FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 166 "Rahasia"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Malam jumat. Kegiatan ba'da magrib dan isya di pondok putra sudah disiarkan libur. Hanya tinggal beberapa yang di musala mengerjakan amanat khataman Alquran. Salah satunya diutus membacanya di mikrofon. Abah tak memberitahu maksud itu kepada santri. Sedangkan, santri-santri lainnya berjingkrak-jingkrak. Mereka bergiliran menyalamiku dan abah.


Awan bergulung-gulung. Rembulan meredupkan cahaya. Bintang mengamankan diri. Suara petir menyambar di sudut tenggara. Serabut cahaya di langit berkali-kali muncul. Seperti gelegar cambuk yang sangat menyakitkan. Cukup membuat bergidik jika dilihat dengan mata telanjang. Pertanda hujan akan turun sangat deras.


"Monggo, Bah. Kelihatannya sebentar lagi hujan deras."


"Alhamdulillah."


Abah mengajakku ke ruangan pengobatannya.


Sampai khataman Alquran itu selesai, kami masih baru menuntaskan separuh zikir yang tertulis di kertas. Diiringi gemuruh air hujan menuruni genteng. Suara abah hampir saja tertelan dan aku hanya bisa mendengarnya lirih. Kadang zikirku berhenti di tengah karena terkejut mendengarkan guntur. Dan, hujan tetap saja menguyupi hingga hampir tiga jam dengan irama tak tentu. Kadang begitu deras dan kadang hanya rintik-rintih. Prosesi ini masih akan terus berlangsung sampai tengah malam tanpa jeda.


Kulirik jam tangan. Sudah hampir setengah dua belas. Tak lama setelah itu, abah merampungkannya. Abah membalikkan posisi duduk bersilanya. Menghadapku.


"Zam, keris kae sampeyan balekno neng wong wedok sing maringi."


Terjemah: (Zam, keris itu kamu kembalikan kepada perempuan yang memberi)


"Enggeh, Bah."


Ini titah. Dan, aku tidak perlu mempertanyakan alasannya. Kedengarannya ini sangat penting sehingga setelah menyelesaikan semuanya, abah langsung mengutusku. Ini bukan hanya perintah, tapi mungkin ini pertanda yang sengaja abah tidak ceritakan.


"Jenenge sopo?" (Namanya siapa?)


"Mustika. Wardah Mustika Rahayu."


"Anake sopo?" (Anaknya siapa?)


"Ki Dalang Jatmiko. Sesepuh desa saya, Bah. Apa Abah mengenalnya?"


Abah hanya mendiamkanku. Pandangan abah menunduk ke bawah. Dengan pembawaannya yang selalu tenang, aku menduga abah tengah memikirkan sesuatu.


"Zam, sesok sampekno neng kabeh santri putra putri. Kon ngamalne ayat iki."


Terjemah: (Zam, besok sampaikan kepada seluruh santri putra putri. Suruh mengamalkan ayat ini)

__ADS_1


Abah mengarahkan telunjuknya ke beberapa potongan ayat yang tertulis di kertas.


"Mugo-mugo Gusti Allah paring kebaureksan."


Terjemah: (Semoga Allah memberikan perlindungan)


"Aamiin Ya Mujibassailin."


*Wardah Mustika Rahayu


Bapak murka. Aku tidak pernah melihatnya marah semengerikan itu. Padahal, aku baru saja memberitahukan kabar yang awalnya menurutku akan membuatnya gembira. Kabar aku telah hamil. Sayangnya Kang Darya menceritakan patrem yang pernah ditanyakannya padaku, tapi aku tidak bisa menunjukkannya. Bapak seketika menginterogasiku.


"Di mana kerismu itu?" Tak ada kelembutan sedikit pun di pertanyaan pertama itu.


Kang Darya dan ibuk keluar rumah. Mereka sengaja tidak mau ikut campur.


"Aaaa...a...aku..." Aku menghela napas. "Aku...aku itu, Pak. I...itu."


"Di mana?" Semakin mendesak.


Aku berusaha ingin menjawab. Tapi, lidahku kelu. Kalimat itu hanya berputar-putar saja.


Aku mendelik ketakutan. Meski aku sudah hafal dengan sifat keras bapak, tapi aku selalu getar-getir menghadapinya.


"Jawab, Rahayu! Jangan jadi anak yang durhaka kamu."


Aku mendongak. "Pak, aku tidak durhaka." Aku membela diri.


"Sekarang jawab di mana keris itu! Apa susahe tinggall bilang."


"Keris itu...keris itu..." Suaraku bergetar. Aku menahan agar tidak menangis. Sudah bisa dipastikan bapak akan marah besar kalau keris itu kuberikan pada orang yang sudah seperti musuh bebuyutan. Aku tidak terima kalau Mas Nizam harus menerima pembalasan dari bapak. Padahal, ini semua murni keinginanku sendiri agar keris itu mendapatkan pemilik yang lebih baik.


"Rahayu?" Bapak menggebrak meja.


Pundakku terangkat. Degup jantungku berdetak lebih cepat.


"Aku sudah menjualnya, Pak."

__ADS_1


"Apa? Kamu jual keris itu?" Kali ini suara bapak terdengar sangat lantang. Tak ubahnya petir yang menyambar-nyambar.


"Goblok kamu. Goblok! Kamu ingat apa amanat Bapak waktu itu? Kamu ingat?" Berulang kali bapak memukul meja meski tak sekeras yang awal tadi.


Kudengarkan itu dengan telinga setengah abai. Kuremas tanganku. Kubasahi bibirku terus menerus.


"Berapa pun harga yang mereka tawarkan untuk membeli keris sakral itu, harga itu ndak akan pernah bisa cukup. Ndak sebanding, Rahayu. Kamu tahu itu. Berapa tahun kamu hidup dengan Bapakmu ini? Patrem itu bukan batang antik biasa. Hanya kamu satu-satunya yang pantas memilikinya. Jangan salahkan Bapak kalau keris itu bisa menyakiti orang yang membawanya."


Aku membelalak. "Pak, tapi dia orang baik."


"Siapa orangnya? Bapak akan mengambilnya sendiri."


Aku hampir saja keceplosan.


"Ehmm...aku tidak tahu, Pak. Aku tidak sempat mengenalnya." Dua kali aku berbohong.


Entah apa jadinya aku jika satu kesalahanku itu bertambah menjadi dua karena aku sudah tidak jujur pada bapak. Bapak sangat tidak menyukai kejujuran. Bagi bapak, sesuatu yang menyakitkan pun harus disampaikan dengan keterbukaan. Tapi, saat ini aku sangat tidak bisa melakukannya.


"Rahayu? Tatap mata Bapakmu!"


Kalau sudah mengeluarkan perintah itu, tandanya bapak mulai mencium aroma kebohonganku. Aku tidak berani mendongak.


"Rahayu?" teriak bapak.


"Keris itu di tempat yang aman. Bapak ndak usah khawatir."


"Katakan di mana! Bapak akan mengambilnya. Tidak boleh ada seorang pun menyentuh keris itu. Apalagi, jika ada orang lain yang memilikinya."


"Pak, aku tahu keris itu amat berharga bagi Bapak, tapi keris itu hanya sebuah benda, Pak. Sesekral apa pun makhluk, hanya Tuhan yang tetap nomor satu."


"Jangan mentang mentang kamu sering pergi ke masjid, sekarang kamu berbicara lantang di depan Bapak. Sejak kapan kamu berubah? Penari terkenal desa ini tidak pernah punya sikap dan sifat seperti itu. Dia hanya dikenal sebagai perempuan yang punya bakti besar dan kelembutan."


Aku geram. Kenapa juga aku harus mengatakan itu? Aku tidak bisa mengendalikan amarah.


"Ada burung yang punya sayap indah, tapi dia harus patah karena sayap itu tak punya ruang kesempatan untuk gerbang tinggi. Begitulah perempuanku, Pak. Dari suku sampai sekarang, Bapaklah yang mengendalikan hidupku. Saat Bapak dengar patrem itu tidak bersamaku, aku jadi ngerti kalau sesungguhnya Bapak lebih menyayangi benda pusaka itu. Iya, Pak?"


"Ini pertanyaan Bapak yang terakhir atau Bapak akan mencari jalan pintas?"

__ADS_1


Aku tidak mengatakannya. Biarlah patrem kru berada di tangan perempuan yang sekarang sudah terpilih menjadi pilihan hatinya. Aku bergeming. Beberapa detik aku mengunci mulut. Dan, bapak menyerah mengajukan pertanyaan.


Alhamdulillah. Selamat membaca, ya. Smoga sehat selalu. šŸ˜ŠšŸ˜Šā¤ļøšŸŒ¹šŸ™


__ADS_2