FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 133 "Janji Sahabat"


__ADS_3

*Ufi Yasmina Madah


Heran. Aku memang tidak sedang di posisi Mbak Iza. Tapi, seandainya aku menjadi dia, aku senang karena akan bertemu dengan ibu kandungku. Tapi, entah apa yang sebenarnya Mbak Iza khawatirkan. Kuperhatikan dia sangat tidak tenang setelah bu nyai, kiai, Gus Fakhar, dan dua orang kaya itu ke Tulungagung.


"Bu Nyai, kan, udah rindu sama Tsaniya. Beliau pasti akan sangat menyayangi apa pun yang akan terjadi. Ini juga belum pasti. Ditunggu aja hasilnya. Apa Ibukmu mengizinkanmu tes apa nggak. Kalau diizinkan ya dijalani aja. Toh, ini belum pasti."


Aku menatapnya lebih dalam.


"Mbak, walaupun aku juga berharap kamu memang Ning Tsaniya. Biar keluarga ini makin lengkap. Makin rame. Gus Fakhar itu kalau sama cewek gampang gati (sayang) sebetulnya. Apa yang kamu khawatirkan lagi?"


Harus dengan kalimat apa lagi aku membujuknya supaya tenang. Aku tidak tahu manakah kalimatku yang membuatnya semakin enggan.


"Napa, sih? Aku tahu kamu habis nangis."


Dia membalas tatapanku tanpa berkedip. Mulutnya seperti hendak mengeluarkan kalimat, tapi tidak kunjung kudengar juga.


"Oke kamu makan aja dulu."


Kuteruskan makanku sembari berpikir. Tapi, lebih baik memberinya luang lebih dulu. Lagipula Mbak Iza juga bukan tipikal orang yang egois. Dia mudah menerima nasihat orang lain. Sampai aku selesai makan, sampai aku bersendawa dua kali, dia urung memakan sepuluk pun.


"Aku habiskan, ya."


Dia mengangguk tanpa menatapku. Masih sisa sekitar lima pulukan. Aku bersendawa lagi. Sekaligus kentut yang keluar bersamaan. Kuloloskan napas lega. Aku bangkit ke dapur suku sekalian mencuci tangan.


Saat aku kembali ke kamar, dia tengah membuka punggungnya. Dia menyingkapnya lebar sampai aku terkejut melihat beberapa luka yang ada di sana. Dia membelakangi cermin. Sedikit menoleh ke cermin itu untuk menatap lukanya sendiri.


"Lukamu banyak banget, Mbak?" Aku segera duduk di sampingnya.


"Sejarah luka ini mengerikan." Dia langsung menutup bajunya. Mengancingkan kancing dua teratas.


"Aku bukan perempuan baik-baik."


Kenapa tatapannya berubah? Dia enggan meluruskan pandangannya ke arahku.


"Bukan baik-baik gimana maksudnya? Nggak mungkin ah. Ini efek kelaparan ini."


"Menurutmu apakah lukaku ini karena aku pernah jatuh?"

__ADS_1


Aku menggeleng. Mana mungkin luka itu didapatkan dari seseorang yang sengaja melukainya? Melihat rasa sayangnya pada ibunya, rasanya tidak mungkin kalau luka itu karena ulah ibunya. Atau, mungkin saja saudaranya? Keluarganya yang lain?


"Apa menurutmu orang baik akan mendapatkan luka seperti ini?"


"Kurang tahu, sih." Aku ragu.


"Aku pembangkang."


"Haaaa?" Rasanya tidak masuk akal. Dia yang kalem seperti itu mengaku pembangkang?


"Aku membangkang untuk melindungi diriku."


"Aku nggak mudeng (paham). Serius. Mbak Iza ngomongnya jangan berbelit-belit, deh."


"Apa sekarang kamu berpikir yang tidak-tidak soal aku?"


"Eng-gak. Cuman penasaran itu luka apa."


*Ranaa Hafizah


Tangan itu sering memegang tanganku. Diletakkannya di bibir yang hitam kebanyakan rokok. Aku ingin melemparkan gelas di depanku ke wajahnya. Jika ada air keras, itu lebih baik. Agar matanya tak pernah lagi berkeliaran menatap wanita dengan pandangan mirip orang stres. Kadang aku melihatnya seperti hewan asu yang tengah menjulurkan lidahnya begitu aku membalas tatapannya. Air liurnya menetes sampai ke lantai. Napasnya terdengar bergemuruh. Kuku-kuku tajam mendadak keluar dari ujung-ujung jarinya. Lalu, wajah itu sangat dekat denganku. Kuhirup aroma yang menjijikkan dari mulutnya. Mulut bau penuh dosa. Tatapannya serupa neraka. Tubuh itu hampir menindihku sebelum aku menangkisnya dengan tanganku. Kutendang tubuhnya sampai dia tersungkur ke lantai. Aku bangkit, lalu menepi di sudut ruangan sembari membeku. Dia murka. Malam-malam itu selalu berakhir dengan luka. Terserah di mana orang itu menghendaki daripada aku harus mengorbankan. Tidak hanya satu, dua, tiga orang.


^^^"عندما تكون رضيا عن نفسك متجاهلا ظنون من حولك فأنت قد تعلمت كيف تعيش سعيدا."^^^


"Apa artinya?"


"Ketika kamu rida atas apa yang terjadi pada dirimu sendiri, tanpa mempedulikan prasangka-prasangka di sekelilingmu, maka kamu telah belajar bagaimana caranya hidup bahagia."


"Beneran gitu?"


"Bahagia itu penting. Jangan menyiksa diri dengan prasangka-prasangka yang belum tentu akan terjadi. Percayalah semua yang terjadi sudah diatur. Udahan, ya."


"Kalau kenyataannya mereka akan berpikir seperti yang aku pikirkan gimana?"


"Udahan. Mikir yang lain aja. Apa kamu akan terus membiarkan dirimu sendiri khawatir seperti ini? Aku emang ya nggak tahu masalahnya opo. Tapi, aku nggak suka kamu menjelek-jelekkan dirimu sendiri."


"Dulu, kenapa kamu seperti nggak suka kalau Gus Yazeed ke tempat malam?"

__ADS_1


"Aneh. Tapi, ya aku maklum karena Gus Yazeed kerjaannya emang gitu. Tapi, ngomong-ngomong kok jadi ke Gus Yazeed bahasannya?"


"Aku cuman ingin tahu pandangan kamu, Mbak."


"Nanti ikut tes DNA aja, ya. Kiai tak akan memisahkan kamu dengan Ibukmu kok. Mereka pasti ya akan matur nuwun banget karena kamu sudah dibesarkan."


"Kamu rela punya ning seperti aku?"


"Ya kan ini udah jadi takdir Allah. Baik sesuatu yang kau kehendaki atau tidak kehendaki, semua itu dari Allah. Tenang dong. Jangan bikin aku galau ngeliat kamu semrawut gitu mukanya. Pasti akan ada jalan. Aku janji bakalan terus dukung kamu."


"Kamu yakin berjanji begitu, Mbak?"


"Ya...kenapa enggak?"


"Makasih, ya."


"He.em. Gus Yazeed sendiri gimana? Kok dia nggak ke sini lagi ngomongin kesanggupannya? To the point aja, sih, harusnya. Mau ya mau, enggak ya enggak. Eh, gimana kalau seandainya Pak Dosen juga diam-diam masih berharap sama kamu?"


"Nggak mungkin kayaknya. Aku nggak pernah mikir gitu."


"Itu menurutmu. Nggak tahu gimana Pak Dosen sebenernya."


"Buat kamu aja, deh."


"Aku sih terpukau, ya. Pak Dosen insyaallah orangnya baik. Tapi, masalahnya dia belum tentu mau sama aku. Lagipula dia belum ke sini lagi. Kalau dia ke sini, mungkin juga tujuannya mau nagih janji ke Abah Bahar."


"Yang katanya Kiai mau mencarikan pengganti?"


"Iya."


"Kita lihat aja nanti. Kalau Gus Yazeed tidak ke sini, aku anggap saja dia tidak bersedia."


"Ya harus jelas dong, Mbak Iz. Nggak bisa main disimpulkan."


"Aku belum tahu juga. Aku belum mikir itu lagi."


"Pasti mikirin yang lain."

__ADS_1


Tentang keluarga ini. Aku memikirkannya.


__ADS_2