kenapa rasanya tetap gini, ya, Zah?"
"Kamu ingin cepat pergi dari sini, kan?"
"Kamu ada solusi?"
"Bagaimana kalau kita mondok."
"Tinggal di asrama?"
__ADS_1
"Tinggal di pesantren."
Ratna diam beberapa detik. Lalu, menyambung, "Pesantren mana?"
"Kita tinggal bilang iya ke Pak Nizam."
"Maksudmu kita menerima bantuan Pak Nizam?" Nadanya sedikit meninggi.
"Maaf. Tapi, aku juga belum saguh. Aku bilang akan bicarakan ini dulu sama kamu, Ratna. Kita akan aman di sana. Kita juga bisa belajar ilmu agama. Kita dikelilingi orang-orang yang baik. Mereka tidak akan tahu bagaimana latar belakang kita selama kita terus tutup mulut. Percaya itu!" Aku berusaha untuk memberikan kemantapan dengan kesungguhan hati.
"Aku nggak percaya dengannya lagi."
"Maksudmu?"
Ratna membisu.
"Mbak Rubia? Kamu tidak suka dengan dia?"
"Setelah penagihan utang itu, aku nggak percaya lagi dengan Pak Nizam. Dia sama saja dengan pria di sana. Dia mungkin sama seperti Pak Su dan Hakim."
Aku mengerutkan dahi. "Apa? Aku nggak ngerti."
"Ratna, jika kamu tahu Pak Nizam juga yang mengirimkan surat itu, kamu pasti sudah marah padaku. Kamu akan sulit sekali mempercayainya," batinku.
"Aku tahu dia orang asing. Kita tidak bisa percaya sepenuhnya dengan dia. Tapi, pesan ibuku, kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kalau pun Pak Nizam punya niat buruk di belakang kita, dahlah kita abaikan. Tapi, kita bisa manfaatkan tawarannya. Toh, itu juga akan menguntungkan buat kita. Aku juga sama sepertimu, Ratna. Aku buruh tempat perlindungan dari kegalauan Ibuku. Tapi, aku nggak bisa pergi tanpa kamu. Kita harus satu tujuan. Ayo ikut aku keluar rumah!" Aku langsung bangkit. Mencengkram tangannya.
"Buat apa?" Ratna menahan diri. Tidak mau bangkit.
"Agar kita sama-sama berani menghadapi orang. Aku masih berani keluar ke pasar. Aku ingin keliling desa. Kamu ikut aku. Apakah sebegitu mengerikannya bertemu dengan mereka."
Aku menggeret tangan Ratna tanpa seizinnya. Aku menyuruh Ratna agar berjalan dengan tenang di sisiku. Tetapi, dia tetap enggan dan enggan. Kepalanya tidak berani banyak bergerak ke kanan kiri. Jika aku tidak menahan diri, aku sudah pasti seperti Ratna. Tetapi, Ratna hanya mau berpegangan tangan denganku. Aku mungkin harus bisa untuk orang lain yang membutuhkanku.
"Monggo, Mbah!" Aku menyapa.
"Fizah iki?" (Fizah ini?)
"Enggeh."
"Kasel, Nduk, lehmu kerjo?"
__ADS_1
Terjemah: (Pekerjaanmu berhasil, Nduk?)
Aku hanya tersenyum.
Menyusul orang di belakang menanyakan hal yang sama. Satu orang di belakangnya lagi ikut mendekat, ingin mendengarkan jawabanku.
"Kalau sukses bagi kabar, Zah. Aku juga mau kerja ke kota." Sembari berlalu.
Dua pun lewat lagi mendahului kami. Tapi akhirnya menoleh, bertanya, "Kamu bukannya kerja dengan Hakim? Kok kamu pulang duluan? Nggak kerasan?"
"Hmmm." Aku mengangguk ragu.
"Emang gajinya berapa? Kata Mboknya Hakim gaji Hakim itu banyak. Beda pangkat? Kamu buruh aja?"
Yang satunya berbisik, "Kita sudah dengar desas-desusnya lo. Hakim kerjanya nggak bener."
"Itu masih katanya," pungkas orang yang bicara sebelumnya.
"Lha yo gimana? Kamu juga sudah tahu, kan, Wit?
"Saya permisi dulu, Mbak Wit."
"Saya itu sebetulnya curiga juga. Tapi, kadang aku mikir mosok Fizah juga mau kerja di tempat nggak bener." Bisikan itu masih terdengar di telingaku.
Aku tetap melanjutkan langkah.
"Kenapa mereka selalu menanyakan itu, Zah? Kita nggak akan di sini, Zah. Aku kita pulang lagi."
"Nggak. Kita coba jalan terus. Mas Hakim beda dengan kita. Beda. Camkan itu!" Aku pun sebenarnya juga ketakutan dikejar tuduhan itu. Yang kenyataannya memang benar.
Baru juga aku menutup mulut. Kami terpaksa balik badan secepat mungkin sebelum mereka mengetahuiku dan Ratna. Kami mempercepat langkah segera.
"Bagaimana mungkin Mas Hakim dan Pak Su ada di desa ini? Ada keperluan apa mereka? Jangan sampai mereka tadi melihatku," batinku seraya tetap melangkah.
"Zah, Zah, perutku nggak bisa diajak lari kenceng, Zah." Ratna memegangi perutnya.
Aku memegangi tubuhnya. Aku membantunya berjalan lebih cepat seraya bertanya, "Gimana? Kamu tetap nggak mau menerima tawaran Pak Nizam? Aku nggak menuangkan Mas Hakim berani pulang dan dia juga membawa Pak Su. Ini aneh, Ratna. Aku takut mereka sengaja ke sini untuk mencari kita." Aku sedikit terengah-engah.
Ratna masih bisa menyambung, "Nggak mungkin mereka sengaja mencari kamu sampai ke sini."
__ADS_1
"Haduh, Ratna, Mas Hakim rumahnya memang di sini. Wajar saja di pulang. Kalau dia niat pulang, nggak mungkin dia bawa-bawa Pak Su segala."