
*Fakharuddin Ahyar Al-Ameen
Juli.
Hari ini aku tidak mendapatkan jadwal mengaji bersama para santri. Begitu aku turun dari tangga masjid, aku memperhatikan wajah ummi dilanda cemas. Apalagi yang sedang ummi cemaskan? Apa mungkin perihal penolakanku dijodohkan? Aku berusaha mendekati beliau.
"Assalamu'alaikum, Ummi?"
Ummi menoleh. Menjawab lirih sekali salamku.
Aku memeluknya dari belakang.
"Apa Ummi marah Fakhar menolak permintaan Ummi kemarin?"
"Kerono awakmu ngelengne iku ke Ummi, Ummi jadi kepikiran."
Terjemah: (Karena kamu mengingatkan itu ke Ummi, Ummi jadi kepikiran)
"Tapi, kalau Fakhar lihat, sepertinya ada yang lain, kan, Mi? Ummi ngaku saja." Kupeluk ummi seperti seorang kekasih.
"Ummi jektas matur nang Mbak supoyo mrene. Ummi minta baik-baik awakmu perhatekno sing tenanan, tingkahnya juga. Awakmu anak siji-sijine Ummi."
Terjemah: (Ummi barusan bilang ke Mbak siapa ke sini. Ummi minta baik-baik kamu perhatikan baik-baik, tingkahnya juga. Kamu anak satu-satunya Ummi)
"Fakhar masih muda, Mi. Dua puluh tiga tahun."
"Perhatekno Ummi. Ummi kepengen banget duwe anak mantu wedok, Fakhar."
Terjemah: (Perhatikan Ummi. Ummi ingin sekali punya anak menantu perempuan, Fakhar)
"Ummi manja, ya." Kuledeki ummi.
"Ummi mung kepikiran dengan Adimu. Upamane Adimu iso kumpul neng kene, Ummi yo kepengen awakmu lan Adimu age-age nikah."
__ADS_1
Terjemah: (Ummi hanya kepikiran dengan Adimu. Andaikata Adikmu bisa berkumpul di sini, Ummi juga ingin kamu dan Adikmu cepat-cepat menikah)
"Adek masih muda sekali, Mi."
"Opo salahe?" (Apa salahnya?)
"Kalau bayangan Fakhar, kita kuliah bareng-bareng, Mi. Berangkat naik motor bareng."
"Ya intine Ummi ndak putus harapan marang Gusti Allah. Suatu saat Adimu mesti mbalek."
Terjemah: (Ya intinya Ummi tidak putus harapan pada Allah. Suatu saat Adikmu pasti kembali)
"Lek awakmu pengen kuliah, yo kuliah, Le. Pumpung sek enek krentek. Kuliah lan nikah iso dilakoni bebarengan."
Terjemah: (Kalau kamu ingin kuliah, ya kuliah, Le. Mumpung masih ada keinginan. Kuliah dan nikah bisa dijalankan sekaligus)
"Fakhar masih fokus ke kitab, Mi. Belum marem kalau kitabnya belum matang. Dhawuhe Abah ngoten (kata Abah begitu)."
Aku pun sebenarnya paham ummi. Keinginan ummi disebabkan kerinduannya pada adikku, Tsaniya Tabriz. Aku juga paham ummi memperbanyak tirakat dan ibadahnya selama ini juga demi kembalinya adikku. Ummi sering berziarah tiga bulan sekali ke makam waliyullah juga karena itu. Ummi sudah melakukan banyak cara agar Allah segera mengabulkan harapan ummi. Namun, tahun demi tahun kesabaran ummi terus diuji. Bukan semakin diterangkan jalan, ada kemungkinan Tsaniya kembali dalam waktu dekat.
Ummi sangat terpukul atas menghilangnya Tsaniya. Semua anggota keluarga dirundung duka pada tahun 2004 silam. Tsaniya masih sangat kecil. Dulu, di pesantren ini pernah terjadi serangan ninja. Beberapa sekelompok orang yang tidak diketahui dari mana asalnya, tiba-tiba membabi buta pada tanggal 12 Agustus, tepatnya.
Tengah malam itu mendadak terjadi kericuhan hebat dimana seluruh santri histeris ketakutan. Santri yang tidak bertindak cepat buru-buru menuju ndalem untuk melindungi. Ada dua ninja yang berhasil masuk ke wilayah putri dan mengancam menggunakan senjata. Sebelumnya sempat ada santri putri yang mengetahui ada orang asing memakai hitam-hitam dengan penutup kepala masuk ke pesantren. Lalu, sisa ninja itu memaksa keluar santri-santri putra. Santri-santri putra senior menyerang menggunakan alat seadanya. Tapi, apa daya justru beberapa di antara mereka malah ada yang terluka lumayan parah.
Tidak ada yang berani berbuat apa-apa setelah itu setelah santri senior berkemampuan beladiri sudah kelihatan tidak berdaya. Selain itu, santri-santri kala itu masih bisa dibilang muda dan belum berpengalaman. Hanya beberapa saja yang sudah dewasa dan berbekal bela diri dan keberanian. Sisanya meringkuk ketakutan.
Aku sendiri masih delapan tahun. Tidak mengerti apa-apa selain langsung pergi menemui abah, ummi, dan Tsaniya di kamar. Kutemukan beberapa santri sudah terkapar. Aku sempat berusaha melawan dengan modal nekat. Tapi, mereka bersenjata dan aku selalu dididik untuk berbuat baik kepada semua orang. Aku hanya berpikir bagaimana caranya melawan disaat ada kaum yang berusaha mengusik dengan senjata. Maka, tanpa berpikir panjang aku mulai melawan mereka menggunakan pisau di tanganku. Lagi-lagi sama seperti posisi santri senior tadi. Tanganku ditikam, lalu pisau itu diarahkan ke wajahku. Melukai sebagiannya. Santri putra yang baru datang untuk menolong pun gelagapan. Menyerang dengan beberapa kali pukulan yang berakhir meleset. Dia bernasib sama sepertiku. Tapi, dia sempat berusaha bangkit menangkis ninja itu sebelum ninja berhasil mendekapku. Santri itu ditodongi senjata. Mundur selangkah, lalu ninja itu dapat meraihku. Aku disekap.
Sementara abah dan ummi yang kukira masih tidur ternyata sudah lebih dulu dibius oleh salah seorang ninja. Lalu, kutatap Tsaniya di tempatnya ternyata sudah tidak ada. Aku tidak sadar ketika masuk kamar. Ternyata penyusup lebih dulu memasuki ndalem dan mengambil Tsaniya. Kemudian, kabur.
Santri senior segera memberikan perintah supaya semua santri putra, termasuk yang masih remaja harus ikut berjuang menyelamatkan Tsaniya. Mereka dikompori sampai akhirnya keberanian mereka menyala-nyala. Bermodalkan kayu-kayu bakar di dapur, mereka berbondong-bondong memburu para ninja yang kemampuan lari dan beladirinya sudah mahir. Ditambah pakaian hitam mereka yang mudah sekali melebur membuat para santri kesulitan kemudian.
Belasan santri putri mengerubung ndalem untuk mendoakan kesalamatan semuanya. Semoga abah dan ummi lekas sadarkan diri sembari menunggu ada pertolongan dari puskesmas desa. Dua santri remaja telah diutus pergi menemui kepala desa dan Pak RT.
__ADS_1
Kala itu, beberapa jam kami menunggu. Santri-santri lama kembali. Tapi, setelah mereka memasuki gerbang pesantren, mereka tidak membawa hasil apa-apa. Abah dan ummi yang sudah sadar bermasygul hati. Hati berbunga ummi setelah berhasil mengandung Tsaniya sebelum rahim ummi diangkat karena penyakit, hati itu pun berguguran saat mendengar rentetan penjelasan panjang santri yang bicara dengan napas megap-megap.
Ummi sangatlah menyayangi Tsaniya. Betapa sulitnya ikhtiar agar bisa berputra kedua. Menunggu hampir delapan tahun lamanya. Melewati berbagai cara mulai doa-doa dari para ulama dan yai sepuh, minum obat-obatan kesuburan, sakit tahunan pun juga telah dilewati. Maka, wajar jika sampai saat ini ummi satu-satunya yang paling mengharapkan Tsaniya kembali ke pangkuan beliau.
Kupeluk ummi. Tetap kudepak sampai ummi merasa cukup dengan anak laki-lakinya ini. Lantas, ummi menghadapku.
"Mana HPmu?"
Kurogoh dari saku.
"Ini, Mi."
Ummi menunjukkan sesuatu dari ponselku.
"Siapa dia, Mi?"
"Wong lanang bagus sing ditawarne neng Ummi."
Terjemah: (Pria tampan yang ditawarkan ke Ummi)
"Maksudnya Ummi?"
"Ummi matur neng rencange Ummi. Terus ditawari wong bagus iki, Le."
Terjemah: (Ummi bilang ke temannya Ummi. Terus ditawari pria tampan ini, Le)
"Untuk siapa?"
"Tsaniya Adimu."
"Ya Allah, Mi. Adek belum kembali. Apa yang Ummi lakukan."
"Ummi yakin Adimu mesti muleh."
__ADS_1
Terjemah: (Ummi yakin Adikmu pasti pulang)