FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 180 "Antara Hidup dan Mati"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Apakah ini memang sudah tiba waktunya semua masa laluku akan terbongkar? Dengan adanya penangkapan Pak Nizam yang dijadikan umpan itu, muncul satu pertanyaan apakah aku terlibat masalah dengan seseorang. Aku tak bisa tenang. Lebih tepatnya mengkhatirkan diriku sendiri, bagaimana ke depannya nanti. Dan, kenapa harus Pak Nizam yang menjadi umpannya? Apa karena dia calon suamiku, lalu Pak Su pasti mengira aku akan menjemputnya. Walaupun bagaimanapun aku memang tidak akan tega bila menyaksikan orang lain terluka karena diriku. Terlibat masalah seserius ini.


Aku penyebab semua ini. Aku jugalah yang telah menyuruh Pak Nizam segera pulang untuk mengembalikan keris itu. Semoga saja keris itu telah dikembalikan pada pemiliknya.


Beberapa kali abang menolehku. Kelihatan ingin bertanya, tapi menahannya. Ya, aku memang tak mengajaknya bicara sama sekali sampai perjalanan telah terlalui dua jam. Sulit bagiku mempersiapkan mental. Bahwa suatu hari nanti masa laluku pasti akan diketahui oleh abah, ummik, abang, Kak Ulya, dan Pak Nizam. Aku tercenung memikirkan hari itu. Rasanya sudah semakin dekat. Ditambah dengan gerak-gerik abang yang juga sudah merasakan ada sesuatu yang aneh padaku.


"Ngelamunin apa?"


"Abang fokus nyetir aja. Jam tuju, Bang. Kita harus segera sampai."


"Dek, Abang mau kamu jujur. Ada masalah apa? Ini bukan masalah biasa. Ini serius, kan? Pak Nizam dijadikan umpan agar kamu datang. Siapa yang mengancam? Musuhmu?"


"Aku nggak punya musuh, Bang."


"Lalu?"


"Please, Abang jangan bicarakan ini sekarang, ya. Aku belum bisa jawab."


Abang mengalah. Tapi, pada akhirnya pertanyaan itu akan tetap diulang. Lalu, nantinya aku pun harus bicara. Membuka rahasiaku sendiri.


"Ya Allah, aku percaya bahwa kesulitan itu selalu disertai kemudahan. Yakinkan aku, Gusti. Semuanya akan baik-baik saja. Kalaupun terjadi, semuanya tidak akan seburuk yang aku bayangkan. Hanya itu pintaku, Ya Allah," rapalku dalam hati.


Azan magrib berkumandang. Kami sudah berada di Jember. Tapi, kami harus turun sebentar untuk melaksanakan salat magrib jamak taqdim. Meski keadaannya mendesak, abang tak ingin mengakhirkan salat. Abang justru menyuruhku menambahkan salat hajat dua rakaat.

__ADS_1


Pukul 18.10 kami berangkat lagi.


Kubuka shareloc yang ada di gawai abang. Masuk maps. Lokasi terdeteksi. Perjalanan masih harus ditempuh jarak 34 kilo. Sekitar 50 menitan lagi barulah tiba di lokasi. Rasa cemas merubung dadaku lagi. Waktunya sangat ngepress. Kami harus sampai tepat pada pukul tujuh, sementara kami masih baru berangkat lagi pada menit ke dua belas. Abang langsung tancap gas begitu tahu waktunya sangatlah mepet.


Salip-salipan. Jalanan ba'da magrib bertambah ramai. Abang berkali-kali menekan klakson saat akan menyalip tiba-tiba. Tak peduli truk atau mobil, kecuali bus dan truk tronton. Jantungku ikut berpacu dengan pompa kecepatan tinggi. Gusar menjalar cepat hingga ke tanganku. Keringat dingin. Aku tidak ingin ada kejadian di luar dugaan.


Tibalah di lokasi yang hampir berdekatan dengan tanda merah di maps. Kurang lima menit lagi menunjukkan tepat pukul tujuh.


Abang mengambil gawainya. Menelepon Pak Nizam. Tak ada yang menjawab.


"Bang, kita masuk aja, Bang."


"Apa bener ruangan itu?"


"Kali aja bener. Ini sudah jam tuju, Bang. Aku nggak mau Pak Nizam sampai kenapa-napa."


Ada empat orang yang berjaga-jaga. Bang Fakhar siaga. Takut mereka tiba-tiba menyerang. Tapi, mereka justru memberikan kami ruang jalan. Mereka mengikuti kami.


Dan, kemudian aku menyaksikan pemandangan di depanku sangatlah mengerikan. Pak Nizam dengan tangan dan kaki yang terantai dengan mulut dilakban. Aku tidak bisa menyaksikannya seperti itu. Dia tidak bergerak sama sekali. Dan, kulihat Pak Su memegang keris di tangan kirinya. Aku ingin melihat Pak Nizam bergerak. Rintihan tadi membayang-bayangiku sesuatu yang besar telah terjadi padanya. Tidak. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini. Pak Su sudah sangat keterlaluan. Dia bukan manusia. Dia tidak punya hati. Dia membiarkan orang lain terluka parah demi keinginannya sendiri.


"Apa maumu? Aku di sini?"


Pak Su menoleh. Tersenyum sangat lebar sembari berkata, "Telat. Ini sudah lebih sari jam tuju. Dia sudah mati."


"Tidak mungkin. Apa yang kamu mau dariku?" teriakku.

__ADS_1


"Kamu telah menggagalkan semua misi-misiku. Kamu harus lenyap di tanganku. Luka yang kaudapatkan sebelumnya tidak ada apa-apanya. Aku bisa membuatmu terlihat sangat mengenaskan. Nasibmu bisa menjadi lebih parah daripada kekasihmu itu. Dasar munafik."


Dadaku memanas. Telingaku risih. Ada kemarahan yang tiba-tiba ingin kuluapkan. Ada air mata yang sengaja kubendung kuat-kuat agar tak menggoyahkan kekuatanku. Tanganku mengepal.


Lalu, berjalan mendekatiku.


"Dek, di belakangku, ya," kata abang lirih. Abang sejurus memberikan perlindungan. Seandainya apa yang menurut manusia sulit, lalu Tuhan membuat bayangan itu seketika lenyap seperti yang telah terjadi pada masa perang Badar kala itu. Tidak setaranya jumlah prajurit perang masih sangat memungkinkan adanya kemenangan. Kalaupun abang harus melawan mereka satu demi satu, aku sangat berharap abang bisa melakukannya tanpa harus terluka.


Kami dikepung. Tujuh orang bersiap melawan dua orang. Peristiwa Sumayyah yang disiksa dan dibunuh dalam keadaan mempertahankan iman. Dia begitu terkenang dalam sejarah hidupku. Wanita kuat dan pemberani dengan keimanan tinggi. Apa yang akan terjadi jika aku lebih memilih langsung menyerahkan diri padanya? Apakah aku akan langsung dibunuhnya? Sesungguhnya kematian manusia sudah ditentukan Allah melalui jalan seperti apa.


"Kirimkan keberanian dan kekuatan pada kami, Ya Allah," batinku.


Kulirik Pak Nizam yang benar-benar sudah tak bergerak lagi. Kepalanya menunduk. Ada bercak darah di kemejanya. Apa yang sudah Pak Su lakukan? Perasan ini terluka, persis seperti pertama kalinya aku mendapati kehamilan Ratna.


"Bang bisa berantem?"


"Abang nggak yakin, tapi bismillah, ya. Intinya kita jangan berusaha melawan dulu jika mereka masih diam. Sebisa mungkin kita menghindari perkelahian ini."


Aku mengangguk. Tapi, ini semua bermula karena Pak Su ingin membalaskan dendam padaku.


"Aku ingin bicara baik-baik denganmu," kataku lagi. Barangkali masalah ini bisa diselesaikan tanpa harus ada pertumpahan darah dan perkelahian.


"Apa kautakut?"


"Aku tidak pernah takut dengan orang sepertimu. Kamu salah besar jika aku tidak berani. Kamu ingat apa yang telah terjadi padamu malam itu?"

__ADS_1


Aku mencoba mengingatkannya kembali bahwa dia pernah terkapar tiba-tiba saat ingin menyentuhku.


Maaf digantung lagi kayak jemuran, yak.. 😁😁😁🤭 Terima kasih untuk semuanya. MumumumumumušŸ’‹šŸ’‹šŸ’‹šŸ’‹..


__ADS_2