
*Tsaniya Tabriz
Kini giliran menghadiri acara pernikahan Ratna dan Pak Iman yang digelar amat sederhana di rumah saudara Ratna. Wali jatuh pada paman yang kemudian diwakilkan kepada hakim. Ratna sempat dibenci oleh keluarganya. Hampir tak diakui lagi sebagai keluarga karena kepulangannya justru membawa malu. Pak Iman pun hampir saja menjadi korban tuduhan orang yang pernah bertindak asusila kepada Ratna. Demi ketidakadilan itu, aku datang membantu Ratna. Memberikan kesaksian berulang kali sampai keluarganya tak segan kembali menerima Ratna. Dengan semua perjuangan dan luka, Ratna pantas mendapatkan ruang kesempatan. Dan, aku sangat bersyukur karena sahabatku kini sudah sah bersuami.
Dewi Drupadi berada di dekapan Pak Iman dengan nyaman. Untungnya, wajah mungil itu mirip sekali dengan ibunya. Mulai dari mata, bentuk bibir, warna kulit, rambut, dan hidungnya. Berkat kehadiran Dewi yang lucu karena tingkah jalannya yang masih terbata-bata, keluarga Ratna pelan-pelan mulai kembali hangat seperti dulu. Dan, Pak Iman telah diterima sebagai suami sah Ratna. Pria jejaka yang mau memberikan kebahagian kepada perempuan malang. Salah satunya juga demi menyelamatkan identitas Dewi dari pandangan masyarakat yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya.
Dewi yang sudah tumbuh besar. Itu artinya waktu sudah berlalu setahun lamanya. Dia hadir mengisi kebahagian kedua mempelai itu. Melihatnya tersenyum dengan wajah polosnya, aku merasa juga ingin segera berputra. Pemandangan yang tak lagi biasa. Dia berjalan ke arahku saat aku mencoba memberikan pangkuanku. Langkahnya terbata-bata, lalu dia pun jatuh tepat di atas pahaku.
Aku mencium kepalanya. "Suatu saat jika ternyata kamu harus tahu masa lalu Ibumu, tolong jangan pernah kamu sesali itu, ya, Nak. Saat kamu tahu bahwa pria baik yang hidup bersamamu, yang akan kamu panggil ayah, itu bukan ayah biologismu, semoga kamu tidak merepotkan Ibumu dengan bertanya siapa ayah kandungmu. Cukup satu hal yang perlu kamu tahu, bahwa sudah cukup dengan takdir begini saja kamu dan ayah ibumu akan hidup bahagia selamanya. Tumbuh dan berkembanglah dengan baik, Sayang. Dewi Drupadi yang kata Ibumu, semoga kamu menjadi wanita tangguh dan terhormat seperti istri pandawa lima itu." Aku mengecupnya sekali lagi. Pipi yang sangat halus dan lembut.
"Ratna?"
Ratna pun kini sudah sehat. Kemungkinannya memang benar, kelahiran Dewilah yang membuatnya bisa bangkit. Mampu menatap masa lalu dengan hati yang tegar. Dia sadar bahwa hanya dirinyalah yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup putrinya. Maka, setelah tiga bulan dia melahirkan, dia pamit dari Darul Amin. Mulai saat itulah dia belajar menata hidupnya yang baru. Menata impian di masa depan bersama putri kecilnya yang cantik dan mengurus dirinya sendiri. Dia bertekad ingin segera sembuh dari luka yang menganga. Hanya sedikit kata, aku rela dengan semua takdirku, dia mencoba memahami dirinya sendiri, keinginan Tuhan, dan kebutuhan hidup putrinya, dia akhirnya berhasil melewati semua itu perlahan-lahan. Ternyata Ratna jauh lebih kuat dariku.
Aku? Aku masih meratap. Sedih sekaligus rindu. Bulan demi bulan kulalui tanpa jawaban yang lain. Minggu kedua akan selalu menjadi penantian yang mendebarkan. Terlebih lagi wali santri, sahabat ummik, kini mulai mempertanyakan kabar kehamilanku. Mereka beramai-ramai memberikan saran. Jujur itu mengkhawatirkanku sebagai perempuan. Walaupun dadaku selalu hangat oleh kata-kata penenang Mas Nizam, rupanya keesokannya lagi aku akan tetap merindukan masa-masa itu. Dan demi melipur sedihku, biasanya aku akan menimang-nimang Roya, Fadilah Tsuroya. Anak gadisnya abangku.
"Segera pamit," bisik Mas Nizam.
"Sory, Ratna. Aku malah melamun."
"Nggak papa. Makasih sudah menjadi sahabat terbaikku, Fizah. Ternyata sahabatku bukan orang biasa. Pantas saja sejak awal kita ketemu, auramu beda dari yang lainnya. Aku akan selamanya menganggapmu sebagai penyelamatku, Fizah. Kapan pun kamu buruh aku atau Mas Iman, kami siap kok."
"Doakan saja hafalanku segera khatam, ya?"
"Dapat berapa emang?" tanya Pak Iman.
__ADS_1
"Ya sebetulnya ini di luar ekspektasiku. Tinggal dikitlah pokoknya. Doakan!"
"Awas lo kalau tiba-tiba ngasih kabar istrimu hamil lagi," ancam Mas Nizam tiba-tiba.
Pak Iman menertawakannya.
"Ya terserah gue."
Mas Nizam menepuk-nepuk pundak Pak Iman. "Jaga diri baik-baik."
"Siap. Mungkin semingguan lagi kami akan langsung pindah ke Banyuwangi. Jangan lupa main kalau pulkam, Mas. Aku tunggu."
"Oke insyaallah gampang itu."
"Aku tunggu kabar baikmu." Sembari melirikku.
"Nanti malam kita ikhtiar lagi, ya. Aku juga akan lebih giat lagi puasa senin kamis."
"Makasih, Mas," kataku lirih.
"Iya, Sayang. Yang terpenting itu sekarang kamu fokus saja hafalan. Tinggal lima juz lagi, kan?"
"Iya, Mas."
"Wajar kalau kadang-kadang kepikiran. Tapi, ya sudahlah. Seenggaknya kalau hafalanmu sudah rampung, ada satu cita-citamu yang sudah tercapai. Kamu pengen honey moon ke mana? Kita belum pernah honey moon, kan?"
__ADS_1
"Mas Nizam pengen ke mana?"
"Aku terserah kamu."
Begitu tiba di rumah, aku mencari Roya di kamar. Tadi di jalan, aku dan Mas Nizam menyempatkan mampir di toko mainan dan baju bayi. Aku menyayangi Roya sebagaimana aku membayangkannya seperti anak sendiri.
Kebetulan ada tamu abah dan ummik di ruang tamu. Aku menahan teriakan untuk memanggil Roya. Kuganti dengan anggukan dan senyuman kepada tiga orang itu. Aku langsung ke ruang tengah.
"Kak? Aku bawa sesuatu." Kuangkat tas yang kutenteng.
Kak Ulya yang sedang menyusui menyambutku dengan senyum. "Apa, Dek?"
"Baju dong, Kak. Bagus banget. Lucu dan imut. Aku pasti inget Roya kalau nemuin yang beginian." Aku memperlihatkannya. Kuraba kain bajunya yang halus. Kupadankan dengan kulit Roya yang putih semu kemerahan. Kukeluarkan lagi topi rajut berbentuk bunga matahari. Aku kegemesan sendiri setelah membayangkan betapa cantik dan lucunya saat Roya memakai baju dan topi rajutnya.
"Besok aku pakaikan, deh."
"Janji, ya."
"Iya."
Dan, seperti yang dijanjikan tadi, aku bersiap diri sembari menunggu Mas Nizam selesai ngaji, ngisi ceramah di desa sebelah, menggantikan abah yang justru memilih mengajikan kitab riyadus salihin dengan santri putra. Kata Mas Nizam, kemungkinannya dia akan sampai di rumah pukul sepuluh malam. Acaranya setelah magrib.
Jam berdenting. Ternyata aku tertidur. Tapi, Mas Nizam belum pulang juga. Kulihat beberapa notifikasi muncul, yang salah satunya panggilan wasap dari Mas Nizam. Setelah aku telepon balik, panggilanku diabaikan. Beberapa menit kemudian, dia mengirimiku gambar.
"Cantik nggak? Maaf, Ning, aku nekat beli. Nggak apa-apa, kan?"
__ADS_1
"Bisa-bisanya Mas Nizam kepikiran beli pakaian model beginian. Aku aja nggak pernah kepikiran beli. Ngelihatnya aja geli, apalagi pas pakai. Aduh..." Aku bingung sendiri harus membalasnya bagaimana.
"Mendingan Mas Nizam cepat pulang sajalah. Sudah setengah sebelas, Mas."