FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 152 "Membuat Janji"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Tak ada pembicaraan apa pun setelah kedatangan Pak Nizam. Abah dan ummik bersikap biasanya. Begitu juga Bang Fakhar. Mungkin saja abah dan ummik sedang berunding tanpa harus melibatkan aku. Beginilah takdir anak perempuan yang tidak memiliki keleluasaan untuk memilih. Meski aku menyandang gelar yang sah, tapi itu tak membuatku juga bisa menyampaikan keinginan hati. Semringahnya ummik dan kemantapan abah mengurungkan semua niatku. Aku tidak tega mengkandaskannya.


Malam ini aku duduk di depan musala yang berbentuk pendopo. Kusandarkan kepalaku di pundak Bang Bakhar.


"Bang?"


"Apa, Dek?"


"Apa kalau aku membiarkan Abah dan Ummik tetap berupaya menjodohkanku dengan Pak Nizam, apa itu artinya aku sudah berbakti pada mereka?"


"Dek, nanti kamu akan paham sendiri. Alasan dibalik perjodohan ini."


"Maksudnya, Bang?"


"Sekarang belum waktunya kamu mengerti. Sabar aja. Aku juga baru tahu kok. Tapi, yang jelas Abah dan Ummik juga tidak mengira."


"Loh, katanya dijodohkan kok nggak ngira itu gimana to, Bang?"


"Kamu akan paham sendiri nanti."


"Tapi kamu sudah paham semuanya, kan, Bang?"


"Sudah. Tapi, mandat Abah gitu. Intinya sabar."


"Jadi anak kiai apa emang mesti begini?"


"Begini gimana?" Bang Fakhar menoleh. Otomatis aku mengangkat kepalaku.


"Tidak bisa menentukan sendiri."


"Bisa. Bisa banget malah. Kan aku sudah bilang. Nanti kita usahakan gimana caranya biar bisa kuliah bareng-bareng."


"Meskipun nanti kalau Abah memutuskan sepihak aku akan dinikahkan secepatnya?"


"Percaya sama Abah, ya. Abah tahu apa yang kamu mau."


"Bang, terus gimana Yazeed? Kalau dia tersinggung Abah menolak lamaran itu karena Pak Nizam gimana?"


"Itu urusan Abah dan Ummik. Kalau pun mereka dianggap sebagai kedua orang yang sama-sama berhak, tapi setelah ditimbang dan melihat sejarah yang lalu, ternyata Kang Nizam lebih berhak."


"Aku nggak ngerti."


"Karena kamu mikirin Yazeed?"


Aku mengangguk. "Dia bilang suka sama aku, Bang. Bang, antarkan aku biar bisa ketemuan sama dia, ya. Aku mau ngobrol."


"Diantar Kang Bimo aja gimana?"


"Apa boleh?"


"Boleh. Kang Bimo bisa dipercaya. Abang ada pertemuan dengan klien. Mau ngurus stok kitab di toko juga. Nggak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Iya nggak papa."


"Dek, romantis juga ya berduaan sama kamu."


"Lebih romantis lagi kalau sama Ning Ulya."


"Panggilnya biasa aja. Kak Ulya atau Mbak Ulya gitu lo."


"Iya. Kak Ulya. Kalau nanti aku nikah duluan, bisa kuliah nggak ya?"


"Abah pasti tahu apa keinginanmu, termasuk bagaimana karakter Nizam yang sebenarnya. Begitu juga tahu apa yang terbaik buat kita. Abah sudah menimbang dan mengingat untuk seterusnya. Apa yang kamu alami itu sama kaya Abang."


Bang Fakhar mencoba memberikanku keyakinan dan menyuruhku optimis pada keadaan. Dia berbicara dengan nada yang serius dan santai.


"Tapi, Kak Ulya itu cantik dan pinter kok, Bang. Jadi Bang Fakhar nggak rugi deh kalau nikah sama dia."


"Begitu juga kamu, Dek."


"Bang?"


"Hmm?"


"Pengen ngalem."


"Sini ngalem sama Abang." Bang Fakhar memelukku. Mengelusi jilbabku yang kancingannya kulonggarkan.


"Gini dong. Dah nggak malu-malu, kan?"


Aku menggeleng.


Ketika santri beramai-ramai menyiapkan acara simak Alquran Malam Jumat Pon setiap tiga bulan sekali sejak pagi, aku melipir keluar. Memaksa Kang Bimo agar mau mengantarkanku. Biasanya akan ada beberapa persiapan. Jika aku keluar esok hari, jelas aku tidak bisa karena aku pasti akan diminta menyimak. Persiapan dimulai setelah asar. Mulai dari pemasangan banner dan dekorasi sterofoam sederhana yang dihiasi bunga-bunga. Pemasangan karpet di halaman depan musala dan pembersihan seluruh bagian musala sampai terlihat rapi dan wangi. Aku memanfaatkan luang itu dengan segera.


Awalnya Kang Bimo menolak karena takut kena marah ummik. Tapi, aku memaksa karena Bang Fakhar sudah memberitahu Yazeed agar menungguku di Telaga Sarangan. Di sana suasananya ramai. Yazeed yang memilihkan tempatnya. Dan dia pasti sudah menungguku dari tadi. Aku terburu-buru. Sebetulnya akan lebih mudah kalau aku mempunyai gawai sendiri. Tetapi, sepertinya ujianku justru akan lebih banyak datang dari sana. Aku menolak dibeli an Bang Fakhar.


"Agak cepet, ya, Kang."


"Siap, Ning."


Setelah itu kami hanya seperti sepasang patung yang tidak punya bicara. Kang Bimo sepertinya canggung. Sementara, aku tidak tahu harus membicarakan apa. Untuk memecah sunyi, Kang Bimo pun menyalakan tembang jawa. Aku tidak tahu itu dan kedengarannya sangat asing. Untuk lelaki seumuran dia, bagiku langka jika dia menyukai lagu sejenis itu.


"Suka, Kang?"


"Jadi suka karena Abah sering mendengarkan lagu ini kalau di mobil."


"Abahnya Kang Bimo?"


"Abahnya Ning Tsaniya."


"Kaya kedengaran keramat gitu, ya, Kang."


"Ini langgam ciptaan Kiai Soleh, Ning."


"Siapa itu Kiai Soleh."

__ADS_1


"Kakeknya Ning Tsaniya."


"Masak? Jadi Kiai Soleh itu komposer gitukah?"


"Iya, Ning. Wajar kalo terdengar sedikit mistis dan dalam maknanya. Ada syi'ir arabnya juga ini."


Aku mengangguk dengan setengah mengingati sesuatu.


"Apa foto yang terpajang di kamar Ummik itu?"


"Kurang tahu, Ning. Nggak pernah masuk ke sana. Kalau di ruang tamu emang nggak ada. Coba Ning Tsaniya tanya ke Ummik gitu. Silsilah keluarga. O iya jadinya nikah sama siapa, Ning?"


"Nggak tahu, Kang. Kang Bimo sekarang udah punya calon belum?"


Dia tertawa kecil.


"Kok malah ketawa?"


"Ya habisnya Ning Tsaniya lucu."


"Pasti sudah punya. Kan, Kang Bimo orang dekatnya Abah. Iya kan?"


"Belum kok."


"Tapi, pernah menyukai seseorang kan?"


"Pastinya, Ning. Tapi, sekarang dia sudah dijodohkan dengan orang lain."


Aku menghela napas panjang. Kusandarkan pundakku. Kang Bimo melirikku dari kaca.


"Rasanya gimana, Kang?"


"Harus bisa ikhlas, Ning."


"Jadi, kalau seandainya Kang Bimo dijodohkan dengan orang yang nggak Kang Bimo suka, Kang Bimo tetap berangkat?"


"Insyaallah."


"Apalagi kalau yang nyuruh itu Abah. Iya pasti Kang Bimo nggak bisa nolak."


Dia hanya membalasku senyum tipis.


"Ning, Abah itu bukan orang sembarangan."


"Aku tahu, Kang."


"Maaf, Ning."


"Ya nggak papa, Kang, kalau mau ngasih nasihat apa pun. Aku emang lagi galau. Buruh pencerahan. Siapa tahu dari kata-kata Kang Bimo itu, aku lebih mantap lagi menjalani masa depanku."


"Kalau boleh saya tebak, mau dijodohkan dengan dosen itu, ya, Ning?"


Aku mendiamkannya.

__ADS_1


"Dia baik, Ning. Kami sempat ngobrol-ngobrol. Awalnya saya kaget, kenapa bisa mirip dengan Gus Yazeed. Saya kira kembarannya. Ternyata lha bukan."


__ADS_2